Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Harapan Terakhir


__ADS_3

Zuan mengerutkan dahinya, mendengar laporan dari Xazian, kalau Nara mendapat satu pengawal pribadi dari tetua Adgar. Zuan menatap tajam Xazian sembari duduk dari singgasananya. Tempat yang seharusnya bukan miliknya. Zuan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai pengawal pribadi Nara, yang sontak membuat Agas cemburu. Dia tidak suka ada pria lain berdekatan dengan Nara.


"Bisakah kita percepat pernikahan kami?"


Tanya Agas risau. "Tidak bisa Agas, semua perlu persiapan. Dan itu akan selesai dalam dua minggu. Kenapa? Kau tidak sabar ingin bermain dengannya. Bukankah para wanita itu siap menghangatkan ranjangmu?"


Perkataan Zuan membuat Xazian mengumpat tertahan. Dasar dua penjahat kelammin. Maki pria itu lagi. Xazian adalah double agent. Dia berada di pihak Yuan, tapi secara aktif melakukan pendekatan ke dalam kubu Zuan.


Satu hal yang membuat Xazian dan yang lainnya muak adalah tindakan Zuan yang selalu mencari perawan untuk dia tiduri. Yang lebih mengerikan, Zuan menyukai gadis di bawah umur. Ya pria itu seorang pedofil. Yuan sudah banyak melakukan pencegahan agar tindakan Zuan tidak semakin menggila. Yuan akan mengungsikan anak gadis yang mulai beranjak dewasa ke kawasan tersembunyi di sisi barat pegunungan terjal itu. Medannya sangat berbahaya tapi itu lebih baik. Daripada berakhir meenjadi pemuas naffsu Zuan yang kadang berujung pada kematian.


"Kenapa diam? Apa kau tidak berselera lagi pada mereka. Kalau begitu, kau harus mencoba yang satu ini."


Zuan memberi kode dan dua orang berpakaian sangat terbuka masuk. Melihat kegilaan yang sebentar lagi akan Zuan pertontonkan, Xazian memilih undur diri. Zuan yang sudah turn on pun tampak tidak peduli pada Xazian yang melenggang pergi dari tempat itu.


"Aku bersumpah akan membersihkan tempat ini jika Yang Mulia naik tahta. Tempat ini sangat menjijikkan."


Gumam Xazian berusaha menulikan telinga, saat suara-suara laknat itu mulai terdengar di indera pendengarannya. Sementara di dalam sana, Zuan sudah mulai bergelut panas dengan jallang yang dia panggil. Sedang Agas masih bergeming, padahal wanitanya sudah meloloskan seluruh pakaiannya dan mulai menyentuh area pribadi pria bertubuh tinggi besar itu.


Beberapa waktu berlalu, Zuan menyeringai di tengah permainan panasnya, saat melihat Agas mulai agresif bermain dengan wanita bayarannya. Andai Nara melihat apa yang tengah mereka lakukan, mungkin wanita itu akan membakar tempat tersebut. Tempat yang seharusnya menjadi tempat untuk membahas soal pemerintahan berubah menjadi ajang bercinta bagi dua manusia yang tidak tahu malu. Sisa percintaan keduanya terlihat di mana-mana. Sungguh menjijikkan.


Sementara di ruang tertinggi tengah terjadi sesi panas yang menggairahkan, Nara menatap takjub pada bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya.


"Benar-benar seperti Petra di Yordania." Gumam Nara.



Kredit Pinterest.com


Petra di Yordania, menakjubkan.


Yang membedakan istana Fatian dengan Petra adalah istana Fatian berselimut salju di bagian luarnya. "Milikmu." Kata Lucifer. Tapi Nara tidak terlalu menggubris perkataan Lucifer. Nara tidak berminat menjadi ratu, dia lebih suka berkutat dengan tabung reaksi dan sample percobaan. Satu hal yang membuat Lucifer tersenyum. Pria itu pun sama. Dia tidak berminat menjadi pemimpin Black Castle. Namun dia pun tidak bisa menolak jika Dominic memilih mundur karena ada kemungkinan kalau pria itu akan menjalani pemurnian sebelum menikah dengan Xinyan.


Syarat yang harus Dominic penuhi jika dia ingin menikahi Xinyan. Dunia atas menginginkan Dominic menghilangkan setengah darah vampir agar dia bisa naik ke dunia para dewa itu. Mungkin baru sekali terjadi dalam sejarah, keturunan vampir, menikah dengan kalangan dunia atas.


"Aku ndak suka jadi ratu."

__ADS_1


Kata Nara sembari menunggu sang ayah untuk pergi ke Valley of Death, mencari Galbathoriq. Lucifer terdiam mendengar curhatan sang istri. "Bagaimana jika Dominic benar-benar mundur?"


Pria itu menyentuh tangan sang istri, hanya ada mereka berdua di tempat tersebut. Nara sesaat menatap wajah "Lucifer" yang berkamuflase menjadi pria berkumis tipis. Sungguh jauh dari wajah Lucifer yang selalu mulus tanpa cela.


"Akan kupertimbangkan asal itu bersamamu."


Senyum Lucifer mengembang, dia tahu kalau Nara mulai menerima dirinya dan mencintainya. "Isshh, kenapa kamu berubah manis sekali sih. Jadi pengen makan nih." Nara mendelik mendengar perkataan Lucifer yang tengah memandangnya sembari menaikkan satu alisnya.


Interaksi manis itu terpaksa bubar jalan kala satpol PP datang untuk sidak.


"Apaan ini pagi-pagi sudah kek pengantin baru?"


Nara dan Lucifer berbalik, seketika tawa meledak dari bibir Lucifer dan Nara. Melihat tampilan kamuflase Hans. Pria itu tampak berbeda dari tampilan Hans biasanya.


"Astaga, Pa. Bengek Nara."


Nara tertawa terpingkal-pingkal dengan tangan berpegangan pada lengan Lucifer.


"Boleh ketawa gak sih. Tapi takut dosa."


"Eiittsss, Paman belum lihat bagaimana Lucio mengerjai papa Alexa. Sampai masuk rumah sakit tahu."


Hans mendelik mendengar ucapan Lucifer. Namun tidak mengejutkan jika itu menyangkut Lucio. Pria paling tengil yang pernah lahir di Black Castle.


"Perasaan Ara dan Luis cenderung anteng orangnya. Kenapa anak mereka jadi somplak begini." Heran Ailee.


"Salahkan Paman yang mengasuh kami." Balas Lucifer.


"Wohh makin tidak karuan aja tu mulut. Berterima kasih kek sudah dijagain." Potong Hans.


"Iya deh, iya. Dijagain plus dikasih anaknya."


Cengir Lucifer. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya Hans. Dia dengan Lucifer memang jarang akur kecuali untuk urusan Black Castle. Dua orang itu sering terlibat ejekan receh yang berujung Hans darah tinggi dibuatnya. Padahal dulu Lucifer tidak sesomplak sekarang. Jika sekarang Lucifer bertambah somplak, jelas Hans akan tambah puyeng menghadapi menantunya itu.


Dua pria itu terlibat adu ejek. Hingga satu suara masuk ke kepala Nara. Suara yang sejak kemarin tidak bisa Nara hubungi. Suara Galbathoriq yang terdengar lemah.

__ADS_1


"Nara......" Tubuh Nara mendadak lemas. Tidak tahu apa yang terjadi.


"Ada apa?"


Lucifer bertanya cemas. Menahan tubuh Nara yang hampir ambruk. Wanita itu menggeleng pelan. Dia sendiri tidak paham dengan dirinya yang mendadak lemas.


"Hei.... kau bisa dengar aku?"


"Tolong aku....."


Mata Nara membulat, bisa dia rasakan kesakitan yang Galbathoriq derita.


"Aku....kami, akan ke sana. Tunjukkan jalannya."


"Dia sekarat."


Kata Nara lirih. Yang lain tentu terkejut.


"Kalau begitu kita harus segera pergi ke sana."


"Pa, aku terlalu lemah. Dia terlalu lemah. Tapi dia akan menunjukkan jalannya."


Tak berapa lama, ketiganya masuk ke sudut luar istana yang sepi. Nara mengangguk ketika Galbathoriq siap untuk membimbing mereka.


Meski di ujung sana, naga besar itu benar-benar sekarat. Mungkin membawa Nara adalah hal terakhir yang bisa makhluk itu lakukan.


"Kau adalah harapan terakhirku, Ratuku."


Galbathoriq memejamkan mata, mulai mengirimkan kode layaknya titik GPS tempatnya berada. Berharap kalau Nara bisa menemukannya.


***


Up lagi readers,


Ritual jempolnya jangan lupa...

__ADS_1


***


__ADS_2