Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Milikku


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Dua ratus tahun sebelumnya, tanah tinggi suku utara.


Hari itu langit di atas tanah suku utara memerah. Bukan karena lembayung senja yang tengah memanjakan mata, ataupun kemunculan mentari di ufuk timur yang selalu dinanti penduduk suku utara. Cahayanya memantul di air danau yang berada di bawah tanah tinggi itu.


Warna merah itu terjadi karena semburan api dua naga yang saling menyambar. Satu diantaranya terlihat begitu marah, melihat seekor naga lain yang juga memicingkan mata hijaunya. Keduanya kembali terlibat adu serang dengan semburan api keluar dari mulut masing-masing.


"Kau tidak akan menang kali ini. Tidak! Jika ratumu sudah mati."


Ucap seorang pria yang rupanya berdiri di atas punggung naga lainnya. Wajah bengis, kejam. Aura pria itu benar-benar gelap dengan suara sedingin es di puncak gunung tanah suku itu.


"Kau pengkhianat! Kau membuang ratuku. Kau ingin menguasai semua sendiri."


Pria itu terkekeh mendengar geraman naga bertubuh besar di hadapannya tersebut. Senyum meremehkan pun terbit di bibir pria itu. Kali ini dia yakin kalau dirinya mampu mengalahkan makhluk abadi yang kini siap menyemburkan api lagi.


"Bukankah hal itu umum terjadi? Di mana ada kekuasaan, disitulah ketamakan merajalela...."


"Dasar manusia laknat! Dan kau.....kenapa kau malah membantunya? Kau tahu itu salah."


Naga itu menujukan ucapannya pada naga yang menjadi tunggangan pria itu. "Tidak ada yang salah dalam urusan ingin menjadi kuat."


Naga tadi menjawab sembari mengeratkan gigi tajamnya. Menatap penuh kebencian pada sosok naga yang memancarkan keagungan di depannya. Dia benci selalu menjadi nomor dua. Dia ingin menjadi nomor satu. Menjadi tidak terkalahkan


Pertarungan itu kembali memanas, keduanya saling menyerang dengan brutal. Tidak hanya semburan api tapi pertarungan fisik pun terjadi. Saling gigit, saling cakar dan saling memukul lawan menggunakan ekor mereka yang tajam.


Tak perlu waktu lama, perkataan pria itu menjadi kenyataan. Naga dengan mahkota berwarna hijau itu mulai kehabisan tenaganya. Dia seharusnya bertarung bersama ratunya. Pasangannya. Tapi pria dihadapannya dengan licik berhasil membuang ratunya. Separuh kekuatannya hilang. Pasangan bagi naga itu ibarat mate yang menyempurnakan kekuatan mereka. Hilang salah satu, bisa dipastikan jika mereka tidak akan bisa bertarung dengan sempurna di medan perang.


Bruughhhh

__ADS_1


Roaarrhhhhh


Suara benda jatuh dan geraman menjadi satu. Tanah di tempat itu bergetar kala tubuh naga tanpa ratu itu jatuh, membentur tanah berbatu, berselimut salju. Tubuhnya terluka. Baik fisik maupun dalam. Tanpa ratunya dia bukan apa-apa.


"Lemah! Tanpanya kau bukan tandinganku!"


"Karena itulah kau membuangnya. Kau takut aku akan mengalahkanmu seperti yang sudah-sudah......"


Naga itu menggeram marah, kala sebuah rantai besi muncul mengekang lehernya. Dia tidak punya kuasa untuk melawan. Sementara di depannya, dua makhluk menyeringai penuh kepuasan.


"Kau... selamanya akan terkurung di sini. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu karena ratumu dan keturunannya sudah mati."


"Dia akan kembali. Keturunan ratuku akan kembali dan saat itu akan kuhabisi kau! Dasar pengkhianat!"


Teriakan naga itu tersamarkan oleh dinding tak kasat mata yang mulai terbentuk, mengelilingi naga itu. Mengurung naga tersebut tanpa seorangpun tahu. Dia simbol keagungan tanah suku utara. Terpenjara dalam dimensi berbeda.


Galbathoriq, pelindung pemimpin suku utara. Pelindung keturunan pengendali pikiran. Dia tidak menderita dalam kurungan itu. Fisiknya tidak bisa ke mana-mana. Tapi pikirannya menjelajah ke seluruh tempat di muka bumi. Mencari ratu yang harus dia lindungi. Dia tidak percaya kalau ratunya sudah mati. Karena keterikatan di antara mereka. Jika ratunya mati maka dia juga akan mati.


Hingga beberapa waktu lalu, harapan naga besar itu terwujud. Setelah Nara mampu membebaskan segel pengendali pikiran yang mengekangnya. Segel yang akan terbuka jika mereka telah memasuki usia dewasa. Atau ada kekuatan lebih yang mampu mendobrak segel itu.


Setelah berhasil menemukan ledakan kekuatan Nara, Galbathoriq terus mencari siapa pemilik kekuatan itu. Hingga dia bisa menemukan keberadaan Nara. Keturunan terakhir dari pengendali pikiran yang masih hidup. Ratunya masih hidup. Mulai saat itu, naga besar itu mulai berkomunikasi dengan jiwa Nara. Yang menurut Nara malah lebih kepada teror yang menghantui kepalanya.


*


*


Suara ringisan terdengar dari bibir Nara. Gadis itu mula mengerjapkan matanya. Dia berada di sebuah kamar yang dalam penglihatannya sangat kuno. "Balik ke era mana nih?"


Gumam wanita itu pelan. Nara perlahan menggerakkan tubuhnya. Ada nyeri yang terasa di punggungnya. Kepalanya juga terasa nyeri. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu kini memenuhi kepala Nara.


Dia menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Dia mencari ayah dan suaminya. Tapi sampai beberapa waktu berlalu dia tidak menemukan keduanya. Hingga suara pintu dibuka, membuat Nara menoleh ke arah pintu. Seorang pria masuk ke kamar itu tanpa ragu. Seolah itu adalah hal biasa. Padahal menurut Nara itu hal yang tidak sopan. Mereka tidak saling mengenal. Terlebih Nara sudah bersuami.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?"


Nara memundurkan tubuhnya, ketika pria yang masuk kategori rupawan itu, ingin menyentuh kepalanya. "Siapa kau?"


Tanya Nara dingin. Pria itu tersenyum. Matanya memindai tubuh Nara. "Sial! Aku tidak bisa melakukannya hari itu. Tapi sekarang aku bisa mendapatkannya."


Nara semakin memundurkan langkahnya mendengar isi kepala pria itu. Dia tidak tahu pasti apa yang dimaksud pria itu. Tapi satu suara dalam dirinya menyuruhnya waspada. "Dia bukan orang baik. Jangan percaya padanya."


Sepakat dengan bisikan itu, Nara memasang wajah garangnya. "Siapa kau?"


"Aku Agas, calon suamimu."


Uhukkkkk, Nara tersedak ludahnya sendiri. Yang benar saja, dia sudah menikah. Bagaimana dia mau menikah lagi. "Jangan bercanda. Aku tidak tahu kau. Aku tidak mau menikah denganmu."


"Jangan beritahu mereka soal suamimu."


"Tapi begitu kejadian. Kita akan menikah bulan depan."


Mata Nara seketika berubah hijau. Kali ini dia mulai emosi. Dia yang kini telah mencintai Lucifer, jelas tidak mau menuruti perkataan pria yang mengaku bernama Agas.


"Menikah denganmu? Jangan mimpi. Aku menikah dengan pria pilihanku bukan pilihan kalian."


Agas memundurkan langkah mendapati wajah Nara yang berubah menyeramkan. Tetap cantik, tapi aura yang keluar adalah aura dominasi yang sangat kuat. Agas jelas tidak bisa menangani Nara. Aura kepemimpinan wanita itu terlalu kuat untuk Agas atasi.


Melihat keraguan di wajah Agas, Nara menyeringai. Tidak tahu kenapa. Tapi sejak bangun tadi, perasaannya mengatakan kalau tempat ini miliknya. Jadi dia bebas melakukan apa saja di sana. Bahkan membantah perkataan Agas, bukan masalah untuk Nara.


"Tempat itu memang milikmu. Kau boleh melakukan apa saja di sana. Tapi berhati-hatilah saat menghadapi Zuan. Dia licik."


****


Up lagi semua..

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya...


***


__ADS_2