Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Dimulai


__ADS_3

Lucio menggerutu ketika mereka digiring ke ruang bawah tanah. Pria itu benci dengan hal kotor. Terlebih ruang bawah tanah itu pengap.


"Sudah berhasil hubungi mereka?"


Excel menggeleng pelan. Mereka baru saja mendengar suara pintu jeruji besi dikunci ketika terdengar suara teriakan penuh kemarahan. Laporan dari Xazian dengan cepat sampai ke telinga Nara. Hingga wanita itu dengan cepat bertindak. Adanya laporan penerobosan pintu masuk menggunakan darahnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan geng rusuh dari Black Castle. Meski yang rusuh sebenarnya Lucio dan Excel plus Lucy yang terkadang ikut arus.


"Bebaskan mereka. Mereka keluarga suamiku!"


Perintah dari Nara, para prajurit itu seketika terbengong. Sementara geng rusuh itu langsung berteriak antusias begitu melihat Nara.


"Buka pintunya!"


"Nara.....!!!!!" Teriakan Lucy langsung hilang karena dibekap Lucio. "Sialan!" Lucy memaki saudaranya itu.


Para prajurit itu masih bergeming. Enggan membuka pintu. "Jadi boleh dibuka nih?" Tanya Excel enteng. Lucifer memberi kode boleh pada mereka. Dan tangan Excel seketika mengeluarkan bara api yang langsung melelehkan seluruh jeruji besi yang memenjarakan mereka. Prajurit itu ketakutan melihat Excel yang dengan mudah menghancurkan penjara itu.


"Mau aku lebur juga?" Tanya Excel usil. Lima prajurit itu langsung lari tunggang langgang dari tempat tersebut. Menyisakan ledakan tawa dari Lucio dan Excel. Biang keroknya Black Castle.


"Kalian ini memang...."


"Apa kabarmu Nara?"


Perkataan Dominic tenggelam oleh teriakan Lucy yang langsung menghambur ke arah Nara. Tubuh Nara hampir terjerembab jika saja Lucifer tidak menahan tubuh sang istri. Mereka saling bertanya kabar sambil keluar dari ruang pengap dan gelap itu.


Geng rusuh itu di bawa ke ruang rahasia yang biasa mereka pakai untuk bertemu. Di sana mereka semakin berteriak heboh melihat Ailee yang ternyata masih hidup. Lucio, Lucy dan Excel seketika memeluk tante mereka bersamaan. Hingga wanita itu juga hampir terjatuh dibuatnya


"Aduh Tante, ini big news. Kalau mama-mama kita tahu Tante masih hidup. Pesta tujuh hari tujuh malam Black Castle." Kata Lucy.

__ADS_1


"Barengin aja sama nikahan kamu."


Celetuk Lucio. Ailee tidak terkejut mendengar Lucy akan menikah. Geng itu terus membuat rusuh, berisik. Hingga pertanyaan Dominic membuat semua diam.


"Paman dan Lucifer di mana? Kenapa kami tidak melihatnya dari tadi?"


Dominic bertanya sembari melihat orang-orang yang tidak mereka kenal. "Ada juga yang ingat kita ya Om?"


Satu perkataan membuat mereka menoleh ke arah Lucifer yang perlahan menampakkan wajah aslinya. "Astaga! Bahkan kalian sampai menyamar?" Suara tawa Lucio pecah, mengingat bagaimana rupa sang kakak sebelum mengubah wajahnya.


Pertemuan itu berubah mengharukan ketika Lucio berlari memeluk Lucifer. Pria itu merasa lega melihat sang kakak baik-baik. "Ibu akan menggantungku jika aku tidak membawa kabar baik." Rengek Lucio.


"Memang Ibu bisa menggantungmu? Menangkapmu saja tidak bisa." Balas Lucifer cuek. Tak berapa mereka sudah duduk melingkar, saling bicara panjang lebar. Suasana semakin riuh ketika Excel mengeluarkan pil konsentrat darah dari ranselnya. Hans dan Lucifer memang sudah sebulan ini tidak meminum darah. Hanya sesekali mereka mencuri berburu di hutan es di puncak gunung. Hans dan Lucifer langsung merasa segar setelah menelan pil berwarna merah pekat itu.


"Boleh ni malam ini kita lembur sampai pagi."


Kata Lucifer sembari menaikkan satu alisnya. Lucio seketika berdecak kesal. "Kalian menyebalkan. Tahu begini aku kan bawa Alexa. Sekaligus honeymoon." Tukas Lucio.


Mereka mengobrol sampai larut malam. Mengingat lusa, "pernikahan" Lucifer dan Nara akan dihelat. Hal yang terdengar menggelikan di telinga geng rusuh. "Kau sengaja mau ngirit ya?" Untuk pertama kalinya Aro bertanya.


"Mereka yang nguber mau menikahkan Nara dengan bedebaaahhh itu. Jadi aku buka saja sekalian siapa aku."


"Apa mereka tidak curiga soal siapa kita?"


Dominic bertanya. Kali ini Hans yang menjawab pertanyaan Dominic. Hingga pria itu mengangguk paham. Malam itu mereka diantar ke kamar masing-masing. Diperkenalkan sebagai keluarga calon suami Nara, sungguh kehadiran geng rusuh itu menarik perhatian. Tak terkecuali Zuan. Pria tersebut menaruh kecurigaan yang besar pada siapa saja yang dekat dengan kubu lawan.


Meski begitu, Zuan hanya mendiamkannya. Beranggapan itu bukan hal penting. Yang penting adalah adalah acara kudeta lusa.

__ADS_1


*


*


"Pernikahan" Nara dan Lucifer berlangsung meriah, mengingat ini pesta pernikahan pertama, setelah beratus tahun tidak pernah ada pesta di tempat itu. Memakai gaun pernikahan ala Fatian, yang kalau digambarkan seperti pakaian pengantin orang Tibet yang tinggal di Himalaya. Nara terlihat cantik dengan gaun kombinasi warna merah dan emas itu. Hiasan kepala juga menambah kecantikan Nara. Rambut panjangnya disanggul cantik.


Semua orang sesaat berdecak kagum melihat kecantikan pemimpin mereka. Tak terkecuali Agas. Pria itu jelas kecewa tidak bisa memiliki Nara. Terlebih melihat samaran Lucifer yang biasa saja. Membuat pria itu merasa kalau Lucifer tidak pantas untuk Nara. Tapi hal ini akan dia tahan sebentar karena tak lama lagi, semua akan berbalik.


Setelah melalui serangkaian acara pengesahan pernikahan yang dipimpin oleh Tetua Adgar dan beberapa pemimpin suku lainnya. Nara dan Lucifer keluar dari aula kerajaan dengan wajah sumringah. "Mereka" resmi menikah. Pesta pun di mulai. Seluruh penduduk berkumpul di halaman depan istana kerajaan Fatian. Semua penduduk dari semua kalangan diundang untuk menghadiri perayaan pernikahan tuan putri mereka.


"Apa kamu senang?"


Tanya Lucifer setengah berbisik di telinga Nara. Di tengah alunan musik khas suku Fatian yang dimainkan, juga para penduduk yang menari dengan bebas di hadapan sana. Nara mengangguk antusias sebagai jawaban atas pertanyaan Lucifer. Keduanya duduk di sebuah pelaminan cantik dengan hiasan bunga berwarna putih dan merah.


Nara beberapa kali tersenyum melihat tingkah Lucio dan Excel, benar-benar menggambarkan kerusuhan mereka yang hakiki. Geng rusuh sendiri langsung membaur dengan penduduk setempat. Kecuali untuk Aro dan Dominic, yang memang terkenal agak anti sosial. Meski demikian, keduanya masih bisa bersikap ramah pada siapa saja yang menyapa mereka.


Di depan sana, Excel dan Lucio benar-benar menikmati pesta. Mereka menari mengikuti gerakan tarian tradisional suku tanah utara. Sifat Lucio dan Excel yang supel membuat keduanya cepat memiliki teman. Bahkan menarik perhatian para gadis dengan rupa tampan keduanya. Tentu saja, para gadis itu harus menelan kekecewaan ketika baik Excel maupun Lucio mengaku sudah menikah.


"Nanti mereka mengira kita belok lo."


Kekeh Excel. "Kau yang belok, aku sih terbukti lurus." Balas Lucio. Seperti biasa, Excel hanya bisa mendengus geram mendengar balasan enteng Lucio.


Tanpa mereka tahu, di depan gerbang istana Fatian, ratusan prajurit siap perang tengah menunggu instruksi dari Zuan untuk menyerang istana Fatian. Perang besar akan segera dimulai.


****


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.


****


__ADS_2