
May berteriak histeris ketika dia melihat satu persatu anaknya tumbang. Jatuh ke lantai, lantas menggelepar. Kejang-kejang. Wanita itu kebingungan, dia mendekati satu putranya. Mencoba menenangkan, tapi tidak berhasil. Keadaan mereka justru bertambah parah.
Baron dan Omega saling pandang. Mereka juga tidak tahu apa yang tengah terjadi pada anak-anak May.
"Tolong mereka, aku mohon."
Hiba May, wanita itu menangis tersedu, terisak tiada henti. Melihat para putranya meraung menahan sakit. Rasa sakit luar biasa yang meluluhlantakkan organ dalam mereka. Ketidakmatangan pertumbuhan mereka, membuat organ dalam anak-anak May menyusut. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya. Semua organ vital berhenti bekerja mendadak. Dengan hasil akhir, pecah pembuluh darah di seluruh tubuh.
Excel memperlihatkan apa yang terjadi di dalam tubuh anak-anak May melalui visual di laptop mininya. Nara memundurkan tubuhnya, serta memalingkan wajahnya. Saat di depan sana, para putra May mulai mengeluarkan darah dari lubang di seluruh tubuh mereka. Hidung, mulut, telinga, bola mata bahkan dari lubang belakang tubuh mereka. Juga pori-pori kulit mereka. Mengerikan. Bulu kuduk Nara sampai merinding dibuatnya. Lucy bahkan sudah masuk dalam pelukan Aro. Padahal mereka sudah biasa melihat kematian di depan mata, saat di medan perang. Tapi kali ini berbeda.
"Ibu...."
Seorang anak May berseru lirih, mengulurkan tangan yang sudah bersimbah darah mengusap pelan pipi sang ibu yang berderai air mata. Kedelapan putra May tahu, waktu mereka tidak banyak.
"Meski hanya sebentar, kami bahagia terlahir menjadi putra Ibu."
Ucap pria itu terbata, satu-satu dengan nafas yang hampir hilang. Paru-paru mereka meledak. Excel bahkan memejamkan matanya saat hal itu terjadi.
"Ini kejam sekali. Untuk apa mereka diciptakan jika akhirnya mereka harus pergi dengan cara seperti ini."
Lucio berucap sendu. Melihat tangis histeris May saat satu persatu anaknya meregang nyawa. Tanpa dia tahu apa sebabnya, tanpa dia bisa melakukan sesuatu untuk menolong mereka. Pada akhirnya teriakan pilu yang terdengar, saat May memeluk putra terakhir yang tewas di pelukannya.
Baron dan Omega shock. Keduanya tidak tahu apa yang salah dengan ciptaannya. Hingga mereka berakhir seperti ini. Omega pikir tidak melakukan kesalahan saat menciptakan mereka. May masih tergugu di tempatnya, memeluk sang putra yang tak lagi bernyawa. Sedih, hatinya hancur.
"Kenapa kalian diam saja! Kenapa kalian tidak menolong putraku!"
Protes May, tatapannya terarah pada Omega dan Hans. Dia tahu keduanya ilmuwan, peneliti dan sejenisnya. Tatapan May berubah nyalang. Dia meletakkan tubuh sang putra, berjalan gontai di antara genangan darah yang berasal dari tubuh para putranya.
Hans memejamkan mata, saat tangan merah May meraih kerah lehernya. May mungkin akan menyalahkan Hans, sama seperti Omega yang menyalahkannya atas kematian anak dan istrinya.
"Kau bisa menolongnya. Kenapa kau diam saja?"
Raung May tepat di hadapan wajah Hans. Ayah Nara itu bergeming. Tatapannya lurus memandang ke arah Omega yang juga melihat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Dia melakukan kesalahan saat menumbuhkan putramu!"
Jawab Hans cepat. May langsung menoleh pada Omega.
__ADS_1
"Kau menyalahkanku?"
Omega menyangkal. Dia tidak tahu di mana letak kesalahannya. Hingga Hans tersenyum mencibir.
"Kau gandakan serum pertumbuhanku bukan? Kau memaksa mereka tumbuh terlalu cepat. Seluruh organ vital mereka belum sempurna dan matang!"
Hans berteriak, sedang Omega seketika memundurkan langkahnya. Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh. Dia pikir serum itu tidak akan mempunyai efek samping yang berbahaya.
"Kau berniat membunuh putraku sejak awal?"
Baron mencekik Omega, yang langsung kelabakan dibuatnya. Apalagi Baron tidak main-main dengan cekikannya. Pria itu mulai kehabisan nafas.
"Aku tidak tahu itu!"
Baron mendengus kesal, melempar tubuh Omega hingga membentur tembok di belakang Baron.
"Kau bilang tidak tahu? Apa kau gila?"
"Dia memang tidak tahu efek sampingnya akan seperti itu."
Baron beralih melihat ke arah Hans. Pria itu masih berada dalam cekalan tangan May. "Kau tahu dan kau tidak memberitahu kami."
"Aku tahu sejak bertemu mereka. Excel secara khusus mengambil sample DNA mereka dan menganalisanya. Mereka adalah produk gagal rekayasa genetik...sejak awal. Ditambah pertumbuhan mereka dipaksakan, itu memperparah keadaan mereka."
"Kau sengaja melakukan ini? Kau hanya menyenangkan hatiku agar aku memenuhi semua permintaanmu!"
"Aku tidak melakukan itu. Putramu...aku tidak tahu kalau efek sampingnya seperti itu....aaaargghhhhh."
Omega menjerit ketika kuku panjang Baron memanjang. Menusuk lehernya. Hingga darah mengalir deras dari sana. Semua orang membulatkan mata, melihat aksi Baron yang benar-benar di luar dugaan mereka. Pria itu ingin membunuh Omega dengan tangannya sendiri.
"Tidak berguna!"
Ucap Baron dingin setelah menghempaskan Omega, sedikit memberikan tendangan pada tubuh Omega yang tidak berdaya. Pria itu sekarat. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengabaikan semua perkataan Hans. Pria itu sudah memperingatkan dirinya sejak lama.
"Bersabarlah sebentar lagi, belajarlah sedikit lagi, maka kemampuanmu akan berkembang pesat. Mungkin kau bisa melampauiku."
Air mata Omega jatuh dari sudut matanya kala melihat ke arah Hans yang kini berlari ke arahnya. "Bertahanlah."
Senyum samar terukir di bibir Omega. Dia kembali kalah telak dengan kemampuan Hans. Juga dengan kebaikan ayah Nara.
__ADS_1
"Nara!"
Omega menggeleng pelan. "Kau akan memerlukan darah Nara. Dia masih punya dua hulu ledak yang siap luncur." Lirih Omega.
Hans membulatkan matanya, mendengar pikiran Omega. Saat itu juga, Excel bekerja. Pria itu mundur.
"Sepuluh detik menuju waktu peluncuran. Kita tidak punya waktu untuk menawarkan virusnya."
Semua terperangah mendengar penuturan Excel, sementara Baron langsung tertawa puas. "Kalian pikir, aku akan membiarkan rencanaku gagal. Tidak! Aku akan berhasil bagaimanapun caranya. Sampai Black Castle menjadi milikku."
"Pergilah, hentikan dia."
Omega mendorong tubuh Hans. Pria itu bergeming. Lantas pandangan Hans tertuju pada tabung darah Nara yang sudah Excel segel. Satu lambaian, dan tabung itu bergerak ke arah Hans. Baron berusaha menghalangi. Tapi Dominic dan Lucio menghadang. Hingga pertaruangan pun kembali terjadi.
Hans dengan cepat meminumkan darah Nara pada Omega. Setelah itu pria tersebut memejamkan matanya. Pikirannya berlomba dengan peralatan canggih Excel.
"Dapat"
Hans dan Excel berucap bersamaan. Keduanya menemukan tempat hulu ledak itu berada. Namun sialnya, hulu ledak pertama sudah meluncur keluar dari kubah utara laboratorium milik Baron. Hulu ledak dengan koordinat tujuan taman pusat kota itu akan membuat hujan virus vampir dalam sepuluh menit. Sementara hulu ledak kedua masih dalam posisi siap luncur.
"Lucifer, aku memerlukanmu. Bawa ini, gunakan untuk mensterilkan virus itu."
"Paman, kita memerlukannya juga untuk hulu ledak kedua."
Excel mengingatkan, darah Nara dalam tabung itu hanya cukup untuk menetralkan satu hulu ledak. Tidak, Hans tidak bisa membawa Nara. Tubuh Nara cukup lelah. Hampir 800 cc darah Nara yang diambil tadi. Akan membahayakan jika darah Nara diambil lagi. Gadis itu bisa meregang nyawa karena kehabisan darah.
Hans mengusak kasar wajahnya. Dia ada di ambang kebuntuan. Dia depan sana, Baron terus saja bertarung melawan Lucio dan Dominic. Bahkan Lucy dan Aro juga melawan May yang ikut mengamuk.
"Papa, aku akan pergi."
Baik Lucifer maupun Hans langsung menoleh ke arah Nara. Dua pria itu tahu jelas resikonya. Hans baru saja akan membuka mulut. Menolak keinginan Nara, ketika ucapan sang putri membungkam bibir Hans.
"Papa seharusnya sudah tahu sejak awal, akan seperti apa hidupku. Untuk apa aku diciptakan. Untuk apa aku dilahirkan. Sekarang biarkan aku memenuhi tujuan hidup dan takdirku."
Mata Hans seketika berembun, mendengar perkataan sang putri.
"Semua salahku."
***
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa..
Like, vote dan komennya ditunggu 😘😘