Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Senjata Rahasia


__ADS_3

Pasukan itu langsung menyerbu masuk ka dalam istana. Para penduduk tentu terkejut dengan serangan tentara mereka sendiri. Tanda tanya tentu muncul di benak penduduk itu. Penduduk itu sempat berpikir kalau para tentara itu akan ikut berpesta tapi melihat mereka datang dengan senjata lengkap dan siap perang. Mereka jadi curiga.


Jika para penduduk itu bingung. Maka tidak dengan Nara dan yang lainnya. Galbathoriq sudah memberitahu kalau Zuan merencanakan kudeta. Meski Nara terlihat diam saja, tapi wanita itu dan yang lainnya sudah bersiap menyambut serangan Zuan. Satu portal dimensi sudah naga pelindung itu buka. Sebanyak dua ratus tentara pilihan dari Black Castle sudah ditranfer ke tanah tinggi itu. Hanya dua ratus, tentu sangat tidak seimbang melawan hampir seratus ribu tentara yang Zuan sabotase.


Nara langsung berdiri, menghadap para tentara yang terbukti berkhianat padanya. Senyum Nara terukir manis. Hari ini dia akan menuntaskan masalah yang sudah ada sejak lama. Zuan, pria itu harus segera dibinasakan.


"Apa maksud kalian datang ke sini?"


Tanya Nara tegas. Di belakangnya Lucifer dan yang lainnya setia mendukung. Dalam kesempatan itu pada akhirnya Zuan angkat bicara. "Aku yang memerintahkan mereka. Hari ini akan kurebut tahta darimu. Ahhh, seharusnya aku melenyapkanmu dengan tanganku sendiri hari itu."


Kata Zuan menatap benci pada Ailee. Istri Hans itu ikut tersenyum. Lantas berjalan mendekat ke arah Nara. "Tapi kau gagal. Dan di sinilah putriku. Meminta kembali haknya sebagai keturunan terakhir kerajaan Fatian."


Zuan menggeram marah. Dia tidak menyangka jika Ailee berani melawannya. Semua penduduk sudah diungsikan oleh anak buah Xazian dan Xuan. Di tempat itu tinggal kubu Zuan dan Nara yang akan berperang.


"Kau tidak akan menang kali ini. Kau lihat? Akulah pemimpin pasukan Fatian. Mereka semua tunduk dalam perintahku."


Nara tertawa mengejek. "Aku memang kalah jumlah darimu. Tapi apa kau tahu siapa yang kau lawan kali ini? Mereka bisa membabat habis pasukanmu dalam sekali tebas. Bahkan aku bisa menghabisi pasukanmu dengan satu tebasan dari The Eternal."


"Ayo lakukan sekarang!" Suara The Eternal terdengar antusias sekali di kepala Nara.


"Mereka hanya manusia biasa sama sepertimu."


Tawa Lucio meledak bersama dengan Excel. Duo itu sudah gatal ingin menghajar para tentara yang tidak tahu diri itu. Berani sekali berkhianat pada kakak ipar mereka.


"Kau belum tahu siapa kami. Kami adalah ras yang paling kalian takuti di muka bumi."


Zuan mundur seketika. Saat itulah Lucifer dan Hans menunjukkan wajah aslinya. Zuan semakin terkejut di buatnya. Terlebih aura vampir langsung menyebar di tempat itu. "Mereka vampir."


Para prajurit itu mulai berkasak kusuk gelisah. Mereka manusia dan lawan mereka vampir. Bisa habis mereka jadi makanan vampir. Tapi Zuan sudah terlanjur mengambil langkah. Dia tidak mungkin mundur lagi. Saat Nara bersikukuh tidak akan mundur dari singgasananya. Saat itulah perang dimulai.

__ADS_1


Zuan tersenyum puas. Melihat Nara dan yang lainnya dikepung oleh pasukannya sendiri. Pasukan Nara terlihat aneh. Hingga Excel berucap, "Mereka ada di bawah kendali Zuan." Nara seketika mengepalkan tangannya. Tidak masalah jika prajuritnya mengkhianatinya. Tapi memaksa mereka. Nara tidak terima.


"Kau bisa mengambil alih kendali itu."


Galbathoriq berbisik. "Benarkah?"


"Tapi setelah kau membunuh Zuan." Nara memanyunkan bibirnya. Candaan si naga sungguh tidak lucu. Hingga Nara dan yang lainnya harus berhadapan dengan tentara Zuan. Sampai di titik Dominic, sebagai panglima tertinggi Black Castle, meminta Galbathoriq mendatangkan pasukan vampir mereka.


Zuan tentu terkejut, melihat bala bantuan datang. Sedikit heran dari mana mereka datang. Satu persatu, tentara Zuan tumbang dalam pertempuran itu. Meski jumlah mereka banyak, tapi dua ratus tentara Black Castle adalah tentara pilihan. Satu orang banding dua puluh. Tentara vampir itu punya skill luar biasa, ketahanan tubuh yang lebih bagus dari tentara Zuan.


Nara tampak diam melihat darah mengalir deras di hadapannya. Korban tentara Fatian sangat banyak. Ada rasa sesak dalam dada Nara. Tidak seharusnya rakyatnya menjadi korban keserakahan Zuan. Hanya karena menginginkan tahta, Zuan dengan mudah mengorbankan penduduknya. Warga yang tidak bersalah.


"Hentikanlah!"


Nara menutup matanya, sesaat kemudian The Eternal sudah berada di tangannya. Wanita itu menatap lurus ke depan. Di mana perang masih berlangsung. Satu gelombang kekuatan dari The Eternal membuat tentara dari dua kubu ambruk bersamaan, pingsan.


"Mari selesaikan semua. Antara kau dan aku."


Selanjutnya duel beda gender terjadi. Nara melawan Zuan. Meski Nara wanita, tapi kemampuannya setara pria. Hal itu yang mematahkan angan Zuan, yang menggap kalau Nara lemah. Berkali-kali wanita itu berhasil memojokkan Zuan.


Hingga satu kesempatan, The Eternal berhasil menggores lengan Zuan. "Kurang ajar!" pria itu berteriak marah. Karena marah Zuan mulai mengeluarkan tenaga dalamnya. "Kau akan mati di tanganku kali ini!" Zuan berkata sadis, setelah memunculkan sosok Ragnarok.


Naga sebesar Galbathoriq perlahan muncul di hadapan semua orang. Ragnarok, setelah sekian lama keluar dari persembunyiannya. Dengan kulit berwarna hitam, menjadikan Ragnarok sosok yang mengerikan.


Nara tersenyum, bisa dia rasakan The Eternal yang bergetar marah dalam genggamannya. "Kau akan menghabisinya nanti. Sekarang kita bermain-main dulu dengannya."


"Itu kelamaan." Sahut The Eternal gemas. Dia ingin segera menghabisi Ragnarok. Naga menyebalkan yang kini sudah melayang, mengitari istana Fatian. Zuan tampak berdiri di atas kepala Ragnarok.


"Katakan padaku? Bagaimana kau akan mati di tanganku?"

__ADS_1


Tawa mengejek Nara terdengar. Zuan memang sangat meremehkan Nara. Dia pikir, hanya dengan The Eternal, Nara bisa mengalahkannya. "Hanya dengan pedang itu. Kau tidak akan bisa menyentuh tubuhku." Ejek Zuan.


"Lalu menurutmu aku harus apa? Apa aku juga harus mengeluarkan dia?"


Saat Nara selesai berkata, sebuah ledakan dahsyat terdengar. Dari arah puncak gunung tertinggi di wilayah selatan. Terdengar suara auman yang mampu membuat semua makhluk di Fatian terdiam. Menduga-duga, makhluk apakah itu. Pun dengan Agas yang tampak terkejut, terlebih setelah Lucifer mengungkapkan siapa dirinya.


"Pangeran kedua Black Castle, suami Nara."


Agas tentu tidak percaya. Keturunan vampir paling terkenal kini ada di hadapannya. Belum habis rasa terkejut Agas. Mata pria itu dibuat melotot tidak percaya melihat sosok agung dari pelindung keturunan Fatian, tengah melayang mendekat ke arah istana Fatian. Bukan hanya Agas. Bahkan Zuan dan Ragnarok pun terkejut. Terlebih Ragnarok. Dia tidak menyangka jika Galbathoriq muncul di hadapannya.


"Galbathoriq memberi hormat pada Ratu Fatian. Annara Sumannara."


Naga besar itu membungkuk memberi hormat pada Nara. Decak kagum terdengar dari arah belakang Nara. Lucio dan Excel jelas terkesan dengan kemunculan sosok yang hanya bisa mereka lihat di buku.


"Jadi kau benar-benar eksis?" Celetuk Lucio.


"Tentu saja. Kau pikir aku hanya dongeng pengantar tidur saat kalian kecil."


"Astaga, dia bicara padaku, Cel." Girang Lucio seperti anak kecil.


Lain pihak Nara, lain di kubu Zuan. Pria itu tentu ketakutan. Kemunculan Galbathoriq adalah hal yang tidak ada dalam rencananya. "Kita harus menggunakan mereka."


Ragnarok memberi usul. Zuan pun setuju. Tidak ada jalan lain selain mengeluarkan senjata rahasia mereka.


****


Up lagi readers,


Ritual jempolnya jangan lupa ya. Terima kasih

__ADS_1


***


__ADS_2