Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Simbol


__ADS_3

Lucifer masuk ke kamarnya perlahan. Teringat ada pecahan vas bunga yang berserakan. Tapi langkahnya berubah menjadi sebuah lari, ketika dia melihat Nara berusaha melompat keluar jendela. Kamarnya ada di lantai empat, walau bagi Nara itu kecil. Gadis itu bisa turun dengan selamat dan mudah.


"Apa yang kamu lakukan?"


Lucifer menarik tubuh Nara. Menjauhkannya dari jendela besar tersebut. Lucifer terkejut saat melihat tatapan kosong Nara. Tidak! Ada yang tidak beres dengan sang istri. Pria itu merebahkan paksa Nara di kasurnya. Dengan gadis itu terus melawan cekalan Lucifer.


"Nara...sadar. Ini aku. Lucifer, suamimu."


Tapi ucapan Lucifer sama sekali tidak direspon Nara. Ada sesuatu yang merasuki raga Nara. Hingga kemudian Lucifer teringat, roh pengendali pikiran yang mulai bergerak mengontrol Nara. Menguasai Nara jika gadis itu tidak mampu lebih dulu menundukkan roh tersebut.


"Cara untuk mengurangi dominasi roh itu adalah menambahkan unsur lain dalam tubuh Nara. Kalian harus segera menyatu."


Lucifer tergugu, teringat perkataan sang ayah. Masak iya caranya begitu. Meski Lucifer tidak memungkiri kalau dia menginginkan hal itu. Tapi dia tidak ingin memaksa Nara. Dua tangan Lucifer menahan tangan Nara di sisi kanan dan kiri tubuh gadis itu.


Hingga perlahan Lucifer, menyentuh tato mawar hitam di belakang telinga Nara. Tato itu bersinar ketika kuku panjang Lucifer menekan gambar mawar hitam tersebut. Nara menggeliat, merasakan tubuhnya terasa panas. Perlahan binar kosong di mata Nara berangsur menghilang. Hingga kesadaran gadis itu pulih seratus persen.


"Apa yang terjadi denganku?"


Nara bertanya setelah dia melihat Lucifer yang berada di atas tubuhnya. Lucifer menarik nafasnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nara. Tangan Lucifer mulai membuka kancing kemejanya.


"Lucifer, jawab."


Sebab Nara merasa aneh dengan dirinya. Sesaat lalu dia merasa berada di tempat sempit dan juga gelap. Dia tidak bisa berteriak minta tolong. Ataupun melepaskan diri dari tempat itu.


"Dia ingin menguasai dirimu."


Ha? Mata Nara membulat. Antara terkejut dengan penjelasan Lucifer. Juga karena Lucifer yang dengan santainya melempar kemejanya ke sembarang arah. Hingga tubuh pria itu topless.


"Lalu bagaimana?"


Pertanyaan Nara membuat Lucifer menoleh, menatap wajah memerah Nara. "Tidak ingin bertanya soal lain?"


Bisa dikatakan, ini adalah moment pertama keduanya berada di kasur yang sama. Sebab selama ini Nara dan Lucifer selalu tidur terpisah. Mendengar pertanyaan Lucifer, Nara terdiam. Dia ingin bertanya soal Xinyan.


"Dia menyukaiku sejak kami kecil. Entah kenapa. Banyak yang bilang kalau itu karena ayah Xinyan yang menyukai Ibu sebelum Sherpa, ayah Xinyan menikahi ibu Xinyan. Tapi percayalah aku tidak menyukainya."

__ADS_1


Pandangan keduanya beradu. Hingga Nara lebih dulu memutus kontak mata itu. Dia takut kalau ketahuan dirinya tidak suka Lucifer dekat-dekat dengan Xinyan.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku dekat dengannya?"


Pancing Lucifer. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Nara yang menutupi wajah gadis itu. Jantung Nara berdebar kencang, begitu tangan sang suami menyentuh kulitnya. Rona merah dan rasa panas mulai menjalar di wajah Nara.


"Siapa bilang.....eehhhh."


Nara terkejut saat Lucifer menarik tubuhnya. Hingga tubuhnya kini menindih tubuh Lucifer.


"Katakan saja kamu cemburu pada Xinyan...."


"Aku tidak cemburu...."


"Karena aku juga akan merasakan hal yang sama. Kalau kamu dekat dengan pria lain."


Eh? Apa yang baru saja Lucifer katakan. Dia tidak suka dirinya dekat dengan pria lain. Apa pria ini sedang mengutarakan rasa cemburunya, atau lebih tepatnya perasaannya.


"Aku pikir mulai jatuh cinta padamu, Annara Sumanara."


Seolah menjawab pemikiran Nara, Lucifer berucap sembari memandang wajah cantik Nara yang berada tepat di atas wajahnya. Perlahan tangan Lucifer mulai menyentuh wajah Nara. Membingkainya dari kening, hidung, bergeser ke pipi dan berakhir di bibir Nara. Pria itu mengusap lembut bibir Nara. Bisa dibayangkan bagaimana jantung Nara yang berdebar sangat kencang. Boleh dikatakan hampir melompat keluar dari tempatnya.


Lirih Nara, gadis itu bukan tidak punya rasa pada sang suami. Perasaannya tumbuh seiring kebersamaan mereka. Awalnya Nara ingin marah dan menghajar Lucifer, saat tahu kalau pernikahan mereka hanyalah kedok untuk memudahkan Lucifer mengawasi dirinya. Lebih marah lagi ketika Nara tahu, Lucifer memanipulasi ingatannya agar dirinya tidak curiga dan lebih mudah mengendalikan dirinya dalam pernikahan ini.


Tapi penjelasan dari sang papa membuat kemarahan Nara berkurang. Sang papa mengatakan kalau mereka terpaksa melakukan itu untuk melindungi Nara dari kejaran Hunter waktu itu.


"Dia ingin menguasai ragamu. Mengendalikan dirimu. Dia akan berhasil jika kamu tidak melawan."


"Apa yang kemarin hampir.....itu dia?"


"Bisa dikatakan begitu. Menguasaimu sepenuhnya termasuk melakukannya denganmu. Itu akan semakin membuat dirinya kuat."


Keduanya kembali saling pandang. Hingga perlahan, Lucifer menarik tengkuk Nara. Dan bibir Lucifer dengan cepat menyambut bibir ranum yang selalu menggoda bagi Lucifer.


"Aku mencintaimu, Nara."

__ADS_1


Nara memejamkan mata, kala pikiran Lucifer masuk ke kepalanya. Tidak dia pungkiri, dia juga memiliki rasa itu. Menyadari Nara tidak menolak dirinya, Lucifer semakin berani. Pria itu semakin intens menikmati bibir sang istri yang mulai membalas permainan bibirnya.


Suara decapan bibir itu mulai bergema di kamar besar Lucifer. Tak perlu waktu lama. Keduanya mulai terbawa suasana, hasrat Lucifer menanjak naik dengan cepat. Gerakan tangannya semakin liar ditubuh Nara. Memancing gairah Nara ikut meningkat.


Hingga penyatuan keduanya pun terjadi. Nara menjerit kala Lucifer mulai memasuki dirinya. Tapi pria itu seolah tidak peduli dengan rasa sakit yang Nara alami. Fokusnya hanya segera memiliki Nara seutuhnya. Sampai Nara mengigit bahunya, barulah Lucifer berhenti bergerak.


"Sakit..."


"Semua juga begitu."


Jawab Lucifer cuek. Pria itu meringis ketika Nara kembali mengigit bahunya, marah dengan sikap masa bodoh Lucifer. Dan memang Lucifer tidak peduli, rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Tidak perlu banyak drama penuh tangis di awal. Karena semua akan berubah menjadi dessahhan penuh kenikmatan jika sudah terbiasa.


Dan benar saja, tak berapa lama senyum terukir di bibir Lucifer, ketika Nara mulai menikmati sesi panas mereka untuk pertama kalinya.


*


*


"Kau gagal lagi?"


Suara itu terdengar begitu kejam tidak berperi, sementara seorang pria tampak menundukkan wajahnya. Dia tahu yang dikatakan pria berhodie hitam itu benar. Dia gagal.


Pria berhodie itu menggeram kesal. Sepertinya rencananya tidak berjalan sesuai keinginannya. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu gadis itu pulang. Baru dia bisa menjalankan rencananya.


"Pergilah. Kembali saat kuperintahkan."


Suara langkah menjauh bergema di gua itu. "Mungkin waktunya bagimu untuk bangun dan melawan saudaramu lagi."


Sebuah geraman tertahan terdengar di semua penjuru gua. Dia pikir sudah berhasil melenyapkan keturunan terakhir dari suku pengendali pikiran. Nyatanya dia salah. Keturunan terakhir mereka berhasil lolos. Dan kini kembali mengancam kedudukannya di lembah bersalju itu.


"Kali ini aku harus menghancurkannya. Membunuhnya. Baik secara halus maupun dengan perang terbuka. Jika terpaksa."


Gumam pria berhodie itu. Sembari menatap dinding gua tempatnya berdiri. Di balik dinding itu bersemayam makhluk yang menjadi simbol kekuatan tertinggi suku pengendali pikiran.


***

__ADS_1


Up lagi ya readers, jan lupa ritual jempolnya...


***


__ADS_2