Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Aku Saja


__ADS_3

Keesokan harinya, di dua lab yang berbeda tampak dua kesibukan yang berbeda juga. Di laboratorium Baron, pria itu tampak mengawasi anggota Hunter di pimpin sepuluh putranya, tengah memasang empat hulu ledak yang berisi virus vampir yang siap diledakkan di udara bebas, di beberapa titik di pusat kota. Pria itu tersenyum puas, sembari memeluk pinggang May.


Persiapan lancar, mereka tinggal menunggu waktu peluncurannya tepat pukul 8, di mana alun-alun kota biasanya penuh dengan mereka, yang menghabiskan akhir pekan di sana.


"Hari ini sejarah baru akan tercipta."


Gumam Baron, dalam beberapa jam ke depan. Dia membayangkan memiliki ribuan pasukan vampir yang akan bergerak dibawah komandonya. Dengan begitu dia akan menguasai Black Castle dengan mudah. Pria itu menyeringai puas, sambil memeluk May. Sementara persiapan terus dilakukan.


Di laboratorium Hans. Lucio ternganga saat melihat Nara untuk pertama kalinya. Dia sendiri yang belum pernah bertemu kakak iparnya.


"Anjirrr, pantas dia betah banget ngendon di apartement dia. Yang dia jaga serbuk berlian gitu."


Hans langsung menghunuskan tatapan membunuhnya pada Lucio. Adik Lucifer itu seketika nyengir. Dia lupa kalau Nara adalah putri Hans.


"Sorry Paman. Keceplosan."


"Berhati-hatilah, dia bisa saja meledakkan kepalamu."


Lucio langsung menoleh ke arah Dominic yang baru saja disuntik oleh Excel. Kali ini dosisnya 3 kali lebih kuat dari dosis yang biasa Hans berikan pada pria itu.


"Maksudmu?"


"Dia adalah seorang pengendali pikiran."


Lucio kembali menatap Nara yang tengah berbincang dengan Lucy. Gadis itu benar-benar cantik dan seksi dalam balutan celana jeans dan kaos dengan jaket denim sebagai outernya. Sepasang sneakers menjadi penyempurna penampilan gadis yang rambutnya tergerai panjang.


Adik Lucifer itu tentu tidak percaya kalau Nara adalah seorang pengendali pikiran. Pria itu menggelengkan kepalanya. Di depan sana Excel mulai menampilkan maket lab Baron. Visual hologram tiga dimensi muncul di hadapan mereka. Lucifer, Lucio, Dominic, Aro dengan serius mendengarkan penjelasan Excel soal ruangan mana saja yang harus mereka jelajahi. Pria itu beberapa kali memutar maket lab Baron.

__ADS_1


Tugas mereka adalah menawarkan hulu ledak yang berisi virus vampir sebelum meledak di udara bebas. Dan Hans akan menghancurkan pusat pembuatan virus tersebut.


"Kenapa dia harus ikut?"


Dominic berbisik pada Hans. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya dalam. Lantas menjelaskan kalau Nara ingin menyelesaikan masalahnya dengan May. Bisa jadi akan ada duel diantara keduanya. Setelah semua paham dengan rencana Hans, mereka semua lantas bersiap.


Hans menatap seluruh wajah semua orang yang ada di sana. Mereka sudah seperti anak-anak Hans sendiri. Jadi pria itu merasakan kecemasan tersendiri dalam misi ini. Terlebih ada sang putri di antara mereka. Pria itu menatap lurus pada Nara, yang pada akhirnya meloloskan sebuah senyum, setelah sebuah tangan dingin menggenggam tangannya.


"Mari akhiri semua ini, dan kembali dengan selamat. Atau ayah kalian akan memenggal kepalaku jika kalian tidak kembali bersamaku."


Semua mengulum senyum masing-masing, dengan Lucifer semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Nara. Entah kenapa perasaan Lucifer tidak enak. "Aku akan jaga diri."


Pria itu menoleh ketika satu suara masuk ke kepalanya. Dua pasang mata itu saling pandang. Nara sendiri tahu dengan jelas, kalau dia tidak bisa selamanya bergantung pada Lucifer. Dia harus bisa menjaga dirinya sendiri.


Tak berapa lama mereka semua sudah muncul di lab Baron. Beberapa penjaga yang melihat langsung melawan Lucifer dan kawan-kawan. Dalam hitungan detik, penjaga yang tidak seberapa itu sudah tumbang di lantai dengan tubuh hancur, dilempar Lucio dan Aro. Dua orang itu juga sama mengerikannya dengan Lucifer.


Pintu utama lab terbuka setelah Excel membukanya. Pria itu berjalan paling depan dengan Hans mengiringi.


Lucy menoleh ke arah Aro yang tampak bergeming, melangkah santai di sisinya. Gadis itu mengembangkan senyumnya, mendengar perkataan Aro yang masuk ke pikirannya.


"Wah setelah ini sepertinya akan ada banyak pasangan baru."


Excel berucap tengil dari arah depan. "Yeah, aku sendiri sudah melamar Lexa, dan akan menikahinya setelah ini." Sambar Lucio cepat. Semua seketika menoyor kepala si bungsu itu. Lucio memang yang paling muda di antara mereka, meski sebenarnya yang paling muda adalah Nara.


"Iyalah tu, kau tiduri tiap hari, gila aja jika tidak kau nikahi"


Ledek Hans. Lucio seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Celotehan itu terhenti ketika diujung koridor muncul pasukan penjaga yang langsung menyerang mereka. Perkelahian sengit pun terjadi. Masing-masing langsung ambil peran dalam melumpuhkan penjaga tersebut, tak terkecuali Nara. Gadis itu bersama Lucy, bisa jadi ancaman bagi mereka yang coba mengusik keduanya.

__ADS_1


Bunyi bruk dan teriakan kesakitan seketika memenuhi ruangan itu. Lucifer sesekali melirik Nara melalui ekor matanya. Memastikan kalau keadaan Nara aman. Di koridor depan, Hans memisahkan diri, dia akan menuju pusat dari lab Baron. Sejenak memandang cemas pada Nara. Namun rasa cemas itu segera dia tepis karena Lucifer sudah berjanji akan menjaga sang putri. Dan janji seorang Lucifer bukanlah omong kosong.


Setelah berpisah dengan Hans. Excel mulai mengarahkan mereka ke puncak gedung. Di mana empat hulu ledak siap diluncurkan. Ketika mereka tengah menaiki tangga, puluhan Hunter sudah siap menghadang mereka. Hingga perkelahian pun kembali pecah.


"Lucifer, naiklah. Mereka akan diluncurkan dalam dua puluh detik."


Lucifer membanting seorang Hunter yang tengah menyerangnya. Mengoyak tubuh mereka menggunakan kuku panjangnya. Tangga itu seketika berubah menjadi lautan darah. Perkelahian itu sepertinya akan semakin sengit karena puluhan Hunter kembali muncul.


Lucifer menarik tangan Nara untuk ikut dengannya. Gadis itu menurut. Sampai di rooftop lab Baron. Terlihat empat peluncur hulu ledak siap diaktifkan. Hulu ledak adalah alat peledak yang umumnya dikirim kepada target menggunakan misil, roket atau torpedo. Jika biasanya hulu ledak berukuran sangat besar. Tapi hulu ledak Baron sangatlah imut.


Ukurannya mungkin hanya sekitar 30 cm. Jika hulu ledak biasanya berisi bahan peledak dan detonator. Maka hulu ledak Barok, berisi koordinat titik ledak dan sebuah tangki kecil yang berisi virus vampir yang berwarna hijau pekat.


Hulu ledak berwarna hijau pekat itu terletak di sebuah launcher mini menunggu waktu peluncurannya aktif. Lucifer dengan cepat meraih sesuatu dari balik jaketnya. Lantas menggigit ujung penutup injeksi yang berisi serum penawar virus vampir.


"Apa aku perlu turun membantu."


"Tetaplah di sini. Dia yang kau takutkan sedang kemari."


Jawab Lucifer melalui pikirannya, sambil menyuntikkan serum penawar ke dalam hulu ledak pertama yang mesinnya mulai berderu kencang. Sepertinya waktu pengaktifannya sudah dinyalakan oleh Baron. Mata tajam Lucifer tak pernah lepas dari mengawasi Nara. Debar jantung Nara mulai terasa tidak karuan lagi. Untuk sesaat Nara menjadi salah salah tingkah, dengan wajah merona merah.


Keduanya mundur, melihat virus kehijauan itu perlahan berubah menjadi cairan bening laksana air. Terdengar suara notifikasi lirih di telinga Lucifer.


"Virus has been purified." (Virus sudah dinetralkan.


Satu beres. Tinggal tiga lagi. Pria itu berjalan menuju hulu ledak kedua. Langkahnya terhenti ketika melihat Nara meringis. Lucifer berbalik, wajahnya seketika berubah marah. Nara tergeletak di lantai semen dengan sudut bibir berdarah.


Amarah Lucifer naik melihat May yang tersenyum miring padanya. Pria itu bersiap menghadapi May, ketika Nara berucap.

__ADS_1


"Aku saja yang akan menghadapinya."


****


__ADS_2