
Nara memejamkan mata, kala sebuah ledakan terjadi di tanah bersalju di depannya. Diujung sana, mata Lucifer memerah menahan amarah. Ledakan itu adalah ulahnya. Pria itu marah karena sudah seminggu ini, Nara belum bisa menghadapi visual May yang Lucifer hadirkan untuk melatihnya.
"Lawan dia. Atau dia yang akan menghabisimu!"
Teriak Lucifer. Nara seketika mengangkat wajahnya. Dia mulai tidak tahan dengan ucapan Lucifer.
"Dia temanku! Dia tidak akan membunuhku!"
"Benarkah? Mau aku buktikan kalau dia akan membunuhmu saat kalian bertemu."
Pria itu mendekat ke arah Nara, meraih tangan Nara dan seketika mereka sudah berada di sebuah tempat. Tempat yang belum pernah Nara kunjungi. Sebuah tempat seperti arena bertarung untuk taekwondo dan sejenisnya. Dalam sekelip mata, Lucifer kembali menghilang. Meninggalkan Nara seorang diri di sana.
Nara memutar tubuhnya, memindai tempat tersebut. Sampai dia mendengar pintu dibuka. Nara memundurkan langkahnya. May masuk ke tempat itu dengan wajah terkejut. Meski begitu, rasa terkejut itu seketika berubah menjadi seringai menakutkan. Dia pikir tidak perlu susah payah memancing Nara keluar, sebab gadis itu sudah datang sendiri untuk mengantarkan nyawanya.
"Aku senang sekali kau datang ke tempatku."
"May....May....."
Suara Nara bergetar kala menyebut nama temannya. Tidak ada senyum manis yang setia menyambut Nara. Tidak ada lagi ocehan menyebalkan May namun sangat Nara rindukan. Semua hilang, lenyap tanpa bekas. Yang berdiri di depannya adalah orang lain yang mengambil alih tubuh sang sahabat. Orang lain yang sudah mengubah May menjadi orang yang membenci Nara setengah mati. May yang kini berambisi menghabisinya.
Dua wanita itu saling berhadapan. Yang satu penuh percaya diri. Yang satu dengan lutut gemetar. Sungguh Nara tidak sanĝgup jika harus melawan May.
"Aku tidak akan membuang waktuku!"
May merangsek maju, menyerang Nara membabi buta. Semua serangan May tersusun dengan baik. Kemampuan wanita itu meningkat pesat dari terakhir kali berhadapan dengan Lucifer.
Nara beberapa kali hanya berkelit, menghindari serangan May. Gadis itu tidak bisa menyerang May. Kenangan keduanya tergambar jelas di benak Nara. May terus menyerang Nara. Wanita itu bahkan beberapa kali berhasil memukul wajah dan perut Nara tanpa ampun.
Bruuukkk,
Arrgghhh,
Nara meringis ketika tubuhnya membentur dinding di tempat itu. Setelah May melemparnya. May tersenyum puas, melihat tubuh Nara terkapar di lantai. Nara sendiri berusaha bangun, bukan karena luka yang ia rasa. Tapi sakit karena melihat sang sahabat berubah sepenuhnya.
"Saatnya kau mati!"
May mengayunkan sebilah pedang yang tiba-tiba muncul di tangannya. Pedang itu hampir menebas leher Nara jika saja seseorang menahannya. Dalam pandangan Nara yang mulai kabur, dia melihat Lucifer menahan bilah pedang May dengan dua jarinya, menjepitnya. Hanya itu yang dia lihat sebelum matanya terpejam.
*
*
__ADS_1
"Kau ini keterlaluan Lucifer. Sudah tahu dia belum siap menghadapi May. Kenapa kau melemparnya ke sana?"
Suara itu sayup-sayup masuk ke telinga Nara.
"Dia harus dipaksa Paman. Paman tahu sendiri, hulu ledaknya akan diluncurkan beberapa hari lagi. Baron pasti menggunakan May untuk menekan Nara. Dengan begitu, dia tidak akan bisa berbuat banyak."
Hans terdiam. Ucapan Lucifer benar. Dia dan Dominic hari itu, berhasil memasang perekam tersembunyi di lab utama dan ruang panel utama laboratorium Baron. Dari sanalah mereka mematai-matai Baron. Dari pantauan mereka, hulu ledak yang berisi virus vampir akan diledakkan di udara bebas minggu depan. Lebih tepatnya saat weekend tiba. Karena biasanya banyak orang yang beraktivitas di luar rumah saat akhir pekan. Hal itu akan dimanfaatkan oleh Baron untuk menginfeksi masal orang-orang itu.
"Tapi kau tidak bisa melakukan itu, dia..."
"Pa....."
Suara lirih Nara membuat dua pria itu menoleh. Hans segera berlari ke arah Nara. Membantu sang putri duduk. Sejak pertemuan hari itu, Nara memutuskan untuk menerima Hans sebagai ayahnya. Mau bagaimana lagi, tes DNA bahkan sudah dilakukan. Dan hasilnya dua sample DNA itu match seratus persen. Bukan sekedar 90% lebih, tapi akurat seratus persen. Karena Nara adalah Hans versi perempuan
"Bagaimana, masih sakit tidak?"
"Masih sakit jika kugempur!"
Sarkas Lucifer sembari berlalu dari sana. Berjalan menuju sofa di dekat jendela. Sorot matanya menatap tajam pada Nara yang kini merasa bersalah. Nara tahu sudah mengecewakan Lucifer.
Hans mendelik mendengar ucapan vulgar dari Lucifer. "Jangan berpikir bisa menyentuhnya, sebelum....."
Lucifer beralih menatap tajam ke arah Hans yang mulai memeriksa punggung sang putri. Ada binar cemas dalam pandangan Hans. Meski tidak ada yang patah atau retak, namun tetap saja. Benturan itu meninggalkan bekas biru di punggung mulus Nara.
"Perih, Pa."
"Tahan sebentar."
Lucifer memalingkan wajahnya saat Hans mengusapkan serum pada punggung Nara. Pria itu tentu masih ingat bagaimana seksi dan mulusnya tubuh Nara saat pertama kali mereka bertemu. Memakai gaun backless, dengan potongan dada rendah dan belahan paha tinggi, menggiurkan. Waktu itu Lucifer benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak membawa Nara naik ke ranjangnya.
Ringisan Nara mengembalikan fokus Lucifer. Dilihatnya Hans yang tengah merapikan piyama Nara. Gadis itu mulai memejamkan mata, tidur karena pengaruh obat yang Hans campurkan pada serum penghilang memar milik Nara.
"Awas kalau kamu macam-macam!"
Ultimatum dari Hans sama sekali tidak digubris oleh Lucifer.
"Memangnya apa yang bisa Paman lakukan jika aku macam-macam pada putrimu."
Ledek Lucifer. Tidak ada yang bisa menerobos keluar masuk sembarangan ke tempat di mana Lucifer berada. Sebab pria itu sudah memasang lapisan perimeter atau pelindung di radius 10 meter dari tempatnya berada, selain orang yang dia izinkan. Tidak ada yang bisa menembus pelindung ciptaannya. Pria itu baru saja menenggak habis darah di gelasnya, kala Nara mulai mengigau dalam tidur.
Sudah beberapa waktu ini, Nara mengalaminya. Lebih tepatnya setelah gadis itu mampu membuka segel pengendali pikiran dalam dirinya
__ADS_1
"Siapa sih yang memanggilmu?"
Geram Lucifer. Pria itu mendekat ke arah Nara.
"Siapa itu?"
Begitulah pertanyaan yang selalu terucap saat Nara mengigau. Berkali-kali Lucifer mencoba masuk ke pikiran orang atau sesuatu yang menganggu Nara, tapi saat itu juga kekuatan pikirannya langsung blank. Seolah benda itu bisa menangkal kekuatan pikiran Luis.
Pria itu mendengus kesal, kala dia lagi-lagi tidak bisa menemukan penyebab Nara mengigau. Sedang igauan Nara semakin tidak karuan. Wajah Nara mulai berkeringat, gadis itu seperti tengah melawan sesuatu yang sedang mengganggunya.
"Ra.....Nara...."
Lucifer mencoba membangunkan Nara, menggoyangkan pelan tubuh gadis itu. Namun bukannya bangun, Nara semakin keras mengigau, hingga satu ketika, Nara menarik tangan Lucifer yang memegang bahunya. Detik berikutnya, Lucifer melotot karena Nara mencekik lehernya. Kuat, sangat kuat. Jelas itu bukan kekuatan Nara. Tapi ada jiwa lain yang merasuki tubuh gadis itu.
"Kau yang sudah mengkhianati kami. Kau pantas mati!"
Wajah Lucifer memerah, dia hampir kehabisan nafas. Dan cekikan Nara justru semakin kuat. Bisa Lucifer lihat, kalau bola mata abu-abu Nara sudah berubah menjadi hijau.
"Roh pengendali pikiran."
Lucifer dengan sisa tenaganya mencoba mengendurkan tenaga cekikan Nara. Satu kesempatan datang, dan Lucifer langsung membalik keadaan. Pria itu kini menindih tubuh sang istri. Dengan Nara yang terus berontak.
Lucifer menggigit jarinya, mengalirkan satu tetes darahnya di dahi Nara. Tubuh Nara melenting, dia benar-benar seperti orang kesurupan. Gadis itu menjerit, seolah menahan sakit. Seiring darah Lucifer yang meresap di dahi Nara. Gadis itu mulai tenang. Bola matanya berangsur berubah kembali.
Mata Nara mulai terpejam, Lucifer langsung menarik nafasnya lega. Lantas menjatuhkan diri di samping Nara, yang memiringkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Lucifer.
"Hadeuhh, makin aneh saja tingkahmu, Ra."
Gerutu Lucifer, membiarkan Nara mencari kenyamanan dari tubuhnya.
"Roh pengendali pikiran. Dia mulai muncul."
Lucifer bicara pada Hans melalui pikirannya.
*****
Maaf telat upnya ya guys...
Jangan lupa ritual jempolnya, hari Senin boleh dong malak vote 🤭🤭🤭
****
__ADS_1