
Lucifer meringis karena terkejut lengannya terluka. Apa lagi setelahnya serangan itu terus berlanjut. Tanpa henti, tanpa jeda. Siapapun yang menyerang Lucifer, punya skill yang lumayan. Untuk beberapa saat Lucifer melayan serangan itu. Hingga dia yakin, sosok penyerang itu adalah Nara.
Aroma tubuh Nara masuk ke indera penciuman Lucifer. Pria itu menyeringai. Detik berikutnya, keadaan berbalik. Nara kewalahan ketika Lucifer sungguh-sungguh menyerangnya. Beberapa kali Nara hampir terkena serangan membabi buta dari sang suami. Sampai akhirnya, Nara tidak berkutik, ketika Lucifer menahan tubuh Nara di dinding. Menghimpit tubuh istrinya. "Bunuh saja aku!"
Suara Nara bergetar saat berucap. Dia sungguh rela mati, daripada harus menyerah kalah pada penyusup yang masuk ke kamarnya.
"Mati? Kenapa memilih mati jika kita bisa bersenang-senang."
Jantung Nara berdebar kencang kala mencium aroma parfum milik Lucifer di tubuh pria yang menyerangnya. "Aku sudah menikah. Jadi jangan macam-macam denganku."
"Bukankah milik orang lain itu selalu lebih menarik?" Goda Lucifer.
Nara geram. Dia merasa direndahkan. Apa penyerangnya ini pikir, kalau dia murahan hingga dengan mudah tergoda oleh rayuannya.
"Bagaimana? Mau mencoba? Aku bisa......"
"Oh shhhiittt!!!"
Lucifer mengumpat ketika Nara membenturkan keningnya ke kening Lucifer. Pusing dan sakit seketika bercampur menjadi satu.
"Pria kurang ajar! Mesum! Peng...."
Teriakan Nara menghilang ketika Lucifer membungkam bibir Nara dengan bibirnya. Rasa tidak asing langsung Nara rasakan saat Lucifer mulai memainkan bibirnya. Dia merasakan ciuman Lucifer saat keduanya berciuman. Beberapa saat Nara terhanyut dalam permainan bibir pria yang wajahnya tidak terlalu jelas Nara lihat.
Hingga wanita itu mulai sadar. Nara mendorong jauh dada bidang Lucifer. "Berani sekali kau menciumku!"
Jerit Nara. Dia tidak terima ada pria lain yang menciumnya. Jeritan Nara membuat Lucifer panik. Hingga pria itu menghidupkan semua lilin dengan kekuatannya. Sampai ruangan itu berubah terang. "Aku Lucifer, Ra."
Kata Lucifer lembut. Nara sejenak terkesiap mendengar suara Lucifer, tapi bukan rupa Lucifer yang Nara lihat. Melainkan wajah orang lain.
"Jangan bohong kamu!"
Lucifer mengangkat tangannya. Di mana sebuah cincin terpasang di jari pria itu. Nara membulatkan matanya, itu adalah cincin pernikahannya dengan Lucifer. Kebingungan seketika mendera Nara. Siapa pria yang memakai cincin pernikahannya dengan Lucifer.
"Siapa kau? Beraninya memanipulasi dirimu jadi suamiku?"
__ADS_1
Lucifer mendadak frustrasi. Sang istri benar-benar tidak mengenalinya. "Aku ini Lucifer, suamimu, Ra. Mereka mengubah wajahku agar si Zuan itu tidak mengenaliku."
Nara memicingkan mata mendengar perkataan Lucifer. "Apa buktinya jika kau adalah suamiku?"
Lucifer menyeringai. "Aku tahu semua ukuran tubuhmu. Dada 34B...."
Nara mendelik mendengar Lucifer menyebut ukuran dadanya. "Pinggang M, pakaian dalam....."
Nara langsung membungkam bibir Lucifer dengan tangannya. Takut ada yang mendengar. Padahal cuma ada mereka berdua. "Ya...ya..aku percaya kau Lucifer."
Kata Nara menyerah, daripada dia serasa ditelanjangi saat Lucifer menyebut semua ukuran tubuhnya.
"Tapi yang membuatku gemas adalah tahi lalat di dadamu. Itu membuatku tidak tahan untuk terus menggigitnya."
Oh fix, pria di depannya adalah Lucifer, pria yang akan berubah mesum saat di kamar berdua dengannya. "Ngaku nih kalau aku suamimu?"
Nara memundurkan langkahnya, melihat lebih seksama pada Lucifer. Semua yang ada pada pria di hadapannya adalah milik Lucifer kecuali wajahnya.
"Tapi aku masih perlu bukti jika kau suamiku."
Kata Nara ragu. "Aku bisa meyakinkanmu jika aku adalah suamimu." Selanjutnya, Lucifer langsung mencium bibir Nara, memainkannya dengan lembut serta intens. Awalnya Nara menolak. Tapi permainan bibir Lucifer sangat memabukkan, hingga dia tidak bisa menolak. Tak perlu waktu lama, keduanya sudah bergelut panas di atas ranjang Nara. Dengan pakaian mereka bertebaran di lantai.
Malam itu entah berapa kali keduanya mengeraaang nikmat saat puncak itu mereka gapai bersama. "Aku mencintaimu, Nara."
Ungkapan cinta dari Lucifer menjadi penutup sesi panas keduanya di kamar Nara di kerajaan Fatian. Setelahnya Lucifer merengkuh tubuh polos Nara dalam pelukan. "Kau sungguh menyebalkan, seperti biasa."
Bisik Nara lirih. "Aku memang menyebalkan, karena itu kamu tidak pernah bisa menolak pesonaku." Narsis Lucifer. Dalam pelukan Lucifer, Nara mendengus kesal. Tapi dia tidak ingin memperpanjang perdebatan. Nara terlalu lelah untuk meladeni kenarsisan sang suami.
*
*
Nara memeluk erat tubuh Ailee, saat mereka bertemu di tempat rahasia mereka, malam berikutnya. Nara tidak percaya kalau Anaki adalah Ailee. Wanita itu menangis dalam pelukan sang mama. Bahagia dan haru menjadi satu. Dua wanita itu sama-sama terisak saat melepas pelukan masing-masing. Keduanya saling pandang untuk beberapa waktu.
"Andai aku bisa berkirim kabar pada Excel, mereka pasti senang."
__ADS_1
"Iyalah, para wanita Black Castle akan semakin komplit kalau ngegibah."
Hans mengerutkan dahinya. Pria itu pikir, kalau Lucifer semakin ke sini, semakin mirip Lucio yang somplak dan tengil. Hilang sudah sifat dingin Lucifer, berganti dengan sifat waton mangap yang kini sering Lucifer lakukan.
Malam itu mereka kembali membicarakan rencana untuk menggulingkan Zuan dari kursi kepemimpinan. "Tapi sebelum kita menyerang Zuan. Kita harus membebaskan Galbathoriq dulu." Tetua Adgar mengingatkan.
"Karena dia yang akan melindungi Anda, Yang Mulia. Meski Yang Terpilih juga akan melindungi Anda."
Pria tua itu mengangguk pada Lucifer. Ya, Lucifer tahu dengan jelas tugasnya. Hingga pertanyaan di mana Galbathoriq berada pun meluncur dari bibir Nara.
"Dia terkurung di Lembah Kematian. Di puncak pegunungan suci. Hanya beberapa orang yang bisa sampai ke sana. Bahkan kami tidak bisa pergi kesana."
Nara dan yang lainnya saling pandang. Mereka tahu jika mereka bisa pergi ke sana. Nara jadi ingat ucapan Galbathoriq soal dirinya hanya bisa pergi ke tempat naga itu bersama ayah dan suaminya. Hingga Nara kemudian teringat, kalau dari kemarin naga itu tidak mengganggu dirinya.
"Hei...apa kau bisa mendengarku?"
Nara mencoba menghubungi Galbathoriq. Tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali mencoba namun nihil. "Ada apa?"
"Dia tidak mengangguku sejak kemarin."
Jawab Nara sendu. Meski belum pernah bertemu tapi ikatan keduanya memang kuat. Nara merasa ada hal buruk yang tengah terjadi pada mate-nya yang lain itu.
Tanpa mereka tahu Galbathoriq tengah meringis menahan rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuh besarnya. Sebuah sihir pemusnah sudah diterapkan pada Galbathoriq. Tubuh naga itu akan hancur dalam beberapa waktu ke depan. Jika tidak ada yang menolong makhluk besar itu.
"Waktuku tiga hari sampai sihir sialan ini memusnahkanku."
Gumam Galbathoriq, dia sebenarnya terus menghubungi Nara sejak tadi. Tapi penyatuan Nara dan Lucifer semalam, rupanya memblokir sinyal yang Galbathoriq kirimkan.
"Beginilah jika punya ratuku punya mate ganda."
Geraman penuh kesakitan terdengar menggema tertahan di Lembah Kematian yang sunyi itu.
****
Up lagi readers,
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempolnya..
***