Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Serangan


__ADS_3

Lucifer menatap Nara yang tengah mendapat penjelasan dari Hans. "Dengarkan Papa, Papa tidak tahu perlu berapa cc untuk memurnikan virus itu dengan darahmu langsung tanpa tambahan zat lain. Hanya saja lakukan sampai virusnya berubah menjadi bening seperti air."


Nara mengangguk paham. Lantas berjalan ke arah Lucifer. Pria itu terlihat tegang. Pergi sendiri ke medan perang. Tidak masalah untuk Lucifer, dia akan dengan senang hati melakukannya. Tapi kali ini dia harus membawa Nara. Rasa cemas dan takut menyusup di hati Lucifer. Terlebih kondisi Nara tengah lemah. Andai ada jalan lain, dia akan memilih cara lain untuk mengatasi hal ini.


"Siap?"


Lucifer bertanya dan Nara mengangguk yakin. Pria itu sejenak memejamkan mata. Dua bola mata Nara membulat sempurna, binar kekaguman terpancar dari dua bola mata abu-abu Nara, kala sepasang sayap hitam nan besar muncul di punggung Lucifer.


"Jadi vampir beneran punya sayap."


"Hanya untuk mereka yang memiliki kekuatan superior seperti kami."


Nara melingkarkan tangannya di leher kokoh sang suami. Sementara Lucifer merengkuh pinggang ramping sang istri. Untuk sesaat, dua pasang mata itu beradu pandang. Jantung keduanya mulai berdebar tidak karuan, tubuh depan Lucifer dan Nara saling menempel.


"Woy cepatlah, romantisnya nanti saja."


Excel terpaksa menyela. Sebab hulu ledak itu sudah separuh perjalanan menuju taman kota. Lucifer sedikit menggeram, kesal. Meski detik berikutnya, pria itu menekuk lututnya sedikit, lantas dengan satu kepakan sayap, dua tubuh itu sudah terbang melayang. Melesat dengan kecepatan setara burung elang. Mengejar hulu ledak yang sudah lebih dulu meluncur di depan mereka.


Nara dengan cepat menyembunyikan wajahnya di dada Lucifer, menghindari terpaan angin yang serasa menampar wajahnya. Sementara Lucifer tampak tenang dengan pelindung wajah tidak kasat mata, ciptaan Hans. Beberapa kali Lucifer meliukkan tubuhnya, menghindari pohon yang menjulang tinggi atau awan yang terkadang menganggu terbang mereka.


Beberapa detik berlalu, hingga suara Excel terdengar di telinga keduanya.


"Arah jam satu, lima detik dari tempatmu."


Lucifer menambah kecepatan terbangnya, sayap besar itu mengepak beberapa kali. Menimbulkan riak gelombang udara yang besar. Tubuh Lucifer dan Nara bergetar beberapa kali.


"Di sana!"


Nara menoleh, menatap lurus ke depan. Di mana sebuah hulu ledak tengah terbang di depan mereka dengan tenaga roket sebagai pendorongnya. Semakin lama, jarak keduanya semakin dekat. Nara mengulurkan tangannya untuk meraih hulu ledak itu. Sementara Lucifer fokus dengan arah terbangnya. Beberapa kali mencoba tapi Nara gagal mendapatkan benda berwarna hijau itu.


Mengetahui Nara kesulitan mendapatkan hulu ledak itu, Lucifer mengubah arah terbangnya. Kembali, kepakan sayap Lucifer menimbulkan gelombang besar. Hal itu cukup membuat hulu ledak itu oleng kehilangan kestabilan terbangnya. Saat itulah, Nara berhasil mendapatkannya.

__ADS_1


"Matikan!"


Excel bergerak cepat mematikan mesin roket peluncurnya. Satu detik, dua detik. "Excel!"


Lucifer berteriak marah. "Astaga! Aku sedang berusaha!"


Excel menjawab tak kalah kesal. Dengan laptop yang diambilkan Dominic, tangan Excel bergerak lincah mematikan sistem mesin pendorong hulu ledak tersebut. Tanpa Lucifer dan Nara tahu, di sekitar Excel, terjadi pertarungan sengit. Para Hunter itu masih berusaha melawan Hans dan yang lainnya.


"Got it!"


Mesin pendorong berhasil di matikan. Nara menggenggam benda seukuran botol itu di tangannya. Mereka harus mencari tempat untuk melakukan pemurnian pada virus tersebut. Lucifer baru akan menurunkan ketinggian terbangnya ketika terdengar teriakan dari Excel dari ujung sana. Diiringi suara benda menderu mendekat ke arah mereka.


"Misil mengejar kalian!"


"Ohhh...sial!"


Nara mengeratkan kembali pegangannya di leher Lucifer, pun dengan Lucifer. Pria itu mengeratkan belitan tangannya di pinggang sang istri. Tubuh keduanya meliuk, berputar, bermanuver. Menghindari misil yang memburu keduanya.


"Misilnya otomatis meluncur, begitu hulu ledaknya tidak sampai di koordinat tujuan. Mengejar GPS hulu ledak itu."


Gerakan tangan Excel semakin cepat. Melakukan coding dan peretasan data, sederet password yang harus dia pecahkan untuk mematikan misil yang mengejar Nara dan Lucifer. Bola mata di balik kacamata itu bergerak ke kiri dan kanan. Memperhatikan semua yang tengah bergerak di layar monitornya. Mengabaikan teriakan dan raungan di sekelilingnya. Hingga satu senyum tipis terukir di bibir Excel.


"Mati!"


Lucifer menoleh ke belakang, di mana misil itu langsung menukik turun jatuh ke bumi. Setelah mesin peluncurnya berhasil dimatikan oleh Excel. Keduanya menarik nafas lega, lantas mulai terbang turun. Mendarat di sebuah bukit yang cukup landai permukaannya. Setidaknya, keadaan sudah ada dalam kendali mereka.


Begitu mereka menginjakkan kaki di daratan. Lucifer dengan cepat mengambil hulu ledak dari tangan Nara. Setelah mengenakan sarung tangan double steril. Lucifer memisahkan hulu ledah dan tabung yang berisi virus vampir tersebut. Sementara Nara mulai bersiap menggigit jarinya.


"Siap?"


Nara mengangguk, satu gigitan Nara lakukan, darah mulai keluar bersamaan dengan suara "cesssss" yang terdengar dari tabung reaksi yang dibuka oleh Lucifer.

__ADS_1


Satu tetes darah Nara meluncur turun, bunyi berdesis langsung terdengar, begitu darah Nara bertemu dengan virus vampir. Seperti terjadi pertarungan, tabung reaksi itu bergolak dengan darah Nara dan virus vampir tersebut saling serang.


"Lagi."


Nara menambahkan satu tetes darahnya. Kali ini tubuhnya terhuyung. Lucifer dengan segera menahan tubuh Nara. Virus berubah menjadi hijau cerah, tapi belum sebening air. "Paman baru 60% tapi Nara ......"


"Aku masih bisa!"


Gadis itu menegakkan diri. Tapi Lucifer menjauhkan tabung itu. "Berikan, satu tetes dan semua akan beres."


"Tapi Nara!"


"Ada kalian yang akan membantuku jika sesuatu terjadi padaku."


Tegas gadis itu. Lucifer hanya diam tidak bergerak, hingga satu tangan Nara menarik leher Lucifer, mencium bibir pria itu. Dan satu tetes darah Nara menyempurnakan pemurnian virus vampir tersebut. Tubuh Nara lemas, tautan bibir itu terurai, menyisakan rasa shock bagi Lucifer, karena Nara untuk pertama kali mencium dirinya.


"Virus has been purified."


Notifikasi itu membuyarkan situasi antara Nara dan Lucifer. Tabung reaksi itu sudah sepenuhnya berubah menjadi sebening air. Mereka berhasil. Keduanya tersenyum satu sama lain. Lucifer membantu Nara berdiri, tubuh lemah Nara harus segera mendapat pertolongan. Predikat Darah Murni, tapi kalau sejak tadi darahnya terus diperas ya tetep KO pemilik tubuhnya.


Lucifer mulai mengepakkan sayapnya, kali ini dia menggendong Nara dalam pelukannya. Baru beberapa saat terbang, satu benda tiba-tiba menghantan tubuh Lucifer dan Nara. Tanpa perlindungan apapun, ledakan hebat seketika terjadi. Tubuh keduanya terpental. Menukik turun dengan cepat dan tajam.


Boooom,


Tubuh Lucifer membentur tanah keras di daratan. Pria itu mendekap erat tubuh Nara. Membalut tubuh keduanya dengan sayap besarnya. Untuk sesaat tidak ada pergerakan. Lucifer jelas terkejut dengan serangan yang baru saja terjadi.


****


Bayangkan adegan mengejar hulu ledaknya seperti di film G.I Joe, Rise of The Cobra....yang dibintangi oleh Channing Tatum....


Ritual jempol jangan lupa...

__ADS_1


Senin, boleh bagi votenya dong...malak.com 🤭


***


__ADS_2