
Sementara di istana Fatian persiapan "pernikahan" Nara dan Lucifer tengah berlangsung. Di sisi Zuan, pria itu pun sibuk dengan rencananya sendiri. Dia akan menyerang Fatian secara terang-terangan. Semua pasukan Fatian berada di bawah kendalinya. Itu yang membuat Zuan merasa menang besar. Di tambah dia mampu mengendalikan pikiran banyak orang dari jarak jauh. Kali ini, Zuan pastikan kalau rencananya tidak akan gagal. Fatian akan jatuh ke tangannya. Selain itu, Zuan memiliki tentara rahasia yang dia bangun dari jiwa orang-orang yang menjadi makanan Ragnarok. Tentara Iblis yang tidak mungkin terkalahkan. Zuan tertawa puas dengan rencananya.
Lain yang terjadi di dalam istana Fatian, lain pula yang terjadi di lembah salju yang berada di luar gunung tanah suku utara. Lembah yang menjadi pintu masuk ke kerajaan Fatian itu, kini ramai dengan hadirnya beberapa orang di sana. Ramai karena keluhan Lucy yang tidak kunjung berhenti.
Gadis itu ada di antara rombongan yang menyusul Nara ke tempat itu. Sebulan kehilangan komunikasi, membuat Black Castle terutama Luis dan Ara khawatir dengan keadaan putra sulungnya. Pasalnya mereka sama sekalai tidak bisa menghubungi Lucifer. Baik menggunakan teknologi maupun telepati. Akses ke tempat itu benar-benar ditutup rapat. Bahkan kekuatan sekelas Lucas dan Luis saja tidak mampu menembus benteng sihir yang dibuat untuk melindungi kerajaan itu.
"Astaga, Nara harus bertanggung jawab soal ini. Aku membeku!"
Gigi Lucy terdengar menggeletuk saking dinginnya. Padahal dia vampir, eh setengah vampir. Separuh darahnya adalah ras iblis. "Aro kan bisa menghangatkanmu." Timpal Lucio tengil. Si somplak mulai bicara. Dan tebaklah apa yang terucap dari mulut usilnya.
"Boleh nih Kak Aro menghangatkanku?"
Balas Lucy tak kalah jahil. Semua jelas melotot mendengar jawaban putri iblis itu. Mereka tahu Lucy cukup frontal saat berucap. Tapi mereka tidak percaya kalau Lucy akan menanggapi ucapan konyol suami Alexa itu.
"Sembarangan kalau ngomong." Dominic yang menjawab. Sebagai yang dituakan, pria itu merasa bertanggungjawab menjaga saudaranya.
"Lucio yang mulai." Cibir Lucy.
"Bisa diam gak sih. Gak dapat-dapat ini sinyalnya." Gerutu Excel. Pria itu tampak menggerakkan laptopnya ke berbagai arah untuk mencari pintu masuk ke kerajaan Fatian. Sudah dua puluh menit dan Excel masih gagal mencari jalan masuk.
"Coba gunakan infrared."
"Kalau gunakan infrared kenapa kalian tidak mencarinya dari tadi." Semua nyengir mendengar omelan Excel.
"Kemampuan itu hanya Om Hans yang punya." Lucio menjawab. Yang punya kemampuan melihat menembus dinding adalah Hans. Lain tidak. Mereka kembali menarik nafasnya pelan. Lucy semakin menghimpitkan tubuhnya ke arah Aro yang seketika memberinya tatapan peringatan. "Dingin Kak."
"Kamu saja betah berendam tiga jam kenapa sekarang bilang dingin?"
Tawa meledak di tempat itu. Kalimat Aro benar-benar membuat Lucy kicep. Dia memang terkenal super lama saat mandi. Sambil nyicil tidur katanya.
"Wah, besok kau bisa lebih lama tu di kamar mandi."
__ADS_1
Kata Lucio sambil menaikturunkan alisnya. Sementara yang lain langsung mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan maksud Lucio.
"Masak tidak paham sih. Ada banyak gaya yang bisa dilakukan di kamar mandi....aduuuhhhh!"
Lucio berteriak, ketika Dominic mengeplak kepalanya. "Pengantin baru songong!" Sambung Excel. Sementara Lucio nyengir mendengar umpatan Excel.
Hening sesaat setelah celetukan Lucio yang tengil. Hingga teriakan Excel membuat mereka menatap pria itu. "Ketemu!" Girang Excel sembari menunjukkan laptop hologramnya. Sebuah gambar menyerupai pintu terlihat samar di sana. "Teknologimu bisa nge-hack masuk gak?" Kembali pertanyaan Lucio membuat Excel sebal.
"Ya kali teknologiku bisa nge-hack benteng sihir. Kalau bisa itu ruaaarr biasaahhh." Jawab Excel lebay.
"Trus kita masuknya bagaimana?" Tanya Lucy yang hampir membeku. Bibirnya membiru dengan kulit memutih. Bahkan setelah gadis itu masuk dalam pelukan Aro, hal itu tidak banyak membantu. Lucy tetap kedinginan.
Excel tersenyum mengejek. "Nanti aja ya masuknya?" Goda Excel.
"Kau mau membunuhku ya? Buka pintunya atau ku lempar kau ke neraka!" Ancam Lucy dengan bibir bergetar.
Excel tertawa puas melihat kemarahan Lucy, senang sekali dia bisa mengerjai saudara perempuan mereka satu-satunya. Sampai peringatan dari Lucy membuat Excel menghentikan tawanya.
Kata Excel sembari mengeluarkan sebuah botol. Kecil seperti tempat serum lima ml. Excel meneteskan darah itu ke tengah dinding yang masih berselimut salju itu. Mereka mulai mundur ketika cairan itu merembes. Meski hanya setetes tapi cairan itu mampu mengaliri diagram sihir yang menjadi kunci masuk ke kerajaan Fatian.
"Darah Nara." Lirih Aro. Semua langsung melihat ke arah Excel. Seolah meminta pembenaran. "Yup, itu darah Nara. Darah dari keturunan suku utara yang terakhir."
Perkataan Excel bersamaan dengan suara dinding yang bergeser. Seolah dinding tebal tengah berpindah tempat di hadapan mereka. Tak berapa lorong gelap telah muncul di hadapan mereka. Sedikit ragu ketika mereka melihat betapa pekatnya tempat itu. Sampai Dominic memimpin saudara-saudaranya untuk masuk ke lorong gelap itu.
Lucy masuk paling terakhir. Ketakutan gadis itu berlipat-lipat, ketika pintu di belakang mereka menghilang. Berganti dengan deretan obor yang menyala di kiri kanan mereka.
"No way back, Cy."
Kata Lucio dengan wajah mengejeknya. Lucy memberengut mendengar ledekan Lucio. Saat di lorong itu, Lucy mulai merasa hangat. Sampai Lucy mulai melepaskan diri dari pelukan Aro.
"Berapa panjangnya?"
__ADS_1
"Sekitar tiga puluh menit perjalanan."
Kata Excel terus memantau layar laptop hologramnya. Memeriksa kalau ada serangan atau makhluk lain di koridor itu. Namun semua tidak ditemukan oleh Excel. Tempat itu hanya lorong biasa tanpa penjagaan apapun. Sunyi dan seram, kesan yang mereka tangkap setelah memasuki lorong itu beberapa langkah.
Excel terus memantau jalan di depannya. Sikap waspada juga tetap mereka jaga. Hingga suara Excel memberitahu kalau mereka hampir sampai.
"Paman, Lucifer, apa kalian mendengarku?"
Excel mencoba bertelepati. Hening, tidak ada jawaban. "Tidak mungkin kan kalau mereka...."
"Tidak mungkin. Kakakku masih hidup. Aku bisa merasakannya."
Potong Lucio cepat. Sebagai saudara kandung yang beda enam tahun, Lucio tentu punya ikatan kuat dengan sang kakak. Mengingat yang lain adalah anak tunggal.
Sekali lagi Excel mencoba menghubungi Hans atau Lucifer bahkan Nara. Tidak peduli itu sopan atau tidak. Namun tetap tidak ada jawaban. Sampai mereka seberkas cahaya di ujung sana. Mereka tahu telah sampai di pintu keluar.
"Apapun yang terjadi, jangan melawan. Ingat itu."
Dominic memperingatkan semua saudaranya. Semua mengangguk paham, meski Lucio terlihat agak ragu. Ya, pria itu terkenal sedikit emosional saat berada di situasi mendesak atau terancam.
Kelimanya sejenak memejamkan mata saat sampai di pintu keluar. Ketika mereka membuka mata, kelimanya reflek mengangkat tangannya.
"Terciduk deh." Kata Lucio konyol. Sementara yang lain mendengus kesal mendengar ucapan reflek dari Lucio. Suami Alexa itu memang ajaib.
****
Up lagi readers,
Jangan lupa tinggalkan jejak. Ritual jempolnya ditungggu. Terima kasih.
***
__ADS_1