
Nara melangkah mundur ketika May muncul dihadapannya. Senyum mengejek senantiasa terukir di bibir May. Wanita yang selalu Nara anggap sahabat. Tapi sepertinya May tidak lagi menganggap dirinya begitu.
Dilihatnya Lucifer yang tengah menyuntikkan serum penawar ke satu hulu ledak. Dia tidak bisa mengganggu Lucifer. Perhatian Nara terbagi, hingga dia tidak sadar jika May mulai menyerangnya. Satu pukulan mengenai sisi wajah Nara. Gadis itu tersungkur. Dengan luka robek di sudut bibirnya.
Lucifer berbalik dan melihat darah mengalir dari bibir sang istri. Pria itu ingin menyerang May, tapi Nara mencegahnya. Tugas Lucifer belum selesai. Dan Nara tidak mau Lucifer gagal.
"Biar aku saja."
Lucifer berbalik melanjutkan tugasnya meski dia ragu pada Nara. Gadis itu belum sepenuhnya bisa mengendalikan perasaannya soal May. Lucifer tahu benar itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera meenyelesaikan tugasnya. Pria itu mulai menggigit ujung injeksi pada serum penawar, ketika didengarnya baku hantam mulai terjadi di belakangnya.
Lucifer baru akan menyuntikkan serum penawar pada hulu ledak kedua, ketika lima pria tiba-tiba muncul di sekeliling Lucifer.
"Anak-anak May."
Lucifer menggeram. Terlebih ketika satu dari mereka menyerangnya. Pria itu terpaksa membiarkan injeksi tertancap di hulu ledak, belum sempat disuntikkan. Bruukkkk, dua bunyi terdengar sekaligus. Putra May dan Nara terkapar di lantai bersamaan. Lucifer bermaksud ingin menolong Nara. Tapi anak May terus menghalanginya.
"Nara bangun dan serang dia!"
Lucifer gemas dengan sikap sang istri yang masih belum mau menerima, kalau May sudah berubah. Beberapa serangan Lucifer layangkan pada anak-anak May yang kini menyerangnya secara bersamaan. Pria itu begitu lihai bergerak. Lincah, agresit dan on poin. Semua serangannya tepat sasaran.
Berbanding terbalik dengan Nara. Tubuh gadis itu remuk redam. May benar-benar tidak berbelas kasih pada Nara. Rasa saling menyayangi itu hilang sama sekali dari otak May. Nara berulang kali bangun, tapi kembali tersungkur. May tidak memberinya jeda untuk berdiri.
Lucifer sebenarnya tidak kewalahan menghadapi lima putra May sekaligus. Hanya saja pikirannya yang bercabang ke mana-mana. Membuat pria itu tidak terlalu fokus. Dia perlu menyelesaikan misinya secepat mungkin. Berapa detik sudah dia lewatkan hanya untuk meladeni anak May yang benar-benar membuat Lucifer jengah.
Hingga Aro dan Lucio muncul. Lucifer berlari cepat ke hulu ledak kedua yang harus dia netralkan. Dua anak May berusaha mencegah Lucifer. Tapi Lucio dengan cepat menghadangnya.
"The virus has been purified"
Lucifer menarik nafasnya lega. Pria itu berlari ke sisi rooftoop yang lain. Di mana hulu ledak yang lain berada. Belum sempat dia mencapai tempatnya. Pria itu kembali berbalik. Nara berada dalam cekikan May. Wanita itu mencekik Nara tanpa ampun. Air mata mulai mengalir di pipi Nara. Nafasnya mulai tersengal. Wajahnya mula memerah. Gadis itu kehabisan oksigen.
Saat itulah kesadaran mulai merasuki Nara. Yang dihadapannya bukan lagi sahabatnya.
"Dia bukan sahabatmu lagi. Berapa kali dia berniat menebas kepalamu. Berapa kali dia berencana membunuhmu. May sahabatmu, sudah mati."
__ADS_1
Aaarrggghhhh,
Satu teriakan membuat Nara membuka matanya. Di depan sana, dilihatnya Lucifer tersungkur dengan luka sabetan pedang menganga di punggungnya. May menyeringai melihat seorang putranya berhasil melukai Lucifer.
"Bunuh dia!"
May berteriak. Sementara Aro dan Lucio masih terkepung anak May yang lain. Darah Nara mendidih mendengar perintah May. Mereka bisa membunuhnya, tapi mereka tidak boleh melukai orang yang Nara sayangi.
"Jangan pernah menyentuhnya!"
Lirih Nara, May seketika menoleh ke arah Nara yang memegang dua tangan yang mencekik leher Nara. Satu hentakan, dan tubuh May terlempar menghantam tembok di seberang. Lucifer berusaha bangun dibantu Dominic yang muncul di sana. Pria itu menatap lurus ke arah Nara.
"Aktifkan pelindung pikiran kalian. Dia kehilangan kendali diri."
Semua seketika menekan tombol kecil di jam masing-masing. Sebuah perisai tak kasat mata, langsung melindungi kepala masing-masing sampai batas leher.
Satu gelombang kekuatan datang, May dan anak-anaknya meraung kala kekuatan pikiran Nara menekan mereka. Lucio dan Aro melongo, melihat bagaimana dahsyatnya gelombang kekuatan yang Nara hasilkan. Mata wanita itu sudah berubah hijau dengan lingkaran badai yang melingkupi Nara.
"Kau berani menyentuhnya?"
May menangis histeris melihat dua putranya mati di tangan Nara. Perempuan itu bangkit lalu menyerang Nara, dengan sisa kekuatan yang ada. Kali ini Nara tidak mentolerir lagi. Gadis itu mematahkan setiap serangan May. Membalas kembali setiap pukulan dan tendangan yang May arahkan pada dirinya.
"Kau membunuh putraku!"
"Mereka pantas mati!"
Balas Nara kejam. "Wow," kakak iparku keren." Seloroh Lucio yang menatap kagum pada Nara yang kini berubah menjadi mesin tempur saat melawan May. Di belakangnya, Aro membantu Lucifer berdiri. Memberikan satu pil berwarna merah pekat yang langsung ditelan oleh Lucifer. Pil konsentrat darah. Dalam beberapa saat luka di punggung Lucifer mengering. Lantas menutup. Di sisi lain, Dominic memberikan tanda oke, setelah dua hulu ledak berhasil dia sterilkan.
Misi selesai. Begitulah pikir semua orang.
"Nara cukup!"
Lucifer menekan masuk ke pikiran Nara. Gadis itu tengah mencekik May. Dan kembali menyerang pikiran anak-anak May. Nara terdiam mendengar suara Lucifer. Gadis itu seketika melempar tubuh May.
__ADS_1
"Kendalikan dirimu."
Nara jatuh terduduk lemah. Gadis itu mula menangis. Dia melihat tangannya sendiri yang gemetar karena baru saja mencekik May. Gadis itu melihat May yang ditolong oleh putra-putranya.
"Maaf."
Lirih Nara penuh rasa bersalah. Gadis itu tertunduk lesu. Belum lagi tenaganya terkuras habis karena aksinya tadi. Nara belum mampu mengukur kemampuannya sendiri.
Di sisi lain, di laboratorium utama milik Baron. Hans berusaha berdiri setelah Omega melempar tubuhnya, hingga menghantam dinding kaca, yang berisi sample penelitian, juga deretan tabung reaksi yang berjajar di dalamnya. Semuanya hancur berantakan. Berserakan di lantai.
Lucy yang datang membantu menatap geram pada Omega. Hans sendiri langsung membulatkan mata melihat Lucy yang ada di sana.
"Ngapain kamu di sini?"
"Kabur dari anak Paman yang ngamuk."
Hans seketika memejamkan mata. Pria itu menghela nafasnya. Nara benar-benar belum bisa mengendalikan pikirannya.
"Jadi apa yang bisa Lucy bantu?"
Hans segera mengirim sebuah data ke pikiran Lucy. Sebuah data yang harus segera dicari dan dimusnahkan. Beserta penemunya. Lucy bergerak sesuai petunjuk Hans. Meninggalkan ayah Nara yang kembali berdiri, bersiap menghadapi Omega yang sudah berubah menjadi vampir.
Hans menyeringai. Bahkan si penemu virus vampir terobsesi dengan penemuannya sendiri. Saking keponya Omega menginjeksi dirinya sendiri dengan virus temuannya.
"Apa kau pikir enak menjadi vampir?"
"Setidaknya aku tidak merasakan sakit."
Tawa Hans menggema di ruangan itu. "Justru yang kami rasakan jauh lebih sakit dari yang kalian rasakan sebagai manusia. Kau pikir berapa kali kami menahan sakit, melihat orang yang kami sayangi meregang nyawa karena usia. Ketika kami tidak lagi mampu mencegah kepergian mereka."
Kata Hans sendu. Meski mereka punya pilihan kapan akan berhenti, tapi tetap saja, melihat kepergian sahabat dan rekan manusia yang mereka sayangi, itu menyakitkan.
****
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa 😘😘
****