
"Apa kau tidak cemburu?"
Suara The Eternal membuyarkan lamunan Galbathoriq. Cemburu? Dia pikir kata yang lebih tepat untuknya adalah sadar diri. Galbathoriq memang mate untuk keturunan Fatian. Tapi tuannya jelas akan punya pasangan manusia nanti. Begitupun dengan Nara. Bahkan sejak awal, takdir Nara sudah ditentukan. Sampai ke siapa pasangannya kelak. Jadi akan sangat menyedihkan jika Galbathoriq terus berharap pada tuannya. Baginya yang terpenting adalah menjalankan tugas yang sudah diamanatkan padanya sejak ribuan tahun lalu.
"Cemburu? Dia adalah suaminya. Mereka bisa melakukannya kenapa aku harus cemburu. Lagipula aku hanya penjaganya."
"Kau kan mate-nya juga?"
"Aku memang menandainya tapi kalau dia tidak menginginkannya, aku tidak memaksa."
Hening kembali menyelimuti tempat itu. Sebuah kamar yang berdinding batu. Sebuah gua lebih tepatnya. Tapi gua itu tertata dengan cantik. Bahkan Nara mungkin tidak tahu kalau kemarin dia berada dalam sebuah gua, di dalam perut gunung dengan puncak tertinggi di tanah suku utara.
"Lalu perasaanmu padanya? Baru kali ini kita mendapat tuan seorang ratu. Meski sebelumnya juga perempuan, tapi ibu Nara tidak berada di sini."
Galbathoriq terdiam. Pertama kali melihat visual Nara, dia memang tertarik dengan wanita itu. Hasratnya kadang menggelora tidak terbendung. Mereka memang bisa bercinta dengan catatan tidak ada paksaan di antara keduanya. Mengingat Nara sudah menikah. Tapi Galbathoriq berusaha untuk menjaga otak warasnya. Dia tidak akan memaksa Nara hanya untuk menuruti nafsuuu birahinya.
"Aku memang tertarik padanya."
The Eternal menyunggingkan senyumnya. Sudah dia duga. Galbathoriq punya perasaan lebih untuk tuannya. Untuk The Eternal, dia adalah senjata fantasi, tugasnya menghabisi musuh yang menghalangi jalan tuannya. Untuk tujuan itu, semua emosi sudah dihilangkan dari dirinya. Hanya tinggal rasa patuh pada tuannya. Jadi dia tidak punya rasa tertarik pada lawan jenis.
"Lalu?"
"Nach cuma dhuitse." (Bukan urusanmu)
The Eternal terkekeh mendengar jawaban kesal dari Galbathoriq. Sudah dipastikan rekan seperjuangannya itu akan berada dalam dilema. Meski The Eternal tahu, kalau Galbathoriq akan menempatkan semuanya di atas perasaannya.
Sementara itu disisi lain. Lucifer baru saja melepaskan kecebong vampirnya ke rahim Nara, saat pria itu mencapai puncaknya, seiring dengan Nara yang juga mendapat pelepasannya. Dua orang itu sesaat saling pandang. Hingga Lucifer merendahkan tubuhnya. Mencium lembut kening Nara. Lantas menarik diri dari tubuh sang istri. Nara memejamkan mata, merasakan milik Lucifer yang perlahan keluar dari tubuhnya.
"Tidurlah."
Pria itu menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polos sang istri. Tubuh mulus nan menggoda yang kerap memancing hasrat Lucifer tak peduli tempat dan waktu. Pria itu kerap muncul tiba-tiba di lab Hans, membawa Nara ke kamar pribadinya. Hanya untuk melampiaskan gairahnya. Kaum vampir memang terkenal dengan hasrat seksuallnya yang tingĝi. Terlebih bagi yang sudah memiliki pasangan. Bisa dipastikan tiap hari mereka bisa melakukannya berkali-kali.
Suara gedoran di pintu kamar Nara membuat Lucifer berjalan menuju pintu. Pria itu sengaja hanya menggunakan celana pendek. Hingga tubuh dengan pahatan roti sobek plus bekas hacky di mana-mana itu menjadi pandangan yang sedikit mengganggu mata.
Lucifer tahu siapa yang tengah menggedor pintu kamarnya. Dia sendiri memang ingin mengekspose hubungannya dengan sang istri. Dia tidak ingin Agas memaksa Nara untuk menikah dengan pria itu.
Begitu pintu dibuka. Semua orang termasuk Zuan dan Agas langsung membelalakkan mata. Melihat keadaan Lucifer yang jauh dari bayangan orang-orang itu.
"Apa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
Bentak Agas. Sementara Lucifer memasang wajah menantang mendengar bentakan Agas. Bisa Lucifer lihat kalau Agas sangat kesal. Melihat tampilannya semua orang sudah bisa menduga, apa yang baru saja mereka lakukan.
"Seperti yang kau lihat."
Lucifer menaikkan satu alisnya. Pria itu seolah menegaskan apa yang ada dalam pikiran orang-orang tersebut. Agas mendorong tubuh Lucifer ke samping. Memberinya jalan. Lucifer sedikit tersinggung sebab keadaan Nara masih polos tanpa pakaian sama sekali. Suami Nara itu menjentikkan jarinya pelan. Hingga sebuah kelambu menyelimuti ranjang Nara. Menghalangi pandangan bahu polos Nara yang tampak.
"Kau....!"
"Kau dilarang mendekatinya sekarang."
Desis Lucifer penuh peringatan. Pria itu melambaikan tangannya dan sebuah jubah tidur melayang ke arahnya. Tak berapa lama, tubuh Lucifer sudah terbalut jubah tidur tersebut
"Ada yang ingin kau jelaskan?"
Zuan bertanya sembari menahan amarah di dada. Dia tidak menyangka jika Nara malah berhubungan dengan pengawal pribadi yang belum lama bekerja untuk wanita itu. Zuan pikir, betapa murahannya Nara.
"Aku dan dia memang punya hubungan."
Kata Lucifer enteng. Agas terperangah kaget mendengar pengakuan Lucifer. Terlebih tak berapa lama, terdengar suara gumaman Nara yang merasa terganggu tidurnya.
"Ada apa?"
"Mereka menangkap basah kita."
Kekeh Lucifer di kepala Nara. Wanita itu mendengus geram. Bukan karena dia terciduk habis bercinta dengan sang suami. Tapi karena tidurnya terganggu. Kepalanya jadi pusing. Perlahan kelambu itu tersingkap. Tangan Lucifer terulur menyerahkan sebuah jubah tidur.
Dalam pandangan samar karena terhalang kelambu, Agas menelan ludahnya. Melihat betapa mulusnya tubuh bagian belakang Nara.
"Sial! Jika bukan dia yang kutiduri malam itu, lalu siapa. Cih beruntung sekali pengawal sialan ini bisa menikmati tubuh Nara."
Geram Agas dalam hati. Tak lama Nara turun dari ranjang mengenakan jubah mandi yang sedikit mengekpose lekuk tubuh wanita itu.
"Kenapa kalian menerobos masuk kamarku. Tidak sopan!" Ketus Nara, menatap tajam ke arah Zuan. Sudah pasti ini ulah saudara kembar Yuan.
"Bisa Yang Mulia jelaskan hubungan Anda dengan dia?"
Zuan melirik tidak suka pada Lucifer. "Seperti yang kau lihat, aku dan pengawalku punya hubungan. Dan mungkin aku akan menikahinya."
Semua orang membulatkan matanya. Termasuk Lucifer. "Kau jangan bercanda."
__ADS_1
"Jika mereka tetap menginginkan adanya pernikahan. Lebih baik aku menikah kembali denganmu. Itung-itung resepsi yang tertunda."
"Ooo kamu menagih pesta pernikahan denganku. Kenapa tidak bilang kalau kamu juga mau berpesta."
"Aihhh, ini hanya dalih. Aku tidak suka pesta. Tapi jika mereka mau. Kita ikuti saja."
"Maksud Yang Mulia....."
"Iya aku akan menikah dengannya, bukan dengan orang lain."
Nara menatap tajam pada Agas. "Dan kau, bertanggungjawablah pada wanita yang kau tiduri malam itu."
Agas terkejut. Bagaimana Nara bisa tahu wanita itu siapa. Padahal dia sendiri tidak tahu siapa wanita yang bersamanya malam itu.
"Anda jangan sembarangan bicara. Malam itu adalah Anda....."
Nara mengangkat tangannya. Menghentikan perkataan Agas.
"Ini kamarku. Aku tahu siapa saja yang masuk kemari. Terlebih kalian yang menggunakan kamarku untuk berbuat kotor seperti itu."
Nara menggeram marah. Wanita itu bahkan melempar ranjang besar miliknya ke luar jendela, yang langsung mengarah ke tebing, setelah tahu Agas menggunakannya untuk bercinta waktu itu. Lantas menggantinya dengan baru.
"Kau penasaran siapa partnermu malam itu?"
Tanya Lucifer dengan nada tengilnya. Baik Zuan maupun Agas saling pandang. Hingga mata keduanya membulat, melihat siapa yang dipanggil masuk oleh Nara.
"Kau?"
"Ini tidak mungkin!"
Dua pria itu melotot tidak percaya, melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka sambil menundukkan kepala.
***
Up lagi readers,
Jangan lupa ritual jempolnya.
***
__ADS_1