
"Siapa di sana?"
Nara berteriak, gadis itu itu berjalan di sebuah lembah bersalju. Dengan tebing tinggi dan juga gunung menjulang dihadapannya. Semua berselimut salju. Nara kembali melangkahkan kakinya. Berusaha melewati tumpukan salju tebal. Di mana dia? Dia tidak tahu. Kenapa dia di sana? Lagi-lagi dia tidak tahu. Gadis itu berulangkali memanggil sang ayah, Lucifer bahkan teman lainnya.
Pikirannya juga tidak bisa digunakan untuk bertelepati. Semua terasa dikekang di tempat ini. Sekali lagi Nara memaksakan tubuhnya untuk berjalan. Salju itu sudah sampai betis. Nara setengah menyeret tubuhnya. Dia pikir, dia harus pergi dari sana. Hingga suara berupa bisikan masuk ke telinganya.
"Datanglah. Bebaskan aku."
Suara itu berdengung di telinga Nara. Seolah diucapkan dalam kepala Nara. Berkali-kali suara itu terdengar. Dan berkali-kali Nara kembali bertanya. Siapa? Di mana? Tapi tidak ada jawaban. Langkah Nara menuntun gadis itu sampai di sebuah tebing tinggi. Tebing yang hari itu dikunjungi Hans.
Perlahan Nara mengulurkan tangannya. Menyentuh dinding berlapiskan salju tebal. Tidak ada yang terjadi. Hingga Nara menarik tangannya. Gadis itu mendesah pelan. "Katanya suruh datang. Sampai sini, diam saja. Menyebalkan."
Nara mengumpat pelan. Berdiri di depan tebing menjulang tinggi. Nara mendongak, mendengar suara getaran lirih, lantas sesuatu seperti terdengar bergeser.
Mata Nara terbuka, dia melihat ke kiri dan kanannya. Dia ada di laboratorium sang ayah. Gadis itu memejamkan matanya kembali. Rasa kantuk itu kembali menguasainya.
Sebuah padang salju nan luas terbentang di hadapan Nara. Bukan, ini bukan tempat dia berlatih bersama Lucifer. Ini tempat yang berbeda. Tapi di mana. Salju di sana tidak setebal salju yang dia pijak tadi. Di sini saljunya seperti sudah sering di lalui.
Gadis itu berbalik ketika dia merasa sebuah aura kehidupan terasa dari sisi sebelah kiri. Penasaran, dia mengikuti instingnya. Matanya membulat sempurna kala melihat istana megah berdiri di balik kokohnya tebing curam di sana. Banyak orang berlalu lalang di sana. Tapi tak seorangpun tahu kehadirannya.
Nara mengerutkan dahinya. Ini aneh. Hingga seorang pria berpakaian kuno menembus tubuhnya. Nara baru sadar kalau dirinya hanya berupa jiwa yang tidak mungkin dilihat orang. Gadis itu baru akan melanjutkan perjalanannya ketika suatu energi menariknya keluar dari sana. Bersamaan dengan dia melihat sekilas wajah yang dia kenal di sana.
Mata Nara perlahan terbuka. Lagi, tidak orang di sana. Ke mana semua orang, Nara kembali memejamkan mata, entah kenapa tubuhnya terasa lelah sekali. Tapi kali ini, gadis itu kembali tidur tanpa melanjutkan mimpi anehnya.
Di pusat kota, sayap Lucifer mengepak sempurna. Membawa tubuh tinggi besar itu melayang di angkasa. Mata merahnya melihat tajam ke arah kerumunan massa di bawah sana. Keadaan masih kacau balau. Rupanya serangan virus vampir itu semakin meluas. Vampir new born itu menggigit mereka yang masih sehat. Hingga ikut tertular terinfeksi virus.
__ADS_1
"Parah, Om."
Hans mendelik mendengar ucapan Lucifer. Baru tadi ngaku mantu, sekarang ngaku ponakan lagi. Manggil Om lagi. Di samping Hans, Omega sedang bekerja mengubah ukuran serum penawar menjadi ukuran nano. Rencana Baron yang ingin membuat hujan virus vampir tidak terwujud. Tapi vampir newborn banyak tercipta. Dan kerusuhan mulai terjadi di mana-mana. Sampai saat ini, sangat sulit menghentikan laju penyebaran virus vampir.
Hingga akhirnya Omega mencetuskan ide. Hujan virus vampir akan berubah menjadi hujan serum penawar. Saat itu, Omega tengah mengemas serum dalam beberapa tabung. Lucio dan Dominic ada di sana untuk membawa anti virus itu ke tengah kota.
"Aku akan ikut ke sana."
Omega berucap setelah menyerahkan serum terakhir pada Lucio. Mereka semua saling pandang. Sampai disinilah mereka semua. Lucifer, Lucio, Aro dan Dominic. Keempatnya terbang memutari kerumunan yang dipaksa merapat ke tengah taman kota. Pasukan dari Black Castle dikerahkan untuk mengunci pergerakan vampir newborn ini.
Dalam hal ini diplomasi sudah dilakukan oleh Lucas dan Luis. Keduanya menjelaskan situasinya seperti apa. Dan keduanya meminta izin untuk mengatasi kekacauan ini dengan cara mereka. Sebab manusia tidak bisa ikut campur dalam ini. Peran Alexa sangat penting, karena posisi Lexa adalah kekasih Lucio, hingga wanita itu banyak membantu dalam proses negosiasi dua ras yang berbeda itu.
Suara teriakan penuh kemarahan terdengar dari ratusan vampir newborn yang digiring paksa menjadi satu. Mereka merangsek ingin keluar, tapi Luis dan Lucas membangun dinding tak kasat mata untuk menahan pergerakan mereka. Bisa digambarkan jika vampir newborn ini seperti dimasukkan ke dalam wadah transparan.
Setelah semua siap. Lucifer dan yang lainnya, bersiap membuka segel serum antivirus vampir. Begitu dibuka, langsung muncul tiga penyemprot otomatis dari tiap tabung yang berisi lebih dari setengah liter antivirus vampir. Aba-aba dari Hans ditunggu. Begitu tangan pria itu terangkat, keempatnya langsung membalik tabung serum.
Kebanyakan dari mereka langsung terkapar tidak berdaya. Selebihnya langsung bangun dalam keadaan linglung. Omega dan Hans, serta Excel juga Lucy, langsung memeriksa keadaan orang-orang itu. Memastikan jika virus vampir sudah bersih dari tubuh mereka.
Semua orang menarik nafasnya lega. Setelah kekacauan besar yang terjadi, mereka akhirnya bisa mengatasi. Ayah Alexa selaku walikota menyatakan terima kasihnya pada pihak Black Castle. Hubungan dua ras ini memang terjalin apik. Semua masalah selalu dibicarakan dengan baik.
Mereka kembali ke laboratorium Hans, dan mendapati Nara yang sudah duduk di kasurnya. Meminum darah yang dia dapat di kulkas sang papa.
"Astaga, kau sudah menandainya?"
Celetuk Lucio. Sementara Lucifer tidak menjawab, pria itu mendekat ke arah Nara yang melayangkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Jangan gunakan itu."
Lucifer berucap, sebagai tanggapan atas rasa marah Nara. Mereka semua bergumam melihat tampilan Nara. Ada surai putih yang terlihat diantara helaian rambut hitam gadis itu. Juga warna matanya yang berubah merah terang. Padahal mata vampir baru akan berubah merah jika sisi vampir mereka bangkit.
"Salahkan Papamu yang membiarkanmu di sini sendirian."
"Kalian semua sama saja."
Pyaaaaarr,
Tabung reaksi di sebelah Lucifer meledak, saat emosi Nara naik. Hal itu membuat semua orang melongo.
"Nara, kendalikan emosimu. Bukankah kamu juga baru bangun. Jadi tidak perlu marah."
Nara seketika memalingkan wajahnya. Enggan menatap Lucifer yang berdiri di sampingnya.
Hari itu berlalu, semua sudah berakhir. Virus vampir dihancurkan bersama dengan laboratoriumnya. Datanya dimusnahkan, dan filenya dibekukan. Disembunyikan di ruang paling dalam di Black Castle. Semua orang yang pernah bersinggungang dengan penelitian virus itu, diharuskan mengikuti brainwash. Mereka wajib menjalani prosedur penghapusan memory soal virus vampir tersebut.
Termasuk Omega. Pria itu dengan sadar, menghapus ingatannya soal hal yang sudah membuat kacau kota hari itu.
"Ini akan jadi awal yang baru untukmu."
Hans berkata sebelum mesin itu mulai bekerja pada Omega. Seulas senyum terukir di bibir Omega. Dia akan hidup lebih baik mulai hari ini. Demi kesempatan kedua yang telah diberikan padanya.
***
__ADS_1
Up malam guys, ritual jempolnya jan lupa...
Like, komen dan vote dipersilahkan 🫣🫣