
Nara memundurkan tubuhnya saat Galbathoriq mendekatinya. "Mau apa?" Istri Lucifer itu mendadak menjadi takut berduaan dengan wujud manusia dari naga pelindung sekaligus mate-nya itu.
"Apa lagi. Menandaimulah."
Pria itu menggigit jarinya, hingga darah pun mengalir dari sana. Tapi Nara menutup mulutnya. Dia tidak mau ditandai oleh pria itu. Ditandai berarti mereka bisa......
"Aku tidak sepicik itu untuk memintamu bercinta denganku."
Nara menendang kaki panjang Galbathoriq, ya pria itu tampak tinggi menjulang saat berada di hadapan Nara.
"Lalu?"
"Ini hanya formalitas. Pernah dengar kontrak darah? Semacam itu."
Nara malah cengo dengan semua hal yang diucapkan Galbathoriq. Ditandai, formalitas, kontrak darah, haish apa itu. Pikiran Nara malah melayang ke mana-mana.
"Cepatlah, kau harus segera kembali. Si brengsek itu mulai membuat onar."
Nara justru semakin bingung. "Jelaskan dulu!"
"Tidak ada waktu."
Galbathoriq mendekat, tangan pria itu menarik tangan Nara. Hingga tubuh wanita itu beradu dengan tubuh kekar Galbathoriq. Satu tangan pria itu menahan tengkuk Nara. Hingga dua bibir itu akhirnya bertemu. Nara membulatkan mata saat menyadari Galbathoriq menciumnya. Pria itu memaksa dirinya membuka mulut. Tapi Nara menolak. Sampai saat pikiran Nara mendadak blank. Saat itulah dia berada dalam kekuasaan Galbathoriq.
"Oscail do bhéal, a Bhanríon"
(Buka mulutmu, ratuku)
Mantra itu bekerja, Nara perlahan membuka mulutnya dan mengalirlah darah Galbathoriq ke dalam tubuh Nara. Untuk sesaat pria itu termenung, hingga akhirnya dia pun tergoda. Cahaya putih serasa menghisap tubuh Nara saat dia merasakan bibir tipis Galbathoriq melummatt bibirnya. Hanya beberapa saat, sampai kesadaran Nara menghilang.
Dan wanita itu tiba-tiba berada di sebuah taman bunga. Aneh, tanah di depannya bersalju tapi bunga-bunga mampu tumbuh dengan subur. Tanaman itu nampak cantik saat bunganya bermekaran. Lagi, kesadaran Nara terpanggil kala suara Lucifer begitu dekat di telinganya.
Nara kembali berpusar dalam sebuah lingkaran waktu yang dia sendiri tidak tahu akan membawanya ke mana. Sampai wanita itu membuka matanya perlahan. Nara mendapati wajah Lucifer berada tepat di depannya.
"Kau membuatku cemas."
Kata Lucifer pelan. Sementara Nara masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Apa yang baru saja terjadi. Dia tidak ingat sama sekali. "Apa yang...berapa lama aku tidur?"
Nara mengubah pertanyaannya. Dia pikir telah melewatkan sesuatu, tapi apa. Dia tidak mampu mengingatnya.
__ADS_1
"Mungkin semalam. Aku memberitahumu kalau aku tidak kembali ke kamar. Tapi waktu aku kembali tadi pagi, kamu tidak ada. Kata pelayan, mereka melihatmu masuk ke sini semalam."
Nara menggaruk kepalanya. Benarkah dia tidur di perpustakaan istana semalam? Pikirannya sibuk berkelana, sementara Lucifer membimbing Nara berjalan. Nara masih setengah sadar ketika mereka bertemu Agas dan Zuan di aula yang bersebelahan dengan perpustakaan istana. Zuan tersenyum licik, merasa akan menang kali ini.
"Apa Yang Mulia kelelahan?"
Tanya Zuan setengah mengejek. Nara mengangguk sebab memang itu yang dia rasakan. Tubuhnya pegal semua, terutama bagian leher dan pinggang. Seperti orang habis.....Nara menoleh pada Lucifer. Berpikir kalau semalan dia dan suaminya itu tidak bercinta.
Melihat Nara mengangguk. Agas tersenyum puas. Rupanya semalam, pria itu tidak hanya sekali meniduri wanita yang berada di bawah tubuhnya. Wanita yang dia sangka Nara. Padahal bukan. Setelah Lucifer pergi, dan Galbathoriq gagal membangunkan Nara. Galbathoriq memutuskan untuk membawa Nara ke dunianya. Dari pada sang ratu dijadikan bahan jebakan.
"Kalau begitu pernikahan kalian harus dipercepat. Tidak baik jika berita ini tersebar sampai keluar tembok."
Nara dan Lucifer saling pandang. Menikah? Sepasang suami istri tidak paham, kemana arah pembicaraan Agas dan Zuan.
"Maksud kalian apa?"
"Yang Mulia jangan berpura-pura. Anda kelelahan karena semalam kita baru saja menghabiskan malam bersama."
Nara mengerutkan dahi. Menghabiskan malam? Bersama Agas? Tidak mungkin. Lucifer melihat Nara penuh tanda tanya.
"Aku tidak melakukan apa-apa semalam. Sungguh."
Lucifer menatap wajah Nara dengan saksama lantas turun ke bibir dan leher wanita itu. Sedikit lega karena dia tidak menemukan kiss mark di leher sang istri. Atau bibir bengkak karena terlalu lama berciuman. Untung si naga cuma bentar nyiumnya. Lucifer hanya curiga pada aroma lain yang menempel di tubuh sang istri. Namun yang jelas itu bukan aroma Agas.
"Anda mengelak setelah semalam mendesaahh nikmat di bawah tubuh saya?"
Nara rasanya ingin muntah. Mendesahh nikmat di bawah tubuh Agas? Yang benar saja. Tertarik saja tidak bagaimana bisa tidur bersama.
"Apa yang sih kalian katakan? Apa kalian mau bilang kalau aku dan Agas semalam tidur bersama dan bercinta? Lalu kau ingin kami segera menikah? Begitu?"
Perkataan lugas Nara disambut senyum penuh kemenangan oleh Zuan dan Agas. Mereka pikir Nara akan menurut kali ini. Tapi di luar dugaan, Nara mengatakan hal lain.
"Karena Yang Mulia sudah mengakuinya, maka minggu depan pernikahan kalian akan dilaksanakan."
"Mengakui apa? Aku tegaskan, semalam aku tidak berada di kamarku. Aku berada di perpustakaan dan tidur di sana sampai pagi. Pengawalku baru saja menjemputku dari perpustakaan."
Agas memundurkan langkahnya. Tidak percaya pada ucapan Nara. Jika bukan Nara lalu siapa yang sudah dia tiduri tadi malam.
"Anda jangan mengelak, Yang Mulia!" Seru Zuan mulai kesal.
__ADS_1
"Aku tidak mengelak tapi mengatakan yang sebenarnya. Lagipula jika aku mau bercinta, aku akan memilih pria yang selevel denganku. Setidaknya dia tidak suka main perempuan. Celup sana sini. Paling tidak seperti....pengawalku."
Lucifer mendelik saat Nara secara tersirat mengungkapkan hubungan mereka yang bukan sekedar pengawal dan tuannya. Agas jelas tersinggung dengan ucapan Nara yang penuh penghinaan padanya.
"Yang Mulia jangan berkata sembarangan...."
"Apa perlu aku berikan daftar perempuan yang pernah kau tiduri? Kau pikir aku tidak tahu apa-apa. Kalian salah!"
Nara berlalu dari sana, diikuti Lucifer yang memberi hormat pada Zuan dan Agas sebelum menyusul Nara.
"Dia dan pengawalnya pasti ada apa-apanya. Pasti dia dan pengawalnya sering melakukannya."
Geram Agas, Zuan setuju dengan perkataan Agas. "Kita harus mencari bukti kalau mereka bukan sekedar pengawal dan tuannya."
Brrraaakkkkk
Lucifer berjengit ketika Nara membanting pintu kamar mandi. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat kekesalan Nara. Tak lama terdengar umpatan dan makian keluar dari bibir sang istri. Lucifer tersenyum. Setelah mengunci pintu menggunakan kunci ganda. Manual dan sihir. Pria itu menyusul Nara ke kamar mandi.
Dilihatnya Nara yang sudah menenggelamkan diri dalam busa bath up besar. Pria itu melangkah mendekat. Seulas senyum terbit di bibir Lucifer melihat leher dan bahu Nara yang mulus tanpa tanda merah sedikitpun. Hal yang membuktikan kalau sang istri benar-benar tidak melakukan apa yang Agas dan Zuan tuduhkan.
"Apa perlu bantuan untuk menghilangkan rasa marahmu?"
Lucifer bertanya tepat di telinga Nara. Wanita itu membuka matanya. Lantas menoleh ke arah Lucifer. "Ubah wajahmu."
Lucifer mengerti. Tak berapa lama, wajah asli pria itu terlihat. Tanpa menunggu lama, Nara langsung meraup bibir tipis Lucifer, Nara mencium bibir sang suami dengan hasrat menggebu.
"Bantu aku."
Bersamaan dengan itu dua pasang mata batin langsung menutup diri. Menjauh dari tempat itu.
****
Kredit Pinterest.com
Up lagi readers,
Jangan lupa ritual jempolnya...
__ADS_1
***