
Nara menatap sebuah kotak yang ada didepannya. Dua hari setelah kejadian virus vampir yang menghebohkan. Kotak yang terbuat stainless steel. Ringan dengan warna keperakan. Diatasnya, sebuah buket bunga tampak cantik menghiasi.
Perlahan Nara mendekat ke arah kotak itu atau lebih tepatnya peti mati.
"Nara, aku minta maaf padamu. Aku banyak salah padamu. Aku merasa malu untuk bertemu lagi denganmu. Jadi aku memutuskan pergi. Maafkan aku."
Tangis Nara pecah, saat dia menyentuh peti mati tempat May disemayamkan. May memang berhasil diselamatkan oleh Dominic ketika ledakan terjadi di laboratorium Baron. Excel terpaksa meledakkan tempat tersebut. Itu cara tercepat untuk menghapuskan data dan biang virus yang masih tersisa. Tanpa disangka, Baron memilih tewas terpanggang dalam ledakan itu.
May pun sempat masuk ke dalam kobaran api. Wanita itu juga ingin menyusul Baron. Tapi Dominic berhasil menyambar tubuh May atas perintah Hans, sebelum tubuh wanita itu ikut terbakar atau hancur berkeping-keping. Hans pikir masih bisa menemukan cara untuk mengembalikan ingatan May.
Tapi May rupanya memilih jalan lain, wanita itu memilih mengakhiri hidupnya saat menjalani perawatan. Dia terlalu malu untuk bertemu Nara.
"Kenapa kamu malah pergi May?"
Isak Nara di samping peti mati sang sahabat. Lucifer hanya diam di belakang Nara. Membiarkan Nara menumpahkan rasa sedihnya. Nara sendiri baru dibebaskan dari laboratorium tadi pagi. Nara perlu serangkaian pemeriksaan. Karena ternyata setelah penandaan oleh Lucifer, dia seharusnya menjadi vampir sepenuhnya. Nyatanya tidak. Meski penandaan berhasil dan kebiasaan Nara sudah mengikuti ras vampir. Darah Nara, tetap darah murni.
Hans pikir, darah Nara akan berhenti beredar. Lagi-lagi Hans salah. Nara adalah vampir berdarah murni yang sesungguhnya. Gadis itu sedikit membuat masalah. Karena perubahan terjadi padanya, emosi Nara jadi sering meluap. Dan parahnya, tiap emosi Nara naik, benda-benda di sekitarnya akan meledak atau hancur berantakan.
"Nara kendalikan dirimu."
Lucifer terpaksa mencekal sang istri. Menahan tubuh Nara di atas kasur. Sementara gadis itu terus bergerak liar. Hans sedikit kesulitan untuk memberikan obat penenang. Hans menarik nafasnya setelah Nara terlihat lebih tenang.
"Ini kalau dia ngamuk di rumah ngamuk bagaimana?"
Lucifer menatap Nara yang terbaring lemah di kasurnya. Hans melenggang pergi dar sana.
"Terserah."
Senyum jahil Lucifer terbit. Entah kenapa, dengan Hans, Lucifer berani mengusili pria yang notabene adalah papa mertuanya.
"Boleh aku melakukan itu?"
Satu tatapan tajam terhunus ke arah Lucifer. Penuh peringatan. Lucifer berpura-pura manyun. Membenarkan letak tubuh Nara, agar gadis itu bisa berbaring dengan nyaman. Dia berjanji, kalau dia tidak akan memaksa Nara untuk bercinta dengan dirinya. Penandaan kemarin adalah tindakan darurat untuk menyelamatkan Nara.
Nara melesakkan wajahnya semakin dalam dalam pelukan Lucifer. Dada bidang pria itu serasa menjadi tempat ternyaman untuknya menumpahkan kesedihan. Saat peti mati May melayang, masuk ke sebuah area pemakaman di disisi gunung. Tempat yang dipersiapkan oleh Black Castle untuk mencegah seseorang melakukan hal buruk pada tubuh May. Peti mati itu melesat masuk ke celah dinding yang sudah dilubangi terlebih dahulu. Setelahnya dinding otomatis menutup setelah peti mati May berada dikoordinatnya.
"Dia pergi."
"Dari dulu dia sudah meninggalkanmu!"
__ADS_1
"Lucifer!"
"Paan sih?"
Pria itu menghentikan langkahnya saat Nara berhenti sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kesal. Nara manyun. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia sangat emosi belakangan ini. Dia sulit mengendalikan diri, ditambah panggilan samar terus masuk ke kepalanya. Pusing.
"Kamu menyebalkan."
Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir tipis Nara. Lucifer yang notabene pria cuek, tentu bingung menghadapi sikap Nara. Tapi dia juga tidak kurang akal menghadapi Nara.
"Simpan rasa kesalmu. Ayah ibu dan yang lainnya sudah menunggu."
Nara seketika membulatkan mata. Dia lupa kalau tengah berada di Black Castle. Karena akhir minggu ini Lucio dan Alexa akan menikah. Berbeda dengan pernikahan Nara dan Lucifer yang penuh misteri dan tertutup. Pernikahan Lucio dan Alexa akan dihelat besar-besaran. Ini adalah pernikahan pertama yang akan mengumpulkan semua klan vampir dari seluruh dunia. Juga beberapa utusan dari tiga dunia.
Kredit Pinterest.com
Sebuah istana bergaya abad pertengahan berdiri megah di hadapan Nara. Nara bahkan harus mendongak untuk melihat puncak istana itu. Puncak istana bahkan berselimut kabut saking tingginya. Nyali Nara ciut seketika. Dia belum siap untuk bertemu keluarga besar Lucifer. Meski sang ayah sempat bercerita kalau mereka orang baik. Nara pernah bertemu mereka saat dia masih kecil. Tapi itu sudah lama. Nara tidak ingat sama sekali.
Melihat Lucifer yang mulai berjalan masuk ke istana itu, timbul ide gila Nara. Gadis itu berbalik lantas berlari menjauh dari sana. Lucifer seketika menggeram marah. Pria itu berbalik dan melihat tubuh Nara yang sudah menghilang di rimbunnya hutan di sisi kiri istana itu.
"Dia masih saja suka main kejar-kejaran."
Nafas Nara terengah, saat gadis itu berhenti. Bersandar pada sebatang pohon besar di sana. Tanpa Nara tahu, pohon itu bergerak. Menunduk seolah tengah memeriksa siapa yang sedang mengganggu tidurnya.
"Darah murni."
Si pohon bergumam pelan. Satu ranting tajam bergerak mendekati lengan Nara yang terbuka. Satu tetes dan itu cukup untuk menambah kekuatan dan membuatnya abadi. Ranting itu baru saja akan menusuk lengan Nara, ketika Lucifer dengan cepat menyambar tubuh sang istri. Menjauh dari pohon itu.
Melihat Lucifer di depannya. Nara membulatkan mata. Terlebih posisi mereka sangat intim. Nara berada di atas tubuh Lucifer dengan jarak wajah yang hanya beberapa mili. Moment itu seketika rusak ketika ranting-ranting pohon itu menyerang mereka. Nara seketika menyembunyikan wajahnya di dada Lucifer, ketika pria itu mengajaknya berguling-guling di tanah. Menghindari pukulan ranting pohon yang coba menangkap Nara.
Crasshhhh,
Aarrgghhhh,
Si pohon langsung meraung kala Lucifer membabat habis ranting-ranting yang terarah pada Lucifer. Pedang dengan permata merah darah itu tampak berkilau di tangan Lucifer.
"Berani kau menyentuhnya? Apa kau tidak tahu dia ada dalam perlindunganku?"
__ADS_1
Suara Lucifer berdesis penuh kemarahan. Tatapan matanya sarat dengan ancaman. Meski begitu, ekor mata Lucifer masih bisa melihat Nara yang berjalan mendekat ke sisinya. Tidak ada rasa takut dalam diri gadis itu.
"Siapa dia?"
"The Living Tree."
Lucifer menjawab singkat. Selanjutnya pria itu kembali bergerak. Menyerang pohon hidup yang kini menggunakan akarnya untuk menangkap Nara. Lucifer bergerak cepat menebas akar yang mengejar Nara. Sementara gadis itu beberapa kali menghindar dari kejaran pohon itu.
"Apa boleh dihancurkan?"
Satu pikiran masuk ke kepala Lucifer. Pedang merah itu terus bergerak lincah. Mengimbangi serangan pohon kehidupan yang semakin gencar menyerang Lucifer.
"Lakukanlah."
Lucifer menghentikan serangannya. Sudah banyak laporan yang masuk ke Black Castle. Soal pohon Kehidupan yang mengganggu kehidupan lain di hutan itu. The Living Tree menyerap habis energi kehidupan lain untuk membuatnya panjang umur. Tapi mereka belum punya bukti yang kuat. Dan hari ini, Lucifer punya alasan untuk menghabisi si biang kerok di hutan Black Castle.
Nara menyeringai, dia cukup tahu kalau pohon di depannya ini cukup membuat masalah. Nara mulai memusatkan perhatiannya. Mencoba menggunakan kendali pikirannya untuk menghancurkan pohon yang terus bergerak liar di hadapannya.
"Lima puluh persen saja!"
Nara mendengus kesal mendengar ucapan Lucifer.
"Kekuatanmu....seratus persen kehancurannya."
Senyum merekah di bibir Nara. Perlahan Nara memejamkan matanya. Bola mata merah itu seketika berubah hijau. Dan sebuah ledakan hebat terdengar di empat penjuru arah. Begitu Nara membuka matanya. Di depannya, The Living Tree sudah berubah menjadi serpihan dan potongan yang berserakan di tanah hutan.
"Mati kau!"
Satu gelombang kekuatan datang, meremas jantung The Living Tree yang berwarna hijau. Permata hijau itu melayang ke arah Nara.
"Sudah lama saya menunggu kedatangan Anda, Ratuku."
Tubuh Nara seketika ambruk ke tanah. Begitu permata itu memudar dan menyerap ke dalam tubuh Nara.
"Akhir dari pohon kehidupan. Tapi permulaan untuk Dragon Eye (Mata Naga)"
****
Up ya readers...moon maaf ye, kemarin author lagi gak mood nulis...mianhae...🙏🙏
__ADS_1
Ritual jempolnya jan lupa...mamacih
****