Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Di Lembah Kematian


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Valley of Death, Lembah kematian adalah sebuah cekungan di antara dua tebing curam dengan kemiringan mendekati 70°. Tempat itu hanya seperti sebuah celah di antara dua dinding yang hampir tegak lurus. Bisa dipastikan tidak ada seorang manusia biasa yang mampu mencapai dan bertahan di tempat itu. Mengingat salju tebal dan turun terus menerus di kawasan itu. Nara langsung ambruk begitu sampai di daerah itu. Dingin yang teramat sangat, terasa menusuk ke tulang. Hembusan nafas Nara terlihat seperti uap air.


"Minus 25°C."


"Astaga, frezeer kulkas aja cuma minus 17°C. Tempat ini benar-benar kuburan masal."


Kata Hans menimpali ucapan Lucifer soal suhu ekstrim yang baru saja dia rasakan. Dua pria itu membantu Nara yang mulai kuwalahan menghadapi suhu mengerikan ditambah terpaan angin bersalju, yang terasa menampar wajahnya. Wajah Nara memerah seketika.


"Di mana?"


Lucifer mulai mencari tapi tidak menemukan keberadaan makhluk yang konon katanya berwujud naga besar itu. Seharusnya dengan tubuh besarnya, mereka sudah bisa melihat penampakan Galbathoriq, tapi ini zonk. Tidak ada apapun di tempat itu. Selain lembah bersalju bak malaikat maut yang siap mencabut nyawa.


Sementara Nara mencoba menghubungi naga tersebut. "Hei, aku di sini. Berikan aku tanda di mana kau berada."


Nara berulang kali memanggil, tapi tidak ada jawaban. Tanpa mereka tahu, sepasang mata hijau milik Galbathoriq memindai semua pergerakan Nara dan yang lainnya. "Setidaknya aku bisa melihatnya sebelum aku mati." Lirih Galbathoriq. Tubuhnya benar-benar lemah. Sihir itu mulai mendekati area jantungnya. Mungkin sedikit saja akan meremas habis pusat kehidupan makhluk itu.


"Dia ada di sekitar sini. Aku merasakan auranya."


Lucifer berucap pelan sesaat kemudian, dengan mata memindai tempat yang cukup lapang di depannya. Pria itu perlahan mengulurkan tangannya. Menyentuh dinding tak kasat mata yang menyembunyikan Galbathoriq. Laksana cermin dua arah, Galbathoriq bisa melihat Lucifer yang sepertinya mulai sadar dengan apa yang tengah dia hadapi. Tapi Lucifer dan yang lainnya tidak bisa melihat naga besar itu.


"Akan kuhancurkan"


Ucapan Nara di hentikan oleh Hans. Dia tahu harus menghemat tenaga sang putri. Hingga pria itu perlahan mundur. Lucifer dan Nara pun melakukan hal yang sama. Hans perlahan mengangkat tangan kirinya dan sebilah busur panah api mulai terbentuk, ketika tangan kanannya bergerak. Sebentuk anak panah muncul di tengah dinginnya salju.


Lucifer mulai membentuk perisai pelindung untuk dirinya dan Nara. Berjaga dari ledakan atau benturan yang tidak terduga. Ujung anak panah Hans mulai mengeluarkan api ketika pria itu membidik, ekor mata Hans mulai mengunci sasaran.


"Whuussshhhhhhhh."

__ADS_1


Seperti suara angin yang melaju kencang, anak panah Hans menggandakan diri menjadi empat dan meluncur ke empat titik.


Booooommmmm


Duaaaaaarrrrr


Nara langsung menutup telinganya dan menenggelamkan diri dalam pelukan Lucifer. Sebuah ledakan hebat terjadi, seperti dua kekuatan besar yang saling berbenturan. Kabut asap pekat seketika menyelimuti tempat itu. Disertai udara yang membuat dada terasa sesak. Nara dan Lucifer terbatuk berkali-kali.


Perlahan kabut itu mulai sirna. Ketiganya memicingkan mata untuk memperjelas indera penglihatan mereka. Dugaan Hans benar, ada dinding tak terlihat yang menyembunyikan sesuatu di tempat itu.


Sampai kabut mulai memudar dan ketiganya tercengang melihat penampakan di depan mereka. "Jadi dia benar-benar nyata. Legenda itu." Gumam Lucifer takjub. Dia pernah membaca tentang suku tanah utara yang punya pelindung seekor naga besar. Dan ternyata itu benar.


Di depan mereka terbaring naga besar berwarna abu-abu dengan tinggi mencapai tiga meter dan panjang menyentuh angka tujuh meter. Besar, sangat besar untuk ukuran makhluk mistis. Bahkan Phoenix saja tidak sebesar itu.


Nara setengah berlari dengan bantuan Lucifer mendekati Galbathoriq. Mata naga itu setengah terpejam. Namun sorot mata penuh kelegaan terpancar dari sana. Dua ratus tahun terkurung di lembah mematikan tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Hingga beberapa waktu yang lalu.


"Kita harus cepat menolongnya."


Satu tebasan dan rantai yang mengekang leher Galbathoriq putus. Seperti terpanggang api. Rantai leher itu meleleh dan menghilang tanpa jejak.


"Kau tahu kenapa mereka memusuhi kita?"


"Karena hanya kita yang mampu melawan sihir mereka." Kata Hans pada Nara yang mulai mendekati makhluk besar itu.


"Galbathoriq memberi hormat pada Yang Mulia Ratu."


"Simpan basa basimu!"


Judes Nara. Wanita itu mulai mendekati Galbathoriq. Lucifer mengangguk ketika dua pasang mata mereka bertemu. Lucifer tahu ini darurat. Nara menggigit ujung jarinya. Lantas mendekatkannya ke arah mulut naga besar tersebut. Meski hanya setetes tapi begitu masuk ke mulut Galbathoriq, naga besar itu seolah meminum satu ember besar darah Nara. Bisa dibayangkan efek dari seember darah murni.


Dapat Galbathoriq rasakan, bagaimana darah murni Nara bekerja melepaskan belitan sihir pemusnah yang hampir saja merenggut jantung hijaunya. Galbathoriq menggeram ketika rasa panas seolah membakar tubuhnya. Saat darah murni Nara memurnikan badannya secara keseluruhan.

__ADS_1


Hingga puncaknya ketika tubuh Galbathoriq menggelepar. Lucifer membawa tubuh Nara ke balik dinding besar di tempat itu. Menghindari sabetan ekor dan luncuran salju yang terjadi karena pergerakan liar Galbathoriq.


Hingga keadaan kembali tenang setelah naga besar itu berhenti bergerak. Kali ini Hans yang mendekat.


"Tidak akan mempan!"


Galbathoriq meledek Hans yang mengeluarkan satu botol serum lengkap dengan alat suntiknya.


"Wahh sudah bisa bicara rupanya."


Hans balik meledek. Naga besar setengah sembuh itu melotot melihat jarum super runcing milik Hans.


"Kau tahu....berlian saja bisa ditembus oleh jarum ini apa lagi kulitmu."


Balas Hans. Detik berikutnya Galbathoriq terdiam. Kala jarum itu benar-benar menembus kulit tebal yang dilapisi duri tajam di bagian luarnya. Sensasi dingin langsung menyebar keseluruh tubuh Galbathoriq dengan cepat. Meski rasanya tidak seperti darah Nara yang begitu menyegarkan.


Tak perlu waktu lama, Galbathoriq sudah mampu berdiri. Dia benar-benar pulih dan sepenuhnya bebas dari jerat sihir Zuan dan Ragnarok.


"Terima kasih."


Suara Galbathoriq menggema menyeramkan di tempat itu. "Wah, makhluk seperti kalian mau juga berterima kasih pada kami. Iblis dari neraka, kaummu menyebutnya."


"Itu adalah anggapan mereka. Bagiku semua kehidupun sama. Tidak peduli apa yang mereka lakukan, atau bagaimana mereka menjalani hidup. Itu tidak penting bagiku. Aku akan tetap menghormati dan menghargai mereka. Terlebih kalian yang sudah membantuku. Sekali lagi terima kasih. Aku berhutang nyawa pada kalian."


Makhluk besar itu menundukkan kepala, memberi hormat pada ketiganya. Sebuah hal yang membuat Hans dan Lucifer tercengang sekaligus kagum dengan sikap Galbathoriq. Makhluk mistis tersebut memiliki pemikiran luas dan terbuka.


***


Up lagi readers,


Jangan lupa ritual jempolnya...

__ADS_1


****


__ADS_2