Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
The Eternal


__ADS_3

Nara dan yang lainnya kembali ke kerajaan Fatian. Ketika mereka kembali, Anaki menyambut menyambut mereka dengan wajah panik. Hal ini tentu saja membuat Nara, Lucifer dan Hans heran. Padahal ketika mereka pergi semua baik-baik saja.


Nara meledak marah saat tahu apa yang terjadi. Keempatnya segera menuju ke aula di sisi utara bangunan istana tebing itu. "Baru juga ditinggal sebentar. Sudah bikin gara-gara aja si Zuan ini."


Gerutu Nara sepanjang perjalanan perjalanan menuju alun-alun kerajaan itu. Di depan sana langkah Yuan tampak tergesa-gesa. Rasa khawatir jelas tergambar di raut wajah rentanya. Saat mereka tiba di lapangan, tempat itu sudah ramai dengan penduduk yang berkumpul di sana. Mata Nara memicing hingga mendapati apa yang menjadi pusat perhatian mereka.


Xazian diikat di tengah tempat itu. Berada di atas sebuah batu yang letaknya lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Penduduk itu bisa melihat dengan jelas apa yang sudah para algojo itu lakukan pada tubuh Xazian. Tubuh Xazian terluka karena sabetan cambuk dan pukulan dari tentara yang diperintahkan oleh, siapa lagi kalau bukan Zuan.


Pria itu duduk di tempat yang paling tinggi di sisi berseberangan dengan tempat Nara berdiri. Sungguh menyebalkan melihat pria itu duduk di sana sembari menunjukkan wajah angkuh dan congkaknya.


"Lakukan!"


Perintah dari Zuan membuat dua algojo maju ke arah Xazian. Sebilah golok berkilat berada di tangan salah seorang dari algojo itu. Seluruh penduduk memundurkan langkahnya. Ketakutan.


"Dia gila!"


"Yang Mulia lakukan sesuatu. Xazian tidak boleh mati konyol di tangan Zuan."


Sementara di depan sana, Zuan mulai bicara. Memberitahukan bahwa menteri pertahanan mereka akan dihukum mati karena terbukti berkhianat, memberi informasi pada pihak luar. "Dia keterlaluan!"


Geram Nara, wanita itu mengangkat tangan kanannya, dan sebuah busur panah perak muncul di tangannya. Lucifer menyeringai, kekuatan Galbathoriq yang tengah Nara gunakan. Tak berapa lama kehebohan terjadi ketika tiga anak perak meluncur sekaligus. Menumbangkan dua algojo yang langsung tewas di tempat, sementara satu anak panah menghempaskan golok besar yang sejatinya akan digunakan untuk memenggal kepala Xazian.


Zuan langsung berdiri dari duduknya, mendorong jauh dua wanita yang sejak tadi duduk di pangkuannya. Menjijikkan, bahkan di hadapan penduduk, Zuan berani mempertontonkan kelakuan busuknya.


"Siapa?! Siapa yang berani melakukan itu. Dia pengkhianat!"


Zuan marah besar, dia sudah lama menunggu hari ini ketika trik kotornya berhasil. Dia menjebak Xazian dengan sebuah dokumen rahasia yang sengaja diselipkan di antara berkas yang ada di ruang kerja Xazian. Membunuh Xazian tidak bisa dilakukan sembarangan. Zuan tahu, dia tidak mendapat dukungan rakyat Fatian, karena rakyat negeri itu masih berharap kalau keturunan raja terdahulu akan kembali.


Penduduk selama ini tahkluk pada Zuan karena takut. Takut akan dihukum tanpa alasan. Takut jika tiba-tiba anak gadis mereka diambil paksa. Atau takut kalau mereka akan diumpankan pada Ragnarok.

__ADS_1


"Kau berani sekali menghukum orangku!"


Suara lantang dari Nara membuat Zuan terkejut. Bukankah Nara di kabarkan pergi ke lembah kematian. Bagaimana mungkin dia bisa kembali secepat ini. Kecuali dia berhasil menyelamatkan Galbathoriq. Tapi itu jelas tidak mungkin. Ragnarok sudah memberitahu kalau jiwa dan aura Galbathoriq tidak teraba. Ada kemungkinan jika naga pelindung keturunan Fatian itu sudah mati.


"Maksud Yang Mulia?"


Di tengah kebingunan Zuan, hanya kalimat itu yang terucap.


"Xazian adalah orangku!"


Tegas Nara. Wanita itu melompat ke arah Xazian, lantas tanpa ragu melepas ikatan yang menjerat Xazian.


"Terima kasih, Yang Mulia."


Xazian bersujud di hadapan Nara. Sungguh pria itu menyangka kalau hari ini adalah hari kematiannya. Tapi dia tidak menduga kalau ratunya sendiri yang datang menyelamatkan.


Dua orang asisten Xazian langsung membantu tuannya turun dari tempat tinggi itu. Berjalan ke arah Hans dan Lucifer. Setelah didudukkan, sebuah suntikan Hans berikan.


"Obat untuk menyembuhkan lukamu. Sihirmu tidak bisa digunakan jika tubuhmu lemah."


Jawab Hans setelah selesai mennginjeksikan cairan bening itu. Sementara itu di tengah lapangan, Nara memberikan tatapan menantangnya pada Zuan. Sedang Zuan tersenyum penuh arti. Satu bisikan dari Ragnarok membuat Zuan senang.


"Karena Yang Mulia sudah berada di sini. Maka kami berkeinginan untuk melihat The Eternal."


Nara mengerutkan dahinya. The Eternal itu apa? Dia tidak pernah diberitahu benda itu ada.


"Pedangmu, bukti kalau kau keturunan raja Fatian."


Nara ber-oo ria mendengar suara Galbathoriq. "Caraku mengambilnya bagaimana?"

__ADS_1


Tawa Galbathoriq lolos. Dia cukup terkejut saat tahu kalau Nara ternyata begitu polos. "Panggil saja. Nanti dia datang sendiri. Dia lumayan penasaran dengan dirimu."


Jawab naga itu di tengah kekehan tawanya. Galbathoriq sebenarnya tengah bermeditasi menggunakan wujud manusianya. Ya, makhluk mistis itu mempunyai wujud manusia yang sangat tampan. Sepadan dengan Lucifer. Karena itu Galbathoriq pernah mengajak Nara behubungan intim karena dia memang bisa melakukannya dengan wujud manusia.


Ini kesempatan untuk menjatuhkan kehormatan Nara, jika wanita itu gagal mendatangkan The Eternal, maka rakyat Fatian akan hilang harapan. Dan tidak punya pilihan lain selain mempercayai dirinya sebagai pemimpin Fatian. Satu sisi Zuan tersenyum penuh kemenangan. Dia telah mengunci The Eternal di ruang paling dalam, dengan penjagaan mantra berlapis. Disamping itu, Zuan telah melemahkan energi dalam The Eternal. Jadi pedang itu tidak mungkin bisa membebaskan dirinya sendiri.


Nara memejamkan mata, mencoba fokus. Memanggil pegang yang konon katanya hanya bisa disentuh dan digunakan oleh keturunan Fatian.


"Apa dia akan berhasil?"


Ailee bertanya cemas. Hal yang sama juga dirasakan oleh Yuan dan Xazian. Pasalnya mereka tahu bagaimana kuatnya Zuan mengunci The Eternal. Mereka pernah mencoba mencuri pedang legendaris itu. Tapi gagal. Entah mantra apa yang dipakai oleh Zuan untuk melindungi pedang tersebut.


Sementara Hans dan Lucifer hanya bisa saling pandang. Sebagai orang luar suku tanah utara, mereka hanya bisa menjadi penonton. Urusan ini persoalan internal kerajaan Fatian. Jadi mereka berpikir tidak berhak untuk mencampurinya.


Di suatu tempat, di tempat paling dalam dari kerajaan Fatian, jiwa dari The Eternal menggeliat pelan. Kebekuan yang memenjarakannya mulai mencair. Panggilan dari tuan yang sudah dia tunggu selama dua ratus tahun ini membangunkannya. Mata hijau itu bersinar terang. Pria itu, jiwa dari The Eternal adalah seorang pria mulai mencari jalan untuk membuka rantai yang menjerat pergerakannya.


"Zuan sialan, akan kupenggal kau dengan tanganku sendiri!"


Geram The Eternal. Panggilan Nara semakin intens, dengan kekuatan dalam dirinya yang juga semakin mencuat naik. Jiwa Nara yang stabil dan berada dalam level tertinggi, berpengaruh pada energi dalam The Eternal.


The Eternal menggeram, merasakan ledakan kekuatan dalam dirinya. Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan tertahan timbul di tempat itu. The Eternal melangkah keluar dari kotak kaca yang selama ini mengekangnya. Menguncinya. Kotak kaca beku itu hancur berkeping-keping.


"Sambutlah kebangkitan The Eternal. Lambang tertinggi dari kerajaan Fatian. Tuanku aku datang."


Bola mata hijau itu menatap lurus ke atas. Seolah mencari jalan untuk keluar dari sana.


***


Up lagi ya readers,

__ADS_1


Ritual jempolnya jangan lupa.


****


__ADS_2