Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Kau Atau Aku


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Nara dan yang lainnya memundurkan diri. Saat makhluk berpenutup kepala muncul di hadapan mereka. Wajah makhluk itu tidak kelihatan sama sekali. Seluruh tubuh makhluk itu juga tidak terlihat. Hanya sepasang tangan tulang tanpa daging yang nampak.


"Apa itu?"


Celetuk Lucy. Gadis itu menatap jijik pada makhluk yang mulai beterbangan di antara mereka. Ratusan makhluk itu melayang bebas di langit Fatian.


"Tahu Dementor? Yang dari film Harry Potter." Excel berucap sambil melihat monitor laptop hologramnya.


"Penjaga Penjara Azkaban?" Sahut Lucio.


"Yup, kau benar. Mereka lebih kurang sama."


Semua saling pandang mendengar percakapan Lucio dan Excel. Jika mereka sejenis Dementor, berarti mereka....


"Apa mereka menghisap jiwa juga?" Lucifer kali ini yang bersuara. Dan Excel mengangguk. Semua langsung waspada. Hingga satu jeritan membuat Nara serta yang lain menoleh.


"Oh tidak. Mereka mulai beraksi." Excel menghilangkan laptop miliknya. Detik berikutnya sayap besar pria itu mengembang.


"Menurut analisaku. Mereka menargetkan penduduk Fatian." Excel melayang menjauh setelah mengatakan hal itu. Pria itu menuju suara jeritan tadi. Semua langsung menatap marah pada Zuan yang tampak puas. Senyum pria itu benar-benar membuat Nara muak.


"Bagaimana, Ratu? Mereka semua ada di bawah kendaliku. Jika kau ingin aku berhenti maka serahkan tahta pada padaku. Jika tidak...seluruh pendudukmu akan mati kehilangan jiwa mereka hari ini."


"Jangan dengarkan dia. Kita akan menemukan cara untuk melindungi penduduk dari serangan Dementor KW ini."

__ADS_1


Galbathoriq berkata. Dia tidak akan kalah lagi seperti dua ratus tahun lalu. Pun dengan The Eternal. Dua pelindung Nara itu kompak menolak Nara agar menyerah. Nara terdiam, hingga Lucifer menggelengkan kepala. Meminta sang istri untuk tidak menyerah. Menyerah? Tidak ada kata itu dalam kamus Lucifer. Yang ada adalah berjuang sampai akhir hingga mati kalau perlu.


Beberapa Dementor itu mulai melayang di atas tubuh prajurit yang Nara tidurkan. Satu gerakan menghisssapp makhkuk itu buat. Tak berapa lama, jiwa tentara itu sudah masuk ke mulut Dementor itu.


Nara menggeram marah. Hingga wanita itu mulai menyerang para Dementor itu dengan The Eternal. Satu tebasan dari pedang Nara langsung membunuh makhluk tak berwajah itu. Tapi masalah tidak selesai di situ. Semakin banyak Dementor yang datang mengerumuni tentara itu. Dan juga banyak dari mereka yang mulai mencari mangsa di pemukiman penduduk di luar istana Fatian.


"Kita harus menemukan cara untuk menghentikan mereka." Lucy memberi saran. Hingga Lucifer dan Hans maju ke arah Nara yang masih bertarung melawan Dementor.


"Aku dan Om Hans akan membangun pelindung untuk mereka."


Lucifer berkata sambil turun ke arah para prajurit di tanah. Nara mendengus kesal. Makhluk menjijikkan itu bukannya habis malah bertambah semakin banyak. Zuan tentu merasa senang dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Lucy, Aro dan Lucio masing-masing sudah mulai berperang dengan Dementor yang mendekat ke arah mereka. Aura vampir jelas menarik perhatian makhluk penghisap jiwa itu.


"Ehh, memangnya kita masih punya jiwa ya." Lucy bertanya. Satu serangan membuat dua Dementor menguap lantas menghilang.


"Metong dong kau kalau kau gak punya jiwa. Hanya jiwa kita sedikit berbeda dari manusia." Sahut Lucio. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Menyerang Dementor yang mendekat ke arah Lucio.


Excel berteriak di kepala mereka. Keadaan berubah menjadi genting. Semua yang berjiwa alias masih hidup diminta masuk ke pelindung yang dibuat oleh Hans dan Lucifer. Bahkan Ailee, Xazian, Yuan dan Tetua Adgar dan yang lainnya.


Ailee sempat menolak, wanita itu ingin ikut berperang melawan Zuan dan yang lainnya. Tapi Hans tidak mengizinkan. Pria itu meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. Alhasil, Ailee hanya bisa melihat Hans dan yang lainnya bertarung dari balik dinding transparan yang Hans buat.


Di atas sana, Nara dan Zuan sudah mulai berduel. Keduanya sama-sama.berdiri di atas naga pelindung masing-masing. Dua orang itu saling serang dengan kekuatan yang seimbang. Beberapa kali percikan api terlihat. Akibat gesekan dan benturan senjata mereka. Nara sama sekali tidak akan mengalah pada Zuan. Pun dengan Galbathoriq dan The Eternal yang berjuang bersamanya.


"Menyerahlah! Dan kau akan tetap hidup."


Seru Zuan pada Nara dari atas kepala Ragnarok. Keduanya memang berdiri di atas kepala naga masing-masing. Nara berdecih keras mendengar perkataan Zuan.


"Selesai." Nara tersenyum. Tembok pelindung sudah selesai dibuat. Para penduduk dan tentara sudah aman. Sekarang tinggal menyelesaikan urusan mereka dengan Zuan dan Agas.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menahan mereka lebih dari dua jam." Excel bicara. Rupanya pria itu menambahkan medan elektromagnet pada tembok pelindung buatan Hans dan Lucifer.


Kini semua Dementor itu mengelilingi Nara dan yang lainnya. Menjadikan mereka satu-satunya mangsa dalam perburuan jiwa itu. Di kiri kanan berdiri Lucifer dan sang ayah. Di belakangnya Aro, Lucy, Excel, Lucio dan Dominic. Semua siap bertarung dengan Dementor di sekeliling mereka.


Begitu Dementor bergerak ke arah mereka, sayap hitam besar dari ke tujuh petinggi Black Castle itu langsung terbuka. Satu kepakan dan ke tujuh vampir itu melesat cepat ke arah para Dementor. Lucy yang ahli memanah langsung menghujani Dementor itu dengan ratusan anak panah. Yang lain menyerang menggunakan senjata masing-masing. Hans dan Lucifer dengan pedang mereka. Sedang Lucio, Excel dan Ddominic dengan bola api.


Ailee menatap ngeri pada sang putri yang bergerak cepat menyerang Zuan. Dia cukup khawatir pada keadaan Nara. Meski Lucifer selalu mengcover Nara, tapi wanita itu tetap saja ketakutan.


"Semua akan baik-baik saja. Setelah hari ini akan ada kedamaian untuk nergeri kita."


Kata tetua Adgar menenangkan Ailee. Sudah diramalkan kalau peperangan kali ini akan berakhir damai. Mendengar perkataan Adgar, Ailee hanya bisa menarik nafas dalam. Saat itulah di atas sana, Nara meringis. Saat taring Ragnarok mengenai lengan Nara. Wanita itu lengah. Terlalu sibuk dengan Zuan, hingga melupakan Ragnarok.


"Itu beracun!" Seru Galbathoriq.


Nara terkekeh. "Apa kau belum tahu siapa aku?" Galbathoriq terdiam, tentu saja dia tahu siapa Nara. Darah murni buatan terakhir yang ada di muka bumi.


"Apa kalian takut kalah? Tanya Nara. Wanita itu kembali berdiri tegak setelah Lucifer memeriksa keadaan sang istri.


"Kami tidak takut kalah. Kami akan menjalankan tugas kami sebaik mungkin. Memastikan kalau keturunan Fatian baik-baik saja. Jika salah satu di antara kita harus berkorban. Maka prioritas itu jatuh padaku." Kata Galbathoriq sambil melihat ke Ragnarok.


"Hari ini kau atau aku yang akan mati."


****


Up lagi readers.


Jangan lupa ritual jempolnya ya.

__ADS_1


****


__ADS_2