
Kredit Pinterest.com
Hans dan Lucifer membalikkan tubuhnya saat mendengar pintu jeruji besi dibuka. Dua pria itu bukan tidak bisa membuka pintu tersebut. Tapi mereka lebih kepada tidak ingin membuat onar dan menarik perhatian.
"Keluar dan ikut dengan kami!"
Hans dan Lucifer berjalan mengikuti dua pria berpakaian khas suku tanah utara. Mereka menurut tanpa banyak membantah. Berjalan melalui lorong berliku dan berkelok. Kedua pria itu mengerutkan dahinya saat melewati jalan, yang entah akan membawa mereka ke mana.
Namun satu yang pasti, kemana mereka membawa Hans dan Lucifer, itu jelas bukan kepada Nara. Jalan yang mereka lalui semakin rumit dan usang. Seperti jalan yang dibuat untuk menembus gunung berbatu. Terjal dan licin. Sepertinya jarang ada orang yang melewati jalan itu.
Hingga mereka sampai di sebuah pintu yang terlihat kuno. Ukiran pada daun pintu menyimbolkan mantra-mantra kuno yang sekilas pernah Lucifer lihat di perpustakaan Black Castle puluhan tahun lalu. Satu kode dari pria itu membuat Lucifer mendorong daun pintu ruangan itu.
Dua pria itu tidak terlalu terkejut melihat sebuah ruangan yang terlihat cukup bagus. Setidaknya tidak seperti penjara yang beberapa menit lalu keduanya huni.
"Diamlah di sini, sampai tuan kami datang."
Lucifer dan Hans menarik nafasnya. Lucifer lantas mulai memindai ruangan itu. Terkurung lagi, pria itu jelas mode bebas. Tidak suka terbelenggu apalagi disuruh menunggu. Lucifer adalah pria yang melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Mengekspresikan apa yang dia rasa.
"Sudah menemukannya?"
Lucifer beralih menatap sang mertua. Hans langsung menggeleng. Entah karena tempat ini terlalu luas, atau karena ada kekuatan lain yang menghalangi, Hans tidak bisa menemukan keberadaan Nara. Bahkan alat komunikasi dengan Excel pun tidak bisa digunakan di tempat itu.
"Sepertinya kita memang harus menunggu tuan mereka datang."
Kata Lucifer dengan nada mengejek, padahal orangnya tidak ada.
*
*
Sementara itu, rasa panas seperti terbakar di dada Nara membuat wanita itu menggeliat pelan dalam tidurnya. Mata Nara terbuka tiba-tiba. Wanita itu seketika mendudukkan dirinya. Melihat sekelilingnya, dia masih berada di kamarnya. Tubuhnya terasa lemas.
"Kau tidak apa-apa?"
Satu suara masuk ke telinga Nara. Wanita itu mendengus kesal.
"Di mana kau? Aku akan menemuimu."
"Jangan dulu. Kondisimu sangat lemah. Tempatku berada, hanya bisa dijangkau jika kau berteleportasi bersama mereka."
Nara berdecak kesal. Dia sangat ingin melihat rupa makhluk yang selalu menghantui kepalanya.
"Apa kau sangat penasaran denganku? Hati-hati, kau bisa jatuh cinta padaku."
__ADS_1
Nara kembali menggumam marah. Bisa-bisanya suara di kepalanya itu berkata dengan sangat percaya diri.
"Kau harusnya tahu suamiku kan. Kau tidak bisa mengalahkannya."
"Kau belum mencobanya denganku. Sensasinya berbeda. Aku makhluk mistis abadi, dia vampir. Aku bisa memberikan kehangatan yang tidak pernah bisa Lucifer berikan padamu."
Heh? Apa yang sedang mereka bahas? Kenapa arah pembicaraan makhluk yang masih belum jelas wujudnya itu mengarah ke hal mesum.
"Sebenarnya apa yang sedang kita bahas?"
Tanya Nara kepo.
"Tentu saja soal bercinta."
Uhuk.....Nara tersedak ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka kalau makhluk itu benar-benar mesum. "Kenapa pikiranmu mesum begitu?"
Nara bertanya blak-blakan. "Kenapa? Tidak boleh? Aku juga mate-mu dalam dunia ini. Kita sudah terhubung sejak lama. Kau tahu makna mate kan?"
Ha? Nara punya mate lain. Artinya dia punya pasangan lain. Dan dia juga bisa ber.....ah tidak, tidak. Nara menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran kotor soal hal gila yang mungkin saja bisa dia lakukan dengan makhluk dalam pikirannya.
"Kau akan terkejut saat melihatku. Karena aku tidak kalah dengan Lucifer. Suamimu."
Nara melongo mendengar perkataan makhluk itu. Penasaran jelas, tapi untuk menandingi Lucifer, tunggu dulu. Dari semua pria yang pernah Nara kenal, hanya Lucifer yang pada akhirnya bisa meluluhkan hatinya dan memilikinya.
Suara wanita terdengar. Tak lama, benar seorang wanita masuk ke kamar Nara.
"Kau tahu siapa dia?"
Nara mengangkat wajahnya, menatap wanita yang dirinya tidak kenal raut mukanya. Namun ada debar lain yang terasa di hatinya. Nara seperti mengenal wanita itu. Wanita itu membawakan makanan untuk Nara.
"Tunggu, Anda wanita yang ikut makan denganku tadi siang? Namamu Anaki bukan?"
Wanita yang Nara panggil Anaki itu menghentikan langkahnya, lantas berbalik. Setia dengan wajah tertunduk. Anaki mengiyakan pertanyaan Nara. Dahi Nara mengerut. Siapa dia? Kenapa tatapan Anaki begitu dalam padanya. Ada rindu yang tersirat dalam mata hitam Anaki.
"Makanlah, Yang Mulai. Tadi saya menemukan Anda jatuh pingsan. Lalu saya panggil Tuan Yuan. Dia penasehat sekaligus penyembuh di sini. Kata beliau Anda terluka karena terlalu dalam masuk ke pikiran seseorang."
"Kau kan yang membuatku begini?"
"Bukankah sudah kukatakan, jangan masuk ke pikiranku terlalu dalam."
Nara mendengus kesal mendengar bantahan Galbathoriq. Saking keponya, dia memang membiarkan dirinya masuk ke pikiran naga itu terlalu jauh.
"Kata Tuan Yuan, Anda hanya perlu istirahat."
Nara mengangguk paham. Selanjutnya wanita itu melangkah keluar, meninggalkan Nara yang mulai menyantap makanannya. Anaki mengayunkan kaki menuju tangga besar ke lantai dua, tempat ruang makan berada. Melewati meja besar itu, lalu berbelok ke kiri. Di mana kamarnya berada.
__ADS_1
Anaki lantas menyentuh lemari besarnya, satu sentuhan dari jarinya dan lemari itu menggeser ke kiri dan kanan. Hingga sebuah pintu terlihat. Anaki memasuki pintu itu, dan lemari di belakang Anaki otomatis menutup kembali. Wanita itu berjalan menuruni tangga batu berputar seperti spiral. Hingga sampailah wanita itu di depan sebuah pintu pintu.
Kredit Pinterest.com
"Oscailt"
Begitu kata itu terucap, pintu di hadapan Anaki terbuka. Sebuah meja bundar besar menyambut Anaki. Juga tiga pria yang sudah duduk di sana.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia pulih dengan cepat."
Jawab Anaki. Wanita itu ikut duduk di salah satu kursi. Mulai menyimak pembicaraan ketiga pria itu.
"Karena dia sudah kembali. Ada baiknya kita segera menaikkan ke tahtanya. Agar si bedebah itu tidak lagi sok berkuasa."
"Tapi kita harus tetap hati-hati Xazian. Kau tahu kalau saudara kembarku adalah pria gila."
Xazian memandang Yuan yang baru saja mengakui kalau Zuan adalah saudara kembarnya.
"Kenapa harus heran? Dia memang kembaranku tapi aku tidak seperti dia."
"Kami tahu Yuan. Tapi apa rencana kita akan berjalan mulus. Mengingat Zuan adalah pemegang kunci The Eternal, yang maknanya dia berhak menentukan nasib Fatian."
Sangkal pria dengan janggut panjang yang seluruhnya sudah memutih. Raut wajahnya begitu tenang saat berucap, sama seperti Yuan.
"Zuan memang memegang kunci pedang itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan jika keturunan sesungguhnya telah kembali. Keturunan yang mampu menggunakan pedang itu. Sedang Zuan, memegangnya saja tidak bisa. Betul yang kukatakan Anaki atau....."
Anaki mengangkat wajahnya. Sudah lama tidak ada orang yang memanggil nama aslinya. Perlahan wajah Anaki mulai berubah, seolah sebuah topeng sedang dilepas dari wajah wanita itu. Hingga wajah sebenar dari Anaki terlihat. Cantik, dengan binar bola mata sama persis dengan milik putrinya.
"Setelah sekian lama, penyamaranmu akan berakhir."
Anaki tersenyum mendengar perkataan Tetua Adgar. Anaki cukup tidak nyaman dengan wajah samarannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia terpaksa melakukan ini agar Zuan tidak menghabisinya kembali.
****
Oscailt artinya buka, dari bahasa Irlandia.
Up lagi readers,
Jangan lupa ritual jempolnya ya 😘😘
****
__ADS_1