
Kredit Pinterest.com
Hans berlari masuk ke kamar Lucifer begitu pria itu menghubunginya. Saat dia masuk, dilihatnya Nara yang terbaring di kasur besar milik Lucifer. Dengan cekatan Hans segera memeriksa sang putri. Tapi hanya sebentar, karena selanjutnya tatapan Hans serasa menuduh Lucifer.
"Astaga, aku tidak melakukan apapun. Atau lebih tepatnya belum. Dia bermain-main dengan pohon kehidupan."
Hans mendelik tidak percaya mendengar jawaban Lucifer. "Apa maksudmu dengan bermain-main?"
"Menghancurkannya."
Cengir Lucifer santai. Hans seketika mengeplak lengan kekar sang menantu. "Kamu tahu jantung pohon kehidupan itu apa?"
Lucifer tampak berpikir. Dia pernah membaca soal pohon kehidupan dulu sekali. Sekarang dia tidak ingat apa isinya. Lucifer mengedikkan bahunya sebagai tanda tidak tahu.
Hans seketika menarik nafasnya dalam. Jantung pohon kehidupan adalah Dragon Eye. Sebutir batu permata hijau berbentuk bulat. Belum ada yang tahu pasti kebenarannya. Tapi konon kabarnya itu adalah mata dari seekor naga legendaris yang hidup di pegunungan wilayah suku utara.
"Kenapa semua semakin mengarah ke sana?"
Hans bergumam pelan. Pada akhirnya Hans hanya membiarkan Nara untuk beristirahat. Karena pada kenyataannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal keadaan Nara.
Sepeninggal Hans, Lucifer menatap wajah Nara yang tampak lelah. Meski dia memerintahkan Nara menggunakan lima puluh persen kekuatannya. Nyatanya tubuh Nara belum sanggup mengatasi kekuatan sebesar itu. Tubuh Nara belum mampu menahan kekuatan yang sebenarnya gadis itu miliki.
Lucifer menghela nafasnya, lantas keluar dari kamar besarnya. Pria itu bergerak menuju sayap kanan. Di mana ruang makan terletak di sana. Dengan suasana setengah outdoor, ruang makan itu terlihat semi formal dengan kesan klasik yang sangat kental.
Semua orang tampak menyambut Lucifer begitu pria itu duduk di deretan kursi di sisi kanan meja makan panjang. Mereka antusias menanyakan keadaan Nara. Hingga Lucifer pun setengah terpaksa menceritakan kejadian di hutan tadi.
"Kau harus lebih berhati-hati. Dengan keadaannya sekarang. Akan lebih banyak yang menginginkannya. Besok akan lebih banyak yang datang. Termasuk Xinyan."
Lucifer mendengus kesal mendengar ucapan tengil Lucas, ayah Lucy. Pria itu langsung menatap Dominic yang seketika langsung tersedak darah yang tengah dia minum.
"Apa?"
"Bagianmu!"
Giliran Dominic yang mengumpat. Selalu saja dia yang jadi korban kejailan adik-adiknya. Hanya karena dia yang betah menjomblo, begitu ada indikasi yang mengancam hubungan adik-adiknya. Dominiclah yang terpaksa menghandle. "Makanya jangan pelihara tu jomblo."
Satu garpu melesat ke arah Lucio, dan pria itu dengan sigap menangkapnya. Menaikkan satu alisnya pada Dominic. "Calon pengantin gila."
__ADS_1
"Aku gak segila kamu."
Dominic melengos mendengar ledekan Lucio. Pria itu selalu dibuat kesal kalau kumpul keluarga begini. "Apa sih yang kurang dari Xinyan?"
Rin, mama Krum bertanya. Tidak ada yang kurang dari penampilan fisik Xinyan. Hanya saja putri Sherpa itu sejak dulu sudah menjatuhkan pilihannya pada Lucifer. Padahal Xinyan tahu kalau Lucifer adalah Yang Terpilih. Dan Cairo sudah menjelaskan kalau Yang Terpilih akan berjodoh dengan Darah Murni.
"Xinyan masih belum mau melepas Lucifer."
Ara, ibu Lucifer menjawab. Baru kali ini wanita cantik itu bersuara.
"Kenapa sih Ibu tidak mau menjelaskan pada putri fans berat Ibu itu kalau aku sudah menikah."
Protes Lucifer. Ara pun menjelaskan kalau dia sudah bicara pada Sherpa, si manusia ular yang dulu sempat mengejar Ara. Hampir menikahi ibu Lucifer jika saja Love Stone tidak menolak penyatuan darah Ara dan Sherpa. Kata Sherpa Xinyan belum mau menyerah kalau belum melihat Lucifer bahagia dengan istrinya.
Lucifer mendengus kesal. Hubungannya dengan Nara masih abu-abu. Meski keduanya sudah diikat dengan penandaan mate. Tapi belum ada cinta di antara mereka.
"Setidaknya kalian sudah lumayan tidak seperti dulu."
Suara itu membuat Lucifer mengembangkan senyumnya. "Jadi rela nih aku jadi mantu Paman."
Tawa meledak di meja makan, yang sebenarnya hanya ada gelas berisi darah. Saat Hans tanpa sadar mengatakan hal itu. Apalagi Luis yang langsung memberi kode oke pada Hans. Hal itu membuat ayah Nara itu kesal bukang kepalang.
*
Nara berusaha membuka matanya. Mencoba melepaskan diri dari sesuatu yang tengah mencekal tangan dan tubuhnya.
"Ratuku, sudah lama aku menunggu dirimu."
Tunggu... itu bukan suara Lucifer. Nara sadar betul kalau dia adalah istri Lucifer. Jadi sebisa mungkin dia akan menjaga diri dari siapapun yang ingin menyentuhnya selain Lucifer.
"Lepas! Aku bukan ratumu. Aku istri Lucifer."
Nara mencoba berontak. Tapi cekalan itu semakin kuat. Gadis itu merasakan sentuhan lembut di pipinya. Tapi dia tidak bisa melihat siapa pelakunya. Sial, makhluk tak kasat mata ini coba melecehkanku. Umpat Nara dalam hati. Terlebih, Nara juga merasakan kalau dressnya semakin tersingkap ke atas. Ekor matanya menangkap pahanya yang kini terekspose sempurna.
Hah...nafas Nara tertahan saat benda kenyal menyentuh bibirnya. Tidak! Hatinya seketika berteriak memanggil Lucifer.
"Kau tidak bisa memanggilnya. Hubungan kalian belum sedekat itu."
Suara itu seolah tahu, kalau Nara tengah memanggil sang suami. Nara kembali berontak. Terus bergerak, tapi kuncian makhluk itu sangat kuat.
__ADS_1
"Lucifer!"
Nara menjerit sekuat mungkin dalam hati. Berharap kalau Lucifer mendengarnya. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan pikirannya untuk meledakkan entah apa yang kini tengah menciumi lehernya.
"Lucifer brengsek!"
Kali ini, satu denyutan terasa di hati Lucifer. Pria itu meletakkan gelasnya. Lantas beranjak dari meja. Mengabaikan pertanyaan menggoda dari Lucio dan Excel. Di luar pintu, pikiran Lucifer semakin tidak karuan. Dalam hitungan detik, Lucifer sudah berada di kamarnya. Pra itu membulatkan mata, melihat tampilan Nara yang acak-acakkan diatas kasurnya.
Tampak Nara yang tengah bergerak aneh. Seperti sedang....ooo shiiiiittt! Lucifer menggunakan gelombang energi dalamnya. Untuk menghempaskan apapun itu yang menyerang atau lebih tepatnya menindih Nara. Mencoba melecehkan sang istri.
Benda itu menghantam tembok dan langsung menghilang. Nafas Nara memburu, dia hampir saja dilecehkan. Dia marah dan kesal.
"Kamu tidak apa-apa?"
Tanya Lucifer gantian yang mengungkung tubuh Nara. "Kau ini dari mana saja sih. Benda itu hampir memperkosaakkku tahu tidak?!"
Raung Nara marah. Gadis itu memejamkan mata. Dengan dada naik turun menahan amarah. Sementara Lucifer tersenyum gemas melihat wajah Nara. Sebenarnya tampilan Nara saat ini, mampu membuat sisi lain Lucifer bangkit. Sisi yang selama ini selalu ia tahan. Hasratnya merangkak naik melihat tubuh dan paha Nara yang terekspose di bawah tubuh Lucifer.
"Kenapa kamu marah?"
Nara menatap tajam pada Lucifer. Heran kenapa Lucifer malah bertanya seperti itu.
"Aku adalah istrimu. Bagaimana mungkin aku bercinta dengan orang lain."
Desis Nara tanpa sadar. Hening sejenak menyelimuti kamar Lucifer.
"Jadi kalau bercinta denganku, kamu mau?"
Eh.....Nara baru saja akan menjawab, ketika kata-katanya tenggelam dalam pagutan bibir Lucifer.
"Astaga, aku salah ngomong."
Sesal Nara. Kini dia harus mencari cara agar lepas dari cekalan Lucifer yang semakin beringas menciumnya.
****
Ritual jempol ditunggu...supaya kita segera tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya 🤣🤣
***
__ADS_1