Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Membuka Hati


__ADS_3

"Lucifer!"


Satu teriakan bergema di kepala Lucifer. Pria itu bergegas membuka mata. Lucifer meraba sisi tempat tidurnya, dia tidak mendapati Nara di sana. Pria itu melenguh kesal. Lantas membalikkan tubuhnya jadi telentang. Tubuh topless Lucifer seketika terpampang nyata.


Pria itu menggeram marah, mengingat semalam dia gagal melakukan penyatuan dengan Nara. Sisi lain dari Nara menolak dirinya. Tidak, lebih tepatnya Nara sendiri belum bersedia melakukannya dengannya.


Satu hembusan nafas kasar terdengar dari bibir Lucifer. Pria itu sebenarnya kesal pada dirinya sendiri. Kesal karena terlalu memaksa Nara untuk melayaninya. Seharusnya dia lebih paham, kalau mereka belum memiliki rasa satu sama lain. Meski dia sedikit ragu dengan dirinya sendiri.


Pria itu bangkit dari ranjangnya, berjalan santai menuju kamar mandinya hanya mengenakan boxernya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana reaksi Nara saat tahu kalau dia tidur hampir telanjang. Bilik shower itu langsung berembun ketika Lucifer mulai ritual mandinya. Punggung kekar dan lebar itu terlihat menggoda.


Lima belas menit berlalu, Lucifer keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk di pinggangnya. Hal itu membuat Nara menjerit heboh ketika bertemu di walk in closet mereka.


"Apaan sih?"


Gerutu Lucifer santai, mengabaikan tatapan kesal dari sang istri. Pria itu berjalan menuju lemari besar yang ada di sana. Begitu Lucifer mendekat, lampu-lampu di sana langsung menyala. Mengikuti pergerakan Lucifer. Nara langsung membalikkan badan, melihat Lucifer yang mulai berpakaian.


"Kemana tadi?"


Lucifer bertanya sambil memakai celananya. Meraih kemeja hitamnya. Sementara Nara masih membelakanginya. "Aku bertanya, Nona."


Nara kembali menghadap Lucifer, gadis itu menelan salivanya susah payah. Melihat tubuh Lucifer di balik kemeja hitam yang belum dikancingkan pria itu. Lucifer tengah melihat koleksi jam tangannya. Bayangan kejadian "hampir bercinta" semalam, seketika mampir di kepala Nara.


Dia dan Lucifer hampir menyatu semalam. Tapi dia menolak saat Lucifer hampir menelanjannginya. Hembusan nafas dalam keluar dari bibir Nara.


"Malah bengong."


Nara meringis ketika satu sentilan mendarat di kening Nara. Alamak!!! Kenapa Lucifer belum mengancingkan kemejanya sih? Nara mengumpat. "Kalau kamu masih diam saja, aku cium kau sekarang."


Ha? Nara memundurkan langkahnya. Sementara tatapan Lucifer terus menguncinya. Lucifer maju, Nara mundur. Begitu seterusnya hingga tubuh Nara membentur tembok. Gadis itu ingin melarikan diri, tapi tangan Lucifer segera menahan pinggang Nara.Tangan Nara reflek menahan dada Lucifer. Kulit hangat Nara bersentuhan dengan tubuh dingin Lucifer. Satu debaran hebat mengguncang dada Lucifer.


Detik berikutnya bibir pria itu sudah menempel di bibir Nara. Bermaksud melepas tautan mereka, Nara justru dibuat tidak berkutik saat tangan Lucifer yang lain, mengusap cuping telinganya lembut, lantas mengurai rambut panjang Nara.

__ADS_1


Nara jelas kelabakan dengan serangan sang suami. Pada akhirnya, Nara kalah dan mulai menikmati ciuman Lucifer. Lummatan demi lummatan pria itu berikan. Rasa manis dan lembut bibir Nara membuat Lucifer mulai lupa diri. Ciuman itu mulai memanas, saat Lucifer kembali membuang kemejanya. Lantas membawa tubuh Nara duduk di atas sebuah meja aksesoris.


"No....no...stop. Lucifer stop."


Nara mendorong dada bidang sang suami. Hal itu membuat Lucifer menggeram kesal. Hasratnya jelas sudah naik. Dan bisa meledak kapan saja. Pria itu berjalan menjauhi Nara, mengambil kemeja lain, memakainya. Lalu keluar dari sana. Nara menghela nafasnya pelan. Lantas mengikuti langkah Lucifer.


Pria tersebut berhenti seolah menunggu sang istri. Ketika Nara mendekat, Lucifer berjalan, hingga Nara seperti mengekorinya. Keduanya berjalan dalam diam. Ada rasa canggung dalam diri keduanya. Hingga mereka masuk ke sebuah ruang keluarga yang besar. Di mana semua orang langsung melayangkan tatapannya pada Lucifer dan Nara.


Seolah tahu dengan kecanggungan Nara, pria itu menarik pinggang Nara. Sedikit mendorong pinggang Nara agar maju. Ehh...Nara jelas terkejut. Dia belum pernah bertemu keluarga besar Lucifer.


"Eh mantu kita."


Seru seorang wanita yang langsung berdiri menyambut Nara. Membawa gadis itu menjauh dari Lucifer. Ekor mata Nara sempat melirik Lucifer yang terlihat mengangguk samar. Setelah itu, Lucifer ikut mendudukkan diri di antara Dominic dan Excel. Dari tempatnya duduk, bisa dia lihat Nara yang mulai mengakrabkan diri dengan ibunya.


Semua berbincang santai sampai satu suara membuyarkan suasana itu.


"Lucifer...."


Yang dipanggil namanya langsung memejamkan mata. Diujung sana Nara langsung mengubah tatapannya. Tatapan kepo dengan binar penuh ancaman. Melihat pandangan Nara, ujung bibir Lucifer tertarik.


Suara Lucifer berubah dingin dan judes. Tapi itu hanya didengar oleh Xinyan. Wanita yang memanggil Lucifer. Ekor mata Lucifer menangkap pergerakan Nara yang terlihat kesal. Detik berikutnya Lucifer mengajak Xinyan keluar dari ruang keluarga itu. Satu tindakan yang langsung membuat Nara manyun. Dia tidak suka ada wanita lain di dekat suaminya selain keluarganya sendiri.


*


*


Nara berjalan mondar mandir di kamar Lucifer. Sudah hampir tengah malam dan sang suami belum kembali ke kamarnya. Dia berusaha menghubungi Lucifer melalui pikirannya. Tapi pria itu tidak merespon. Nara mulai menggigiti kukunya, kebiasaannya kalau gelisah dan overthingking.


"Dia Xinyan. Dia memang sejak kecil sudah menyukai Lucifer. Tapi Lucifer tidak."


Satu ucapan dari sang ayah malah membuat pikiran Nara semakin tidak karuan. Dia takut....untuk pertama kalinya, Nara merasa takut kehilangan seseorang.

__ADS_1


"Dia kemana sih?!"


Pada akhirnya kalimat itu yang terucap dari bibir Nara. Berulangkali menatap marah ke arah pintu. Hingga satu ledakan kecil terdengar saat Nara menghancurkan vas bunga di atas meja. "Menyebalkan!" Gadis itu naik ke ranjang besar Lucifer. Lalu mencoba memejamkan mata.


Sedangkan di istana sayap kanan. Lebih tepatnya di sebuah bar mini. Lucifer menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan, setelah mengetahui Nara meledakkan vas bunga karena emosi. Sepertinya dia cukup paham dengan kemarahan Nara.


Tapi biarkan saja dulu. Dia ingin membalas Nara karena menolaknya tadi. "Apa yang kau bicarakan dengan Xinyan?"


Tanya Dominic. Senyum Lucifer semakin lebar. "Kau cemburu?"


Dominic langsung salah tingkah. Wajahnya memerah. Pria itu jelas menyukai Xinyan. "Setidaknya kau tidak perlu menjadi vampir kalau menikah dengan Xinyan. Kau cukup minum Embun Surgawi, masalah beres."


Aro menimpali. Tumben pria itu bisa bicara. Biasanya juga cuma jadi pendengar. "Apa sih?" Elak Dominic. Tawa menggelegar seketika terdengar di ruangan itu. Menertawakan seorang Dominic yang baru ketahuan menyukai Xinyan.


"Berjuanglah, aku tidak punya rasa sama sekali padanya. Aku sudah menjelaskan. Tapi aku tidak tahu, dia masih keras kepala atau tidak."


Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Meneguk habis darah dalam gelasnya. Lantas berlalu dari sana setelah menepuk bahu Dominic.


"Mau ke mana?" Excel bertanya sembari berteriak.


"Bujuk istri yang lagi ngambek."


Jawab Lucifer santai. Semua jelas melongo mendengar jawaban Lucifer. Apakah Nara dan Lucifer mulai membuka hati satu sama lain? Pertanyaan itu yang kini terlintas di benak masing-masing.


****



Kredit Pinterest.com


Yang otewe bujuk istri 🤭🤭

__ADS_1


Ritual jempolnya jangan lupa.


***


__ADS_2