Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Waktu Mereka Habis


__ADS_3

Omega menatap tajam pada Hans, pria itu cukup tersinggung dengan perkataan Hans. Hans mungkin bisa berkata, menyakitkan saat melihat temannya meninggal. Tapi apa pria itu pernah kehilangan anak dan istri. Sebab setahu Omega, putri dan istri Hans masih bersama pria itu.


Dua pria itu saling menatap tajam. Mengabaikan Lucy yang bergerak lincah di ruang sebelah. Mencari data dan biang virus yang dimaksud Hans. Gadis itu harus mencari data satu persatu. Lucy sejenak menghentikan gerakan mencari, saat terdengar bunyi benturan di ruang sebelah.


Hans dan Omega, yang satu vampir senior. Yang satu vampir newborn. Jelas jauh perbedaannya. Hans dengan lincah mampu menghindari setiap serangan Omega. Hans tidak sampai hati melukai Omega. Dia tahu, Omega hanya salah jalan, tersesat oleh pemikirannya sendiri.


"Lawan aku Evander Hans."


Omega berteriak. Kesal karena Hans hanya menghindar terus. Tanpa mau melawan. Omega merasa terhina. Dia merasa diremehkan oleh pria itu. Sorot mata Omega mengandung kemarahan.


"Kau tahu apa artinya jika aku menyerangmu?"


Omega dan Hans saling tatap. Omega tahu kalau Hans juga sangat mengerikan saat menghadapi lawannya.


"Kau tahu bukan? Kalau jiwaku sudah ikut mati hari itu!"


Hans terdiam. Perlahan pria itu menarik nafasnya. Dia tahu maksud Omega, hari itu....hari dimana anak dan istrinya meninggal.


"Untuk hari itu, aku minta maaf."


Omega mengepalkan tangannya. Dia sangat marah, mendengar ucapan Hans.


"Maafmu tidak akan mengembalikan mereka!"


Omega menyerang Hans membabi buta. Perkelahian sengit terjadi. Laboratorium itu seketika berubah menjadi ajang pertarungan. Pecahan kaca yang berserakan tidak keduanya hiraukan. Baik Hans maupun Omega kali ini sama-sama menggunakan kemampuan menyerang mereka. Meski tetap saja perbedaan soal skill bertarung, jelas terlihat.


*


"Issshh dimana sih si biang virus sama data itu?"


Lucy bergumam kesal. Sudah hampir seluruh rak penyimpanan data dan sample dia jelajahi, tapi gadis itu belum juga menemukan apa yang dia cari. Lucy terus menelusuri rak terakhir yang ada di ruangan itu. Tanpa dia tahu, sepasang mata memperhatikan tingkah Lucy sejak tadi.


Lucy tadinya tidak peka dengan kehadiran sosok itu. Tapi lama-lama kelamaan, instingnya mulai waspada. "Siapa?"


Lucy berbalik dan melihat Baron berdiri di depannya.


"Kamu mencari ini, Tuan Putri."

__ADS_1


Tanya Baron dengan seringai licik di wajahnya. Dia tidak menyangka akan bertemu putri Lucas, raja Black Castle saat ini, juga calon ratu bangsa Iblis. Cantik, kecantikan Lucy tidak kalah dengan Nara, si Darah Murni. Baron pada awalnya sangat ingin menyeret Nara ke laboratoriumnya. Mengambil darah gadis itu sebanyak mungkin lalu menciptakan virus mematikan tanpa penawar.


Tapi ternyata sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk mendekati Nara. Lucifer benar-benar menjaga Nara dengan baik. Tapi melihat Lucy dihadapannya. Tidak buruk juga.


"Berikan itu padaku!"


Lucy tahu benar benda apa yang berada di tangan Baron. Data yang dia cari dan biang virus yang dia cari.


"Tidak semudah itu, Tuan Putri!"


Lucy menggeram marah. Bola mata gadis itu berubah merah. Lantas tanpa aba-aba, Lucy menyerang Baron. Baron dengan cepat menghindari serangan Lucy, pria itu juga balas menyerang gadis itu. Baron punya kemampuan bertarung yang bagus. Pria itu mampu mengimbangi setiap serangan Lucy yang datang padanya.


Hingga di satu waktu, Lucy lengah dan Baron berhasil menyuntikkan sebuah obat bius pada Lucy. Gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.


"Kalau kalian ingin Lucy selamat, datang ke lantai dua."


Semua langsung melesat pergi ke lantai dua. Terutama Aro. Bisa dibayangkan bagaimana cemasnya pria itu saat melihat Lucy, yang berada di sebuah tabung. Dengan satu kabel menempel di lehernya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Dia sudah membunuh putraku!"


Teriak May, Nara seketika mengangkat wajahnya. Memberi tatapan menantang pada May. Dia tidak akan peduli lagi pada May.


"Jika kalian ingin dia selamat. Tukar dengan dia."


Baron memberi isyarat dengan matanya. Nara, pria itu jelas menginginkan darah Nara. Yang lain langsung mencegah Nara. Mengelilingi gadis itu. Hingga suara Nara membuat semua saling pandang.


"Biarkan aku kesana dulu. Sampai Lucy benar-benar selamat. Setelah itu terserah."


Mendengar suara Nara. Semua langsung menyingkir. Memberi jalan pada istri Lucifer tersebut. "Hancurkan kepalanya, Kak." Nara tersenyum mendengar ucapan Lucio. Ya siapa lagi yang akan berucap ceplas ceplos sesuka hatinya, jika bukan Lucio.


Dalam hitungan detik, tubuh Lucy sudah berada dalam dekapan Aro. Untuk pertama kalinya, Aro menunjukkan raut wajah cemasnya di hadapan semua orang. Berulangkali Aro berusaha membangunkan Lucy. Hingga gadis itu perlahan membuka matanya.


Di depan sana, mesin itu mulai bekerja. Memompa darah Nara keluar. Dalam artian, mesin itu tengah menghisap darah gadis itu. Semua tampak tenang. Sementara Nara mulai memejamkan mata. Merasakan sesuatu tengah ditarik paksa keluar dari tubuhnya.


"Maafkan Papa, Nara. Karena keegoisan Papa, kamu harus menanggung beban yang sangat berat dalam hidupmu. Darahmu akan menjadi incaran banyak orang. Orang baik ataupun jahat akan berlomba mendapatkannya. Darahmu mampu memurnikan segala racun, penawar bagi segala virus, obat bagi segala penyakit. Karena itu maafkan Papa, sudah membuat hidupmu menderita bahkan sejak kamu dilahirkan."

__ADS_1


"Nara! Excel! Hentikan mesin sialan itu!"


Teriak Hans begitu pria itu masuk ke sana. Menyeret Omega yang tampak lemah tidak berdaya. Hans sendiri heran kenapa Lucifer dan yang lainnya tidak bertindak melindungi putrinya.


"Putrimu sedang ingin bermain-main, Paman."


Dominic berucap santai. Detik berikutnya, Nara menarik tangannya. Hingga selang darah itu terlepas dari lehernya. Aroma darah Nara seketika menguar. Membuat mereka semua terpancing. Apalagi Baron dan Omega. Mereka seketika menatap ke arah Nara, yang kini menendang tabung kaca, tempatnya dikurung.


"Pyaaaarrr....."


Suara kaca pecah seiring dengan serpihan kaca yang menyebar ke segala arah. May dan anak-anaknya langsung melindungi kepala masing-masing.


Di belakang Hans, Excel melihat serius ke arah laptop mini digital miliknya. Katub selang darah itu menutup dengan cepat. Mencegah darah Nara membuat kekacauan. Tabung penyimpanan darah Nara juga langsung tersegel otomatis.


"Show time."


Pria itu berkata lirih. Nara berjalan pelan menjauhi tabung yang langsung meledak begitu Nara membuka matanya. Teriakan terkejut langsung membahana. "Dia benar-benar luar biasa."


Setelah itu, putra-putra May langsung menyerbu mereka. Termasuk Nara yang langsung dicekal oleh May. Dua wanita itu saling tatap dengan sengit. Perkelahian pun kembali terjadi. Omega langsung pulih, begitu dia menemukan satu tetes darah Nara lantas meminumnya.


"Satu tetes sudah mengembalikan tenagaku."


Batin Omega, melihat ke arah Nara yang tengah berduel dengan May. Di atas sana, Excel tampak memantau semua orang yang tengah berkelahi di lantai bawah. Sungguh menyebalkan. Lucifer saja sampai kewalahan karena kehadiran Hunter yang kembali ikut meramaikan pertarungan mereka.


Awalnya Excel tampak santai saja. Hingga sudut matanya menangkap tingkah aneh dari satu anak May yang baru saja di lempar oleh Dominic. Anak May itu langsung kejang-kejang. Padahal untuk lemparan yang Dominic lakukan, tidak akan membuat pria itu mengalami luka dalam. Hingga sesuatu tiba-tiba terlintas di benak Excel.


Pria itu membuka mini laptop digitalnya. Sejenak menguliknya, hingga pria itu segera menatap iba pada para putra May.


"Waktu mereka habis."


Lucifer menghentikan perlawanannya, pun dengan yang lain. Hal itu membuat Baron dan para Hunter heran. Terlebih ketika Lucifer memundurkan diri. Ada binar tidak tega kala Lucifer dan yang lainnya melihat ke arah putra May.


****


Ritual jempolnya jangan lupa.


Like, komen dan vote ditunggu.

__ADS_1


__ADS_2