Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Pengalaman Pertama


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Semua orang bertepuk tangan ketika Lucio selesai memasangkan cincin di jari manis Lexa. Lucio mengikuti kemauan Lexa yang menginginkan pernikahan ala manusia. Maklum dia seorang model dan putri gubernur, jadi dia ingin pernikahannya sesuai dengan impiannya.


Sorakan kembali terdengar ketika Lucio tanpa malu melummat bibir Lexa di hadapan orang banyak. Bukan hanya sebuah kecupan tapi ciuman panas yang membuat semua mata membulat saat melihatnya.


"Dasar mesum!"


Teriak Excel. "Mesum sama istri sendiri, Cel. Makanya cari istri sana!" Balas Lucio dari altar pernikahan.


Excel langsung berdecak kesal. Selalu saja dia yang kalah. Pria itu mendengus geram lantas berlalu dari sana. Saat berbalik, dia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf tidak se......."


Mata Excel langsung membulat, melihat siapa yang dia tabrak. Sistem di kepalanya langsung men-scan siapa gadis cantik yang berdiri dengan wajah malu di hadapan Excel.


"Christabel Van Hoven. Putri Ian Van Hoven. Penguasa Wilayah Selatan. Vampir murni."


Excel tersenyum. Untuk pertama kali seorang Excel tertarik pada seorang gadis ketimbang layar monitor dan peralatan gadgetnya.


Dan kejadian itu tak luput dari pengamatan sang ayah, Aiden. Pria itu mengulum senyum, tersenyum penuh arti pada Maria sang istri.


Sementara itu, Lucifer tampak menempel manja pada Nara sejak tadi. Terlihat acuh pada keadaan sekelilingnya. Hal yang membuat semua orang saling pandang. Ada apa gerangan dengan pengantin paksa itu?


"Apa lihat-lihat?"


Salak Lucifer pada Dominic.


"Kau kenapa? Habis bobol gawang?"


Lucifer nyengir mendengar pertanyaan Dominic. Seolah membenarkan. Saat itulah tangan Lucifer terangkat dan lemparan bunga Lexa langsung terbakar di udara sebelum sampai pada Nara.

__ADS_1


"Dia sudah menikah. Apa maksudnya kau memberinya bunga milik Lexa?"


"Siapa tahu dia mau ninggalin kau!"


Lucio menjawab tengil dan sebuah gelas segera melayang ke arah Lucio. Yang langsung bereaksi dengan melempar gelas itu ke arah samping. Diiringi bunyi prang nyaring, gelas itu hancur berkeping-keping.


"Kenapa sih mereka tidak bisa akur barang semenit aja."


Gerutu Lucas sembari tersenyum menyapa tamua undangannya.


"Kirim mereka ke medan perang. Baru mereka akan akur."


Lucas hampir terbahak mendengar perkataan Luis di kepalanya. Sementara di depan sana, suara teriakan kembali terdengar saat bunga Lexa jatuh pada Lucy. Aro seketika menggaruk kepalanya yang tinggal gatal.


Di sisi lain, Xinyan tampak terluka melihat kemesraan antara Lucifer dan Nara. Lebih tepatnya Lucifer. Pria itu jelas sangat bahagia saat ini. Dia seketika menggigit bibir bawahnya. Haruskah dia berhenti sekarang? Bertahun menyimpan harapan kalau cintanya akan bersambut kelak. Nyatanya hanya sakit yang Xinyan rasa.


Dia teringat bagaimana sang ayah mengingatkannya berulang kali. Memintanya melepas Lucifer. Sebab putra Ara itu sudah menolak Xinyan sejak awal. Ditambah takdir Lucifer yang memang tidak akan berjodoh dengan Xinyan. Sekuat apapun Xinyan memaksa.


"Sesakit inikah patah hati?"


Bayangan tentang senyum bahagia Lucifer semakin kentara membuat hati Xinyan kian lara. Dia akan pulang malam ini, tidak perlu menunggu besok. Untuk apa di sini jika hanya menyakitkan hati.


"Aduuhh....."


Xinyan jatuh terduduk kala kakinya terantuk lantai berbatu di lantai bawah. Dia harus keluar dari gerbang Black Castle agar bisa menghilang dan kembali ke dunianya. Dunia atas. Gadis itu mengumpat saat melihat kakinya memerah. Bisa dipastikan kalau rasanya akan sakit jika digunakan untuk berjalan.


"Perlu bantuan?"


Xinyan menoleh dan melihat Dominic yang berdiri di belakangnya. Menolak bantuan Dominic, Xinyan memilih berlalu dengan langkah pincang. Sesekali bibir tipis nan menggoda itu berdesis pelan. Dari belakang Xinyan, Dominic tampak menghela nafasnya. Lantas dengan cepat menggendong Xinyan.


Gadis itu jelas protes dengan tindakan Dominic. Terlebih pria itu membawa Xinyan ke kamarnya. Kamar yang Ara siapkan sejak kemarin.


"Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Xinyan memundurkan tubuhnya. Kala Dominic menunduk untuk memeriksa kakinya, setelah mendudukkan Xinyan di sofa. Tapi pria dihadapannya bersikeras menahan kakinya untuk diperiksa. Dan ringisan lirih terdengar dari bibir Xinyan kala Dominic menekan pergelangan kaki Xinyan.


"Jangan menekannya, itu sakit."


"Aku hanya memijitnya."


Dominic sedikit menggunakan energi dalamnya untuk mengurangi rasa sakit di kaki Xinyan. Tapi ringisan justru semakin kencang terdengar. Hingga entah pikiran gila darimana. Dominic menegakkan tubuhnya. Tanpa kata langsung menangkup wajah Xinyan, lantas menciumnya tanpa ragu.


Bisa dibayangkan bagaimana shock-nya Xinyan kala itu. Ciuman pertamanya diambil oleh Dominic. Pria yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak Xinyan. Tapi itu nyata, pria itu saat ini tengah menikmati bibirnya. Memagutnya tanpa henti.


Xinyan mendorong dada Dominic, tapi pria itu bergeming. "Aku mencintaimu, Xinyan."


Kata Dominic tiba-tiba. Xinyan sesaat terpaku. Dominic sendiri tidak tahu, bagaimana kata itu terucap dari bibirnya. Dia hanya mengikuti nalurinya saja. Untuk beberapa waktu keduanya terdiam.


Pernyataan cinta Dominic seolah oase bagi Xinyan. Angin segar di tengah panasnya hati Xinyan. Pria itu telah lama menunggu untuk menyatakan perasaannya. Perlu keberanian ekstra bagi Dominic yang terkenal kaku dan dingin pada semua orang, untuk menyatakan perasaannya pada Xinyan. Yang baru Dominic sadari akhir-akhir ini.


Xinyan sendiri bagai mendapat penawar racun, di tengah sakitnya hati Xinyan, melihat kebahagiaan Lucifer. Ada hati yang datang untuk membebat lukanya. Haruskah dia melewatkan hal ini. Ditatapnya wajah Dominic. Tidak ada yang akan menyangkal ketampanan putra mahkota dari klan vampir ini.


Beberapa kali Xinyan menangkap beberapa putri vampir yang berusaha menarik perhatian Dominic, tapi pria itu tidak menghiraukan keberadaan mereka. Dominic lebih suka menyibukkan diri mengamati perilaku saudaranya sendiri. Sambil beberapa kali menerima bulian dari Lucio dan teman-temannya.


Tatapan Dominic terlihat sendu sekaligus menusuk. Menembus relung terdalam hati Xinyan. Hati yang terlanjur berisi nama Lucifer. Tapi tatapan Dominic berhasil memporak-porandakan hati Xinyan. Dalam sekejap saja, nama Lucifer seolah menghilang dari sana. Digantikan oleh nama Dominic.


Perlahan tangan Xinyan menyentuh wajah Dominic. Sentuhan tangan Xinyan, seketika menggetarkan tubuh Dominic. Ini adalah kali pertama, ada seorang gadis menyentuh dirinya. Dua mata mereka kembali bersua pandang. Hingga satu kalimat dari Xinyan membuat hati Dominic berbunga.


"Mari mencobanya kalau begitu."


Senyum terukir di wajah Dominic. Tapi senyum itu tak lama berubah menjadi rasa shock. Manakala Xinyan berinisiatif menciumnya lebih dulu. Xinyan seketika merasakan lembutnya bibir saudara Lucifer itu.


Tak perlu waktu lama, Dominic dengan segera menyambut ciuman Xinyan. Mengambil alih dominasi dan memimpin permainan bibir mereka. Keduanya mulai terhanyut dalam manisnya bibir masing-masing. Sebuah pengalaman pertama bagi keduanya. Ciuman mereka semakin intens, seiring dengan pintu kamar itu yang perlahan menutup.


***


Up lagi readers....jangan lupa ritual jempolnya jangan lupa....terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


***


__ADS_2