
Black Castle, dua minggu kemudian. Nara masuk ke kamar Lucifer dibantu Lucy. Pria itu mengalami koma atau bisa dibilang tidur panjang. Sejak berakhirnya perang hari itu, Lucifer belum membuka matanya sama sekali. Pria itu jatuh dalam fase istirahat total, di mana seluruh tubuhnya berhenti merespon semua rangsangan dari luar tubuhnya.
Nara memilih kembali ke Black Castle untuk menemani Lucifer, ditambah kehamilan Nara yang masih dalam tahap rawan. Wanita itu tentu memerlukan perhatian ekstra. Juga jaminan medis yang bisa dia dapat sewaktu-waktu. Pemerintahan Fatian untuk sementara akan dipimpin oleh Yuan. Dengan pengawasan langsung dari Galbathoriq. Ya, naga pelindung itu yang turun tangan sendiri mengawasi pemerintahan Fatian.
Nara perlahan menyentuh tangan sang suami, dingin seperti biasa. Tapi dingin kali ini terasa lain. Dingin tanpa ada respon sama sekali. "Biarkan aku tidur di sini, Cy." Pinta Nara pada Lucy. Calon istri Aro itu mengangguk paham. Lantas membiarkan pasutri itu berdua. Nara langsung memeluk tubuh Lucifer, begitu dia berbaring di sisi sang suami.
"Apa kau belum ingin bangun? Aku rindu padamu." Ucap Nara sambil mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Lucifer. Pria itu terlihat tampan meski dalam keadaan koma.
Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk membuat Lucifer membuka mata. Dari yang medis sampai ke non medis. Mulai dari serum buatan Hans sampai mantra kuno yang Gàlbathoriq tahu. Tapi semuanya nihil. Tidak ada hasilnya. Pria itu setia menutup mata hingga hari ini.
Nara menghela nafas ketika lagi-lagi Lucifer masih mengacuhkannya. Pria itu masih bergeming. Tidak ada tanda-tanda akan membuka mata. "Apa sebaiknya juga ikut tidur panjang biar kamu ada yang menemani." Gerutu Nara. Wanita itu perlahan memejamkan mata. Ikut tidur di samping Lucifer.
Satu bulan lagi adalah pernikahan Aro dan Lucy. Di susul bulan berikutnya Dominic dan Xinyan. Serta Excel dan Abel. Setelah melalui diskusi panjang dengan Sherpa, ayah Xinyan. Sebuah keputusan diambil. Meski Dominic mengalami pemurnian, dalam artian tidak ada lagi darah vampir dalam tubuhnya, tapi Sherpa dan dunia langit mengizinkan jika pria itu ingin menerima tampuk kepemimpinan Black Castle. Sekarang Dominic yang puyeng.
Mengingat kondisi Lucifer juga, semua tugas diambil alih oleh Lucio dan Aro juga Excel. Sedang Dominic masih harus menyelesaikan urusannya dengan dunia langit.
Hari berganti, pintu kamar Lucifer dibuka secara tiba-tiba. Membuat Nara yang berada di dalamnya terkejut. Dominic masuk dengan wajah tegang.
"Ada apa?" tanya Nara yang baru saja selesai mengganti pakaian Lucifer. Melihat kakak iparnya terlihat cemas. Pria itu lantas bercerita kalau saat di dunia langit, dia bertemu dengan seorang dewa yang mengendalikan takdir. Dewa itu tahu soal Lucifer yang mengalami koma. Dewa tersebut memberikan sebuah botol kecil berwarna cairan bening layaknya air.
"Ini embun surgawi. Kata dewa itu ini dari kakek buyut Lucifer."
Nara mengerutkan dahinya. Dominic lantas meminta Nara untuk meminumkannya pada Lucifer. Setelah dicampur darah murni miliknya. "Apakah akan berhasil?"
"Kita coba saja." Dominic meyakinkan Nara. Hingga wanita itu perlahan membuka tutup botol kecil tersebut. Wangi lembut, menenangkan dengan aroma menyegaŕkan seketika menyeruak di kamar Lucifer. Tak berapa lama bunyi desisan lirih terdengar saat darah Nara bercampur dengan air suci tersebut.
Perlahan Nara meminumkannya pada Lucifer. Glek, terdengar suara Lucifer yang menelan cairan itu. Satu detik, dua detik. Tiga detik, tidak ada yang terjadi. Nara menarik nafasnya dalam, dia harus menelan kekecewaan lagi. Usaha mereka gagal lagi. Bahkan ketika dunia langit sudah ikut campur. Tapi Lucifer, belum juga sudi bangun dari tidurnya.
"Apa kamu benar-benar tidak mau bangun?" Nara mulai terisak. Dia merasa bersalah dan tersiksa dengan keadaan Lucifer. Galbathoriq menjelaskan kalau Lucifer menggunakan seluruh energi dalamnya untuk menahan dirinya dan sang putra yang hampir tertarik ke dimensi yang Zuan bangun untuk memenjarakan Nara. Jika sekiranya dia kalah.
__ADS_1
Galbathoriq sendiri terpaksa minta bantuan Lucifer karena dirinya dan The Eternal sudah melampaui batas menahan jiwa Nara saat itu. Terlebih sihir Zuan memiliki kelemahan yaitu darah vampir.
Naga pelindung itu berulangkali meminta maaf pada Nara atas kegagalannya melindungi dia dan Lucifer.
"Nara jangan putus asa, kita akan menemukan jalan untuk membangunkannya. Ayah dan Ibu sedang menemui tetua Cairo."
Saat mendengar nama Cairo disebut, sebuah bisikan masuk ke kepala Nara. "Panggil dia pulang. Dia sedang tersesat."
Nara sesaat terkejut, namun dia melakukan apa yang suara itu pinta. " Lucifer, pulanglah. Aku menunggumu. Putra kita menunggu. Semua menunggu. Berapa kali aku memanggilmu pulang. Tapi kenapa kamu terus mengacuhkanku. Apa kamu ingin aku menyusulmu. Katakan saja iya, dengan begitu aku dan putramu bisa menemuimu. Pulanglah Lucifer, suamiku. Aku mencintaimu."
Nara terisak di samping ranjang Lucifer, dengan Dominic mengusap pelan punggung sang adik. Rasa putus asa itu hampir membuat Nara gila, jika saja dia tidak teringat kandungan yang ada dalam perutnya.
Sebulan kemudian.
Semua orang bertepuk tangan saat Aro dengan malu-malu mencium Lucy. Semua orang meledakkan tawa melihat adegan tak wajar itu. Ha? Tidak wajar. Tentu tidak wajar. Biasanya pengantin pria selalu bersemangat saat mencium istrinya. Tapi Aro tidak. Dalam situasi tersebut jelas terlihat kalau Lucylah yang mendominasi.
"Aku tidak yakin, Aro bisa unboxing malam ini." Celetuk Lucio, yang langsung mendapat cubitan dari Lexa.
Tawa pun meledak di tempat berkumpulnya biang rusuh Black Castle yang otewe menjadi orang tua itu.
"Apa kau pikir Lucy akan membiarkan Aro kabur?"
Satu suara membuat semua orang menoleh. "Ah, menurutmu bagaimana?" Lucio balik bertanya.
"Lucy sudah lama menunggu hari ini. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dia dapat. Lucy akan habis di tangan Aro." Jawab suara itu.
"Jangan terlalu membuka kehidupan orang." Suara Nara memperingatkan.
"Ahh, tidak Sayang. Hanya sedikit clue supaya mereka tidak kepo dengan kemampuan Aro."
__ADS_1
Nara tersenyum mendengar jawaban pria itu.
*
*
Nara bertemu Galbathoriq sehari setelah kembali ke Fatian. Pria itu, Galbathoriq mengubah wujudnya menjadi manusia. "Aku ingin mengubah sistem kepemimpinan Fatian."
Galbathoriq seketika mengangkat wajahnya yang dari tadi tertunduk karena memberi hormat pada sang ratu.
"Tidak peduli bagaimana peraturanmu. Kami telah terikat sumpah. Bahwa kami hanya akan patuh pada garis keturunan Fatian."
Jawaban Galbathoriq menegaskan kalau dia dan The Eternal tidak menginginkan tuan lain selain keturunan dari raja terdahulu.
Nara tersenyum mendengar sumpah setia dari naga pelindungnya. "Kalau begitu, aku bisa bernafas lega. Meninggalkan putra dan putriku juga keturunanku pada kalian. Terutama....putriku."
Eh? Galbathoriq seketika memandang Nara yang tersenyum padanya. Lantas berlalu pergi dari sana. "Hayoloh, ketahuan gak tu kau naksir putri Nara. Yang lahir saja belum." Ledek The Eternal yang muncul di samping Galbathoriq.
"Aku akan menjaga putrimu sepenuh jiwaku."
Nara menyambut tangan Lucifer yang menunggunya di bibir tebing. Senyum keduanya kembali merekah setelah berbagai badai yang mereka lalui.
Fatian berubah menjadi sebuah kerajaan yang makmur di bawah pimpinan Nara dan Lucifer. Dengan Hans dan Ailee membantu dalam urusan pangan. Pun dengan Black Castle yang juga pada akhirnya mengukuhkan Dominic sebagai raja pengganti. Setelah Lucas memutuskan mundur, saat Asha mengambil keputusan untuk turun dari kedudukannya sebagai ratu dunia Iblis. Dengan begitu, otomatis Lucy naik menggantikan sang ibu menjadi pemimpin kaum bawah tersebut. Dengan Aro sebagai pendamping.
Satu era berakhir, berarti satu generasi baru telah lahir dan memulai zamannya.
END
****
__ADS_1
Untuk Lucifer dan Nara, author selesaikan sampai di sini ya reader. Kalau ada sekuel, mungkin kisah Galbathoriq dan Athena, si putri terbuang. Tapi belum tahu kapan launching he..he...