
"Laki-laki? Apa yang kau maksud dulu kau pernah menjadi laki-laki?" Madelin terkejut mendengar pengakuan Micel.
Micel menyentuh dadanya, menatap Madelin lekat-lekat. "Kau pasti terkejut maafkanku. Aku memang dulunya adalah seorang laki-laki, sebelum menjalani terapi hormon, juga operasi ganti kelamin. Aku melakukan semua ini, untuk menutupi indentitasku dan menjadi adikku Micel. Seperti yang kau lihat, sekarang aku adalah Micel, atau lebih tepatnya aku menyamar menjadi adikku. Aku mengambil identitas adikku yang telah meninggal dan menjadi dirinya sekarang."
"Apa yang telah Jonatan perbuat pada adikmu, sampai kau rela berbuat sejauh ini?" Madelin yakin, bahwa Jonatan telah melakukan sesuatu perbuatan yang terlampau buruk.
"Adikku Micel, dulunya adalah asisten pribadi Jonatan. Micel jatuh cinta dengan Jonatan, dan rela mengikuti Jonatan seperti anjing pribadinya. Jonatan yang tahu, Micel menyukainya, memanfaatkan situasi itu dan mengendalikan adikku dengan sesuka hatinya. Sampai suatu hari, di mana Jonatan merasa bahwa Micel sudah tidak berguna lagi untuknya, ia membuang adikku begitu saja. Ia bahkan menutupi kematiannya dan mengatakan bahwa, Micel mati bunuh diri. Aku tidak percaya bahwa adikku mati karena bunuh diri, bajingan itu pasti telah membunuh adikku. Namun meski, dia tidak membunuh adikku secara langsung, tetap saja dia adalah orang yang membunuh Micel. Dia keparat sialan, dia telah memanfaatkan adikku sepenuhnya, dan meninggalkannya di tengah jalan begitu saja," cerita Micel.
"Kau yakin ingin membalas dendam padanya? Aku sejujurnya, turut merasa berduka atas kemalanganmu. Namun seperti yang kau tahu, Jonatan bukanlah orang yang bisa kau hancurkan dengan mudah." Madelin sendiri sadar, jika ambisi Micel bisa saja berujung dalam malapetaka.
Micel tersenyum tenang. "Aku tahu itu. Aku tidak melakukan semua rencana ini, dengan maju berperang hanya dengan tubuh telanjang. Aku telah menyiapkan baju perang terbaikku, untuk melawan orang gila itu." Dan dari suaranya itu terlihat sangat percaya diri.
"Jika kau sampai sepercaya diri ini. Aku yakin, bahwa kau sudah menyiapkan sesuatu yang terbaik di belakangmu." Madelin menatap Micel. "Jika kau tidak keberatan untuk memberitahuku, mengenai rahasiamu. Maka aku juga tidak akan ragu, untuk membantumu." Madelin ingin tahu, seberapa percaya dirinya Micel dalam upayanya.
"Jika kau ingin tahu soal itu. Aku akan memberitahukannya padamu." Micel mendekatkan wajahnya pada Madelin. "Dengarkan baik-baik rahasia ini karena aku tidak akan mengucapkannya untuk kedua kalinya," bisiknya.
***
"Saat di pesta keluarga nanti, kau sebaiknya tidak perlu terlalu berdekatan dengan istrimu," saran Nyonya Lily pada putranya.
Sam menaikka sebelah alisnya. "Berhenti bertingkah seolah-olah Ibu merasa malu memiliki menantu seperti Madelin."
"Ibu melakukan ini untuk menjaga reputasimu. Kau harusnya sadar diri dengan posisimu itu. Kau hanya perlu menuruti ibu, dan biarkan semuanya mengalir!" tegas Nyonya Lily.
Sam menghela nafas berat. "Terserah."
"Alangkah baiknya jika kau berdekatan dengan wanita bernama Flora itu nanti. Lagi pula, ibu sudah mengundangnya dan memintanya untuk menemanimu di pesta nanti."
__ADS_1
"Apa Ibu gila? Aku sudah memiliki istri sah bernama Madelin. Justru jika Ibu melakukan ini, maka aku akan dipandang buruk karena seperti bermain-main dengan perempuan. Aku juga tidak ingin menyakiti hati Madelin, Bu." Sam memberontak tidak ingin mendengarkan kata ibunya.
Nyonya Madelin melotot dan membuat bola matanya, seakan-akan jatuh dari tempatnya. "Justru yang memalukan itu, jika kau berdekatan dengan perempuan miskin seperti Madelin. Flora memiliki citra yang luar biasa, orang-orang jauh lebih menghormatinya dan memandangnya."
"Lakukan sesuka Ibu. Tapi aku tetap tidak mendengarkannya." Sam meninggalkan Nyonya Lily begitu saja.
"SAM! SAM! SAM!" panggil Nyonya Lily mendapati putranya pergi begitu saja. Cih anak itu sulit sekali diatur, pikir Nyonya Lily kalut.
***
"Gaunnya cantik bukan?" Sam tersenyum memamerkan gaun pemberiannya pada Madelin. Gaun sederhana dengan warna putih itu, terlihat manis.
Madelin tersenyum mendapatkan gaun tersebut dari Sam. Ia menghargai pemberian suaminya itu. Meski saat ini, hatinya sesungguhnya tidak benar-benar menyukai perilaku busuk suaminya.
"Terima kasih, aku akan memakainya dengan baik." Madelin mengecup pipi Sam.
"Ehem. Ini hanya pakaian bisa saja, kau tidak perlu berterima kasih," ucap Sam malu-malu.
**
Madelin sadar bahwa ia sudah dipermalukan. Gaun yang dikenakan oleh Flora, memiliki desain yang serupa dengannya. Hanya saja gaun itu memiliki warna yang berbeda dengannya.
"Aku lebih tidak menyangka mengapa kau bisa memakai, gaun yang serupa dengan Flora. Kenapa kau tidak memakai gaun yang aku berikan padamu?" sindir Nyonya Lily pada Madelin.
"Sam memberikan gaun ini padaku. Tentu saja untuk menghormatinya, aku harus memakainya," bela Madelin.
Flora tertawa. "Sepertinya, Sam ingin agar kita berdua memakai gaun yang serupa. Saat aku pergi membeli gaun, Sam sendiri membantuku memilihkan gaun ini. Ah, aku pikir Sam ingin melihat kita berdua memakai gaun yang serupa. Mungkin ini membuat kita berdua terlihat akrab dan dekat satu sama lain. Bukankah seperti itu?"
__ADS_1
"Tapi sepertinya gaun yang digunakan oleh Flora, terlihat jauh lebih cantik," komentar salah seorang tamu undagan.
"Benar. Sepertinya kualitas pakaian itu juga dilihat dari pemakainya. Itu terbukti saat Flora memakai gauns sederhana ini, ia terlihat jauh lebih mempesona," timpal tamu lainnya.
"Itu jelas. Orang kaya akan terlihat jauh lebih menawan, meski memakai gaun sederhana seperti ini. Tidak seperti seorang pembantu yang mencoba menjadi cinderella." Nyonya Lily melirik sinis ke arah Madelin.
Penghinaan itu sudah lebih dari cukup bagi Madelin. Dia sadar bahwa dirinya sedang dibanding-bandingkan dengan sosok Flora.
"Permisi." Madelin kemudian pergi meninggalkan pesta.
***
"Madelin?" panggil seseorang yang tiba-tiba saja melintas.
Madelin yang tengah berjongkok merokok membuang rasa frustasinya terkejut mendapati Micel.
Micel mengulurkan tangannya mencoba membantu Madelin berdiri. "Sebaiknya kau tidak merokok di sini. Aku khawatir ada yang melihatmu."
Madelin tersenyum, dia lalu membuang rokoknya. Membersihkan dirinya dari sisa-sisa rokok, yang memenuhi dirinya.
" Ayo ikut aku." Micel menarik tangan Madelin dia lalu membawanya ke sebuah tempat.
Madelin tidak bertanya dan hanya mengikuti Micel dalam diam.
***
"Gaun ini lebih pantas untukmu." Micel menunjukkan sebuah gaun elegan berwarna cokelat. Gaun itu tidak terlalu memiliki banyak hiasan, namun terlihat mahal dan sangat cantik. "Aku yakin, gaun ini lebih pantas dikenakan olehmu. Aku rasa gaun yang kau gunakan sekarang, terkesan menutupi kecantikanmu yang mahal."
__ADS_1
Madelin tersenyum sendu. "Apa aku pantas menggunakannya?" tanyanya dengan suara kecewa.
"Kau selalu pantas untuk menggunakan yang terbaik." Micel memberikan gaun itu pada Madelin. "Pakailah gaun itu, aku akan menunggumu di sini. Jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja namaku."