
"Bagaimana jika kita pergi ke restoran di bawah untuk bicara. Ngomong-ngomong aku sangat menyukai ibumu sebagai, wanita karir yang hebat." Nyonya Lily terlihat berapi-api. Baginya ini merupakan keuntungan besar yang bisa ia dapat, jika berdekatan dengan putri dari sosok wanita paling berpengaruh yaitu Kim Jackel.
***
"Aku dengar Nyonya Kim, baru-baru ini membuka bisnis baru. Dan aku yakin bahwa usaha itu pasti akan sukses. Jadi ... apa bibi bisa, ikut bergabung dengan bisnis baru ibumu. Bibi dengar orang-orang yang bekerja dengan ibumu, selalu saja mendapat kesuksesan." Nyonya Lily mencoba membujuk Flora.
Flora tersenyum, meletakkan cangkir kopi miliknya. "Tentu saja. Itu jelas merupakan keahlian Ibuku. Jadi ... apa Bibi tertarik untuk bekerjasama dengan Ibuku?"
Nyonya Lily tersenyum sumringah. "Sungguh apa kau akan membantu Bibi?"
"Itu hal yang mudah. Tapi tentu saja, Bibi paham bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa Bibi keberatan jika ada syarat yang, harus Bibi penuhi?" pancing Flora.
"Jika ada yang kau inginkan, bibi akan berusaha memenuhinya, bibi berjanji," ucap Nyonya Lily tanpa berpikir panjang.
Seulas senyum licik, muncul di bibir Flora. "Saya pernah dengan bahwa Bibi memiliki seorang putra bernama Sam. Namun baru-baru ini, saya mendengar bahwa putra Bibi ... maaf bisnisnya hancur? Apa itu benar? Saya sejujurnya tidak percaya dengan kabar tersebut." Flora sengaja memancing arah pembicaraan.
Nyonya Lily terlihat kaget. "Ah itu benar. Tapi, Sam adalah laki-laki yang tangguh. Tidak lama lagi, ia pasti akan bangkit. Semua masalah seperti ini, pasti pernah dialami oleh para pengusaha lainnya." Nyonya Lily mencoba mengelak.
Flora merasa geli mendengarnya. "Kalau begitu ... apakah Anda mau membuat Sam, menjadi dekat dengan saya? Sejujurnya saya menyukai Sam. Tapi pasti ini akan menjadi hal yang sulit. Sam bukankah sudah menikah?" Wanita itu sengaja berusaha mencari celah.
"Sam memang sudah menikah. Namun wanita pilihannya sangatlah buruk, aku benar-benar tidak mengerti dengan pilihan anak itu," keluh Nyonya Lily. "Seandainya saja, aku bertemu denganmu lebih cepat, maka aku pasti akan berusaha menjodohkanmu dengan Sam."
"Lantas apakah Anda bisa membuat Sam menjadi dekat dengan saya? Untuk sekarang ini, saya bisa memahami keadaannya, saya tidak memaksa atau bahkan, berusaha untuk membuat Sam sampai bercerai. Saya hanya berharap, Sam dapat menjalin hubungan yang baik denganku, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan jika, Anda bisa melakukan ini, saya tidak akan ragu untuk merekomendasikan Anda sebagai VIP pada Ibu saya. Bagaimana, Nyonya?" tawar Flora.
__ADS_1
Nyonya Lily meneguk air ludahnya sendiri. Tawaran yang diberikan oleh Flora terdengar sangat menggiurkan baginya. Rasanya ia merasa sangat rugi, jika seandainya melepaskan kesempatan ini.
"Apa Anda merasa kesulitan?" Flora memandang Nyonya Lily cukup lama. "Saya merasa wajar, jika Anda mengatakan ini sulit. Karena saya tahu, bahwa Sam sudah menikah. Pasti akan sangat sulit membuat seseorang yang sudah menikah menjadi dekat dengan orang lain."
"Apa kau bisa memberiku waktu?" Nyonya Lily sangat tidak ingin melepaskan kesempatan ini.
"Apakah Anda akan meminta waktu yang lama?" Flora sengaja berpura-pura terlihat tidak sabar. "Saya jadi agak sedikit ragu, jika Anda harus meminta saya bersabar dalam waktu yang cukup lama."
"Aku ... aku bisa melakukannya! Percayalah padaku! Jika, kau benar-benar percaya padaku, aku pasti akan mengusahakannya dengan sangat baik. Aku bisa memegang kata-kataku." Nyonya Lily berusaha untuk membuat Flora yakin padanya.
Melihat betapa berusaha kerasnya, Nyonya Lily membuat dirinya yakin membuat Flora diam-diam tersenyum geli. Dia merasa bisa menjadikan Nyonya Lily sebagai alatnya. Dan juga sedikit bermain-main dengannya. Flora merasa bahwa Nyonya Lily, akan menjadi sosok yang sangat menyenangkan untuk ia jadikan sebagai hiburan pribadinya.
"Baiklah. Jika Anda sudah berani berbicara seperti itu, saya akan memberikan kesempatan pada Anda. Saya akan sungguh menantikan hasil yang baik dari pekerjaan Anda." Flora tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Nyonya Lily. "Bagaimana jika kita berjabat tangan, sebagai tanda kesepakatan di antara kita berdua?"
Dasar bodoh, lihat wajahnya itu dia bahkan tidak akan pernah menyadari bahwa dirinya itu sedang dipermainkan sekarang ini, pikir Flora.
***
"Apakah kau yang orang bernama Jonatan itu?" tanya Flora begitu melihat sosok laki-laki yang bersandar di dinding bangunan.
"Dan biar kutebak, kau adalah wanita yang bernama Flora itu bukan? Atau lebih tepatnya, wanita yang suka bermain dari belakang dengan suami orang? Apa aku salah?" Jonatan tertawa kecil, dia mematikan rokoknya lalu mengambil yang baru.
Flora hanya tersenyum. Dia terlihat masih tenang, wanita itu berjala mendekati Jonatan dan mempersempit jarak di antara keduanya. "Ah itu benar. Tapi aku lebih yakin bahwa, orang yang berani bilang seperti itu padaku juga bukanlah laki-laki yang sepenuhnya balik atau malah sebaliknya. Sangat kotor dan suka menyimpan tipu muslihat di belakangnya." Flora masih mempertahankan senyumnya namun auranya terasa begitu mengintimidasi.
__ADS_1
"Begitu saja langsung tersinggung. Kau terlalu sensitif. Aku jadi meragukanmu untuk bekerjasama denganmu." Jonatan mendorong Flora menjauh dari dirinya. "Kita bicara di dalam saja. Ayo masuk." Jonatan kemudian berjala mendahului Flora dan masuk ke dalam restoran lebih dulu.
Flora mendesah dan terlihat kesal. Namun pada akhirnya, ia tetap memilih masuk ke dalam mengikuti Jonatan.
Sesampainya di dalam restoran, Jonatan menyuruh Flora untuk memesan makanan.
"Hei, Kurus kau mau makan apa?" tawarnya sembari menunjuk ke arah buku menu.
"Tidak perlu." Dengan judesnya Flora menolak.
Jonatan menghela nafas. Dia menutup buku menu dan memperhatikan Flora lekat-lekat, sampai membuat wanita itu merasa gelisah.
"Apa? Kau benar-benar tidak tahu sopan santun rupanya!" Flora nyaris mencolok kedua bola mata Jonatan.
"Pesan saja satu. Aish ... aku paling tidak tahan melihat wanita yang selalu mengurang-ngurangi makannya. Padahal wanita akan terlihat jauh lebih cantik, ketimbang saat dirinya menderita kelaparan hebat," sindir Jonatan.
Flora sangat ingin memukul kepala Jonatan. Namun dia berusaha untuk menjaga sopan santunnya. Maka akhirnya ia lebih memilih untuk menarik nafas dan menenangkan dirinya sendiri.
"Dasar gila sialan!" maki Flora kesal. Meski memaki Jonatan akhirnya ia tetap memilih salah satu menu makanan dengan porsi kelewat sedikit.
"Ya ampun ... aku bahkan tidak yakin jika seekor semut, bisa merasa kenyang dengan menu yang tengah kau pesan tersebut." Jonatan yang melihat menu yang dipesan oleh Flora benar-benar tidak habis pikir dengan wanita tersebut.
"Diamlah burung kakatua!" Flora menginjak kaki Jonatan dan berusaha untuk membuat laki-laki tersebut diam.
__ADS_1