Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
37. Keusilan Madelin


__ADS_3

"Kau tidak mau diusir dengan cara lembut bukan? Maka jangan salahkan aku jika mengusirmu dengan cara seperti ini." Madelin lalu memasukkan kepala Flora ke dalam baskom tersebut. Setelah itu Madelin memukul baskom itu dan membuat Flora terjatuh.


"WANITA SINTING!" Flora bangun melemparkan baskom yang terpasang di kepalanya. Ia lalu menyerang Madelin. "****** GILA, SEPERTINYA OTAKMU SUDAH PINDAH KE DENGKUL!" Dia menarik-narik rambut Madelin.


"Memang aku wanita sinting." Madelin sengaja mengarahkan Flora ke sudut meja. Wanita itu mengambil gunting yang tergeletak di atas meja, lalu mengambilnya dan menggunting rambut panjangnya.


Flora terkejut dengan aksi gila yang dilakukan oleh Madelin. "Kau benar-benar tidak punya akal." Meski begitu ia masih saja berusaha untuk menyerang Madelin.


Madelin hanya diam saja. Matanya melirik ke arah bak sampah. Ia lalu mengambil suatu bungkusan plastik di sana, dan menyodorkan isinya di depan Flora.


Flora terkejut mendapati isi bungkusan plastik, tersebut yang rupanya merupakan bangkai tikus yang sudah mati. Madelin bahkan menggoyang-goyangkan bangkai tersebut di depan wajahnya.


"Ueeeeek ... ueeeek ...." Rasa mual memenuhi perut Flora. Ia muntah-muntah mendapati bangkai tikus mati dengan sengaja di depan wajahnya.


"Kalau kau tidak mau pergi, maka aku akan melemparkan ini ke depan wajahmu!" Madelin semakin mendekat dan terlihat bahwa sedikit lagi, ia akan berhasil menempelkan bangkai tikus tersebut tepat di depan wajah Flora.


Flora yang sudah tidak tahan dengan aroma bangkai tersebut, menahan setengah mati rasa mualnya. Ia lalu berlari, mendorong Madelin menjauh. Sementara Flora berusaha untuk kabur, tampaknya Madelin sendiri masih belum puas. Wanita itu kemudian sengaja mengikuti Flora, dan mengejarnya sembari menunjukkan bangkai tikus yang ia temukan.


Flora yang nyaris mencapai ambang pintu, terkejut setengah mati ketika Madelin dengan sengaja menarik kakinya.


"KYAAAAAA!" pekik Flora yang mengira bahwa dirinya akan terjatuh. Namun siapa sangka terjadi hal tidak terduga. Flora justru jatuh ke dalam pelukan Madelin. Dan Madelin sendiri menempelkan bangkai tikus tersebut, tepat di depan wajah Flora.


Flora yang ketakutan setengah mati, bangkai tikus tersebut ditempelkan tepat, di depan wajahnya. Setelah menjerit ketakutan, ia jatuh pingsan.


"Astaga lemah sekali, wanita ini." Madelin kemudian menyimpan bangkai tikus tersebut di dalam plastik. Setelah itu, ia menggendong tubuh Flora dan memindahkannya ke sofa. Selesai memindahkan tubuh Flora, Madelin lalu meraba-raba tubuh Flora, ia mencari kunci mobil wanita itu sampai ia mendapatkannya.

__ADS_1


"Ketemu." Ia menemukan kunci mobil milik Flora. Setelah itu, ia pergi keluar rumahnya dan berjalan menuju mobil Flora yang terparkir di luar sana. Ia membuka pintu mobil wanita itu, dan mengecek isi mobil tersebut. Setelah itu, ia kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Madelin menggendong tubuh Flora, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Madelin berniat untuk mengantarkan wanita itu ke suatu tempat.


***


"Di mana aku?" tanya Flora bingung. Ia terlihat seperti orang linglung. "Astaga ... apa-apaan ini?" Dirinya terkejut setengah mati, mendapati dirinya terbangun di sebuah makam. Buru-buru wanita itu segera bangun dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mobilku? Di mana mobilku?" Flora kebingungan setengah mati mencari di mana mobilnya berada. Namun ketika ia sibuk, mencari mobilnya ia terkejut ketika mendengar suara klakson yang begitu nyaring.


TIN TIN TIN


Otomatis mata Flora langsung tertuju ke arah sumber suara tersebut. Dan begitu ia melihat ke arah sumber suara, ia langsung melotot dipenuhi dengan kemarahan.


Madelin menjulurkan lidahnya mengejek. "Masih pagi jangan marah-marah. Kau baru saja bangun. Oya bagaimana tidurmu? Sepertinya kau lelap sekali tertidur di tempat yang seharusnya, memang kau tiduri," ujar Madelin dengan suara riang. "Aku yakin kau pasti buru-buru tanpa belum sempat memperhatikan tempat tidurmu semalam. Coba kau berbalik dan perhatikan kembali nisan tersebut."


Flora menggeram kesal, namun ia mengikuti kata-kata Madelin. "Bangsat apa kau sengaja melakukan hal tersebut padaku?" Flora tidak habis pikir, ia terkejut mendapati namanya yang tertulis di nisan tersebut.


"Hahahaha ... kenapa marah? Bukankah itu bagus? Kau tertidur pulas semalaman di sana. Aku yakin kau menyukainya selain itu tempat seperti itulah yang cocok untukmu." Madelin tertawa puas.


"Yak kau keparat ... aaaarrrghhh!" Flora menjerit-jerit seperti orang kerasukan. Namun tiba-tiba saja ia langsung terdiam. Ia sadar bahwa ia sudah dipermainkan oleh Madelin.


"Kenapa diam? Sudah merasa lelah? Baik-baik aku mengerti karena sudah keterlaluan denganmu. Sepertinya aku harus menyudahinya dulu di sini. Oya kau jangan lupa, makan sarapanmu karena aku sudah menyiapkannya untukmu." Madelin keluar dari mobil Flora. Ia lalu berjalan menjauh dan pergi ke seberang jalan.


Flora hanya diam tidak melawan atau mengejar atau memaki-maki seperti biasanya. Wanita itu telah kehabisan tenaganya. Ia lelah dan tidak punya tenaga lagi. Akhirnya ia hanya diam saja, berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Begitu ia masuk ke dalam mobilnya, ia mendapati bungkusan makanan. Flora dengan tidak sabar, membuka bungkusan tersebut dan mendapati roti lapis. Ketika ia sengaja membuka, isi roti lapis tersebut, ia mendapati bubuk aneh dan secarik kertas di sana.


Aku sudah menyiapakan roti lapis dengan isian kesukaanmu. Aku yakin kau pasti menikmatinya.


Dan isi surat tersebut yang jelas ditulis oleh Madelin. Benar-benar membuat Flora mengamuk. Tenaganya sudah habis, namun kemarahannya justru kian memuncak. Akhirnya Flora mengambil roti tersebut, dan memakannya lahap. Sepertinya akal sehatnya mulai lenyap dan ia sudah tidak peduli apa-apa lagi.


"Lihat saja Madelin ... lihat saja ... aku akan membunuhmu sebentar lagi!" gumamnya dengan mulut belepotan makanan.


***


"Aneh melihatmu terlambat, biasanya kau tidak pernah terlambat," tegur Micel. Hari ini, Madelin terlambat datang tidak seperti biasanya. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya curiga.


Madelin menghela nafas. "Ceritanya panjang nanti saja aku ceritakan," katanya malas. Ia berjalan melalui Micel begitu saja.


"Tunggu sebentar! Aku tidak ingat pernah memintamu memotong rambut, terutama potonggan rambutmu terlihat sangat aneh." Micel mencegat Madelin.


Madelin tersenyum memainkan rambutnya yang  sudah pendek. "Ah ... sejujurnya ini tidak terlalu buruk. Biarkan saja. Lagi pula nanti bisa ditutupi dengan rambut palsu atau semacamnya. Kau tidak usah cemas."


Micel mengerutkan keningnya tidak paham. Namun pada akhirnya ia membiarkan Madelin begitu saja. Sebentar lagi semua pekerjaan akan dimulai, tidak baik menunda-nunda dan mengobrol seperti ini. Lagi pula Micel masih memiliki waktu untuk berbicara dengan Madelin lain waktu.


"Kita bicarakan ini nanti saja. Aku harap kau tidak menyembunyikan apa pun dariku," ujar Micel.


"Tentu saja. Kau bisa percaya padaku." Madelin tersenyum lalu berjalan melewati Micel.


Micel sendiri hanya menatap punggung Madelin yang semakin menjauh darinya. Ia sendiri sejujurnya, masih bertanya-tanya di dalam pikirannya mengenai apa yang terjadi pada diri Madelin. Wanita itu sangat aneh baginya.

__ADS_1


__ADS_2