Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
30. Iblis yang Saling Menusuk


__ADS_3

"Tidak apa-apa. Dia masih muda. Aku tidak ingin terlalu keras dengannya. Dia bisa menyelesaikan pekerjannya dengan baik saja, sudah lebih dari cukup untukku."


Sam hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu makanlah buah ini sekarang."


Flora mengambil garpu lalu menusuk potongan buah tersebut. Matanya melirik ke arah tangan Sam yang terluka. Setelah pertengkaran mereka semalam, Flora merasa bersalah.


"Tanganmu pasti terasa sakit. Aku minta maaf," sesal Flora sembari mengusap-usap tangan Sam.


"Tidak apa-apa, ini bukan kesalahanmu. Lagi pula, ini karena perbuatanku sendiri. Aku sudah melukai tanganku sendiri." Sam teringat bagaimana ia melukai tangannya dengan gunting.


"Harusnya aku tidak kelepasan hari itu, dan membuatmu marah. Aku benar-benar kelewatan saat itu. Maafkan aku Sayang." Flora mengusap pipinya di dada Sam.


Sam hanya tersenyum. "Ini jauh lebih baik daripada harus melukaimu yang sedang hamil."


"Kau terlalu baik hati. Astaga Sam, bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpamu. Anak kita nanti, pasti akan benar-benar bangga memiliki ayah sepertimu," ucap Flora senang.


***


BRRRMMM


Nike menggenderai motornya ugal-ugalan. Dia benar-benar membuat pengguna jalan merasa resah karena ulahnya. Ia bertingkah seperti seseorang yang menguasai jalanan.


Namun di balik perilakunya yang terkesan merugikan orang lain. Sebenarnya, Nike sendiri melakukan itu untuk melepaskan rasa stres yang dipendam dalam hatinya.


Dia muak dengan pekerjaannya, dia muka dengan dunianya, dia bahkan muak dengan dirinya sendiri. Dia muak dengan segala yang ada di dunia ini.


Dia mengendarai motornya dengan sangat cepat. Rasanya ia sudah tidak sabar menemui kakak tercintanya. Setiap kali, hatinya terasa begitu gelisah ia akan pergi menemui kakaknya.

__ADS_1


Nike turun dari motornya lalu menaruh motornya di parkiran. Ia melepas helmnya dan merasakan bagaimana angin malam menerpa wajahnya. Tempat ini terasa begitu sepi baginya. Namun ini merupakan ketenangan yang sangat ia sukai. Tidak ada orang yang berisik atau membuat ulah menyebalkan.


Dengan langkah yang cukup terburu-buru, Nike terlihat sangat tidak sabar menemui kakaknya. Sebentar lagi ia akan menemui keluarganya yang paling ia sayangi.


"Selamat malam Kakak, bagaimana kabarmu hari ini? Jujur saja, hari ini terasa sangat menyebalkan." Nike menatap nisan yang bertuliskan nama Jamie Choi. "****** itu memberiku pekerjaan. Aku sebenarnya ragu untuk menerima tawarannya. Aku sesungguhnya tidak terlalu menyukainya. Tapi ... aku tidak bisa menolak fakta bahwa ia adalah orang yang dulu pernah menyelamatkanmu. Orang yang kau kagumi. Karena hanya dirimu, aku mau berdekatan dengan orang sepertinya."


Nike menutup matanya lalu menghela nafas berat. Ia teringat dengan segala tugas-tugas kotor, yang pernah dilakukannya. Dan semua pekerjaan kotor itu, diberikan oleh Flora. Nike sadar betul bahwa dirinya adalah orang yang tidak baik. Ia tidak ingin melakukannya, namun rasa hutang budinya membuatnya tidak bisa lepas begitu saja.


***


Nyonya Kim menggigit kukunya panik dan gelisah. Ia baru saja mendapat kabar, bahwa Tuan Fred mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak dengan sengaja. Tuan Fred dibawa ke rumah sakit. Nyonya Kim tidak tahu, bagaimana keadaan dari Tuan Fred sekarang, namun ia benar-benar panik setengah mati, jika terjadi sesuatu hal buruk menimpa Tuan Fred, yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.


"Apa Anda keluarganya?" Tiba-tiba saja seorang dokter menghampirinya.


"Ah iya, saya adiknya," ucap Nyonya Kim.


Nyonya Kim mengangguk. Ia lalu berjalan menuju ruang ganti terlebih dahulu. Dan tidak lama kemudian, setelah siap ia masuk ke dalam ruangan. Begitu wanita itu masuk ke dalam ruangan tersebut, satu-satunya yang bisa ia ucapkan adalah hal ini.


"Terima kasih Tuhan, karena sudah menyelamatkanmu hari ini," ucapnya penuh rasa syukur. Betapa bahagianya Nyonya Kim mendapati Tuan Fred dalam keadaan cukup baik.


"Tuhan memberkati. Aku masih baik-baik saja Kim." Tuan Fred tersenyum seolah tidak terjadi masalah. Padahal jelas, ia baru saja mengalami kecelakaan.


"Berhenti bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Kau membuat jantungku nyaris keluar dari tempatnya. Bagaimana keadaanmu, bagaimana mungkin mobilmu bisa ditabrak, apa pelakunya sudah ditangkap? Mengapa kau tidak meminta sopir pribadimu saja yang mengantarmu?" Ada banyak pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh Nyonya Kim.


"Pertanyaanmu banyak sekali, aku jadi kesulitan menjawabnya. Mungkin lain kali, aku akan menjelaskan semuanya padamu, jika aku memiliki kesempatan. Tolong kemarikan telingamu, ada hal penting yang harus aku beritahukan padamu," katanya meminta Nyonya Lily untuk mendekatkan telinganya padanya.


Nyonya Kim yang tidak paham, akhirnya hanya menurut meski ia benar-benar penasaran, setengah mati dengan apa yang ingin diberitahukan oleh Tuan Fred.

__ADS_1


Setelah mendekatkan telinganya pada Tuan Fred, pria itu mulai berbisik di telinganya. Dan membuatnya yang mendengarnya menjadi terkejut setengah mati.


"Lily adalah seorang pembunuh ... dia adalah orang yang membunuh Arabela istri tercintaku ... jaga rahasia ini Kim. Karena waktu yang kumiliki sudah tidak lama lagi."


Mata Nyonya Kim terbelalak mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Tuan Fred.


***


Jonatan menghela nafas berat. Tubuhnya dipenuhi darah dari bawah sampai atas. Luka pada tubuhnya, juga terus mengucurkan darah segar.


"Kita harus segera ke rumah sakit Tuan," ujar anak buah Jonatan.


"Terserah." Jonatan merintih ia menahan rasa sakit di tubuhnya. "Penyihir itu benar-benar sialan!" makinya. Ia lalu berteriak seperti orang kesetanan.


"Tuan tolong tenanglah. Tidak baik berteriak, tubuh Anda sedang mengeluarkan banyak darah."


"Aku tidak ingat pernah membayarmu untuk mengatur-ngaturku. Diamlah! Bawa saja aku ke rumah sakit!" seru Jonatan.


Anak buahnya tersebut langsung menurut dan diam. Melawan Jonatan sama saja denga bunuh diri. Ia tahu betul watak keras dari orang yang ia layani tersebut. Dia orang gila.


Jonatan memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun ia merasa sangat gelisah, sampai-sampai rasanya, ia ingin keluar meloncat dari jendela mobilnya. Gangguan paniknya, kembali menyerang.


"Hei berikan obatku!" perintahnya pada anak buahnya tersebut.


Dalam diam anak buahnya itu, segera memberikan tabung kecil berisikan obat penenang milik Jonatan.


"Keparat!" Jonatan tidak peduli dengan dosis obatnya kali ini. Setelah menerima obat tersebut dengan tangan bergetar, ia nyaris menghabiskan seluruh obat yang ia punya. Tidak ada cara lain saat ini. Yang ia butuhkan hanyalah rasa tenang sesaat, agar ia bisa berpikir jernih dan menyusun rencana selanjutnya.

__ADS_1


Ketika mobil yang membawa Jonatan semakin menjauh dari lokasi gereja. Di dalam gereja yang sudah terbengkalai itu, masih terdapat seorang wanita tua dalam keadaan kritis. Kepala wanita tua itu terus mengucurkan darah, dan dirinya juga dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jika tidak ada orang lain yang menolongnya, maka bisa dipastikan dalam sekejap saja nyawa wanita itu akan melayang, akibat luka parah yang dideritanya.


__ADS_2