Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
46. Keingintahuan yang Menggelitik


__ADS_3

"Kau mengenalku?" Mark pria itu terlihat cukup terkejut. "Ah tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja itu bukan hal yang terlalu mengejutkan lagi pula, seseorang yang terjun di dalam bisnis secara terang-terangan dengan identitas terbuka akan dengan sangat mudah dikenali," tuturnya.


Nyonya Kim terdiam. Dia memang tidak pernah bertemu dengan orang bernama Mark ini sebelumnya. Tapi entah mengapa dia merasa cukup familiar dengannya, meski hanya samar-samar.


"Mungkin," ucap Nyonya Kim pelan.


Mark tertawa. Sebenarnya ia sudah mengenal dengan sosok yang tengah ia ajak bicara tersebut. Namun alih-alih bertindak seolah sudah mengenalnya, Mark memilih untuk pura-pura tidak tahu. Lagi pula bagaimana mungkin ia tidak mengetahui, dari sosok wanita yang tengah ia ajak bicara tersebut? Jelas wanita itu merupakan istri dari musuhnya.


Mark tidak membenci Nyonya Kim, namun itu bukan berarti ia menyukai wanita itu begitu saja. Seseorang yang memiliki hubungan dengan Tuan Luke sudah nyaris ia anggap sebagai musuhnya sendiri.


Namun Mark jelas tidak ingin mencampur aduk antara perasaannya tersebut. Jelas itu dendam pribadi, ia tidak boleh memusuhi orang-orang yang berada di sekitar Tuan Luke dengan sembarangan. Baginya Nyonya Kim saja memberi keuntungan pribadi padanya, jika ia bisa mengorek suatu informasi yang berguna dari wanita tersebut.


***


"Percakapan kita terasa menyenangkan mungkin lain kali, kita bisa berbicara satu sama lain dengan lebih dekat sebagai teman," ujar Nyonya Kim ramah.


"Tentu saja." Mark menyodorkan kartu namanya. "Tolong simpan ini, kebetulan ada nomor yang bisa kau hubungi di sini. Senang rasanya bia berbicara denganmu. Rupanya kau teman yang enak untuk diajak bicara, selain itu juga sepertinya pengetahuanmu mengenai soal bisnis memang benar-benar sangat baik, aku mengakuinya," puji Tuan Luke.


"Begitukah? Ah ... aku merasa sedikit terhibur. Beruntung aku bertemu denganmu. Terima kasih untuk hari ini." Nyonya Kim kemudian berpamitan pada Mark, ia lalu berjalan menuju pintu keluar, sosoknya terlihat semakin menjauh di mata Mark.


Dia menarik hanya saja, dia berhubungan dengan orang yang paling aku benci di dunia ini, pikir Mark kalut.


Mark mendengus kesal ketika Mark melihat dari kejauhan, sosok yang menjemput Nyonya Kim tersebut. Orang yang ia benci itu, tampak terlihat sangat bahagia ketika berpura-pura manis di depan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa keparat itu selalu berada dan bermain-main di sekelilingku. Aku merasa semakin membencinya." Betapa murkanya hati Mark mendapati sosok Tuan Luke di depan mata kepalanya sendiri.


"Wajar jika aku hampir melupankanmu. Kau hanyalah manusia perusak hubungan orang lain. Wahai tukang selingkuh dan perebut istri orang." Tuan Luke memandang rendah Mark.


Sekilas muncul kembali ingatan, ketika dirinya bertemu denga sosok pria yang ia anggap bajingan tersebut. Jika saja Mark tidak bisa menahan dirinya, maka  ia berniat untuk mengejar pria tersebut dan membunuhnya di depan mata istrinya sendiri.


Namun jelas hal seperti itu, tidak akan pernah terjadi. Mark masih berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri, dan tidak berniat untuk melakukan hal-hal tidak terpuji seperti itu. Di mana perbuatan seperti itu, hanya akan membuatnya kehilangan harga dirinya.


***


"Misa apa kau menyukai gaun ini?" Flora menunjukkan sebuah gaun bergaya lolita.


Gadis muda itu berjalan mendekati Flora. Ia menatap gaun itu cukup lama. "Apa aku harus memakainya?" tanya gadis itu dengan suara pelan.


Gadis bernama Misa itu menggeleng. "Tidak." Dia mendekat pada Flora lalu mengulurkan tangannya, meminta gaun itu untuk diserahkan padanya. "Aku akan memakainya dengan baik." Misa tersenyum, senyum yang dipamerkan oleh terlihat sangat manis. Namun jika diamati lebih jelas, senyum itu justru menyiratkan ketakutan yang begitu sangat mengerikan.


"Tentu saja. Cepat pakai gaun itu, aku sudah tidak sabar melihatmu memakainya. Pasti akan terlihat sangat cocok denganmu." Flora memberikan gaun itu pada Misa.


Misa hanya mengangguk, sudah biasanya baginya menerima permintaan atau lebih tepatnya perintah seperti ini dari Flora.


***


"Sudah aku duga, kau pasti terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Kau benar-benar mengingatkanku pada seseorang," kata Flora sembari merapikan gaun Misa. Flora mengambil sehelai pita berwarna kuning, ia lalu memasangkan pita itu di rambut Misa.

__ADS_1


"Pita yang cantik," puji Misa mendapati pita tersebut di rambutnya.


Flora tersenyum puas, dia mengusap-usap pelan pita yang terpasang, di rambut Misa. Rambut panjang sepinggang Misa, sekilas membuatnya teringat kembali dengan sahabat lamanya. Dulu sahabat lamanya itu, juga pernah memakai pita serupa yang seperti digunakan oleh Misa.


Tangan Flora terulur meraih rambut Misa. Dia mencium aroma sampo mawar yang menguar dari rambut gadis muda tersebut. Aroma tersebut juga menguarkan aroma yang sama persis seperti dimiliki oleh sahabat lamanya itu.


Jamie Choi ... nama itu selalu terukir dengan jelas di dalam benak Flora. Terutama saat wajah cantiknya yang dipenuhi dengan darah. Di mata Flora, sahabatnya itu benar-benar terlihat semakin cantik. Setiap kali, mengingat wajah cantik yang dihiasi dengan warna merah darah itu, membuat Flora selalu ingin tersenyum, ada rasa senang yang muncul menelusup di dalam hatinya. Meski saat itu, jelas bukanlah hal yang menyenangkan untuk Jamie.


"Jamie Choi ... aku merindukanmu," gumam Flora tanpa sadar.


***


Flashback


Jamie Choi gadis tercantik yang pernah Flora temui. Berkali-kali, Flora merasa kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh gadis itu. Keindahan yang membuat semua mata, betah untuk terus memandanginya dengan lama.


Banyak orang yang merasa kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh gadis itu. Parasnya yang indah selalu berhasil memikat banyak orang. Tidak ada yang kurang dari gadis itu. Namun jelas, ada satu fakta yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jamie Choi yang kerap kali, dipandang sebagai seorang dewi rupanya, hanyalah gadis miskin yatim piatu yang hanya hidup berdua saja dengan adiknya yang masih kecil.


Fakta bahwa Jamie Choi, bukanlah gadis berasal dari keluarga terpandang setidaknya tidak pernah dipermasalahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Karena bagi orang-orang di sekitar gadis itu, akan sangat disayangkan sekali jika gadis secantik Jamie mendapat perlakuan buruk. Jamie di mata orang-orang sekitarnya, bukan hanya sekadar menjadi seorang dewi, namun dia juga adalah lukisan hidup yang bisa dinikmati secara cuma-cuma.


Memang miris nyatanya bahwa sebenarnya orang-orang hanya ingin menikmati keindahan tersebut secara cuma-cuma. Jika saja keindahan itu tidak ada, sudah banyak orang alih-alih menaruh rasa kekaguman justru menaruh rasa ketikdaksukaan.


Kecantikan itu hanyalah tameng yang dibuat untuk melindungi diri untuk seorang Jamie. Jika ia tidak memiliki itu, ia sudah lama ditindas dan mendapat perlakuan kasar.

__ADS_1


__ADS_2