
"Dia hanya bermaksud baik denganmu. Jangan terlalu marah dengannya," tegur Madelin.
Jonatan hanya diam tidak menjawab hatinya masih dongkol setengah mati.
"Madelin aku dengar, kau sudah bertemu dengan bosku bagaimana kesanmu dengannya?" tanya Nike penasaran.
"Kau mengetahui bahwa Nyonya Kim sudah bertemu denganku dari siapa?" Alih-alih langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nike, Madelin justru bertanya balik.
"Teman-temanku di agensi. Lagi pula berita bahwa kau bertemu dengan Nyonya Kim sudah tersebar luar di tempatku. Ngomong-ngomong sepertinya teman-teman modelku di agensi, menjadi sangat tertarik denganmu," jawab Nike ceria.
Madelin tersenyum. "Sepertinya aku menjadi populer di tempatmu."
"Kau bangga?"
Madelin tidak menjawab namun wajahnya terlihat puas. Sementara Jonatan yang menguping pembicaraan tersebut, gatal untuk ikut menimpali.
"Tentu saja harus bangga. Madelin sangat cantik sudah sewarjanya ia mendapat banyak rasa kekaguman. Aneh sekali jika gadis secantik dirinya, tidak mendapat perhatian yang layak." Dan benar saja Jonatan tidak tahan untuk tinggal diam. Mulutnya itu langsung berkata-kata tanpa diminta sekalipun.
"Baguslah itu artinya Madelin disukai oleh banyak orang. Mendapat banyak rasa suka dari orang lain lebih baik, daripada mendapat kebencian dari banyak orang," ujar Nike.
"Kau tidak menyindirku barusan?" Jonatan yang sensitif menangkap bahwa kata-kata Nike seperti tengah menyindir dirinya.
Nike ingin menyahut namun Madelin dengan cepat menengahi. Ia tidak ingin terjadi perkelahian saat ini. Bisa bahaya jadinya, jika Jonatan sampai kehilangan kosentrasinya saat menyetir.
***
"Kerja bagus. Kau sudah melakukan yang terbaik. Bayaranmu akan segera kau dapatkan," bisik Nyonya Lily lalu diakhiri dengan kecupan di pipi Rave.
Rave terjatuh terduduk, ia tidak percaya sudah mengakhiri nyawa Tuan Fred. Ia merasa bersalah setengah mati.
__ADS_1
"Aku benar-benar menyesal karena sudah mengikuti kata-katamu," sesal Rave.
"Tidak ada yang perlu disesali," ucap Nyonya Lily santai. Ia lalu pergi meninggalkan Rave begitu saja.
Rave terdiam dia kembali teringat bagaimana dirinya telah mengakhiri nyawa majikannya sendiri.
Kejadian kala itu ... kejadian yang sangat mengerikan untuknya. Ia mengutuk dirinya sendiri. Dan ingatan mengerikan itu, kembali terputar dengan otomatis di dalam pikirannya.
Rave menggigit bibirnya sendiri keras. Pemuda itu bahkan tidak menyadari bagaimana darah segar muncul akibat ulahnya tersebut.
Dia tahu, dia seharusnya membantu Tuan Fred yang sekarat. Namun karena perjanjian yang sudah ia lakukan, bersama dengan Nyonya Lily membuatnya tidak bisa berkutik.
"Rave ... kau ... Rave bukan?" Dengan lemahnya Tuan Fred memastikan bahwa pemuda, yang membawanya masuk ke dalam mobil merupakan Rave.
Rave diam tidak menjawab. Ia justru mempercepat laju mobilnya. Saat ini, ia benar-benar merasa kacau. Sudah tidak ada pilihan lain untuknya.
***
"Baik Nyonya." Jane mengiyakan dan tidak lama kemudian panggilan itu terhenti begitu saja. Jane menghela nafas, ia menatap cukup lama koper berisikan sejumlah uang tunai di dalam sana. Ia sedikit tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi.
"Sayang sekali ... padahal kau tidak boleh mati sebelum aku memberikan uang ini untumu. Jika kau mati, bagaiamana caraku untuk membayar hutangku padamu?" Jane melirik ke arah tubuh Rave yang sudah tidak bernyawa.
Pemuda itu mati bunuh diri dengan meminum racun. Sepertinya ia terlalu merasa bersalah atas kematian Tuan Fred. Malang sekali pemuda itu mati, bahkan sebelum ia sempat menerima hadiahnya.
Jane meletakkan koper berisikan uang tersebut lalu pergi entah ke mana. Namun setelah dia kembali ia membawa bensin dan pemantik api di tangannya.
Jane menyiramkan bensin itu ke segala arah. Setelah itu, ia membuka koper dan menumpahkan uang kertas dengan nominal fantasis tersebut ke atas lantai.
"Semoga kau bisa menggunakan uang ini dengan baik di akhirat. Aku harap kau bisa menyogok seseorang di sana untuk menebus kesalahanmu," gumam Jane sebelum akhirnya ia melemparkan pemantik api yang ia pegang di tangannya.
__ADS_1
***
"Sampai situasi rumah menjadi tenang. Saya akan mengurus dan memantau semuanya. Saya harap Anda dapat menunggu dengan tenang," pinta Jane sembari sibuk menyetir mobil.
"Berapa lama aku harus bersembunyi?" tanyanya dengan suara terdengar bosan.
"Sedikit cukup lama. Namun jika Anda bersabar, saya rasa Anda dapat menikmati hasilnya dengan puas. Satu tahun ... saya butuh satu tahun untuk membuat Anda dapat pulang kembali ke rumah dan menjadikan Anda sebagai kepala keluarga menggantikan Tuan Fred."
"Terlalu lama, apa kau tidak bisa mengurusnya lebih cepat?" protes Nyonya Lily.
"Saya menjanjikan apa yang sekiranya pasti bisa saya lakukan. Jika Anda meminta lebih dari itu, maka saya tidak bisa melakukannya dengan baik. Saya sudah memperhitungkan semuanya dan segala kemungkinan yang terjadi. Yang saya butuhkan di sini adalah kesabaran dari Anda sendiri." Jane masih fokus menyetir.
"Aku akui kau hebat Jane. Namun satu tahun terlalu begitu lama. Jika aku melewatkan satu tahun, tanpa berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan, menunggu kabar darimu sepertinya aku akan merugi banyak." Nyonya Lily sendiri sadar diri, tidak bisa tinggal diam terlalu lama. Dia sadar akan ada banyak kesempatan yang ia lewatkan dalam satu tahun.
"Sayang sekali hanya hal ini saja yang bisa saya tawarkan pada Anda," balas Jane tenang.
Setelah itu terjadi keheningan sesaat. Biak Nyonya Lily dan Jane sama sekali tidak membuka suara dan sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.
"Saya tahu Anda memang tidak sabar, dan saya mengerti hal tersebut. Namun ... sepertinya saya yakin bahwa Anda sekarang dalam posisi yang cukup bebas. Orang-orang rumah yang hanya akan sibuk mengkhawatirkan Tuan Fred tidak akan terlalu peduli dengan masalah Anda. Lagi pula semua yang diketahui oleh Tuan Fred, masih belum bocor pada siapapun. Ini sebuah keuntungan untuk Anda. Saya rasa Anda bisa melakukan sesuatu dengan sesuka hati Anda, sembari saya membereskan dan menyiapkan semuanya untuk Anda." Jane melirik sekilas Nyonya Lily dari kaca spion mobil.
Nyonya Lily berpikir sejenak. Kata-kata Jane ada benarnya juga. Mungkin ia terlalu terburu-buru karena tidak sabar ingin segera melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ia memang lelah hidup dalam persembunyian. Namun ia sadar saat ini, persembunyian yang ia lakukan juga pada akhirnya adalah keuntungan baginya.
"Baiklah aku menerimanya. Sampai waktunya tiba tolong jemput aku. Aku minta tolong padamu untuk mengantarkanku ke suatu tempat. Jika waktunya sudah tiba tolong jemput aku di tempat tersebut!" perintah Nyonya Lily.
"Baik Nyonya," sahut Jane tegas.
Hanya butuh satu tahun untuk membuat keadaan yang tengah hancur berantakan ini kembali berjalan normal. Dan sembari menunggu waktu yang tepat itu tiba. Nyonya Lily telah merancang sesuatu di dalam pikirannya yang rumit.
***
__ADS_1