
"Baik Ibu." Madelin berusaha menahan dirinya.
"Bukankah ini benar-benar kebetulan, kita bisa bertemu di sini Nyonya Lily?" sapa seseorang yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
Madelin bisa melihat dengan jelas. Bahwa orang yang menyapa Nyonya Lily tengah menggandeng suaminya.
"Madelin, apa yang kau lakukan di sini?" Sam terkejut mendapati istrinya itu, bersama dengan ibu tirinya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang sedang kau lakukan di sini Sam?" Madelin menatap tajam Sam.
"Ah begini-" Sam ingin menjawab namun perkataannya langsung dipotong begitu saja, oleh Flora.
"Dia sedang menemaniku berbelanja. Perkenalkan namaku Flora, aku adalah saudara jauhnya Sam. Nyonya Lily sendiri sudah mengenalku dengan cukup baik." Flora kemudian mengulurkan tangannya pada Madelin. "Salam kenal, Madelin? Ah ... Sam sudah sering menceritakan soal dirimu padaku."
Madelin menyambut uluran tangan tersebut. "Baiklah salam kenal juga. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" Madelin berusaha untuk mempertahankan sikap sopan santunnya, meski sebenarnya ia tengah menahan emosinya sendiri.
"Kau bisa memanggilku Flora atau bagaimana jika Flo saja? Kebetulan aku sangat ingin menjadi dekat denganmu. Apa kau keberatan?" Flora tiba-tiba mendekati Madelin dan menggandengnya seolah-olah mereka sudah akrab. "Aku sangat ingin mengenalmu dengan baik," katanya dengan wajah manis.
Astaga aku benar-benar berurusan dengan ular betina sekarang, pikir Madelin malas.
"Tentu saja, kita harus menjadi akrab. Bahkan sekarang pun, aku jadi semakin ingin dekat denganmu." Madelin langsung memeluk Flora erat-erat. "Semoga kita bisa menjadi akrab dengan cepat," bisiknya.
Sam dan Nyonya Lily, benar-benar dibuat terkejut dengan pemandangan tersebut. Mereka pikir, Madelin akan menampar atau menghujat Flora, habis-habisan namun yang terjadi justru sebaliknya.
Apa kepala wanita itu sudah rusak? ucap Nyonya Lily dalam hatinya heran.
"Karena kita semua kebetulan bertemu di sini. Bagaimana jika makan bersama? Biar aku yang bayar," tawar Flora.
"Tentu saja. Mungkin ini bisa menjadi cara agar kita semua semakin akrab dengan satu sama lain. Terutama aku sangat ingin mengenalmu, Flora." Madelin tiba-tiba saja menarik wajah Flora lalu mengelus pipinya.
__ADS_1
Flora tertawa, ia terlihat sedikit terkejut namun tampak tidak segera menjauh.
Wanita gila, pikirnya.
Madelin diam-diam tersenyum miring. Mungkin sampai di sini ia memang tidak beruntung, tapi mungkin saja akan ada sesuatu yang menyenangkan nantinya.
***
"Bagaimana rasa masakannya, bukankah sangat enak Madelin?" tanya Flora dengan suara manis.
Madelin tersenyum, ia mengelap mulutnya dengan serbet yang sudah disediakan. "Enak. Namun ... jujur saja ada yang kurang dari rasa masakan ini, meski rasanya enak sekali ketika dimakan."
Nyonya Lily mendengus. "Abaikan saja dia, Flora. Madelin memang memiliki selera yang buruk. Kau tidak bisa menyamakan seleramu yang mahal, dengan selera orang miskin seperti dirinya," ujar Nyonya Lily merendahkan Madelin.
Madelin hanya tersenyum tipis, lalu menanggapinya seperti ini, "sepertinya yang Ibu, ucapkan itu memang benar. Lidahku yang terlalu sederhana ini, sampai-sampai tidak bisa merasakan rasa masakan mahal. Ah kalau boleh jujur, masakan rumah terasa lebih nikmat. Lagi pula, tidak ada yang menaruh cinta yang tulus, pada masakan mahal seperti ini, kecuali hanya mencoba membuat makanan ini terkesan mahal."
"Aku hanya mencoba bicara jujur, Ibu," balas Madelin tenang.
Flora hanya tertawa canggung, mencoba menutupi suasana yang tidak nyaman tersebut. “Bukankah kita tidak perlu mempermasalahkan selera?”
“Memang seharusnya tidak. Seseorang berhak memiliki rasa kesukaannya masing-masing. Termasuk ada yang menyukai selera murahan namun juga, ada yang menyukai selera yang mahal. Hal tersebut tentu saja menjadi pilihan masing-masing bukan?” Madelin dengan sengaja mencoba memancing.
Flora terdiam, dia sedikit terkejut namun tidak lama mulutnya terbuka. “Bukankah terbiasa makan-makanan dengan kualitas bahan murahan, tentu saja membuat lidah seseorang menjadi sensitif terhadap bahan kualitas mahal? Dunia ini tidak hanya menawarkan hal-hal pahit dan membosankan, tidak ada manusia yang menjadi berdosa hanya karena mencoba ingin menikmati sesuatu yang dianggap mahal dan nikmat di dunia ini.”
Kata-kata itu lebih dari cukup untuk membuat Madelin terdiam. Sejujurnya itu menjadi sedikit pukulan telak baginya.
Termasuk mengambil dan merasakan sesuatu yang bukan seharusnya mejadi milikmu? pikir Madelin kalut.
“Bagaimana jika kita melanjutkan acara makan kita? Rasanya tidak nyaman sekali, membiarkan makanan yang kita makan menjadi dingin dan sia-sia seperti ini,” keluh Sam mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Yang kau katakan itu benas Sayang. O, ya, Sayang apa kau ingin menemaniku setelah selesai menemani Flora nanti?” Tiba-tiba saja Madelin bertanya.
Sam tercekat, makanan yang hampir ia cerna nyaris keluar lagi. “Tentu … tentu saja. Bahkan jika kau mau, aku bisa menemanimu sekarang. Flora pasti tidak akan keberatan. Bukankah begitu Flora?” Sam menatap Flora lekat.
“Aku tidak yakin sebelumnya sudah berkata seperti itu. Namun, karena kau sudah terlanjur mengatakannya, bahkan tanpa meminta persetujuan dariku. Maka aku akan mengiyakannya,” ujar Flora diiringi dengan senyum yang terkesan pahit dan tidak iklas.
Madelin tertawa dalam hatinya secara diam-diam. Sepertinya, Flora adalah wanita yang memiliki harga diri sangat tinggi. Dia bahkan tidak malu, saat mengatakan hal tersebut di depannya.
Apa di dalam kepalanya itu hanya berisi kotoran kuda? pikir Madelin.
“Maafkan aku Flora. Namun, mau bagaimanapun juga, Madelin adalah istriku permintaannya tentu tidak bisa kutolak. Mungkin aku sudah tidak sopan padamu. Namun tetap saja Madelin adalah prioritasku.” Sam meraih tangan Madelin lalu mengecupnya di depan Flora dan ibunya.
Flora mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “Tentu … tentu. Kau harus lebih memprioritaskan istrimu. Ketimbang yang lain.” Flora sengaja memberi penakanan pada kata lebih.
“Aku harap kau tidak merasa cemburu dengan hal tersebut,” sindir Madelin.
Alis Flora terangkat sebelah. “Cemburu? Hahaha … astaga sepertinya pembicaraan ini, sudah melenceng lebih jauh. Tidak mungkin ada kata cemburu di sini. Kau adalah istrinya, sementara aku hanya orang lain di sini. Tentu saja, Sam akan jauh lebih memprioritaskan dirimu.”
“Hmm begitu rupanya. Aku benar-benar berterima kasih dengan sisi pengertianmu ini.” Madeln tersenyum menepuk-nepuk bahu Flora. “Kalau begitu lain kali, kita harus menghabiskan waktu bersama karena sepertinya akan jauh lebih menyenangkan saat kita bisa mengenal satu sama lain dengan lebih akrab.”
“Jika kau tidak keberatan, tentu saja aku dengan senang hati mengiyakannya,” ucap Flora dengan suara yang terdengar senang. Namun jelas di sana ada nada kepalsuan yang ia masukkan.
***s
“Apa kau mau menemaniku mampir ke toko buku, di seberang sana Sam?” Madelin menunjuk ke arah toko buku yang ingin, ia datangi.
Sam mengangguk. “Baiklah. Ayo kita pergi ke sana.”
Ketika Madelin dan Sam menyeberang jalan. Flora hanya menatap malas ke arah dua orang tersebut. Raut wajahnya terlihat begitu kacau.
__ADS_1