
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru Tuan? Anda belum, sepenuhnya pulih, namun mengapa Anda ingin keluar dari rumah sakit sebelum waktunya? Jika ini mengenai pekerjaan saya, bisa mengatur jadwal Anda nanti." Ten orang kepercayaan Tuan Fred, tampak khawatir ketika Tuannya itu lebih memilih untuk pulang ke rumah ketimbang menunggu dirinya, pulih sepenuhnya di rumah sakit.
"Pertanyaanmu banyak sekali Ten. Tempat ini terasa tidak begitu enak. Bagaimana mungkin aku bisa betah. Selain itu rasa buburnya aneh sekali, membuatku mual. Aku ingin cepat pulang dan memakan masakan Bibi Marta, yang lebih enak," jawab Tuan Fred dengan tenang.
"Tapi Tuan ... Anda belum pulih sepenuhnya. Saya khawatir dengan kesehatan Anda. Terutama jika, Anda memutuskan untuk kembali bekerja." Ten tidak henti-hentinya merasa khawatir atas Tuannya itu.
Tuan Fred, menepuk kepala Ten pelan lalu mengacak-acak kepala pemuda yang sudah, ia anggap seperti cucunya sendiri. "Tenanglah Ten. Aku baik-baik saja, selain itu ketika pulang nanti aku akan lebih fokus pada penyembuhanku dan menunda semua pekerjaanku dulu. Kau tenang saja."
"Anda berjanji?" Ten masih belum terlihat percaya pada Tuan Fred. Wajar saja, karena seringkali Tuan Fred suka mengingkari janjinya. Dan kembali bekerja dalam keadaan tidak sehat.
"Aku berjanji." Tuan Fred tersenyum. "Oya kau duluan saja ke parkiran, tolong bawakan barang-barangku. Aku mungkin agak sedikit terlambat karena ada sedikit urusan. Jadi tolong menunggulah sebentar, sebelum kedatanganku."
Ten mengangguk. "Baik Tuan," ucapnya patuh. Ia lalu berbalik dan meninggalkan ruang inap Tuan Fred.
Sepeninggalan Ten, Tuan Fred berjalan ke arah jendela. Diam-diam ia mengintip dari sana dan memperhatikan, sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan. Sejujurnya Tuan Fred, merasa curiga dengan sosok yang berada di dalam mobil tersebut.
Terutama ketika ia merasa diawasi oleh sosok yang berada di dalam mobil tersebut. Tuan Fred, diam-diam mengeluarkan pistolnya lalu membidik ke arah mobil.
DOR
Setelah menembakkan peluru ke arah mobil tersebut. Tuan Fred segera pergi meninggalkan ruangannya dan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
***
"Aku penasaran apa yang akan kau lakukan Madelin? Betapa aku sangat ingin melihatmu hancur." Flora yang tengah duduk bersantai di sofa, menatap foto Madelin yang tengah berpose memeluk Sam erat. "Terutama saat kau bisa selamat dari kematianmu." Jujur saja Flora sudah mengetahui bahwa Madelin masih hidup. Ia selamat dari rencana pembunuhan, yang melibatkan dirinya dan Nyonya Lily. Namun Flora sendiri sengaja, berpura-pura tidak mengetahui fakta tersebut terutama di depan Jonatan.
__ADS_1
Karena ia adalah orang yang mencoba membunuh namun juga menyelamatkan Madelin di waktu bersamaan. Malam itu ketika Madelin diterjunkan dari sungai, ia sudah menyiapkan beberapa orang untuk menyelamatkan Madelin. Sehingga Madelin tidak benar-benar tenggelam.
Ia sengaja melakukan itu agar, semua kesalahan dan percobaan pembunuhan itu hanya jatuh dan ditimpakan semuanya pada Nyonya Lily. Namun siapa sangka, bahwa Jonatan sendiri terlalu agresif dan membuatnya ikut merasakan penderitaan. Ia harus mengakui bahwa rencananya kurang rapi sehingga, membuatnya mendapat kegagalan yang cukup merugikan.
"Orang sepertimu tidak akan menarik jika, harus mati dengan mudah. Aku ingin kau merasakan neraka lebih lama." Madelin merobek foto Madelin dan Sam. "Agar kau tahu, betapa menderitanya aku selama ini."
Flora kemudian melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Gadis yang memakai gaun berwarna merah muda itu, terlihat manis. Namun dari ekspresi wajahnya terlihat sangat kosong. Alih-alih terlihat seperti gadis cantik, ia justru lebih mirip seperti boneka manekin.
CUP
Flora mencium pipi gadis itu. "Ah ... berkali-kali aku melihat wajah cantikmu itu selalu membuatku merasa lega. Kau benar-benar mirip dengan ibumu, Misa." Flora merasa kembali tenang setiap kali melihat wajah, datar dari gadis bernama Misa tersebut.
Misa memiliki wajah yang cantik, seperti ibunya. Flora dulu berteman dekat dengan ibu dari gadis itu. Dan sebelum Misa lahir, Flora dulu sangat menyukai wajah cantik dari ibu Misa. Di mana rasanya, Flora memiliki obsesi pada wajah cantik dari teman dekatnya itu. Setiap kali ia melihat wajah cantik teman dekatnya itu, ia merasa tenang rasanya persis seperti mengkonsumsi narkoba. Obsesi aneh itu muncul, karena Flora merasa tidak percaya diri dengan wajahnya sendiri yang, ia anggap sangat kurang cantik dan cenderung jelek. Sehingga begitu ia melihat gadis-gadis dengan wajah cantik membuatnya, seolah-olah memiliki wajah seperti mereka dan membuat hatinya merasa tenang.
***
Micel terdiam namun ia segera membalas, "Madelin kau yakin?"
"Sudah tiga bulan berlalu, rasanya aneh sekali jika aku terus bersembunyi dari Jonatan. Karena mau bagaimanapun juga, pada akhirnya aku akan tetap bertemu dengannya." Madelin yakin bahwa ia harus menemui Jonatan. Sudah cukup baginya, untuk bersembunyi dari Jonatan. Mungkin Jonatan adalah orang yang berbahaya, namun Madelin yakin bahwa ia bisa menggunakan laki-laki itu sebagai senjata yang berguna.
"Apa kau merencanakan sesuatu?"
Madelin diam tidak menjawab. Namun matanya menatap lurus ke arah Micel. Seolah-olah memberi jawaban lain.
Micel tidak sepenuhnya mengerti dengan hal seperti apa, yang ingin dilakukan oleh Madelin. Namun mau bagaimanapun juga, ia berada pada pihak Madelin, sehingga apa yang dilakukan oleh wanita itu ia harus mendukungnya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak menghalangimu. Tapi setidaknya beritahukan aku nanti rencanamu. Karena kau tahu, kau sudah menggunakanku sebagai alatmu," ucap Micel tegas.
"Tentu jika saatnya tiba, aku akan memberitahukan semuanya nanti," jawab Madelin yakin.
***
Jonatan terkejut mendapati sosok Madelin berdiri di depannya, dengan gaun berwarna hitam yang cantik.
"Ini bukan mimpi? Setelah semua yang terjadi, aku benar-benar bersyukur bisa melihatmu kembali," ucap Jonatan tulus. Bahkan untuk ukuran laki-laki sinting, sepertinya tetap akan bertingkah tahu sopan santun hanya di depan orang yang ia sukai.
Madelin tersenyum menyelipkan anak rambutnya. "Tentu ini kenyataan. Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Dan aku sudah melihat ada banyak iblis di sekitarku. Jonatan maukah kau membantuku?"
"Kita bisa membicarakannya saat makan malam nanti." Jonatan membukakan pintu mobilnya dan membiarkan Madelin masuk ke dalam sana.
Madelin tersenyum anggun, lalu masuk ke dalam mobil Jonatan.
***
"Aku bersyukur, kau masih hidup. Ketika mengetahui keparat-keparat yang memiliki niat busuk padamu, membuatku merasa khawatir setengah mati denganmu. Aku berjanji akan menghukum mereka." Jonatan menatap Madelin dengan tatapan yang menyiratkan rasa khawatir begitu jelas.
"Aku baik-baik saja. Seharusnya kau lebih mengkhwatirkan dirimu. Apa tubuhmu terasa sakit?" tanya Madelin halus.
Jonatan sedikit terkejut. Padahal ia sudah menyembunyikan rasa sakitnya. Apa Madelin sejeli itu sampai mengetahui dirinya terluka?
"Ah tidak apa-apa. Aku hanya merasa kurang sehat akhir-akhir ini. Lagi pula mana mungkin orang gila sepertiku jatuh sakit dalam keadaan menyedihkan?" Jonatan mencoba menutupinya. Meski ia sedikit takut Madelin mengetahuinya. Karena terlihat di mata Jonatan, sorot mata Madelin terlihat begitu tajam seolah-olah menguliti dirinya.
__ADS_1