
"Kapan kau bergerak? Seingatku akhir-akhir ini kau, sudah terlalu banyak berdiam diri." Flora menatap tajam Nike yang duduk di depannya.
"Kau tidak menghargai usahaku?" Nike justru memasang ekspresi wajah tersinggung. "Aku memantau wanita itu dalam jarak yang sangat dekat. Itu juga termasuk bagian dari usaha. Lagi pula aku ini bukan anjingmu."
Flora meletakkan cangkir teh mawarnya dengan cukup keras. "Memang kau bukan anjingku. Tapi kau sendiri yang akan rugi, jika terlalu sering menunda-nunda pekerjaan."
"Tidak kulakukan dengan terlalu sering juga," bantah Nike.
"Terserah apa katamu. Tapi tolong ingat dengan tugas yang sudah aku berikan padamu." Flora tidak ingin Nike sampai mengabaikan tugasnya. "Aku sudah memberimu banyak kelonggaran selama ini. Apa ini wujud dari balas terimakasihmu padaku?"
"Jangan membalas soal hutang budi. Hal seperti itu tidak akan pernah habis dibahas." Nike memutar bola matanya malas. "Lagi pula mengapa kau sangat terobsesi pada wanita itu?"
Flora menghela nafas panjang. "Dia bukan wanita baik. Dia mencuri pasanganku. Wajar jika aku parah padanya," ujar Flora dengan suara terdengar kesal.
Senyum Nike terangkat mendengarnya. "Sepertinya ini hanyalah masalah pribadi. Kau terlalu pendendam rupanya. Cobalah untuk tidak terlalu menaruh kepahitan dalam hatimu itu."
"Kata-katamu terkesan mengguruiku. Padahal kau sendiri hidup selama ini dengan alasan dendam demi kakakmu," kata Flora dingin.
Seketika raut wajah Nike berubah menjadi datar mendengarnya. Ia sejujurnya paling sensitif jika sudah berurusan dengan masalah saudara perempuannya tersebut, meski hanya sedikit saja.
"Jaga bicaramu!" tegur Nike dengan suara datar.
"Lihat kau marah, ini menjadi bukti yang jelas bahwa kata-kataku barusan merupakan sebuah kebenaran," goda Flora. Wanita itu cukup puas mendapati reaksi kesal yang dimunculkan oleh Nike.
__ADS_1
Nike mendengus, ia berusaha untuk mengontrol emosinya. Baginya jangan sampai ia terpancing karena wanita yang satu ini, sangat ahli mempermalukan orang lain. Karena itu sebisa mungkin Nike mencoba untuk menahan dirinya.
"Baiklah-baiklah kau menang. Aku akan bergerak sesuai keinginanmu. Tidak lebih atau tidak kurang. Tapi sebaiknya kau sendiri tolong, untuk menjaga setiap perkataanmu. Karena aku sendiri tidak selamanya terus bisa menahan diri seperti ini." Nike bangkit berdiri lalu berjalan meninggalkan Flora sendirian di dalam ruangan.
Sementara Flora yang masih tinggal seorang diri dalam ruangan tersebut, hanya tersenyum puas. Ia meminum kembali teh mawarnya dan merasa senang karena selalu berhasil membuat mainannya menjadi kesal.
"Yah ... jika kau sadar, seharusnya kau tidak perlu berlama-lama berurusan dengan orang sepertiku," gumamnya penuh dengan rasa kepuasan di hati.
***
Sam terdiam di dalam kamar tidur Flora. Wajahnya terlihat sangat berantakan. Pria itu sekilas melirik ke arah, tangannya yang dipenuhi dengan bekas luka suntik yang jumlahnya sudah tidak terhitung.
Sepertinya aku akan mati sebentar lagi, jika terus seperti ini, pikir Sam kalut. Ia merasa bahwa tubuhnya semakin hari semakin rusak, akibat rutin mengkonsumsi narkoba dan juga obat penenang.
Sam bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia segera menyalakan pemancur air otomatis, dan mendinginkan dirinya sendiri di bawah pancuran air dingin tersebut.
Semuanya menjadi kacau ... semuanya telah menjadi rusak ... aku telah kehilangan segalanya dan menyisakan hal-hal buruk dalam hidupku, ucap Sam dalam hati. Betapa sedihnya hati Sam mendapati dirinya berakhir dalam kesia-siaan seperti ini.
Tanpa mematikan air pancuran otomatis tersebut. Sam berjalan ke arah cermin. Ia lalu memandangi dirinya cukup lama dari sana. Raut wajahnya terlihat kusut, mata yang berwarma merah dan lelah, tubuh yang semakin kurus dan terlihat menyedihkan. Hilang sudah aura karismatik yang ia miliki dulu. Sam sadar diri, jika ia berpenampilan seperti dulu saat ia masih menjadi CEO dengan tampilannya yang sekarang. Ia sadar bahwa dirinya mirip seperti seorang gembel yang tidak pantas memakai pakaian mewah.
Dirinya sekarang lebih mirip dengan seorang pencandu narkoba pada umumnya. Penampilan terbaiknya, telah tergantikan dengan penampilan menyedihkan. Sam yang telah kehilangan segalanya, kini juga menjadi kehilangan dirinya sendiri.
Sudah tidak ada yang tersisa lagi untuk ia miliki. Semuanya lenyap begitu saja. Menyisakan beribu penyesalan yang tidak berkesudahan di dalam hatinya.
__ADS_1
Muak melihat penampilan dirinya yang begitu kacau. Sam akhirnya meninju cermin tersebut hingga pecah. Ia lalu berteriak dan menangis meraung-raung. Tubuh kurusnya yang telah basah bergulat, dengan dinginnya lantai kamar mandi.
CKLEK
"Sam apa yang terjadi?" Tiba-tiba saja Flora masuk ke dalam kamar mandi, dan menjadi sangat panik.
Flora langsung mendekati Sam. Ia berusaha menyentuh laki-laki itu, namun Sam dengan cepat menepis tangannya. Menolak kehadiran wanita tersebut.
"Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" Sam membuang wajahnya dari Flora.
Flora mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Katakan padaku, apa yang membuatmu merasa tidak nyaman? Aku akan melakuakan apa pun untukmu asalkan kau merasa lebih baik."
Sam tidak menjawab. Ia menatap Flora dengan tatapan kosong. "Tidak akan pernah bisa kuminta darimu. Karena kau tidak akan pernah bisa melakukan itu untukku."
"Katakan Sam! Katakan! Aku harus berbuat apa untuk membuatmu merasa lebih baik?" Flora terlihat sangat frustasi.
"Hahahaha ... berhenti mengulangi kata-kata tidak berguna tersebut. Berkali-kali aku memintamu untuk mengakhiri semua ini. Namun kau masih saja tidak mau melepaskanku. Percuma saja aku meminta hal tersebut darimu," sindir Sam pesimis. Tenaganya sudah habis, dan ia benar-benar tidak mau terus berlama-lama berdebat dengan Flora.
Flora menggigit bibirnya kesal. Ia bahkan membuat luka kecil di sudut bibirnya. Hatinya terasa begitu panas mendengar kata-kata Sam.
"Aku bisa melakukan semuanya, semuanya. Namun untuk yang satu ini, sayang sekali aku tidak bisa melakukannya untukmu. Kau milikku, kau tidak bisa pergi dariku. Kau harus tetap berada di sampingku sampai detik terakhir dalam hidupku," ujar Flora sendu.
"Kau hanya terus membicarakan soal perasaan pribadimu. Namun kau terus mengabaikan kenyataan bahwa aku tidak pernah merasa nyaman denganmu. Kau menutup mata dan telingamu. Kau ... kau benar-benar hanya memenuhi sisi egomu semata." Sam berdiri mendekatkan wajahnya dengan wajah Flora. "Kau bisa memiliki tubuhku tapi tidak dengan hatiku. Karena untuk selama-lamanya hatiku ini hanya bisa dimiliki oleh Madelin. Tidak ada wanita lain, selain dirinya yang bisa mendapatkan hatiku ini."
__ADS_1
Flora tercengang mendengar pengakuan Sam. Hatinya terasa sakit seketika, rasanya seperti ada sesuatu yang menembus ke dalam dadanya.