Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
40. Menarik Perhatian


__ADS_3

Flora menggigiti kukunya gelisah. Dia panik juga cemas mendapati Sam tidak kunjung bangun-bangun.


Flora mengacak rambutnya cemas. Dia teringat bagaimana sebelumnya, ia telah memberikan obat tidurnya pada Sam secara berlebihan. Ia melakukan itu, karena Sam terus mengamuk seperti orang gila.


"Bangun Sam! Bangun!" Flora naik ke atas tempat tidur, ia lalu mengguncang-guncang tubuh Sam.


Namun sayang upayanya itu, tidak membuahkan apa-apa. Sam masih saja terus tertidur dan tidak sadarkan diri.


"Sam aku mohon bangunlah! Jika kau terus begini ... aku tidak tahu harus berbuat apa," rengek Flora. Wanita itu saja terus mengguncang-guncang tubuh Sam yang lemah tidak berdaya.


Flora yang merasa bingung, akhirnya hanya bisa menangis sembari berbaring di dada bidang laki-laki tersebut.


"Mengapa hal seperti ini harus terjadi padaku ... padahal aku rela melakukan semua ini hanya untuk laki-laki yang aku cintai," gumamnya.


Wanita itu tidak pernah menyadari, bahwa rasa sukanya itu sama saja dengan membunuh seseorang. Rasa cintanya itu adalah racun yang membuat seseorang yang ia cintai, merasakan apa itu namanya neraka kehidupan.


***


Madelin merapikan rambutnya di depan cermin. Sejenak ia memperhatikan penampilannya yang tampak sederhana namun elegan. Hari ini, Micel akan mengajaknya untuk menemui seseorang yang penting dalam bisnisnya.


"Kira-kira mengapa, Micel sampai mengajakku? Apa orang itu ingin mengetahui sesuatu dariku?" gumam Madelin pada dirinya sendiri. Ia penasaran dengan sosok yang ingin bertemu dengan dirinya tersebut.


"Madelin apa kau sudah siap? Sebentar lagi kita akan berangkat," ujar Micel yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang ganti.


Madelin mengangguk, ia lalu mengambil tas selempangnya dan berjalan menuju Micel.

__ADS_1


***


"Kau yakin dia akan datang?" bisik Madelin pelan.


"Tentu. Dia masih belum terlambat, kau tenang saja. Kita memang sengaja berangkat lebih dahulu untuk antisipasi," jawab Micel tenang.


"Hmm begitu. Ngomong-ngomong mengapa orang itu sangat ingin bertemu denganku? Maksudku, memang benar bahwa kau dan dirinya akan melakukan kolaborasi dalam proyek ini. Tapi mengapa dia perlu repot-repot sampai ingin menemuiku?" tanya Madelin penasaran.


"Aku juga kurang mengetahui hal tersebut dengan jelas. Sejujurnya aku sudah menanyainya perihal hal ini. Namun sepertinya ia tidak terlalu mau menjawabnya. Selain itu juga karena, aku tidak ingin mengenalkanmu pada sembarang orang makanya aku juga ikut datang untuk menemanimu di sini," kata Micel.


Madelin menghela nafas. "Semoga saja dia bukan orang aneh yang membuat, semuanya menajadi semakin kacau. Kau sudah tahu, betapa lelahnya aku menghadapi orang-orang gila di dalam hidupku ini." Madelin juga tidak ingin kembali dilibatkan dengan orang-orang aneh yang membuat kehidupannya semakin kacau.


"Karena itulah aku ada di sini untuk memastikannya. Jika dia orang yang pantas untuk dicurigai maka aku tidak akan ragu untuk membatalkan urusan kerjasama bisnis ini. Tentu aku tidak ingin membuatmu merasa kesusahan." Micel menatap Madelin lekat.


"Ah lihat sepertinya dia sudah datang," ujar Micel tiba-tiba.


Madelin otomatis langsung mencari kehadiran sosok tersebut. Dan ketika dirinya sibuk mencari di mana sosok tersebut berada, mata wanita itu tidak sengaja beradu pandang pada sosok yang tengah ia cari.


"Selamat sore Nona Micel," ucap sosok tersebut ramah.


Micel mengangguk. " Selamat sore juga Nyonya Kim. Saya rasa, Anda sangat kelelahan bagaimana jika saya memesankan minuman dingin pada Anda?" tawar Micel ramah.


Nyonya Kim tersenyum. "Tentu, tolong pilihkan minuman yang Nona Micel sukai. Saya tahu sepertinya Nona Micel, memiliki selera yang bagus soal minuman," puji Nyonya Kim.


Micel kemudian memanggil pelayan dan memesankan minuman yang ia, anggap enak sesuai seleranya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Nyonya Kim, ini adalah Madelin model yang bekerja di bawah agensi saya. Bukankah Anda sebelumnya mengatakan bahwa sangat ingin bertemu dengan model kami?" Micel mulai membuka topik percakapan.


"Tentu. Saya sangat ingin menemuinya. Namun mula-mula bolehkah kami berdua saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu?" tanya Nyonya Kim ramah.


Madelin yang peka dengan maksud Nyonya Kim, segera mengenalkan dirinya secara sopan. Madelin sendiri cukup mengetahui figur dari sosok Nyonya Kim. Wanita karir yang dikenal sangat sukses dalam bisnisnya. Dan juga sosok ibu dari wanita selingkuhan suaminya, Flora. Nyonya Kim dan putrinya Flora dikenal sebagai figur wanita ideal yang hebat dalam dunia bisnis. Pasangan ibu dan anak itu seringkali mencuri perhatian masyarakat. Bisa dibilang mereka berdua itu seperti  idola di dalam dunia bisnis.


"Kau sangat ramah dan sopan. Sepertinya Nona Micel beruntung memiliki orang sepertimu dalam bisnisnya. O ... ya ngomong-ngomong bagaimana kesanmu selama bekerja dengan Nike? Apa kau mengetahui bahwa Nike itu, merupakan model di bawah anak perusahaan yang aku dirikan?"


"Nike merupakan rekan kerja yang sangat menyenangkan. Ia sangat mudah membaur. Selain itu juga berkat kehadiran dirinya suasana di tempat kerja terasa semakin menyenangkan. Ia juga menghibur orang-orang yang membantu kami selama bekerja. Sepertinya Anda juga sangat beruntung memiliki orang seperti Nike dalam bisnis Anda," puji Madelin balik.


Nyonya Kim tertawa pelan. "Dia memang anak yang menyenangkan. Beruntung Flora putriku, membawanya ke dalam bisnis kami."


Mendengar nama Flora disebut, sejujurnya membuat Madelin sedikit panas. Meski begitu, sebisa mungkin Madelin menahan dirinya. Ia tidak boleh terbawa perasaannya. Meski Flora merupakan putri Nyonya Kim, bukan berarti dirinya harus ikut membenci Nyonya Kim.


"Kita berdua memang sama-sama beruntung menemukan orang-orang berbakat seperti Madelin dan Nike," timpal Micel.


"Benar sekali," sahut Nyonya Kim ceria.


Madelin merasa bahwa pembawaan Nyonya Kim yang ceria memang terasa tulus. Sangat berkebalikan dengan putrinya, yang tampak dengan jelas di mata Madelin membawa kepalsuan di dalam dirinya.


"Kita semua yang di sini, tampaknya saling menikmati kehadiran satu sama lain dengan baik. Aku percaya pembicaraan kita akan mengalir dengan lancar. Karena itu aku sangat ingin berbicara dengan santai, sebaiknya kita tidak perlu terlalu formal saat berbicara," ujar Nyonya Kim santai.


"Baik. Nyonya Kim ngomong-ngomong bolehkah aku bertanya padamu. Apa tujuanmu meminta Micel untuk bertemu dengan diriku? Sepertinya aku pikir, aku hanyalah sebatas model biasa yang belum terlalu terkenal, tidak mungkin sampai bisa menarik perhatian orang hebat sepertimu. Lagi pula untuk urusan bekerja dengan Nike pun, tidak bisa dikatakan terlalu hebat juga untuk sampai menarik perhatianmu. Apa kau memiliki tujuan lain untuk menemuiku?" Madelin menatap Nyonya Kim dengan tatapan tenang namun cukup mengintimidasi.


"Kau memiliki sesuatu yang menarik dalam dirimu. Aku pikir kau orangnya karismatik." Nyonya Kim terdengar seperti tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Madelin.

__ADS_1


__ADS_2