
Madelin cekikikan di dapur. Sebenarnya ia sendiri memang mengetahui, bahwa Flora memiliki alergi terhadap nanas. Karena itu, ia sengaja mengerjainya.
Dengan kemampuan hebatnya meracik minuman, dan mantan bartender berbakat. Ia mampu menyamarkan aroma dan rasa minuman yang ia buat.
Madelin sendiri tahu, bahwa Flora memiliki alergi nanas, saat di pesta, ia menguping mendengar saat Flora berbicara dengan tamu undangan lainnya, menyebutkan bahwa dirinya memiliki alergi nanas. Mengetahui hal tersebut, Madelin sengaja memanfaatkannya.
***
"Madelin temani aku ke klub SKY. Aku akan mentraktirmu di sana nanti." Flora menatap Madelin lekat.
Madelin menggeleng. "Maaf lain waktu saja. Aku tidak tertarik ke sana," tolak Madelin.
Flora menggandeng tangan Madelin erat. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai, kau mau pergi bersamaku ke sana."
Madelin mendorong Flora menjauh. Namun wanita itu benar-benar memegang dirinya dengan erat. Menyebalka sekali rasanya untuk Madelin. Ia merasa seperti ditempeli seekor koala.
"Apa kau tidak penasaran, bagaiaman awal aku dan Sam mengenal satu lain? Atau seberapa jauh hubungan kami?" pancing Flora.
Mata Madelin otomatis langsung menatap Flora tajam. "Katakan padaku, sejauh apa hubungan kalian berdua."
Flora menggoyang-goyangkan jarinya di depan wajah Madelin. "No ... no ... no, sampai kau mau ikut denganku ke klub SKY. Kalau kau mau menemaniku, baru aku beritahu. Jika kau tetap tidak mau, aku akan pulang."
Madelin menghela nafas berat. "Baiklah. Tunggu aku di sini. Aku akan pergi berganti pakaian dulu."
"Bagus. Aku akan menunggumu dengan sabar di sini. Berdandanlah dengan cantik, siapa tahu ada laki-laki kaya yang tertarik denganmu," goda Flora genit.
Madelin tersenyum sinis. Ia lalu berjalan menuju kamarnya berganti pakaian.
Setelah Madelin pergi ke kamarnya, Flora cekikikan dengan suara kecil. Ia tidak tahan untuk segera melakukan rencananya. Ia tidak sabar membuat Madelin merasakan malu begitu luar biasa.
Tunggu saja ******, aku akan membuatmu merasakan sesuatu yang menyenangkan, pikir Flora senang.
***
Setelah mengganti pakaiannya dengan kaos hitam, tanpa lengan dan celana jeans belel. Madelin terlihat keren, meski berdandan simpel. Ditambah lagi figur tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi benar-benar membuatnya, memiliki penampilan selayaknya model.
__ADS_1
Apa-apaan dia, mengapa bergaya seperti preman saja? ucap Flora dalam hatinya. Kontras dengan dirinya yang berdandan feminin dan seksi, Madelin justru terlihat keren dan seksi dengan cara simpel.
"Astaga kau keren sekali. Ditambah lagi, kau memiliki tinggi badan yang bagus, kau terlihat seperti model," puji Flora.
"Tentu saja. Banyak orang yang sudah memujiku seperti itu. Lagi pula, aku memang memiliki tinggi badan yang bagus untuk ukuran wanita. Aku sendiri yakin, bahwa juga akan terlihat lebih percaya diri jika tidak memakai hak tinggi yang menyakitkan itu. Lagi pula tinggi badanmu juga cukup bagus," ujar Madelin spontan.
Bangsat dia menghina tinggiku! maki Flora dalam hatinya. Flora hanya tertawa canggung. "Astaga tapi hak tinggi ini sudah menjadi seperti senjataku. Aku terlanjur percaya diri jika menggunakan ini. Dan merasa memiliki penampilan yang kurang jika tidak memakainya."
"Oh begitu." Madelin mengangguk-anggukkan kepalanya.
Flora hanya membalas dengan senyum tidak ikhlas.
***
"Kita sudah sampai." Flora menghentikan mobilnya di parkiran. Ia lalu membuka pintu mobil dan diikuti oleh Madelin.
Klub SKY adalah klub khusus yang menjadi tempat kesukaan bagi orang-orang kaya untuk menghibur diri. Dari kalangan artis, konglomerat, dan publik figur suka sekali datang kemari.
"Kau dekat-dekat aku saja, jangan jauh-jauh nanti susah," ujar Flora memberitahu Madelin.
"Ya," jawab Madelin singkat. Madelin sendiri mengakui bahwa klub itu sangat besarĀ dan terlihat sangat mewah. Memang sepertinya, klub ini dikelola untuk orang-orang berduit.
"Ayo!" ajak Flora sembari menarik tangan Madelin.
Madelin terseret dan terpaksa mengikuti laju langkah kaki Flora yang menggila, secepat kuda. Sepertinya wanita itu sudah tidak sabar, untuk berpesta.
***
Suasana di dalam diskotik sangat ramai dan meriah. Madelin bisa melihat dengan jelas, banyak orang-orang menari dengan riang. Ada yang sibuk bercakap, menari, dan, merayu wanita.
"Permisi, kau terlihat cantik sekali. Boleh berkenalan?" Seorang laki-laki dengan rambut dicat pirang mendekatinya. "Postur tubuhmu bagus sekali. Apa kau seorang model?"
Madelin mendecak sebal. Ia benci tempat seperti ini. Ada banyak orang aneh-aneh berkumpul dan itu sangat merepotkan baginya. Dan laki-laki aneh yang mendatangi wanita di tempat seperti ini, bukanlah hal yang aneh.
Madelin ingin mengabaikan orang tersebut. Dan tiba-tiba saja Flora menarik tangannya menjauhi laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Pergilah. Dia tidak tertarik denganmu!" usir Flora ketus.
Madelin hanya diam mengamati Flora dengan tenang. Firasat, Madelin mengatakan sepertinya Flora memang tengah merencanakan sesuatu di belakangnya.
"Kemari ikuti aku. Jangan berlama-lama di sini, ada banyak orang aneh. O ... aku juga sudah memesan ruangan khusus di sini, ikuti aku." Flora kembali menyeret Madelin dengan seenak jidat.
Flora membawa dirinya ke sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan yang lebar itu, terlihat banyak minuman alkohol mahal. Dan juga dua orang laki-laki dan seorang wanita, yang wajahnya cukup dikenali oleh Madelin.
"Lami, Jun, Rei," panggil Flora bersemangat.
Orang-orang yang dipanggil tersebut, ikut bersemangat. Bahkan sepertinya wanita bernama Lami itu, tampak mendatangi mereka.
Mendengar nama-nama yang dipanggil oleh Flora. Madelin sadar, sepertinya orang-orang tersebut adalah artis dunia maya atau selebgram. Pantas saja ia merasa cukup familiar. Mereka bertiga pernah muncul di TV di mana terkena skandal perselingkuhan juga ... narkoba.
"Siapa dia? Cantik sekali. Model?" Lami terlihat senang.
Madelin bisa merasakan bahaya. Ia ingin pergi namun Flora menahan tangannya.
"Ah bukan dia temanku, kami berdua cukup dekat. Dia memang cantik, tapi sayang dia bukanlah model," jawab Flora.
"Uh, padahal tinggi badannya bagus. Wajahnya juga cukup cantik. Sepertinya dia memiliki selera fashion yang juga bagus. Rasanya aku ingin berfoto dengannya." Lami masih menatap lekat-lekat Madelin.
"LAMI JANGAN LAMA-LAMA DITATAP NANTI KAU JATUH CINTA PADANYA. KASIHAN DIA MASIH NORMAL!" teriak Jun dari sofanya.
"Normal? Apa maksudnya?" Madelin penasaran.
Flora mendekat lalu berbisik di telinga Madelin. "Dia menyukai perempuan, terutama yang cantik dan tinggi sepertimu. Tapi tenang saja, aku akan menjagamu dari dirinya," bisiknya.
Madelin benar-benar tidak habis pikir sekarang.
"Lama sekali. Ayo kalian semua kemari," seru Rei bosan. "Hari ini, kita pesta berlima saja. Aku malas membawa banyak orang," keluhnya.
Jun tertawa. Dia mematikan rokoknya lalu mengeluarkan kotak besi berukuran cukup besar.
"Mau langsung melakukannya?" tanya Lami kaget.
__ADS_1
"Memangnya apalagi yang kau tunggu. Hari ini, aku sudah tidak sabar menggunakannya." Jun terlihat bersemangat.
Flora tertawa puas. Dia menahan tangan Madelin dengan kuat. "Madelin ... sebelumnya kau harus cicipi alkohol ini." Flora kemudian memaksa Madelin untuk meminum alkohol mahal tersebut.