Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
18. Perilaku Jahat Ibu Mertua


__ADS_3

Jonatan nyaris saja membalik meja kerjanya. Betapa murkanya dirinya mendengar kabar bahwa Madelin ditangkap tanpa alasan yang jelas.


"Sepertinya wanita bernama Flora itu menuduh Nona Madelin, atau lebih tepatnya menjebak Nona," lapor Micel pada Jonatan.


"Keparat itu, aku benar-benar tidak habis pikir dengannya. Padahal selama ini, aku sudah memberinya kemudahan, namun lihat dia benar-benar menginjakku sekarang." Jonatan memijat keningnya. "Ya sudah, aku akan pikirkan wanita sinting itu nanti pelajaran. Sekarang kita dahulukan saja Madelin. Pergilah ke kantor polisi, aku nanti akan menghubungi pengacara. Tolong bereskan masalah ini dan buat Madelin lepas dari segala tuduhan palsu tersebut."


Micel mengangguk paham. Jika Jonatan sudah memberi perintah seperti ini, tandanya semuanya sudah direncanakan dengan matang. Lagi pula tidak ada yang sulit untuk laki-laki itu. Membebaskan Madelin mungkin adalah perkara mudah, namun yang sedang ia permasalahkan sekarang adalah bagaimana Jonatan akan menggila nantinya. Jujur saja hal ini membuat Micel sedikit khawatir. Jika Jonatan berulah maka sudah jelas semuanya akan menjadi runyam. Dan rencana balas dendamnya pada pria itu akan terhambat.


Micel sadar diri, bahwa ia tidak bisa selamanya terus menahan diri dan bermain-main seperti ini. Di hatinya ia mulai lelah berpura-pura menjadi adiknya terus. Ia tidak ingin berlama-lama memainkan peran palsu ini. Dan jika rencananya sampai terhambat, sejujurnya Micel sendiri juga tidak ragu akan menghabisi wanita bernama Flora tersebut. Karena ia adalah sosok penyebab alasan dari keterlambatan rencana miliknya.


Aku akan membunuhmu ******, lihat saja nanti, pikir Micel kalut.


***


Kantor Polisi


"Kau baik-baik saja Madelin?" sapa Micel ramah.


Madelin terkejut mendapati sosok Micel yang tiba-tiba saja muncul entah darimana. Dan ia bingung darimana Micel, mengetahui bahwa dirinya sedang berada di kantor polisi. Namun dengan cepat, ia menyadari bahwa sepertinya kedatangan Micel pasti memiliki hubungan dengan Jonatan.


"Aku baik-baik saja. Biar kutebak, kau kemari karena diperintahkan oleh Jonatan?" balas Madelin ramah.


Micel tersenyum lembut. "Tentu saja."


Memiliki orang yang terobesesi dengan dirimu bukanlah hal yang baik. Namun di satu sisi, Madelin tidak bisa berbohong bahwa orang yang terobesesi padanya itu memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat untuknya. Meski jelas, Madelin tidak mengandalkan hal tersebut mentah-mentah.

__ADS_1


Polisi di depan tampak bingung dengan kehadiran Micel. Namun salah satu polisi lainnya, membisikkan sesuatu di telinga polisi itu. Dan dalam hitungan detik, sepertinya polisi sudah memahami maksud tujuan dar kedatangan tamunya tersebut.


Micel memamerkan senyumnya yang penuh percaya diri, lalu berkata seperti ini, "Madelin sebaiknya kita cepat selesaikan semua masalah ini. Jujur saja rasanya aku juga memiliki keinginan untuk membunuh seekor ular betina," katanya dengan suara tenang.


Madelin nyaris tertawa, jika saja dirinya saat ini tidak berada di kantor polisi mungkin ia sudah tertawa terbahak-bahak. "Yah, tapi hati-hati ular itu berbisa, kau tentu tidak mau terluka bukan?"


"Aku ahli menjinakkan binatang rendahan seperti itu," sahut Micel diiringi dengan seringaian licik.


"Kita berada di kapal yang sama." Madelin bisa merasakan bahwa seseorang tampaknya, memiliki tujuan yang sama dengan dirinya.


***


"Beruntunglah hari ini, berakhir dengan cepat. Aku sebenarnya sangat ingin mengobrol denganmu." Micel memandang Madelin cukup lama. "Entah mengapa, jujur saja aku merasa cocok denganmu."


"Aku juga merasakan perasaan yang sama denganmu," balas Madelin senang. "Mungkin kita bisa berbicara lain waktu. Terima kasih karena sudah membantu untuk hari ini," ucap Madelin tulus.


Madelin mengusap pipi Micel lembut. "Kasihan kau. Lihat saja, Jonatan akan aku beri pelajaran. Kau tidak perlu ragu meminta bantuan padaku. Kau sudah aku anggap sebagai teman."


Micel merasa senang mendengarnya. Entah mengapa, Madelin memberikan rasa tenang di hatinya, sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini. Terakhir kali ia merasakannya adala saat Micel yang asli masih hidup.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Maaf." Micel tersenyum lalu berpamitan dengan Madelin.


Madelin hanya mengangguk. "Hati-hati, dan jangan lupa beristirahat."


Setelah itu mobil yang dikendarai oleh Micel pergi dan meninggalkan Madelin seorang diri, yang berdiri di halaman rumahnya.

__ADS_1


Madelin mendesah, ini hari yang panjang juga melelahkan. Di mulai dari masalah di pagi buta sampai menjadi tengah malam seperti ini.


Madelin membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati tamu tak diundang berkunjung di kediamannya.


Tuhan jangan lagi, ucap Madelin dalam hati.


***


Nyonya Lily seperti biasa duduk dengan angkuhnya di sofa miliknya. Wanita tua itu terlihat memiliki sorot mata yang jauh, lebih tajam dari biasanya. Rasanya sorot matanya, seakan-akan bisa membelah tubuh Madelin hidup-hidup.


"Lihat wanita narapidana ini, dengan seenak jidat masih bisa masuk ke dalam rumahmu Sam. Apa aku perlu memanggil polisi agar wanita ini ditangkap kembali?" Nyonya Lily mengeluarkan ponsel pintarnya yang super canggih dan mahal. Namun sayang ponsel pintar itu dipakai oleh orang dungu.


"Ibu jangan seperti ini! Tolong tenanglah sedikit. Lagi pula, kita belum mengetahui kebenarannya dengan jelas," cegat Sam.


"Belum jelas katamu. Lihat dengan mata kepalamu itu, dia baru saja pulang dari kantor polisi. Apa kau tidak tahu, bahwa orang yang pulang dari kantor polisi sama saja dengan penjahat. Ibu benar-benar merinding denganmu, membiarkan seorang wanita penjahat masuk ke dalam rumah," semprot Nyonya Lily.


Madelin menghela nafas berat. Makian Nyonya Lily benar-benar terasa menyebalkan. Wanita itu bahkan sama sekali, tidak peduli dengan suaranya yang nyaring dan melengking. Ini sudah tengah malam dan jelas akan mengganggu tetangga yang sedang tidur nyenyak.


"Ibu, sebelumnya saya minta maaf. Namun Ibu, bisa pelankan suaramu? Ini sudah tengah malam kasihan tetangga jika Ibu berteriak seperti ini," pinta Madelin halus.


"Siapa kau? Berani sekali menasihatiku, wanita penjahat sepertimu berlagak seolah-olah memiliki perilaku baik namun sebenarnya memiliki perilaku busuk di belakang." Nyonya Lilyy masih menaikkan suaranya dan tidak peduli dengan suaranya.


"Saya mohon Bu," ucap Madelin masih halus.


Wanita tua itu tidak mendengarkan. "Sam sebaiknya kau segera bercerai dari wanita ini. Ibu benar-benar tidak tahan memiliki menantu sepertinya. Dia sudah membuat banyak masalah. Jika kau terus mempertahankan segala sesuatu yang telah kacau seperti ini, terus menerus kau akan hancur nantinya."

__ADS_1


Madelin diam tidak menanggapi. Wanita tua itu terus mengomel. Madelin muak.


"Kau sebaiknya cepat pergi. Aku benar-benar tidak sudi, memiliki menantu hina sepertimu." Nyonya Lily mengetuk-ngetuk kening Madelin tidak sopan.


__ADS_2