
"Sebelumnya, aku bertanya padamu apa tujuanmu rela melakukan semua ini sampai sejauh itu?" tanya Flora dengan suara yang datar.
Jonatan mengangkat bahunya. "Mungkin karena aku bosan. Tidak ada wanita yang menarik di mataku selain Madelin. Aku rela menghancurkan siapapun yang ingin memiliki Madelin. Madelin adalah milikku, dan tidak ada laki-laki lain yang boleh memilikinya."
"Kau naif sekali rupanya, juga dipenuhi dengan obsesi kotor," komentar Flora sembari membersihkan mulutnya.
Jonatan tertawa. "Bisa-bisanya kau berkomentar seperti itu padaku? Apa cermin riasmu terlalu murah sampai-sampai terlihat kabur dan membuatmu tidak bisa melihat?"
"Beginilah jadinya jika aku harus berbicara dengan orang gila yang baru saja, lepas dari rumah sakit jiwa." Dengan tenangnya Flora membalas seperti itu.
"Hm. Flora wanita yang terkenal sebagai putri dari seorang pengusaha wanita sukses, dan seringkali dijadikan sebagai panutan untuk wanita-wanita lainnya. Ternyata memiliki perilaku busuk di belakang. Kau itu hanya bagus di depan kulitmu saja yang cantik, isinya hanyalah daging busuk. Ah bahkan kau itu serupa dengan bangkai. Sejujurnya ... aku agak terkejut mendapati orang sepertimu berani mengajakku untuk bekerjasama," ucap Jonatan dengan santai. Kata-katanya memang pedas, tapi ia mengucapkannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aku malas membalas perkataan gigolo." Flora sadar diri bahwa menimpali ucapan Jonatan, hanya akan membuat dirinya tersulut.
"Baik-baik wanita simpanan kelas kakap. Mulai dari sini, aku akan berbicara serius denganmu." Jonatan kemudian mendekatkan wajahnya pada Flora. "Jika kau benar-benar ingin bekerjasama denganku, maka buatlah Madelin menjauh dari Sam. Aku tidak peduli dengan cara seperti, apa yang akan kau perbuat, namun kau harus bisa melakukan semua itu dengan cepat."
"Berani sekali kau memberiku perintah. Alih-alih bekerjasama, kita hanya kebetulan memiliki tujuan yang serupa. Kau ingin Madelin menjauh dan berakhir dengan perceraiannya dengan Sam. Sementara aku ingin agar Sam menjadi milikku dan meninggalkan Madelin." Flora menghela nafas berat. "Dengar! Jika kau memintaku untuk membuat Madelin menjauh dari Sam, apa kau terima jika Madelin juga ikut terluka? Aku tidak ragu memakai cara kasar Jonatan, bahkan saat aku berusaha memisahkan Madelin dari Sam, aku bisa saja melukai Madelin sedikit," ujar Flora memberi peringatan pada Jonatan.
"Apa kau tidak bisa, jika kau hanya sekadar memisahkan mereka tanpa membuat Madelin terluka? Jika kau mengatakan tidak bisa, maka aku juga tidak ragu untuk melukai Sam. Bahkan aku bisa membuat laki-laki bertulang lunak itu, kehilangan nyawanya!" ancam Jonatan. Mesk mengatakan ancaman itu dengan wajah yang terlihat tidak serius, namun jelas Jonatan bukanlah tipe orang yang bermain-main dengan kata-katanya.
__ADS_1
"Setiap perbuatana ada resikonya. Apa kau berpikir aku malaikat?" tantang Flora.
"Baiklah, jika kau masih keras kepala seperti itu. Maka jangan salahkan aku, jika Sam akan menjadi milikmu dalam keadaan tidak bernyawa. Kau bebas memiliki mayat itu hanya untuk dirimu seorang. Bukankah itu lebih baik?" Jonatan tersenyum mengerikan.
Flora terdiam. Entah mengapa kata-kata yang ingin meluncur, dari tenggorokannya tertahan begitu saja. Dia bisa merasakan dengan jelas, bahwa Jonatan tidak sedang bercanda.
"Grrr ... jangan bunuh Sam! Baiklah-baiklah ... akan aku lakukan, apa yang kau inginkan. Aku tidak akan menyentuh Madelin. Tapi sebagai gantinya maka pegang kata-katamu untuk tidak melukai Sam sedikit saja. Karena jika kau tidak menepati kata-katamu, maka aku tidak akan pernah ragu untuk melakukan balasannya untukmu!" gertak Flora.
Jonatan tertawa puas. Dia lalu menepuk-nepuk kepala Flora seperti anak kecil, tanpa sadar. "Bagus ... bagus itu jawaban yang aku tunggu-tunggu. Kau seharusnya menurut saja dari awal, seperti anak kecil alih-alih protes seperti anak nakal. Aku tidak perlu repot-repot menggertakmu seperti ini dan membuatmu sampai berkeringat dingin." Jonatan terlihat puas.
Flora menepis tangan Jonatan. Dia menatap tajam laki-laki di depannya itu. "Pegang kata-katamu Jonatan! Jika kau tidak pernah ragu berbuat buruk, maka aku juga sama sepertimu, jika kau melanggar janjimu." Flora bangkit berdiri dari kursinya ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Jonatan. Tentu saja berlama-lama menghadapi sosok aneh seperti Jonatan, hanya akan membuatnya terpancing juga menguras emosinya.
"Sayang padahal dia akan terlihat manis, jika saja tidak terlalu banyak mengomel. Tapi ah sudahlah ... Madelin berkali-kali jauh luar biasa ketimbang wanita seperti dirinya," gumam Jonatan sembari mengamati kepergian Flora yang berjalan menjauh meninggalkannya.
***
Sam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia merasa canggung. Namun entah mengapa ia merasa sangat ingin menemui Flora.
"Ah maaf. Tapi sepertinya saat ini, aku sangat ingin menemuimu. Entah mengapa hatiku merasa tidak tenang, dan hanya ada namamu yang aku pikirkan di dalam kepalaku saat in," ujar Sam dengan gugup.
__ADS_1
Flora tersenyum. Tangannya terjulur untuk mengusap-usap rambut Sam. Di mata Flora, Sam benar-benar terlihat manis. Laki-lami seperti Sam, adalah laki-laki idealnya. Dan ia merasa benar-benar kecewa karena tidak bisa memiliki laki-laki tersebut dalam hidupnya. Ia merasa kesal juga jengkel, kenapa yang memiliki Sam bukan dirinya melainkan wanita lain?
"Aku mengerti. Ya sudah bagaimana kalau kita pergi belanja. Kebetulan aku sangat ingin membelikanmu beberapa pakaian baru? Tolong jangan menolak kali ini. Jika Madelin bertanya, katakan saja padanya ini merupakan hadiah dari saudara jauhmu," pinta Flora disertai senyum manisnya.
Sam hanya mengangguk dan menuruti segala permintaan Flora. Di matanya saat ini Flora, hanyalah wanita satu-satunya yang ia butuhkan, tidak ada yang lain.
Jonatan yang tidak sengaja melihat pertemuan Flora dan Sam tersebut. Diam-diam mengambil gambar tersebut. Di dalam pikirannya, ia tengah merencanakan sesuatu yang terlihat menyenangkan.
Dan di satu sisi lainnya, ada seseorang yang memakai jaket dan topi hitam, tengah merekam semua kejadian itu dalam diam.
***
Madelin mendesah, dia benar-benar tidak bisa mengindar sekarang. Nyonya Lily mertuanya itu, terus memaksa dirinya untuk menemaninya berbelanja. Meski sudah berusaha untuk menolak, pada akhirnya Madelin tetap saja berakhir menemani wanita menyebalkan tersebut.
Bagaimana mungkin Madelin menghindar, wanita itu bahkan langsung mendatangi kediamnnya dan menyeretnya secara paksa, untuk menemaninya berbelanja.
"Menantu miskin sepertimu, jujur saja membuatku malu. Kau seharusnya merasa bersyukur karena aku berniat, untuk memberikanmu beberapa potong baju yang lebih layak. Aku ingin mengundangmu ke dalam sebuah pesta keluarga, dan jelas aku tidak ingin melihatmu berpenampilan lusuh," ucap Nyonya Lily sembari memilihkan beberapa gaun murah dengan model kuno.
"Baik Ibu." Madelin berusaha menahan dirinya.
__ADS_1
"Bukankah ini benar-benar kebetulan, kita bisa bertemu di sini Nyonya Lily?" sapa seseorang yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
Madelin bisa melihat dengan jelas. Bahwa orang yang menyapa Nyonya Lily tengah menggandeng suaminya.