Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
22.Dendam Jonatan dan Sam yang Terancam


__ADS_3

"Dasar pria gila lepaskan aku!" Flora memberontak, ia berusaha melepaskan diri dari Jonatan.


"Begini saja, kau sudah ketakutan setengah mati. Aku benar-benar tidak mengerti darimana, semua nyali yang kau punya, sehingga tega mencelakai orang lain sampai mati?" Jonatan tersenyum miring.


"Kau menuduhku tanpa bukti?" balas Flora dingin.


"Jangan pura-pura bodoh ******. Permainanmu terlalu sederhana, bocah ingusan saja pasti dengan cepat memahami maksud permainanmu."


Flora diam. Namun ia masih berusaha melepaskan diri.


"Aku memberimu kesempatan. Jika kau mau buka mulut sedikit saja, aku akan memberimu keringanan. Namun sebaliknya jika kau tidak ingin melakukannya. Aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya!" ancam Jonatan.


"Ancaman itu hanyalah angin lewat di telingaku!" Flora acuh tak acuh. "Kau bahkan tidak berhak menyentuhku seperti ini!"


"Harusnya aku menyentuhmu lebih kasar dari ini! Kau seharusnya ingat, bagaimana kau dengan beraninya melakukan hal-hal gila. Jadi, mengapa kau terlihat seperti orang ketakutan sekarang? Apa kau takut denganku? Di mana sisi liarmu itu?" Jonatan menyeringai lebar.


"Kau menuduhku tanpa bukti yang jelas. Apa kau mengira, bahwa aku mnecelakai Tuan Putrimu itu?" Flora menatap tajam Jonatan.


"Bukti? Bahkan rubah licik sepertimu tidak perlu, aku tunjukkan bukti karena kau tidak akan pernah mengakui kejahatanmu. Aku tahu betul, bahwa kau menyuruh orang lain untuk mencelakai Madelin. Kau membunuh Madelin.  Selain itu kau sendiri juga melakukan rencana ini bersama dengan Nyonya Lily. Kalian berdua benar-benar wanita berhati busuk!" Wajah Jonatan terlihat berubah menjadi kecewa. Ekspresi seperti ini, sangat jarang ia keluarkan di depan orang lain.


Flora diam dia berusaha mengalihkan pandangannya dari Jonatan.


"Sepertinya, kau sendiri memang tidak memiliki niat untuk mengakui kesalahanmu. Baik, kau sendiri yang memilih jalan ini," kata Jonatan yang masih mempertahankan ekspresi wajah kecewa di wajahnya.


Terlihat sedikit raut wajah ketakutan terlihat dari, wajah Flora. Hawa di sekitarnya mejadi terasa begitu berat. Ia tahu bahwa Jonatan, adalah sosok yang gila. Dan sebentar lagi, ia akan menunjukkan kegilaan itu padanya.

__ADS_1


Jonatan menunjukkan ponsel pintarnya pada Flora. Ia menyetel sebuah video dan di sana terlihat sosok seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri, terikat di sebuah kursi. Dan di samping orang itu, ada dua sosok yang menggunakan masker menodong kepala laki-laki itu dengan pistol.


"Aku ragu, kau bisa menemui laki-laki itu lagi. Bukankah ini adil, kau mencelakai Madelin, maka aku berhak mencelakai Sam. Nyawa dibalas nyawa." Jonatan memandang Flora rendah. "Yang seperti ini, terlalu mudah untuk aku lakukan. Bahkan jika ia mati, aku jamin orang-orang hanya akan menganggapnya sebagai orang hilang lalu diabaikan begitu saja. Kau jangan lupa berhadapan dengan siapa."


Flora terkejut mendapati Sam terikat di kursi itu. Ia mencoba merampas ponsel pintar Jonatan, namun belum sempat ia merampasnya, Jonatan lebih dulu menghindar. Dia menggoyang-goyangkan ponsel pintarnya, di depan wajah wanita itu.


"Menyedihkan ... aku sebelumnya benar-benar muak denganmu. Tapi semakin lama, kau justru semakin menghiburku."


Flora menggigit bibirnya kesal. Namun ia sadar, ia tidak bisa membiarkan Sam mati di tangan laki-laki jahat ini.


"Akan aku lakukan apa pun untukmu. Tolong selamatkan Sam." Flora menunduk ia bahkan berlutut di depan Jonatan.


"Meminta pengampunan? Padahal kau yang lebih dahulu bermain-main denganku." Jonatan terlihat memandang Flora dengan hina. Jonatan ingin kembali mengutuki Flora, namun tiba-tiba saja ponsel pintarnya berdering dan menandakan panggilan masuk di sana. Jonatan enggan melihatnya, namun sekilas matanya melihat notifikasi pesan yang dikirimkan oleh Micel, padanya menyuruh dirinya untuk segera mengangkat panggilan, maka mau tidak mau ia mengangkat panggilan tersebut.


Setelah mengangkat panggilan tersebut. Jonatan berbicara dengan Micel, dan tampaknya pembicaraan itu terdengar sangat penting baginya. Hal itu dibuktikan dari ekspresi wajah Jonatan, yang terlihat berubah-ubah sewaktu-waktu. Sampai akhirnya, panggilan itu dimatikan Jonatan terlihat cukup puas. Namun begitu kembali beralih pada Flora, wajahnya kembali menjadi dingin.


***


"Apa aku bisa menemuinya sekarang?" tanya Jonatan terburu-buru.


Micel menggeleng. "Beri dia waktu. Saat ini kondisinya sedang kurang baik, selain itu aku khawatir ia akan merasa tidak nyaman dengan Tuan."


Kening Jonatan mengerut. Namun dengan cepat, ia menyadari situasinya saat ini. Ia sadar, apa yang dikatakan oleh Micel memang benar adanya. Dia memutuskan untuk menurunkan egonya saat ini.


"Baiklah. Tapi jika kondisinya sudah lebih membaik, tolong usahakan agar aku bisa bertemu dengannya," ucap Jonatan lemas.

__ADS_1


Micel tersenyum. "Tentu saja. Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Anda."


Jonatan mengangguk, ia lalu berbalik dan meninggalkan Micel. Tanpa pria itu sadari, bahwa ada seorang wanita yang mengawasinya dari jauh.


Setelah meninggalkan kediaman Micel. Jonatan masih harus menyelesaikan sedikit masalah yang ia punya. Suasana hatinya yang semula sedikit membaik, kini dengan cepat memburuk begitu ia teringat dengan Sam. Setelah ini, ia harus menemui pria itu.


Kau harus bersyukur Sam, karena jika Madelin tidak selamat mungkin aku, sudah mengirimkan mayatmu pada keluargamu, pikir Jonatan kalut.


***


"Bangunkan dia!" perintah Jonatan pada sosok di samping Sam.


Sosok tersebut membangunkan Sam dengan menyiramkan seember air pada Jonatan. Sebelum pria itu bangun, sosok tersebut terlebih dahulu mengikatkan sebuah kain ke mata Sam. Tentu saja, Jonatan tidak ingin membiarkan Sam mengetahui perbuatannya dengan jelas.


Sam yang terbangun terkejut. Terutama saat ia tidak bisa melihat apa-apa.


"Sudah bangun Pangeran?" sapa Jonatan dengan suara yang ia buat seperti wanita. Tidak perlu diragukan lagi bahwa suara Jonatan benar-benar mirip seperti wanita. Jonatan sendiri memang memiliki kemampuan menirukan suara yang baik. Dulu saat masih remaja, ia adalah mantan pemain teater di sekolahnya dulu.


"Siapa kau? Apa yang ingin kau perbuat padaku, mengapa kau menahanku di sini?" Sam berontak.


"Aku tidak ingin berbuat apa-apa padamu. Aku hanya ingin memberitahukan hal ini padamu. Pasang telingamu baik-baik. Mulai sekarang jauhi wanita bernama Flora, jika kau tidak ingin mendapat celaka. Wanita bernama Flora itu adalah sosok yang mencelakai istrimu Madelin. Mulai sekarang kau juga akan ikut bertanggung jawab atas semua yang terjadi."


Sam terkejut mendengar kata-kata Jonatan. "Jika begitu apa kau ingin, aku berbuat sesuatu?"


"Sayangnya tidak ada. Kau sendiri juga adalah salah satu orang yang harus bersiap menanggung karma karena sudah membuat Madelin menderita," ujar Jonatan dingin.

__ADS_1


"Itu hanya salah paham. Semua yang terjadi juga bukan karena kesalahanku saja," elak Sam.


__ADS_2