Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
26. Dilema Semua Orang


__ADS_3

"Kakak," panggil seorang gadis pada kakaknya.


Micael tersenyum, dia mengulurkan tangannya pada adik tercintanya yaitu Micel. "Ayo," katanya.


Micel terlihat ragu-ragu namun akhirnya, ia menggapai tangan Micael. Keduanya kemudian terus berlari meninggalkan rumah mereka. Rumah tempat mereka tinggal, sengaja dibakar oleh Micael untuk menghapus jejak mereka. Di dalam rumah itu hanya tersisa mayat paman da bibinya.


Hari itu, Micael membunuh paman dan bibinya, dan kabur dari rumah mereka. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi begitu adiknya dan dirinya, seringkali mendapatkan kekerasan rumah tangga, membuat dirinya tidak bisa menahan diri. Terutama saat, pamannya ingin memperkosa adiknya, maka keinginan untuk membunuh itu benar-benar sudah tidak tertahankan lagi.


***


"Micel ... Micel ... bangunlah!" Madelin mengguncang-guncang tubuh Micel. Dia panik begitu mendapati Micel berteriak meminta tolong dalam tidurnya. Ditambah pula, terlihat tubuh Micel dipenuhi dengan keringat dingin.


Micel membuka matanya dan langsung terbangun. Ia terkejut mendapati Madelin di depannya. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ini masih terlalu pagi, untuk bangun?" Micel menyibak selimutnya. Ia mengatur nafasnya perlahan-lahan.


"Aku panik melihatmu berteriak tadi. Sepertinya kau bermimpi buruk, jadi aku membangunkanmu. Sebaiknya kau minum dulu." Madelin menyerahkan segelas air putih pada Micel.


"Terima kasih." Micel mengambil air putih tersebut, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. "Sepertinya aku membangunkanmu, maaf." Wajah Micel terlihat menyesal.


Madelin menggeleng, dia mengambil sapu tangan lalu mengelap keringat Micel. "Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan di hatimu, aku bisa membantumu. Jika kau mau, kau bisa menceritakan sedikit kesusahanmu. Mungkin saja itu membuatmu sedikit merasa lega. Manusia saling berbagi pikiran dan perasaannya untuk memahami satu sama lain," tawar Madelin tulus.


Micel hanya diam saja, namun dia menatap Madelin cukup lama. Ia terlihat mencoba untuk mencari sesuatu dari wanita itu.


Madelin sendiri sepertinya cukup peka dengan situasinya saat ini. Nampak jelas bahwa Micel sendiri masih belum bisa menaruh rasa kepercayaannya padanya, wajar jika ia masih belum mau terbuka soal dirinya. Madelin sadar diri tidak bisa memaksakan hal tersebut.


"Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu. Kembalilah beristirahat, masih ada waktu." Madelin berjalan meninggalkan Micel.

__ADS_1


Micel masih diam. Namun begitu Madelin hampir menjauh. Tiba-tiba saja Micel memanggil namanya.


"Madelin tunggu!"


Madelin berbalik dan mendapati wajah Micel yang dipenuhi dengan keringat juga air mata yang mengalir. "Jika kau mau mendengarkan cerita bodoh ini, aku ingin memberitahukannya padamu."


"Tentu saja. Aku siap untuk mendengarkanmu. Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan padaku."


Micel tersenyum. Dia bangkit dari tempat tidur. Ia lalu berjalan mendekati Madelin. "Ini akan jadi cerita yang panjang, apa kau siap untuk mendengarkannya?"


Madelin langsung meraih tangan Micel dan menggenggamnya dengan sangat erat. Tanpa perlu berkata-kata, lewat sorot matanya itu jelas menunjukkan keyakinan yang memang tulus berasal dari hatinya.


***


Nyonya Kim menghela nafasnya berkali-kali. Pikirannya terasa begitu berat. Sejujurnya ia masih mempertanyakan apakah wanita bernama Madelin, merupakan sosok dari Sera, putri sulung dari suaminya yang sudah dianggap meninggal.


Akibat rasa penasarannya itu, ia benar-benar menjadi sangat tidak tenang. Ia lalu mengambil ponsel pintarnya, dan segera menghubungi Tuan Fred, untuk meminta informasi mengenai menantunya yang bernama Madelin tersebut.


Namun sayang panggilan itu tidak pernah tersambung. Sepertinya, Tuan Fred sedang sibuk. Nyonya Kim tidak bisa memaksa, ia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya yang empuk. Ia sibuk memikirkan sosok bernama Madelin itu. Sejujurnya, ia sangat ingin menanyakan bagaimana sosok Madelin itu, dari putri tirinya Flora. Namun sayang, Nyonya Kim sadar bahwa Flora nampak jelas tidak terlalu menyukai saudaranya tersebut. Nyonya Kim mengetahui fakta ini secara tidak sengaja, ketika dulu dirinya pernah menanyakan bagiamana kehidupan yang dijalani oleh Flora sebelumnya di masa lalu. Dan samar-samar Nyonya Kim teringat bagaimana, Flora nampak jelas menolak membicarakan saudaranya itu dan terlihat acuh bahkan atas kematian saudara kembarnya itu yang tragis.


Mungkin terjadi sesuatu di antara keduanya dulu, tidak biasanya anak kembar memiliki hubungan sedingin ini, pikir Nyonya Kim sembari menebak-nebak.


Akibat masalah ini, wanita itu tidak menjadi fokus kerja dan sibuk menebak-nebak siapa sosok Sera yang sesungguhnya.


***

__ADS_1


Sudah ada empat suntikan yang didapat oleh Sam dari Flora. Kini pria itu, terlihat teler dan setengah sadarkan diri.


"Sayang seharusnya kau tidak mencoba kabur dari sini. Kau tahu, kau itu kesayanganku." Flora sengaja menyuntikkan obat penenang secara berlebih untuk Sam.  Flora melakukan itu ketika Sam, berjalan dalam tidurnya dan seperti hendak meninggalkan kamar. Sepertinya naluri alami Sam muncul, untuk menghindari dirinya karena merasa terancam.


Flora memangku kepala Sam, lalu sibuk memainkan rambut pria itu. Dia mengambil sekotak rokok yang mengandung ganja dari kantong mantel tidurnya. Dia menyalakan rokok tersebut lalu menghisapnya kuat-kuat. Asap rokok itu memenuhi paru-parunya.


Entah mengapa ia merasa tidak bahagia. Padahal Madelin sudah ia singkirkan, dan Sam kini berada dipihaknya. Meski saat ini, keadaannya tidak bisa dibilang baik-baik saja, namun setidaknya ia sudah memiliki apa yang paling ia inginkan. Hanya saja rasanya hampa, ia seperti tidak memiliki apa-apa. Dan sejujurnya ada sedikit rasa takut terselip di hatinya.


"Aku benci perasaan seperti ini," gumamnya tidak sadar.


Flora mengeluarkan ponsel pintarnya, ia lalu memperhatikan sebuah foto di mana, seorang gadis muda cantik terlihat di sana. Flora mencium layar ponselnya, lalu menekan sebuah nomor dan melakukan panggilan dengan cepat. Dia butuh gadis ini untuk menenangkan perasaannya.


"Kemarilah Misa, aku membutuhkanmu," ucap Flora dengan pandangan mata yang tidak lepas dari layar ponsel pintarnya.


***


"Bukankah kau tahu betapa tragisnya kehidupan yang kami jalani?" Micel masih menangis sesegukan.


Madelin memeluk Micel erat. Dia merasa iba, mendengar cerita Micel. Kehidupannya dan adik kembarnya sangat suram. Mereka telah menjalani kehidupan yang menyulitkan di masa lalu mereka, dan kini mereka kembali berpisah.


"Aku benar-bena rmembenci kenyataan ini. Mengapa kami berdua harus dipisahkan?" Micel mengelap air matanya.


Madelin menepuk-nepuh bahu Micel. Namun tiba-tiba saja ponsel pintar milik Micel berdering, sepertinya ada panggilan masuk. Buru-buru, Micel pergi mengambil ponsel pintarnya. Panggilan sepagi ini, biasanya berasal dari Jonatan. Karena itu, Micel tidak bisa mengabaikannnya. Jonatan biasanya adalah orang pertama yang menghubungi dirinya. Dan ketika pria itu, sudah menghubungi dirinya maka tandanya ia sudah harus bersiap untuk pergi bekerja dan mengurusi segala keperluan pria itu.


Micel yang terburu-buru tidak sengaja menjatuhkan cincinnya. Madelin yang melihat cincin itu mengambilnya dengan seksama, Madelin memerhatikan cincin itu. Dan ia bisa melihat sebuah nama terukir pada cincin itu.

__ADS_1


"Misa." Madelin membaca nama yang terukir dalam cincin perak tersebut.


__ADS_2