Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
27. Sam yang Putus Asa


__ADS_3

"Apa kau bisa membantuku mendapatkan pekerjaan?" tanya Madelin pada Micel.


"Kau membutuhkan pekerjaan?" Micel bertanya balik pada Madelin.


"Aku membutuhkannya. Aku tidak bisa terus berdiam diri, dan bersembunyi di belakangmu terus. Aku tidak mungkin merepotkanmu selamanya."


"Kalau kau mau, kau bisa bekerja menjadi model, di bawah agensiku. Mungkin hanya agensi kecil namun jika, kau mau dan menekuninya dengan benar, bisa saja keberuntungan menyertaimu," tawar Micel.


Madelin terlihat berpikir sejenak. "Apa agensimu itu berhubungan secara langsung dengan perusahaan yang dimiliki oleh Jonatan? Kau orang kepercayaannya, mustahil sekali jika kau tidak berhubungan dengan Jonatan." Sejujurnya Madelin takut jika usaha yang dijalankan oleh Micel memiliki kaitan langsung dengan Jonatan. Tentu saja Jonatan adalah sosok yang sangat ingin ia hindari.


Micel menggelengkan kepalanya. "Tidak. Usaha ini aku dirikan dari uang pribadiku. Karena itu skalanya sangat kecil. Memang Jonatan, sempat ingin membantuku dengan mengakuisisi bisnisku. Namun aku menolak dan tidak ingin, membiarkan dirinya campur tangan dalam bisnis pribadiku. Aku menganggap bisnis ini sebagai tabungan pribadiku," tutur Micel.


"Baiklah aku percaya padamu. Kalau begitu izinkan aku untuk terjun dalam bisnismu," ucap Madelin.


Micel tersenyum kemudian mengulurkan tangannya pada Madelin. "Kontraknya akan menyusul. Jabat tangan ini, akan menjadi awal dalam perjalanan bisnis kita berdua. Aku taruh rasa kepercayaanku padamu."


Madelin membalas jabat tangan itu. "Aku akan membantumu juga dalam bisnis ini. Karena aku yakin, bisnismu akan menjadi lebih berkembang karena aku tidak akan ragu, dalam memajukan bisnismu ini."


Maka di hari itu, Madelin dan Micel resmi menjadi rekan kerja. Dan dari sana juga muncul siasat baru di dalam kepala Madelin, dalam upayanya untuk menjalankan rencananya.


***


"Madelin tunggu!" Sam menahan seorang pejalan kaki yang melewati dirinya.


Seorang wanita muda pekerja kantoran langsung menepis tangan Sam. "Sepertinya kau salah orang." Wanita itu kemudian berlari meninggalkan Sam.


Sam mendesah berat. Pikirannya kacau, hanya dipenuhi dengan wajah Madelin. Sudah seharian ini ia mencari di mana sosok Madelin berada. Namun tetap saja, ia masih belum kunjung mendapati sosok Madelin berada.

__ADS_1


"Kacau sepertinya, aku tidak akan pernah bisa menemui Madelin." Sam menarik rambutnya sendiri. Penampilannya cukup kacau, dan orang-orang di jalan banyak yang memerhatikan dirinya dan menganggapnya sebagai orang aneh. Namun Sam sendiri acuh tak acuh, ia hanya ingin fokus mencari di mana keberadaan Madelin sekarang.


Madelin menghilang, begitu juga dengan pikirannya. Sam sudah menghabiskan banyak waktu bersama Flora tinggal bersama wanita itu, dan ia merasa dijadikan seperti boneka oleh wanita itu. Hidup menjadi laki-menyedihkan, tidak pergi bekerja dan pulang ke rumah selingkuhan dan menghabiskan waktu dengan melamun atau mengkonsumsi narkoba sepanjang hari. Dan perlahan-lahan tubuhnya mulai rusak, dan akal sehatnya semakin menipis.


"Astaga dia hidup dengan menyedihkan sekarang, bagaimana mungkin aku dulu berniat untuk menikahi orang itu dan bahkan tahan satu rumah dengannya dalam waktu yang cukup lama?" gumam Madelin kecewa. Wanita itu bersembunyi di salah satu sudut pertokoan dan sengaja memperhatikan Sam dari kejauhan. Melihat perilaku Sam seperti itu, alih-alih membuatnya merasa iba, ia justru merasa jijik dengannya. Dan ada perasaan dendam muncul di dalam hatinya melihat laki-laki itu.


"MADELIN ... MADELIN ... MADELIN DI MANA KAU BERADA?!" teriak Sam putus asa. Dia seperti orang gila yang tengah mengamuk di tengah jalan.


Akibat ulahnya yang meresahkan banyak pejalan kaki, Sam kemudian diseret paksa oleh polisi yang bertugas di jalan.


"Pak jangan membuat keributan di sini!" Salah satu polisi yang menyeret Sam berusaha membuat pria itu berhenti memberontak.


Sam tidak mendengarkannya, ia justru semakin bertingkah dan menjadi-jadi. "MADELIN ... MADELIN DI MANA KAU?!"


Polisi itu semakin kewalahan, akibat perilaku bar-bar yang dilakukan oleh Sam. Dan orang-orang di sekitar memandang dengan tatapan aneh.


"Menyedihkan sekali. Jika dia berlama-lama seperti itu, bisa saja dikirimkan ke rumah sakit jiwa." Madelin memperbaiki letak topinya, lalu pergi meninggalkan area tersebut.


***


Kantor Polisi


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Flora berjalan terburu-buru menghampiri Sam.


Sam terlihat lemah dan lesu. Dirinya yang dibawa paksa ke kantor polisi, karena sudah membuat keributan di tengah jalan, dan mengganggu orang-orang di sekitar.


"Dia membuat keributan. Apa, Anda adalah kerabatnya?" tanya seorang polisi.

__ADS_1


"Iya. Tolong maafkan perilaku suami saya." Flora melirik ke arah Sam. Dan siapa sangka, Sam juga ikut melihat ke arahnya dan terlihat dari mata laki-laki itu, tampak sangat sinis. Namun Flora mengabaikannya, ia fokus untuk menyelesaikan masalah yang diperbuat oleh Sam.


***


"Aku bukan suamimy. Kau tidak seharusnya menyebutku sebagai suamimu." Sam terlihat tidak suka.


Flora menghela nafas. Melemparkan tas jinjingnya ke ranjang. "Jangan berdebat denganku Sam. Aku lelah dengan perilakumu yang merepotkan itu. Kau seharusnya bersyukur karena aku menyelesaikan masalah yang telah kau perbuat."


"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu untukku. Kau selalu seenaknya sendiri, dan tidak pernah mempertimbangkan keinginanku dengan benar. Kau mengabaikan pendapatku."


"Hanya kau saja yang berpikiran seperti itu. Aku selalu membantumu tanpa pamrih. Tapi kau mengganggapku seperti angin lalu. Coba belajar untuk menyingkirkan pemikiran burukmu itu, aku tidak suka dengan sisi burukmu yang satu itu," ujar Flora tenang. Wanita itu menahan emosinya, meski ia juga jengkel dengan perilaku, Sam yang tidak tahu diri.


"Kau menyalahkanku? Rupanya kau tidak pernah bercermin dengan benar. Pikiranmu itulah yang buruk. Kau egois dan seperti wanita penyihir."


"Kata-katamu terdengar seperti anak-anak yang merajuk. Apa aku perlu menepuk-nepuk bokongmu? Kemarilah datang duduk di sini, seperti biasanya." Flora menunjukkan ke arah pahanya. "Biasanya kau merasa nyaman di sini, bukan?"


"Menjijikkan." Sam memasang ekspresi wajah yang terlihatĀ  seperti memandang sesuatu yang menjijikkan.


Flora mengabaikannya, ia tersenyum dan menepuk-nepukkan tangannya ke pahanya. Menyuruh Sam untuk segera tidur di pahanya. "Ayo kemarilah," katanya.


Sam hanya diam berdiri mematung di tempatnya.


"Oh apa kau merasa kurang nyaman. Baiklah, aku tahu betul kesukaanmu itu." Flora kemudian mengambil gunting dan memotong celana jinsnya sepaha. Sekarang terlihat kulit putih mulus itu. "Ini akan terasa nyaman untukmu. Oh atau kau masih merasa kurang? Aku bisa menunjukkan yang lebih untuk membuatmu merasa, lebih nyaman dari ini." Flora kembali bersiap menggunting celananya.


Sam tanpa suara, mendekati Flora. Dia kemudian berdiri tepat di depan wanita itu.


"Oh apa kau menyukainya? Kemarilah!" Flora semakin menepuk-nepuk pahanya.

__ADS_1


Sam merebut gunting di tangan Flora dan langsung menodongkan gunting itu tepat di depan mata wanita itu. Jarak antara gunting di dekat mata Flora sangat dekat. Jika Sam ceroboh sedikit saja, maka gunting itu akan menancap tepat persis di depan matanya.


__ADS_2