Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
36. Kegilaan Madelin


__ADS_3

"Kau bisa membuatku patuh dengan obat-obatan yang kau berikan padaku. Namun ingat ini bahwa kau tidak akan pernah bisa, membuat hatiku sepenuhnya menjadi milikmu." Sam menatap Flora dengan tatapan tajam.


PRANG


Flora melempar gelas yang ia pegang ke arah cermin dan membuat gelas dan cermin tersebut pecah berkeping-keping. Ia merasa kecewa begitu mendengar kata-kata Sam yang membuatnya merasa kecewa.


"Aaaargghhh ... kau milikku! Kau milikku!" erang Flora muak. Berkali-kali Flora berusaha untuk membuat Sam menyukai dirinya namun, ia tidak bisa mendapat yang ia mau.


Sam yang sudah, ia coba untuk tahan. Terus saja masih memikirkan orang lain, yang bukan dirinya. Bahkan laki-laki itu sendiri mencoba untuk kabur darinya. Tentu saja ha itu membuatnya merasa kesal setengah mati.


"Aku benar-benar akan membunuhmu Madelin!" Flora menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin yang ia pecahkan.


Tanpa pikir panjang, Flora yang sedang dikuasai oleh emosi yang membara, berniat untuk mendatangi Madelin dan membuat perhitungan padanya.


***


"Apa sebaiknya aku membawamu ke tempat yang jauh lebih aman? Atau aku menginap di tempatmu saja?" Tiba-tiba saja Jonatan menjadi terlihat sangat khawatir dengan keadaan Madelin.


Madelin menggeleng. "Tidak usah. Hari ini, aku sudah merepotkanmu lagi pula kau masih punya banyak pekerjaan yang menantimu. Selain itu rasanya tidak akan terlalu nyaman, jika kita berdua terlalu terus bersama."


Jonatan sedikit terkejut mendengar kata-kata Madelin. Namun sepertinya ia bisa sedikit, memahami apa yang dimaksud oleh wanita itu. "Baiklah aku mengerti. Hubungi saja aku jika terjadi apa-apa denganmu."


"Baiklah. Sebaiknya kau cepat pulang, kau pasti lelah." Madelin menutup pintunya.

__ADS_1


Jonatan yang masih berdiri di depan pintu hanya tersenyum tipis. Mungkin ini bukan ucapan perpisahan yang hangat, namun setidaknya ia masih merasa sedikit diterima oleh Madelin. Tidak terlalu buruk, ketimbang dulu saat Madelin terus mengindari dirinya. Memang sekarang belum berada di tahap, di mana Madelin menaruh perhatian padanya, namun Jonatan yakin secara perlahan-lahan ia pasti bisa merobohkan tembok tinggi milik Madelin.


"Aku yakin suatu hari nanti, aku bisa melakukannya," ucap Jonatan yang tidak sadar bahwa ia tengah tersenyum seorang diri.


Setelah Jonatan pergi, tidak lama kemudian Flora muncul. Wanita itu terlihat sangat marah. Tanpa perlu berlama-lama Flora turun dari mobilnya, dia segera menggedor pintu ruma Madelin dengan ganas. Bahkan rasanya wanita itu, bisa saja meruntuhkan rumah itu hanya karena pukulan tangannya yang kelewat ganas.


Pintu terbuka, dan terlihat kepala Madelin menyembul keluar dari balik pintu. Sejenak Madelin menatap tamu tak diundangnya tersebut. Lalu tak lama, dia berniat untuk menutup pintu.


"Tunggu bajingan! Aku tidak menyuruhmu untuk menutup pintu!" Flora menahan pintu Madelin. "Jangan berpikir bisa melarikan diri!"


"Kalau kau mau masuk, berperilakulah seperti manusia terlebih dahulu. Baru kubiarkan masuk. Jika perilakumu masih seperit hewan, aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke dalam rumahku," ujar Madelin dingin.


"APA KAU BILANG!" Flora tersinggung mendengar kata-kata Madelin.


"Tidak mau mendengar rupanya ... ya sudah. Datanglah esok hari, ini sudah malam. Kau hanya akan mengganggu tetangga, pulanglah. Jika ingin bertengkar denganku, datanglah esok pagi." Madelin hendak menutup pintunya namun Flora masih menahannya.


Madelin pura-pura tidak mendengar. Ia justru semakin ingin menutup pintunya dengan rapat. Dengan paksa ia menarik ganggang pintunya dan berusaha menutup pintunya agar Flora tidak bisa masuk.


Flora yang tidak pantang menyerah, langsung mendobrak dan masuk ke dalam rumah. Madelin yang lelah dengan perilaku barbar Flora, akhirnya menyerah. Begitu Flora memaksa untuk menerobos masuk ke dalam, ia sengaja membuka pintunya lebar-lebar. Flora yang menerobos masuk langsung terpental ke dalam, akibat pintu yang langsung dibuka lebar-lebar.


"Bajingan kau!" maki Flora kesal.


"Kau yang bajingan. Salah sendiri memaksa masuk ke dalam rumah orang. Aku sudah membuka pintu untukmu, dan perilakumu masih saja seperti hewan. Harusnya kuusir saja." Madelin melipat tangannya di depan dada. "Apa keperluanmu kemari? Jika hanya datang untuk bertengkar, aku tidak akan meladenimu dan akan memanggil polisi."

__ADS_1


"Panggil saja, aku tidak peduli." Flora berjalan mendekat ke arah Madelin. "Aku kemari karena sangat ingin membunuhmu. Kau pasti sudah menggoda Sam, dan membuatnya berpikir untuk lari dariku bukan?" tuduh Flora sembarangan.


Alis Madelin terangkat sebelah. "Jangan bercanda, ini sudah malam," tegur Madelin.


Flora menarik baju Madelin dan memberinya tatapan tajam. "****** yang satu ini, apa harus dipukul dulu agar supanya ia bisa mengerti?"


"Aku benar-benar akan melaporkanmu karena sudah berniat melakukan kekerasan." Madelin masih bersikap acuh tak acuh. "Sam sudah bukan urusanku lagi. Laki-laki gila itu milikmu sepenuhnya. Kenapa aku harus menggodanya? Sungguh tidak berguna. Ambil saja barang bekas itu. Dijual ke pasar loak pun pasti harganya kelewat murah."


Tangan Flora terangkat dan nyaris menampar pipi Madelin. Namun wanita itu dengan cepat menahan tangan Flora. "Sudah kubilang tidak ada kekerasan di sini. Ya ampun hewan sekali kau ini." Madelin mengelus-elus tangan Flora. "Tidak baik marah-marah. Nanti wajahmu cepat keriput. Lagi pula ini sudah malam. Wanit cantik sepertimu yang selalu kelewat memperhatikan penampilan, tentu saja tidak boleh tidur terlambat bukan? Kalau begitu sebaiknya, kau segera cepat pulang sana," usir Madelin. Ia lalu mendorong tubuh Flora semakin menjauh darinya.


Flora berteriak kesetanan. Namun Madelin yang sadar, bahwa perilaku Flora pasti akan mengganggu tetangga maka ia segera menyumpal mulut wanita itu, dengan tisu bekas ingusnya yang masih ia simpan di kantong bajunya.


"Sinting, apa yang kau lakukan?" Flora melepeh tisu bekas tersebut.


"Kalau kau masih tidak bisa diam. Aku tidak ragu akan melakban mulutmu itu." Madelin kemudian menarik tangan Flora. "Sekarang keluar dari rumahku. Besok saja bertengkarnya." Ia lalu menyeret paksa Flora keluar dari rumahnya.


Flora yang tidak mau keluar terus meronta-ronta membuat Madelin, menjadi kesulitan untuk membuat wanita itu keluar dari rumahnya.


"Tolong keluar dari rumahku Flora. Astaga aku bisa gila kalau membiarkanmu berlama-lama di sini," keluh Madelin putus asa.


Madelin kemudian pergi meninggalkan Flora entah ke mana. Dan akhirnya, Flora mengikuti wanita itu.


"Mau melarikan diri kemana kau ******?" Flora yang terus mengikuti Madelin berhenti tepat di depan kamar mandi.

__ADS_1


BYUR


Madelin menyiramkan air hangat ke arah Flora. "Tenang saja, airnya hangat kok. Karena aku kasihan denganmu makanya aku tidak menyirammu dengan air dingin." Madelin lalu keluar dari kamar mandi sembari membawa baskom di tangannya. "Kau tidak mau diusir dengan cara lembut bukan? Maka jangan salahkan aku jika mengusirmu dengan cara seperti ini." Madelin lalu memasukkan kepala Flora ke dalam baskom tersebut.


__ADS_2