Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
45. Pemakaman Tuan Fred


__ADS_3

Nyonya Kim duduk termenung di dekat jendela. Sahabatnya, juga teman terbaiknya Tuan Fred telah tiada.


Meski kabar mengenai kematian Tuan Fred belum tersebar luas. Namun melalui orang kepercayaanya Nyonya Kim, mengetahui bahwa sahabatnya itu, meninggal tidak wajar. Tuan Fred dibunuh oleh orang terdekatnya, dan seperti itulah kira-kira informasi yang bisa ia dapat dari orang kepercayaannya.


Pemakaman akan dilakukan secara tertutup. Berita kematian Tuan Fred juga akan berusaha ditutupi, sehingga membuat orang-orang tidak mengetahui bahwa Tuan Fred telah tiada.


Mendapati berita menyedihkan ini, membuat Nyonya Kim benar-benar merasa sedih. Pantas saja perasaannya menjadi tidak tenang akhir-akhir ini.


"Fred mengapa hal malang seperti ini bisa menimpamu?" gumam Nyonya Kim kecewa. Saat ia tengah meratapi nasib sahabatnya tersebut. Sekilas tiba-tiba saja terlintas di kepalanya, muncul wajah istri sahabat terbaiknya tersebut, Nyonya Lily.


Teringat wajah wanita itu, sesungguhnya mengusik rasa penasaran di hati Nyonya Kim. Ia tidak tahu mengapa, namun jelas sepertinya Nyonya Lily sepertinya memiliki keterkaitan atas kematian Tuan Fred. Muncul perasaan curiga di dalam benaknya terhadap wanita itu.


Apakah wanita itu, telah melakukan sesuatu yang buruk di belakang Fred? pikir Nyonya Kim kalut.


Begitu Nyonya Kim sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa, Flora tiba-tiba saja muncul dari belakang kursi kerjanya dan sengaja mengagetkannya.


"Apa yang sedang Mom pikirkan? Mengapa Mom terlihat sangat serius?" Dengan manisnya Flora menyapa ibu tirinya tersebut.


"Ah kau nakal sekali Flora. Selalu saja suka membuatku merasa kaget. Kau tidak boleh seperti itu, jantungku ini sudah tidak sekuat saat masih muda dulu," tutur Nyonya Kim.


"Hehehe ... maafkan aku Mom. Aku hanya ingin mencairkan suasana saja.Oh ya, Mom aku membawa kue bolu kesukaan Mom." Flora mengecup pipi Nyonya Kim, lalu menunjukkan kue bolu tersebut dengan bangga di depan Nyonya Kim. "Mom makanlah ini, kue ini spesial sudah aku pesan dari toko kue langganan kesukaan Mom."


Nyonya Kim tersenyum. Ia mengambil kue itu lalu meraih garpu dan menyantap kue itu sedikit.


"Bagaimana Mom rasanya?" tanya Flora penasaran.

__ADS_1


"Enak," jawab Nyonya Kim seadanya. Meski rasa manis, menyapa permukaan lidahnya. Rasa manis itu nyatanya sama sekali tidak berpengaruh baginya. Hatinya yang terlanjur sedih, membuatnya tidak bisa merasakan kenikmatan dari kue tersebut.


"Sepertinya ini bukan hal yang baik. Mom tidak seperti ini, ketika menyantap kue kesukaan Mom sendiri." Flora duduk di sebelah Nyonya Kim. "Apa terjadi sesuatu yang membuat Mom merasa tidak nyaman? Jika ada tolong katakan saja, aku akan mendengarkannya supaya hati Mom terasa lega," ujar Flora menawarkan bantuan pada Nyonya Kim.


Nyonya Kim menghela nafas. Ia bukannya tidak ingin bercerita namun, ia tidak terlalu ingin saat ini Flora, terlibat dalam urusan pribadinya. Rasanya ia masih terlalu sensitif, untuk memberitahu orang lain.


"Tidak apa-apa. Mungkin hanya karena sedikit masalah di kantor. Bisa jadi hal itu membuat hati mom terasa tidak nyaman." Nyonya Kim memamerkan senyumannya.


Flora diam namun matanya menatap lekat Nyonya Kim. "Mungkin ... mungkin saja Mom, tidak bisa memberitahukannya padaku. Namun tetap saja, aku akan terus berada di samping Mom, untuk memberi Mom kekuatan."


"Terima kasih, kau memang anak baik Flora," ucap Nyonya Kim sembari mengelus lembuk puncak kepala Flora.


Flora tersenyum, dia lalu memeluk tubuh Nyonya Kim erat dari samping. "Tentu saja. Mom adalah prioritasku, karena itu semua kesulitan Mom juga menjadi kesulitanku."


***


Nyoya Kim berdiri menatap foto Tuan Fred yang diletakkan di antara karangan bunga. Tidak terasa pemakaman Tuan Fred, sebentar lagi akan selesai.


"Aku masih tidak percaya bahwa, kau pergi begitu saja dari dunia ini," gumam Nyonya Kim dengan mata masih memandang ke arah foto sahabat terbaiknya tersebut.


"Permisi apakah Nyonya ingin minum terlebih dahulu? Saya pikir, Anda pasti kelelahan karena sudah mengikuti acara pemakaman ini dari awal sampai akhir. Saya mohon, tolong beristirahat terlebih dahulu, wajah Anda pucat. Saya tidak ingin terjadi Nyonya kelelahan. Saya akan menyiapkan teh," ujar seorang wanita muda yang merupakan pelayan di kediaman Tuan Fred menawarkan Nyonya Kim untuk istirahat terlebih dahulu.


Nyoya Kim tersenyum. Sepertinya ia memang butuh istirahat. Tubuhya sudah mulai kelelahan tentu saja, ia tidak boleh merepotkan orang lain di saat seperti ini.


"Baiklah. Tolong antarkan aku," ucap Nyonya Kim.

__ADS_1


"Mari Nyonya. Saya akan mengantarkan Anda ke rumah kaca. Apa Anda tidak akan keberatan jika saya mengantarkan Anda ke sana. Saya pikir, saat ini Anda sedang membutuhkan rasa tenang, jadi saya berpikir untuk mengantarkan Anda ke sana agar Anda dapat menenangkan diri, meminum teh sembari mengamati beberapa bunga cantik yang bermekaran di sana," ujar pelayan itu sopan.


"Aku sangat menyukai idemu. Sepertinya kau sangat memahami karakter orang lain dengan baik," puji Nyonya Kim tulus. "Siapa namamu?"


Pelayan wanita itu sedikit membungkuk dan menunjukkan rasa hormatnya pada Nyonya Kim. "Suatu kehormatan mendapat pujian seperti itu dari Anda. Perkenalkan nama saya Jane, saya adalah kepala pelayan di rumah tangga ini." Wanita itu memperkenalkan dirinya. "Mari Nyonya izinkan saya untuk mengantarkan Anda ke rumah kaca."


Nyonya Kim tersenyum lalu mengikuti wanita bernama Jane tersebut ke rumah kaca.


***


Di rumah kaca yang dipenuhi dengan keindahan bunga tersebut. Nyonya Kim tengah menikmati beberapa bunga yang bermekaran di musim hujan. Terutama bunga matahari yang mekar dengan cantiknya di salah satu sudut rumah kaca itu.


Bunga matahari itu tampak sangat indah juga cantik. Keberadaannya terasa begitu hangat di tengah musim hujan. Dan juga mengingatkan Nyonya Kim pada sosok Tuan Fred, yang sangat begitu menyukai bunga tersebut.


"Sepertinya Anda menyukai bunga matahari. Anda terus memandanginya dengan cukup lama. Bunga yang melambangkan keceriaan juga kehangatan itu, justru mekar di musim hujan seperti ini, musim yang dingin untuk ukuran sebuah bunga yang melambangkan kehangatan." Seseorang berjalan mendekat ke arah Nyonya Kim.


Nyonya Kim berbalik mencari sumber suara tersebut. Dan mendapati seorang pria yang tampak berusia hampir seperti dirinya. Pria itu memakai jas berwarna biru malam.


"Siapa Anda?"  tanya Nyonya Kim.


"Sepertinya Anda berusia tidak jauh dari saya. Sebelum melanjutkan percakapan, apa Anda tidak keberatan jika kita saling berbicara dengan tidak formal?" Pria itu meminta persetujuan terlebih dahulu dari Nyonya Kim.


Nyonya Kim mengangguk dengan maksud mengiyakan permintaan pria tersebut.


Pria itu membungkukkan sedikit tubuhnya dengan maksud memberi salam pada Nyonya Kim. "Perkenalkan namaku Mark," katanya memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Nyonya Kim mengerutkan keningnya sepertinya ia, merasa pernah melihat wajah pria ini entah di mana sebelumnya.


__ADS_2