
Nyonya Lily benar-benar merupakan definisi dari, wanita tua yang suka bertingkah. Madelin benar-benar dibuat harus bersabar setengah mati, wanita itu sangat menyebalkan.
"Kau seharusnya benar-benar sadar diri dengan keadaanmu sekarang ini." Nyonya Lily menghirup teh yang dibuat oleh Madelin. "Bahkan teh ini rasanya busuk. Apa kau sengaja, menghidangkan teh busuk ini untukku?" Nyonya Lily menumpahkan teh tersebut dengan sengaja. "Kau ingin aku keracunan karena teh kadaluwarsa ini?"
Kesabaran Madelin, benar-benar diuji sekarang. "Tidak Ibu. Teh itu masih baru. Mungkin saja, Ibu sedang tidak berselera minum teh, sehingga rasa tehnya tidak terlalu enak di lidah Ibu."
"Oh begitu. Sepertinya memang benar. Teh orang miskin, selalu saja terasa seperti teh basi di lidahku."
Madelin berusaha mengabaikan kata-kata kasar itu, ia mencoba tetap tenang. Ia lalu mengambil lap untuk membersihkan, tumpahan yang dibuat dengan sengaja oleh Nyonya Lily.
Ketika Madelin mengambil lap, lalu mengelap bekas tumpahan yang disebabkan oleh Nyonya Lily. Madelin bisa merasakan tangannya diinjak dengan sengaja oleh wanita tua tersebut.
"Ibu tolong jangan lakukan ini." Madelin menarik tangannya, ia berusaha menahan rasa sakit di tangannya.
Nyonya Lily tertawa. "Maaf-maaf, habisnya itu salah dirimu sendiri karena berada di bawahku."
Madelin hanya diam. Dia lalu melanjutkan kegiatan mengelap bekas teh tumpahan yang disebabkan oleh Nyonya Lily.
***
"Di mana cincinku? Tadi aku meletakkannya di sini." Nyonya Lily terlihat sibuk seperti mencari-cari barangnya yang hilang.
Madelin mendekat pada ibu mertuanya itu. Firasatnya mengatakan bahwa, Nyonya Lily pasti tengah berusaha merepotkannya lagi. "Ada apa Ibu, apa kau kehilangan sesuatu?" tanya Madelin berusaha sabar.
"Aku kehilangan cincinku. Apa kau melihatnya? Ah ... atau jangan-jangan kau yang mengambilnya, saat aku pergi ke kamar mandi tadi?" tuduh Nyonya Lily sembarangan.
"Tentu saja tidak Ibu. Bukankah saat Ibu pergi ke toilet tadi. Saya sedang berada di dapur. Bukankah Ibu sendiri mengetahui hal tersebut," jawab Madelin tenang.
Nyonya Lily menatap tajam Madelin. "Itu bukan urusanku. Aku yakin, bahwa kau yang pasti mengambilnya. Cincin itu memiliki harga yang sangat mahal. Dengan keadaan kondisi keuanganmu saat ini, aku yakin bahwa kau pasti melakukannya."
__ADS_1
"Ibu aku tidak mengambil cincinmu. Tolong periksa kembali barangmu dengan benar," pinta Madelin sopan.
Nyonya Madelin mendorong bahu Madelin kasar. "Tidak kau pasti yang mencurinya! Aku yakin, kau menyembunyikannya di suatu tempat. Cepat beritahu aku! Aku akan memberitahukan Sam mengenai kejadian ini. Sungguh malang sekali, Sam memiliki istri pencuri sepertimu," maki Nyonya Lily.
Urat kesabaran Madelin hampir putus. Menghadapi penyihir tua yang menyerupai, pipiyot ini benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.
"Baiklah Ibu. Jika Ibu terus memaksan, silakan Ibu periksa saja rumah ini." Madelin lelah mengahadapi tuduhan Nyonya Lily. Baginya wanita itu terus saja merepotkannya.
Nyonya Lily tersenyum. "Bawa aku ke kamarmu. Aku yakin kau pasti menyembunyikannya di sana."
Madelin tersenyum, ia lalu mengiyakan permintaan Nyonya Lily. "Baiklah, aku akan membawa Ibu ke kamarku."
Madelin lalu mengantarkan Nyonya Lily ke kamarnya. Dan begitu sampai di kamarnya, Nyonya Lily dengan beringas dan tanpa rasa sopan santun, menggeledah semua barang di kamarnya. Bahkan kamarnya nyaris tidak berbentuk lagi ulah wanita tua tersebut.
"****** sialan! Bukankah aku sudah sengaja menyembunyikan cincinku di sini. Apa dia benar-benar mengambil cincin itu?" ucap Nyonya Lily dalam hatinya.
"Ada apa Ibu, apa kau masih belum mendapatkan cincinmu?" tanya Madelin halus.
"Sepertinya Ibu tidak percaya. Bahkan Ibu sampai menggeledah tubuhku juga. Ini agak sedikit menggelikan dan hampir jadi pelecehan rasanya," ucap Madelin.
Tangan Nyonya Lily nyaris melayang melesat ke pipi Madelin. Untungnya Madelin pura-pura menunduk dan seperti menemukan sesuatu di bawah kaki Nyonya Lily.
***
"Kau membuat kekacauan semalam." Flora memandang Jonatan dengan wajah kesal. "Rasanya aku sangat ingin menjatuhkanmu sekarang." Wanita itu terlihat muak dengan Jonatan.
Jonatan tertawa, dia menarik cangkir kopinya dan memandang remeh Flora. "Lakukan saja. Kalau kau tidak sayang dengan nyawamu dan juga gigolomu," ejek Jonatan.
Flora menggigit bibirnya menahan amarahnya. "Mengenai kerjasama kita. Apa itu masih berlaku?"
__ADS_1
Alis Jonatan terangkat sebelah. "Apa kau sudah melakukan sesuatu yang barhasil memisahkan, Sam dan Madelin?"
Seulas senyum muncul di wajah Madelin. "Tentu saja. Sebentar lagi, Sam akan menjauh dari Madelin dan di saat itu tiba. Aku yakin, Madelin akan berada di tanganmu," katanya sombong.
"Percaya diri sekali kau ini. Tapi dari gaya bicaramu, alih-alih memperlakukan orang yang kau sukai sebagai pasangan, kau lebih terlihat memperlakukan orang yang kau sukai seperti peliharaan. Jangan samakan caramu yang buruk itu denganku!" tegas Jonatan dengan wajah datar.
Flora merinding mendengar suara Jonatan yang tiba-tiba berubah menjadi tegas. Orang gila di depannya ini, memang selalu lihai mempermainkan emosi orang lain.
"Terserah. Itu bukan urusanku." Flora mengibaskan tangannya di depan wajah. "Setelah aku mendapatkan Jonatan dan kau mendapatkan Madelin. Kita akan berhenti untuk berhubungan seperti ini. Dan akan saling tidak pernah satu sama lain ketika bertemu."
"Itu urusan mudah. Yang aku butuhkan adalah hasil di sini," jawab Jonatan dingin. Ia kembali menghirup kopinya. "Mengenai insiden semalam, kau memang sengaja ingin mempermalukan Madelin?"
"Maksudmu?"
"Jangan pura-pura menurunkan kadar kepintaranmu. Aku tahu dengan jelas perbuatanmu seperti apa," ujar Jonatan tenang.
"Kau ingin membahas mengenai insiden gaun semalam? Bukankah, wanita itu baik-baik saja? Justru aku yang mendapat malu dari insiden semalam, apa kau ingin membahas mengenai kejadian tersebut!" Flora tampak kehilangan ketenangannya.
"Ck. Tolong tenang sedikit, apa kau tidak sadar bahwa dirimu sedang berada di kerumunan banyak orang," tegur Jonatan.
"Cih. Kau yang memulai lebih dulu."
"Aku hanya sekadar ingin memberimu peringatan. Aku tahu betul, bahwa kau sebenarnya adalah orang yang memilihkan gaun Madelin. Aku tahu betul niat busukmu itu. Bukankah sebelumnya, aku sudah memperingatkan padamu, jika kau menyentuh Madelin sedikit saja, aku tidak ragu akan melenyapkan Sam dan juga dirimu? Kau harusnya ingat itu." Sam mengatakan itu dengan tenang, namun jelas dari kata-katanya bahwa ia tidak sedikit pun bermain-main dengan ucapannya itu.
"Kau terlalu sensitif. Kau juga harusnya ingat, bagaimana tingkah lakumu terlalu menonjol saat di pesta tadi malam. Kau juga harusnya sadar diri, dan terlihat jelas Madelin tentu tidak akan menyukaimu jika kau terlihat, terlalu terlibat."
"Terima kasih karena sudah mengingatkan. Tapi lain kali, aku tidak akan membiarkan, orang sepertimu mengkritikku."
"Kau tersinggung?"
__ADS_1
Jonatan hanya menarik seulas senyum aneh di wajahnya.