Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
34. Kejatuhan Sam


__ADS_3

Flora menutup pintu kamar Sam. Ia lalu pergi meninggalkan, laki-laki kesayangannya itu tertidur dengan lelap. Mengira bahwa Sam sudah tertidur lelap, membuat Flora merasa lengah.


Tanpa sepengetahuan Flora, rupanya Sam sendiri berpura-pura tidur. Setelah merasa bahwa Flora sudah tidak, berada di dekatnya, maka Sam akhirnya diam-diam mengendap-endap keluar dari kamarnya. Ngomong-ngomong, sebelum ia berencana untu kabur dari kamarnya. Ia sudah menyiapkan lebih dahulu jalan keluarnya.


***


Sam terkejuut bola matanya bahkan nyaris keluar dari tempatnya. Laki-laki itu terkejut mendapati sosok, Madelin melintas di depan matanya. Maka tanpa rasa keraguan sedikit pun akhirnya, Sam segera menanarik tangan perempuan itu tanpa pikir panjang.


Madelin terkejut, namun ia terlihat tidak berusaha menghindar.


"Kemana saja kau selama ini? Aku mengkhawatirkan dirimu." Sam memeluk Madelin erat. Madelin sama sekali tidak menolak pelukannya, dan itu membuat Sam semakin yakin baha masih ada kesempatan untuk dirinya.


"Lepas!" ujar Madelin dengan suara dingin.


Sam mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya tidak mengerti dengan situasinya sekarang ini.


"Aku benci dipeluk oleh laki-laki bajingan sepertimu. Jadi lepas!" Madelin mendorong Sam. Madelin menatap Sam dengan tajam. Seakan-akan tatapannya itu bisa saja menguliti laki-laki itu hidup-hidup.


"Apa yang terjadi padamu, aku tidak mengerti. Bukankah aku masih suamimu?" Sam berusaha meraih tangan Madelin.


Namun Madelin langsung menepisnya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sam. Lalu berkata seperti ini di depan, Sam, "bau sekali, sepertinya aku harus membeli sabun dengan aroma paling kuat untuk menghilangkan bau ini, juga kotoran yang menempel di sini," katanya dingin.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Madelin, membuat Sam tercekat. Ia kaget setengah mati mendengar kata-kata Madelin barusan rasanya ia tidak percaya, bagaimana mungkin Madelin wanita yang ia kenal. Selalu memiliki tutur kata lembut dan sopan bisa, berkata kasar seperti ini di depannya.


"Madelin ... aku tidak ingat kau pernah bisa bicara seperti ini," ucap Sam dengan suara pelan.


Senyum Madelin mengembang. "Itu bukti bahwa kau tidak bisa mengenaliku dengan baik. Kau sebaiknya sadar dengan dirimu sendiri. Dengar Sam, aku benar-benar merugi setengah mati karena sudah menikahi laki-laki sampah sepertimu. Aku tidak mendapat apa-apa selain kebohongan palsu dan juga rasa kekecewaan berlebih di sini."


"Aku tahu bahwa kau pasti kecewa. Namun tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan ini semua padamu. Kau ... kau bahkan astaga ... sebelum kita membahas semua ini lebih jauh. Aku yakin bahwa kau masih syok atas kejadian yang menimpamu saat itu, kau pasti menderita." Sam kembali berusaha mendekati Madelin.


Madelin tersenyum pahit. Dia lalu tertawa nyaring sekali, sampai-sampai rasanya ia sendiri mengira bahwa dirinya sudah gila. "Bicara apa kau bajingan? Kau dan wanita-wanita sinting di sekitarmu telah berhasil mencelakai diriku hidup-hidup. Anggap saja wanita yang saat ini berdiri, di depanmu bukanlah Madelin wanita yang kau kenal sebagai istrimu. Aku adalah orang lain dalam hidupmu sekarang. Sejak kejadian di malam itu, Madelin yang kau kenal telah tiada. Sudah tidak ada wanita seperti itu lagi hidup di dunia ini." Madelin memandang Sam dengan pandangan merendahkan seolah-olah dirinya tengah memandang sampah, paling busuk di dunia ini.


"Madelin ... hentikan ini. Aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua salah paham di sini." Sam terus memohon-mohon pada Madelin. Bahkan laki-laki itu sampai memegang kakinya dan berlutut di depan Madelin.


Madelin benar-benar tidak habis pikir, melihat Sam yang biasanya dikenal tinggi hati. Kini sekarang berlutut seolah-olah tidak memiliki harga diri.


"Apa sekarang aku harus menciumi kakimu agar kau, mau memaafkan diriku?" Sam masih memelas berusaha meminta belas kasih dari Madelin.


Jika saja Madelin benar-benar tidak memiliki belas kasih, dirinya sangat ingin meludahi Sam dan menginjak laki-laki itu hidup-hidup.


"Astaga kau benar-benar tidak punya harga diri," gumam Madelin kesal. Ia lalu mengambil ponsel pintarnya dan menghubungi Jonatan. Satu-satunya cara untuk bisa mengusir Sam, adalah dengan memanggil Jonatan. Laki-laki gila tentu saja harus dihadapi oleh laki-laki gila lainnya.


***

__ADS_1


Tuan Fred, terkejut setengah mati mendapati beberapa orang muncul mencegatnya. Beberapa orang itu langsung menghajarnya habis-habisan. Tuan Fred tidak bisa melawan orang-orang itu sepenuhnya. Saat ini tubuhnya masih lemah, sehingga ia kalah dalam pertarungan tersebut.


Dengan tubuh berlumuran darah. Dia berusaha meraih ponsel pintarnya dan hendak menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan.


***


Dulu Nyonya Lily sekilas ingat, dirinya pernah membakar, meracuni seseorang untuk diakhiri hidupnya. Namun kali ini, yang inginkan adalah cara yang lain untuk mengakhiri hidup seseorang.


"Kau tahu dulu aku pernah membunuh seorang wanita ... dan mirisnya sampai akhir hayatnya wanita itu tidak pernah menyadari bahwa aku adalah pembunuhnya," cerita Nyonya Lily pada Rave.


Rave hanya diam tidak menanggapi, Nyonya Lily. Pria muda itu, hanya ditugaskan oleh Jane untuk membantu, Nyonya Lily kabur dari persembunyiannya. Rave sendiri, sejujurnya sangat tidak ingin terlibat namun apa daya, ketika Jane menjanjikan dirinya sejumlah uang yang sangat besar membuatnya tidak bisa menolak. Ditambah pula, ibunya sedang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan mau tidak mau ia harus melakukan ini.


Nyonya Lily menatap Rave cukup lama. Sampai membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.


"Mengapa Anda menatap saya? Apakah ada sesuatu yang aneh di wajah saya?" tanya Rave dengan suara dingin. Rave benar-benar tidak ingin terlibat dengan wanita tua ini. Ia tahu, ia bahkan sekarang sudah  berbuat ceroboh.


"Namamu Rave bukan? Kau sudah bekerja untuk suamiku selama 2 tahun sebagai supir. Kau berhenti kuliah dan memilih bekerja untuk membayar uang pengobatan ibumu yan sedang sakit keras. Biar kutebak kau rela melakukan ini untuk ibumu bukan? Jane pasti menjanjikan jumlah yang besar untukmu," ucap Nyonya Lily.


***


Jonatan berdiri tepat di depan Sam dan wajahnya terlihat dipenuhi dengan kemarahan. Madelin tadi menghubunginya, dan mengatakan padanya, bahwa Sam sudah menganggunya. Tentu saja tanpa perlu berlama-lama, Jonatan langsung pergi untuk menemui Madelin.

__ADS_1


"KEPARAT KAU!" Jonatan tanpa aba-aba langsung menonjok wajah Sam.


Sam terjatuh, namun dengan cepat ia langsung bangun. "Pukulan lembek seperti itu, ingin kau banggakan? Kau terlalu lemah, kau hanya terlalu merasa bangga pada dirimu," ejek Sam. Pria itu menunjuk ke arah pipinya sendiri. "Aku yakin kau masih belum puas, karena itu pukul aku lebih dari ini," ujarnya.


__ADS_2