
"Sepertinya Ibu tidak percaya. Bahkan Ibu sampai menggeledah tubuhku juga. Ini agak sedikit menggelikan dan hampir jadi pelecehan rasanya," ucap Madelin.
Tangan Nyonya Lily nyaris melayang melesat ke pipi Madelin. Untungnya Madelin pura-pura menunduk dan seperti menemukan sesuatu di bawah kaki Nyonya Lily.
"Bukankah ini cincinmu milikmu Nyonya Lily?" Madelin menunjukkan sebuah cincin emas jatuh tepat di bawa kaki Nyonya Lily.
"Baga ... bagaimana, cincinku bisa berada di situ?" Nyonya Lily terkejut. "Kau pasti yang melakukannya dengan sengaja!"
Madelin menggeleng. "Tadi aku melihat cincin itu jatuh dari kantong rokmu. Sepertinya Ibu lupa, menaruh cincin itu dan tidak sadar memasukannya ke dalam kantong rokmu. Saya, rasa Ibu sudah tidak perlu merasa khawatir lagi sekarang." Madelin tersenyum manis. "Mengenai kejadian ini, sepertinya Ibu harus banyak istirahat karena Ibu terlihat lelah. Itu terbukti dari, bagaimana Ibu bisa lupa menaruh cincin kesayangan Ibu. Dan tidak sengaja menuduh orang lain karena kelelahan." Madelin sengaja menekan beberapa kata-katanya.
Nyonya Lily menggigit bibirnya. Ia gemas namun, jika ia berlama-lama di sini, ia yakin hanya akan jadi bulan-bulanan Madelin. Maka tanpa berpamitan dengan Madelin, wanita tua itu pergi begitu saja.
"Ibu tunggu sebentar!" cegat Madelin.
Nyonya Lily menghempaskan tangan Madelin. "Apa?!" tanyanya ketus.
"Ibu pergi terburu-buru sampai lupa menaikkan risleting rok Ibu. Biar saya perbaiki sebentar, pemisi." Madelin lalu menaikkan risleting rok, Nyonya Lily yang terbuka sebelumnya.
Wajah Nyonya Lily merah padam. Ia merasa luar biasa malu. Setelah merasa Madelin, memperbaiki risleting rok miliknya. Ia mendorong tubuh Madelin kasar, lalu melarikan diri begitu saja.
Sepeninggalan Nyonya Lily, Madelin benar-benar merasa puas dan lucu. Nyonya Lily terlihat sangat malu. Madelin tidak bisa menahan tawanya dan tertawa puas, setelah berhasil mengerjai wanita tersebut.
***
"Aku tidak pernah ingat memberimu alamat rumahku," ujar Madelin dingin.
Flora tersenyum lebar. Ia pura-pura akrab dengan Madelin, berusaha menggandeng tangan wanita itu. "Aku mencari tahu sendiri alamatmu kok," katanya sok akrab.
Madelin mendesah. "Pasti Sam."
__ADS_1
"Itu benar." Dan jawaban yang keluar dari mulut, Flora benar-benar enteng dan diucapkan seolah-olah tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tolong ... satu hari ini ia sudah menghadapi orang-orang aneh yang menguji imannya. Sekarang, Flora muncul di depan pintu rumahnya, dan ia tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh wanita tersebut.
"Aku ingin berkunjung ke rumahmu. Kebetulan aku juga ingin mengajakmu jalan-jalan bersamaku. Kau tidak keberatan?" Flora memohon dengan manis di depan Madelin.
Madelin diam. Namun dia tidak lama, dia lalu mengiyakan permintaan dari wanita cantik tersebut.
"Masuklah ke dalam dulu," ujar Madelin mempersilakan Flora masuk ke dalam rumahnya.
"Apa Sam, berada di rumah?" tanya Flora tiba-tiba.
"Tidak. Dia sedang pergi bekerja. Apa kau memiliki kepentingan dengannya, seperti menemanimu berbelanja seperti saat itu?" sindir Madelin halus.
"Hohoho ... tidak. Aku hanya sekadar bertanya saja. Sepertinya kejadian saat itu, cukup membuatmu merasa tersinggung. Aku minta maaf jika kelakuanku saat itu, membuatmu merasa tidak nyaman. Tentu saja, tidak ada wanita yang akan merasa nyaman saat suaminya berbelanja dan memilihkan barang untuk wanita lain, yang bukan istrinya sendiri," ucap Flora tanpa rasa malu. Padahal jelas saat itu, sudah tertangkap basah oleh Madelin.
Flora tercekat mendengar kata-kata Flora.
"Oh, maaf. Sepertinya kata-kataku barusan membuatmu merasa kaget. Aku akan mengantarkan minuman untukmu sebaiknya kau duduk saja dulu di sofa sana." Madelin melepaskan tangan Flora yang terus menggandengnya.
Flora menurut dan ia segera pergi ke sofa dan duduk di sana, menunggu Madelin.
***
Madelin mengantarkan minuman, yang telah ia buat pada Flora.
"Aku yakin minuman ini, pasti akan terasa enak karena dibuat oleh wanita secantik dirimu." Flora sengaja berbasa-basi. Ia sebenarnya, takut jika Madelin mencampurkan sesuatu dalam minumannya.
"Begitukah. Aku merasa senang mendengar pujianmu. Jika begitu tolong cicipi minuman tersebut. Aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati lho."
__ADS_1
Flora meneguk liurnya sendiri. Ia takut, namun Madelin tampak jelas menunggu dirinya meminum minuman yang telah ia buat.
Rasa manis menyentuh papila-papila Flora dan ada rasa manis yang normal seperti nanas. Tunggu nanas? Flora buru-buru memuntahkan minumannya. Ia memiliki alergi nanas. Setiap kali dirinya memakan atau meminum sesuatu yang berhubungan dengan nanas ia selalu saja berakhir dengan alergi.
"Astaga kau baik-baik saja?" Madelin terlihat panik dan mencoba membantu Flora.
Flora terbatuk-batuk. Ia meminta air pada Madelin. Madelin kemudian segera pergi ke dapur untuk mengambilkan air putih untuk Flora.
Setelah mengambil air putih tersebut, Flora segera menenggak habis air putih tersebut hingga tak bersisa. "Madelin maaf ... apa kau tidak tahu bahwa aku memiliki alergi nanas?"
"Nanas? Oh ... tapi minuman itu sama sekali tidak memiliki campuran nanas sama sekali. Tapi, mengenai alergimu aku benar-benar minta maaf, aku tidak mengetahuinya sama sekali," sesal Madelin.
Alis Flora terangkat sebelah. "Tidak ada campuran nanas? Tapi bukankah jelas minuman ini memiliki campuran buah nanas. Coba kau minum!" Flora marah dan ia terlihat kehilangan kesabarannya.
"Oh aku minta maaf sebelumnya. Tapi coba kau hirup aroma minuman dan rasakan sekali lagi. Minuman itu memang seringkali, membuat orang salah paham bahwa memiliki campuran nanas sekilas. Namun jika benar-benar dirasakan itu bukanlah bau nanas atau rasa nanas, melainkan anggur." Madelin menyodorkan gelas itu pada Flora.
Flora tidak percaya. Namun melihat Madelin, sangat ingin melihat dirinya mencoba sekali lagi. Maka mau tidak mau, Flora dengan berat hati melakukannya. Ia bisa melihat dengan jelas, bagaimana Madelin meremehkannya lewat pandangannya yang tajam. Wanita itu agak sedikit mengerikan saat hanya lewat tatapan matanya saja.
GLUP
Flora bisa merasakan dengan jelas kali ini, bukanlah nanas melainkan anggur. Dan memang benar saja, bahwa jika sekilas dirasakan minuman itu, mungkin mengandung buah nanas, namun jika sudah diminum dan dirasakan justru aroma anggurlah yang paling kuat.
"Bagaimana? Apa sekarang kau percaya?" tanya Madelin penasaran.
Flora mengangguk lemah. "Kau benar. Tapi darimana kau mendapatkan resep minuman seperti ini? Aku tidak pernah sebelumnya, meminum minuman seperti ini."
"Dulu aku sempat bekerja sebagai bartender. Dan minuman yang aku buat, itu merupakan resep khusus yang disukai oleh banyak pelangganku dulu. Jika kau memang berniat untuk mencoba minuman yang lain, aku bisa membuatkannya untukmu," tawar Madelin ramah.
Flora menggeleng. "Lain kali mungkin aku bisa mencobanya." Namun Flora paham keramahan yang ditawarkan oleh Madelin mengandung kata-kata ancaman di dalamnya. Kata-katanya itu bisa saja berarti seperti ini, aku bisa membuatkanmu banyak minuman yang membuatmu muntah sampai mengeluarkan isi perutmu. Setidaknya itu adalah kata-kata yang bisa ia terjemahkan sendiri.
__ADS_1