
Micel sendiri hanya menatap punggung Madelin yang semakin menjauh darinya. Ia sendiri sejujurnya, masih bertanya-tanya di dalam pikirannya mengenai apa yang terjadi pada diri Madelin. Wanita itu sangat aneh baginya.
Ia akhirnya kemudian membiarkan Madelin pergi begitu saja. Sementara Micel ingin mengecek beberapa karyawan lainnya untuk persiapan kerja.
***
"Pagi," sapa Nike ramah pada Madelin.
Madelin hanya tersenyum lalu merapikan sedikit pakaiannya. Sebentar lagi sesi pemotretan akan dimulai, keduanya saling bersiap-siap.
"Kau terlihat sedikit kelelahan, apa kau kurang tidur semalam?" tanya Nike. "Mau minum kopi nanti?" tawarnya.
"Mungkin ... ah bagaimana kalau kita minum di kedai kopi seberang?"
"Ya kita bisa pergi ke sana nanti setelah pekerjaan kita selesai." Nike mengacungkan jempolnya di depan Madelin. Tentu saja, kau kan sudah puas bermain-main dengan Flora semalaman, pikirnya.
"Baiklah karena kau yang sudah menawarkannya lebih dahulu, maka jelas kau yang harus mentraktirku," ujar Madelin santai.
***
Kening Jonatan berkerut mendapati Madelin, tampak terlihat senang mengobrol dengan Nike. Seketika hatinya yang semula sedang berbunga-bunga karena ingin menemui Madelin, tiba-tiba saja anjlok seketika.
"Grrgghhh mau apa laki-laki sialan itu berada di dekat Madelin?" Maka akhirnya Jonatan tanpa pikir panjang langsung menerobos masuk ke dalam kafe.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tiba-tiba saja Jonatan menarik baju Nike.
"Tunggu-tunggu sebentar apa yang terjadi padamu sobat?" Nike sama sekali, tidak mengerti mengapa Jonatan tiba-tiba saja hendak memukuli dirinya. Padahal jelas bahwa ia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Aneh sekali laki-laki gila satu ini.
"Kau seharusnya sudah mengetahuinya sejak awal. Jangan berpura-pura bodoh," sindir Jonatan.
Nike berusaha melepaskan tangan Jonatan dari bajunya. "Aku benar-benar tidak mengetahui isi kepalamu itu. Sungguh Jonatan jangan menjadi seperti ini," katanya malas. "Lagi pula ini tempat umum, kenapa kau suka sekali membuat keributan di tengah orang banyak?"
Madelin tiba-tiba saja berdiri, ia menatap Jonatan cukup lama. Dan lewat tatapannya itu jelas, bahwa ia sedang berkomunikasi dengan pria itu.
Maka Jonatan dengan patuhnya mengikuti Madelin. Madelin sendiri telah berjalan keluar dari kafe lebih dahulu.
Setelah keduanya keluar dari kafe, Madelin melipat tangannya di depan dada lalu menatap tajam Jonatan. "Apa yang membuatmu tiba-tiba saja bertingkah seperti itu di depan banyak orang? Apa kau tidak punya sedikit saja rasa malu, hah?" Madelin sendiri benar-benar tidak habis pikir, dengan sisi posesif yang dimiliki Jonatan. Rasanya laki-laki itu terlalu berlebihan dalam memahami rasa sukanya pada perempuan.
"Jonatan aku bertanya padamu, jadi tolong dijawab. Jika kau tidak mau menjawab maka, aku lebih memilih untuk tidak berhubungan denganmu lagi. Ingat aku ini, tipe orang yang selalu memegang kata-kataku!" tegas Madelin. Wanita itu terlihat sama sekali tidak ragu, jika Jonatan masih memilih untuk diam tidak menjawab maka ia tidak ragu akan meninggalkan laki-laki itu begitu saja.
Tidak tahan dengan ancaman yang diberikan oleh Madelin. Maka akhirnya, Jonatan memilih untuk menahan tangan Madelin. "Baiklah. Aku sejujurnya merasa cemburu ketika melihatmu bersama dengan Nike, itu saja tidak ada yang lain," jawabnya.
Alis Madelin naik sebelah, dan raut wajahnya terlihat ragu. "Lagi-lagi kau seperti ini. Kau selalu saja mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Sepertinya kau ini, memang diciptakan untuk seorang diri, bukan untuk berpasangan," ujar Madelin tidak habis pikir dengan perilaku Jonatan.
Jonatan menggigit bibirnya sendiri. "Madelin aku mohon, tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal seperti ini," ucapnya.
"Kata-katamu itu kelewat klasik Jonatan. Aku bukan orang yang mengenalimu hanya dalam waktu sehari dua hari saja. Aku mengenalmu selama bertahun-tahun. Tabiatmu itu selalu sama. Dan jujur saja itu seringkali membuatku merasa resah ketika berada di dekatmu." Madelin menuturkan isi hatinya di depan Jonatan. "Jika aku merasa lelah denganmu. Mengapa kau tidak pernah merasa lelah, dengan semua perbuatanmu itu? Aku heran dan bertanya-tanya dalam hatiku apa kau sendiri, tidak pernah merasa bahwa semua yang kau lakukan itu akan berakhir sia-sia nantinya?"
__ADS_1
Jonatan tidak menjawab. Ia langsung berlutut di depan Madelin. "Madelin aku mohon tolong ... tolong beri aku kesempatan kali ini saja. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi hal seperti ini lagi." Jonatan memohon-mohon di depan Madelin.
Madelin membuang nafasnya berat. Ia sudah merasa lelah sekali dengan perilaku Jonatan. Bahkan kali ini, ia sudah membuat keputusan untuk tidak akan pernah berhubungan lagi dengan pria tersebut.
Namun begitu dirinya hendak memutuskan hal tersebut. Tiba-tiba saja, Nike muncul dan dengan santainya ia berbicara seperti ini di depan keduanya.
"Aku pikir ... akan menjadi kesalahan untukmu Madelin jika kau melepaskannya begitu saja. Jika kau ingin melihat sisi baiknya dari bajingan ini. Kau benar-benar mendapat cinta yang tulus. Namun jika kau hanya melihat sisi buruknya, maka jawabannya tersebut sudah jelas. Aku pikir tidak akan terlalu buruk, jika seandainya kau memaafkan dirinya. Namun jelas kau juga harus memberi batasan yang jelas padanya, untuk menunjukkan ketegasanmu padanya," saran Nike panjang lebar.
Madelin menghela nafas berat. Kata-kata Nike berusaha ia pahami sebaik mungkin. Meski rasanya ia tidak bisa bohong, bahwa kata-kata itu sepertinya mengandung sedikit tawaran untuk mencoba berpikiran lebih terbuka pada sosok Jonatan.
"Baiklah hanya untuk kali ini saja. Jika ada hal seperti ini terjadi lagi ke depannya, jelas Jonatan kau dan aku benar-benar berakhir begitu saja," ujar Madelin berat. "Bangunlah! Jangan terus berlama-lama di posisi menyedihkan seperti ini."
Jonatan bangun ia lalu berdiri mematung di depan Madelin.
"Jangan bertingkah yang aneh-aneh setelah aku memaafkanmu Jonatan. Kita kembali masuk ke dalam." Madelin menarik tangan Jonatan untuk membawanya masuk ke dalam. Sementara itu Jonatan hanya mengikutinya tanpa suara. Namun begitu pria itu berjalan melewati Nike, ia terlihat cukup sinis ketika melihat pemuda tersebut.
Merasa mendapat tatapan sinis tersebut, Nike hanya bersikap acuh tak acuh. Ia juga kembali ikut masuk ke dalam.
Ketika semuanya sudah kembali masuk ke dalam kafe. Madelin menyuruh Jonatan untuk memesan makanan dan minuman.
"Sebaiknya kau minum kopi dingin saja. Itu bagus untumu, karena kau tampak terlalu tegang sejak tadi. Jangan tersinggung, aku hanya sekadar memberi saran," ujar Nike acuh tak acuh.
Jonatan mendesis. Namun ia tidak ingin berkelahi dengan pemuda itu. Maka akhirnya ia mengacuhkannya dan sibuk memilih menu di daftar sajian.
__ADS_1
"Bukankah seperti ini lebih baik. Maksudku aku sangat ingin agar kau lebih bersikap terbuka dengan yang lainnya. Sifatmu itu benar-benar pengekang Jonatan, sungguh tidak baik," tutur Madelin kesal.