
"Kau memiliki sesuatu yang menarik dalam dirimu. Aku pikir kau orangnya karismatik." Nyonya Kim terdengar seperti tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Madelin.
"Apa yang kau maksud?" Madelin mengerutkan keningnya bingung dengan maksud pernyataan yang dilontarkan oleh Nyonya Kim.
Nyonya Kim tersenyum. "Aku sudah lama mendengar tentangmu, Madelin. Sudah banyak orang yang membicarakanmu akhir-akhir ini. Dan memang benar saja, karena saat aku melihatmu kau memang terlihat karismatik, kau bukanlah sembarangan model. Kau punya sesuatu yang memancar di dalam dirimu yang mampu menarik perhatian orang lain. Aku yakin bisnis yang aku jalankan saat ini, akan meraih kesuksesan yang besar dengan hadirnya dirimu dalam bisnis ini. Kau orang yang berbakat," puji Nyonya Kim.
Madelin sedikit terkejut mendapatkan pujian seperti itu dari Nyonya Kim. Padahal jelas ia merasa bahwa dirinya, bukanlah sosok yang begitu luar biasa. Ia hanya melakukan apa yang ia anggap bisa ia lakukan. Tidak lebih dari itu. Kata-kata pujian Nyonya entah mengapa, justru menimbulkan rasa kecurigaan di dalam hati Madelin.
"Maaf Nyonya Kim, bukannya aku tidak menghargai soal pujian yang telah kau berikan padaku. Hanya saja kata-kata pujianmu terasa sedikit berlebihan, aku tidak sehebat yang kau bicarakan." Madelin menghela nafas sejenak kemudian kembali, melanjutkan kata-katanya. "Maaf Nyonya Kim, bukannya aku ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Namun aku hanya ingin sedikit menegaskan soal ini. Kau terlihat sangat ingin mengajakku bekerja? Namun entah mengapa perasaanku sedikit merasa kurang nyaman? Bukan berarti, aku ingin menuduhmu hanya saja, aku merasa ada yang sedikit mengganjal di hatiku," ujar Madelin tegas dan jujur. Sejujurnya Madelin, hanya ingin mengungapkan perasaannya saat ini.
"Astaga apa aku sudah membuatmu merasa takut?" Nyonya Kim terlihat agak terkejut. "Maaf Madelin, aku sebetulnya tidak bermaksud untuk membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya ingin menjalin sebuah kolaborasi bisnis denganmu. Aku tidak tahu, bahwa kehadiranku membuatmu merasa tidak nyaman. Namun aku berharap kau dapat memikirkan tawaran kerja ini dengan baik dan senyaman mungkin."
Sejujurnya Madelin merasa tidak yakin dengan penjelasan Nyonya Kim. Tapi ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Aku akan berpikir tentang penawaran ini. Tapi aku sendiri tidak bisa memberi jawaban pasti sekarang," jawab Madelin berusaha untuk menjaga ketenangannya.
"Jika itu menjadi keputusanmu, baiklah aku mencoba untuk menghargainya. Aku juga tidak ingin memakasamu dan membuatmu merasa tidak nyaman." Nyonya Kim mengerti dan mengangguk. "Baiklah Madelin, aku akan menunggu jawabanmu."
Micel mengangguk dan menambahkan, "Terima kasih telah bertemu dengan kami, Nyonya Kim. Dan mohon maaf jika ada ketidaknyamanan selama pertemuan ini."
Nyonya Kim tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, tujuan kita semua saling menguntungkan dan berkolaborasi untuk kesuksesan bisnis yang lebih besar.Jadi hal seperti ini tidak bisa dipaksakan," ucap Nyonya Kim. Setelah itu, Nyonya Kim pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
Sejak sosok tersebut pergi, Madelin merasa agak cemas dan ragu dengan segala sesuatunya. "Micel, aku tidak tahu mengapa tapi situasi ini membuatku merasa sangat tidak enak," ucap Madelin.
Micel menepuk pelan pundak Madelin lalu menatapnya lekat. "Tidak apa-apa, kita bisa terus memantau dan mencari tahu informasi lebih lanjut tentang Nyonya Kim dan proyek bisnis yang sedang ia jalankan," kata Micel mencoba menenangkan perasaan Madelin. Madelin mengangguk dan mereka pun berpamitan meninggalkan tempat tersebut. Ia hanya berharap segala sesuatunya tidak akan menjadi lebih buruk ke depannya.
__ADS_1
***
"Sudah selesai? Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali." Pertanyaan yang dilontarkan oleh Jonatan tidak ada habis-habisnya. Wajar saja begitu datang untuk menjemput Madelin pulang.
Madelin menggeleng. "Tidak apa-apa mungkin aku hanya sedikit kelelahan," jawab Madelin tenang. Setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil, sedikit mengabaikan bagaimana Jonatan terus menatapnya dengan perasaan cemas.
"Apa ada yang ingin kau makan? Aku bisa membelikannya untukmu," tawar Jonatan.
"Kalau begitu nanti tolong mampir ke restoran langgananku seperti biasanya." Madelin merujuk pada restoran sup ayam bening yang selalu ia kunjungi selepas pulang kerja.
"Kau tidak pernah bosan menyantap itu? Apa kau mau pergi ke tempat lain?" Jonatan melirik sekilas ke arah Madelin.
"Tidak mau. Yang di situ saja, itu sudah menjadi tempat kesukaanku. Jika kau tidak mau, kau tidak perlu repot-repot membawaku ke sana."
Sesampainya di restoran langganan Madelin, begitu Jonatan membuka pintu restoran kecil tersebut ia sangat terkejut mendapati Nike yang sedang makan di restoran tersebut.
"Sebaiknya kita pulang saja," ajak Jonatan tiba-tiba. Ia menarik tangan Madelin dan hendak berbalik.
"Aku tidak akan mengganggu kalian ah ... maksudku dirimu. Tetaplah di sini, aku hanya ingin sekadar makan. Tidak perlu terlalu diambil pusing, kita hanya kebetulan bertemu," ujar Nike tenang. Ia sendiri terlihat tidak begitu tertarik dengan kehadiran Jonatan dan Madelin.
Madelin melepaskan tangannya dari Jonatan. "Jonatan ... aku lapar. Aku ke sini karena aku ingin makan. Jangan biarkan egomu itu, membuatku menjadi tidak bisa makan." Madelin berjalan melewati Jonatan begitu saja. Ia lalu memesan sup kesukaannya.
"Tapi kita bisa mencari tempat makan yang lain," seru Jonatan tidak mau kalah.
__ADS_1
Madelin tidak menanggapi, ia justru sibuk memilih kursi untuknya. Nike yang melihat Jonatan tidak menyukai kehadiran dirinya. Lalu menghembuskan nafas dan menatap malas laki-laki tersebut.
"Sebentar lagi aku akan selesai makan. Jangan terlalu terbawa perasaan," tegur Nike.
"Kau tidak ingin duduk Jonatan? Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Kau bisa pulang duluan. Aku bisa memesan taksi nanti setelah selesai makan," ujar Madelin.
Jonatan hanya bisa berdecih kesal. Mau tidak mau ia menurut meski hatinya dongkol. Laki-laki itu berjalan melewati Nike begitu saja. Sampai akhirnya ia duduk di hadapan Madelin.
Begitu saja langsung darah tinggi, pikir Nike. Pemuda itu lalu menghabiskan makanannya yang tersisa tinggal sedikit lalu membereskan barang-barangnya.
***
"Bajingan yang satu ini benar-benar keterlaluan ... harusnya tidak menjadi seperti ini," omel Jonatan sembari menyetir.
"Jonatan tolong putarkan lagu. Jujur saja aku tidak sanggup, mendengarmu terus mengomel seperti ini," pinta Madelin.
"Ah iya." Jonatan lalu memutar lagu dan kini juga mulutnya sudah berhenti mengomel. Namun di dalam hati ia masih melanjutkan kegiatannya tersebut. Ia jengkel setengah mati begitu Nike, menumpang di dalam mobilnya.
"Aku tahu ini menyusahkanmu. Tenang saja nanti aku mengganti uang bensimu," kata Nike.
"Tidak perlu. Jika kau melakukan itu, aku merasa seperti supir taksi untukmu," tolak Jonatan.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika itu menyinggung perasaanmu," ucap Nike halus.
__ADS_1