
Flora tertawa puas. Dia menahan tangan Madelin dengan kuat. "Madelin ... sebelumnya kau harus cicipi alkohol ini." Flora kemudian memaksa Madelin untuk meminum alkohol mahal tersebut.
Madelin berusaha menghindar, namun Flora yang memaksanya bahkan mencekoki dirinya. Membuatnya, terpaksa menelan alkohol tersebut. Alkohol itu memiliki kadar yang sangat tinggi. Hanya sedikit tertelan, sudah membuat Madelin pusing. Ditambah pula, Madelin tidak terlalu kuat dengan alkohol membuatnya mabuk dengan cepat.
"Enak bukan? Ini harganya sangat mahal lho." Flora yang duduk di sebelah, Madelin kemudian menelan habis alkohol tersebut dalam sekali teguk. Dirinya sama sekali, tidak terlihat mabuk dan sudah terbiasa meminum-minuman keras seperti ini. Baginya, minuman dengan kadar alkohol seperti ini, rasanya sama saja seperti minum air putih. Tidak memiliki efek samping sama sekali.
"Cepat suntikkan aku!" perintah Lami tidak sabar.
Jun cemberut, namun dia tetap menyuntikkan Lami lebih dulu. "Dasar tukang perintah. Harusnya, hari ini aku duluan yang memakai," sungutnya.
Lami diam tidak menanggapi. Setelah selesai disuntik, wanita itu menghempaskan dirinya ke sofa dan secara perlahan-lahan, efek dari obat itu mulai terasa di tubuhnya.
Setelah menyuntikkan Lami, Jun langsung mengambil alat suntikkan yang lain, lalu menyuntikkan dirinya sendiri. Dan ia melakukan hal yang serupa dengan Lami.
Flora hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya tersebut. Ia melirik ke arah Rei sekilas. "Mau aku suntikkan juga untukmu?" tawarnya.
Rei mengangguk, ia lalu menyodorkan lengannya pada Flora. Flora dengan cepat mengambil suntikan yang baru, lalu menyuntik Rei dengan cepat.
Seperti ini, adalah kegiatan yang sering ia lakukan. Pergi ke klub, dan menggunakan narkoba adalah kesenangan yang kerap kali ia lakukan. Namun ... kali ini semuanya akan jauh lebih menyenangkan karena ada rencana menarik yang ia pikirkan.
"WOAH LIHAT ADA BANYAK WANITA CANTIK DENGAN BIKINI SEKSI!" jerit Lami. Wanita itu terlihat seperti setengah sadar. Ia memberi gerakan seperti meraba-raba tubuh seseorang. "WUAHAHAHA ... DADAMU MANTAP JUGA ... DAN KAU BOKONGMU LUAR BIASA!" Lami yang sudah terpengaruh obat-obatan meracau, membayangkan dirinya dikelilingi banyak wanita, dengan pakaian renang yang seksi.
"Nenek ampuni aku ... jangan potong Jeki! Aku janji tidak akan nakal lagi," racau Jun sembari mengusap-usap bagian bawah celananya. Jun berhalusinasi bahwa, ia didatangi neneknya yang sudah meninggal, di mana neneknya membawa pisau dan bersiap memotong asetnya.
"Ya aku ini presiden. Jangan main-main denganku!" Kali ini giliran Rei, yang bertingkah di mana, Rei berhalusinasi menjadi seorang pemimpin negara. "Karena aku presiden di sini, kalian rakyatku yang jelata berkerja keraslah, kumpulkan uang untukku dan buat aku kaya!" perintahnya. Rei memang memiliki cita-cita menjadi presiden saat masih kecil. Namun karena tidak kesampaian, ia akhirnya berakhir selalu mengkhayalkan impiannya tersebut.
__ADS_1
Flora tertawa puas, melihat dan mendapati teman-temannya itu bertingkah aneh. Baginya, teman-temannya yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu, terlihat sangat lucu. Ia terhibur. Flora kemudian melirik ke arah Madelin yang dalam keadaan nyaris tidak sadarkan diri karena mabuk.
Flora meraih lengan Madelin dan hendak menyuntikkan narkoba tersebut padanya. Namun Madelin terlihat mencoba menghindari.
"Bajingan ... kau menjebakku?" Rupanya Madelin, masih sadar dan ia terlihat berupaya menghindari Flora.
"Percuma saja melawan. Toh setelah ini, kau akan merasakan seperti yang mereka rasakan juga." Flora menarik tangan Madelin dengan kasar.
Madelin tidak mau menyerah. Setengah mati, ia mengumpulkan tenaganya. Ia melawan dan mendorong Flora.
Flora terdorong. Namun ia langsung bangkit. Kembali mencoba menggapai Madelin.
Madelin meraih gelas berisikan alkohol, lalu menyiramnya tepat di depan wajah Flora. Setelah itu ia menendang betis Flora dengan sekuat tenaga. Flora langsung jatuh terkapar. Buru-buru, Madelin meninggalkan ruangan tersebut meski dalam keadaan setengah sadar.
Flora yang kesakitan berusaha bangkit, namun rasa sakit yang timbul di betisnya, berdenyut begitu kencang. Tendangan Madelin tidak main-main, sebagai mantan atlet karate di masa sekolah dulu, Madelin memang dikenal memiliki tenaga yang kuat meski berada di dalam keadaan lemah sekalipun.
***
"Nyonya Madelin?" Seorang berseragam polisi berdiri tepat di depan pintu rumah Madelin.
Madelin terkejut mendapati polisi di kediaman rumahnya. Ini masih pagi dan sudah ada polisi di rumahnya. Namun dengan cepat otaknya, kembali memutar kejadian semalam.
"Iya saya sendiri. Ada apa, Anda datang kemari?" Madelin berusaha terlihat tenang.
"Anda terlibat dengan kasus penggunaan narkoba semalam di klub SKY. Anda akan ditangkap, berdasarkan laporan yang saya terima," ujar polisi tersebut.
__ADS_1
Mata Madelin membalak terkejut. "Siapa yang melaporkan saya?"
"Saya yakin Anda, mengenali wanita ini," kata polisi tersebut lalu, memberikan jalan pada seorang wanita yang muncul dari belakang pungggungnya.
"Flora?"
Flora tersenyum menyapa Madelin dengan riang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Halo Madelin. Kau terlihat cukup kusut di pagi hari ini, ke mana penampilan menarikmu semalam?"
Madelin menggeram. "Apa yang kau lakukan! Apa kau mencoba menyeretku dalam masalahmu?"
"Hohoho ... menyeret sepertinya kau salah paham. Kau harus sadar diri, sebenarnya kau itu sendiri yang terlibat dalam pesta narkoba malam itu." Flora tersenyum mengejek.
Madelin menarik baju Flora, ia lalu mendekatkan wajahnya sedekat mungkin pada wanita ular tersebut. "Aku bisa membunuhmu kali ini. Berhenti main-main denganku!" ancamnya.
"Owww, aku takut padamu. Tapi kau harus hati-hati jika tidak ingin kena pasal berlapis, atau menambah masalah baru," ejek Flora.
"Nyonya Madelin ikutlah dengan kami ke kantor polisi. Anda harus menjalani pemeriksaan." Polisi tersebut mendekati Madelin.
Madelin menghela nafas berat. Ia muak, namun mau tidak mau ia harus mengikuti permainan yang dibuat Flora. Maka Madelin pasrah dan mengikuti polisi tersebut tanpa memberi perlawanan.
Ketika Madelin dibawa ke dalam mobil polisi. Muncul Sam berteriak dari depan pintu rumah.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ISTRIKU, BAWA DIA KEMBALI!" teriak Sam.
Flora tersenyum tipis, mendekati Sam. "Tenanglah Sam, kau tidak perlu berteriak seperti itu. Kembali masuk ke dalam, dan biarkan aku nantiĀ menjelaskan semuanya padamu." Flora menenangkan Sam.
__ADS_1
Sam seperti anjing penurut yang mudah dijinakkan, ia mengikuti perintah Flora. Madelin yang melihat bagaimana, dengan mudahnya suaminya itu menurut pada wanita lain, sudah lebih dari cukup membuat hati wanita itu panas.
Ternyata aku salah memilihmu, ucap Madelin dalam hatinya. Setelah menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya tidak enak tersebut. Mobil mulai bergerak dan melaju meninggalkan kediamannya. Namun sekilas, Madelin bisa melihat wajah bahagia Flora yang justru melambaikan tangan ke arahnya dan mengejek dirinya.