Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
24. Teka-Teki Sera


__ADS_3

Nyonya Kim memandang ke arah suami tercintanya. Tuan Luke terlihat sedang bersantai sembari membaca buku.


Wanita itu langsung bergelayut manja pada suaminya. Tuan Luke yang tahu, bahwa istrinya itu membutuhkan perhatian tersenyum, mengusap-usap puncak kepala Nyonya Kim.


"Apa yang sedang kau lakukan Sayang?" Nyonya Kim berbasa-basi.


"Membaca buku." Tuan Luke kini meninggalkan bacaan kesukaannya itu, lalu fokus pada istrinya. Namun sekarang ia lebih fokus pada istrinya itu.


"Sayang bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Nyonya Kim seolah meminta izin pada suaminya itu.


Tuan Luke mengangguk, ia menatap istrinya dengan heran. "Tanyakan apa saja semuanya padaku, karena aku akan selalu mengusahakan untuk menjawabnya. Apa kau tidak percaya dengan hal itu?"


"Aku selalu percaya padamu." Nyonya Kim menatap Tuan Luke lekat. "Hanya saja ini merupakan pertanyaan yang sensitif. Jujur saja aku merasa tidak enak jika menanyakannya padamu dengan seenaknya."


"Berkaitan dengan masa laluku?" tebak Tuan Luke. Dia tahu betul, bahwa masa lalunya merupakan masalah yang sensitif. Meski ia sendiri tidak keberatan jika Nyonya Kim mengetahuinya. Hanya saja sepertinya wanita itu masih sering canggung menanyakan hal tersebut padanya.


Tanpa perlu menjawab, namun dari gerak-gerik Nyonya Kim itu sudah menunjukkan jawaban 'iya' yang cukup jelas, untuk diketahui.


"Tanyakan saja, apa yang mau ketahui dariku Sayang. Aku tidak pernah keberatan dengan pertanyaanmu sekalipun itu membahas masa laluku."


Nyonya Lily terlihat berpikir sejenak. Namun tidak lama kemudian, ia akhirnya segera melayangkan pertanyaan yang cukup membuatnya penasaran.


"Sayang, dulu katamu kau memiliki dua orang putri kembar. Di mana salah satunya merupakan kakak kembar Flora. Kau bilang padaku, bahwa putri sulungmu yang bernama Sera, itu dibawa oleh mendiang mantan istrimu, saat kalian bercerai. Dan semenjak mantan istrimu meninggal, kau tidak mengetahui lagi di mana keberadaan putrimu, ditambah banyak orang yang mengatakan padamu bahwa Sera ikut meninggal bersama mantan istrimu dalam insiden kebakaran. Apa itu benar?" tanya Nyonya Kim hati-hati.

__ADS_1


"Benar. Aku sebenarnya tidak percaya sebelumnya, namun begitu aku berusaha untuk mencari tahu kebenarannya, aku melihat dengan jelas bagaimana mayat mantan istriku dan Sera ditunjukkan padaku." Suara Tuan Luke terdengar sendu. "Itu untuk terakhir kalinya aku melihat mereka berdua.


Nyonya Kim merasa tidak enak hati mendengar hal tersebut. Ia takut, membuka luka lama suaminya. Namun jujur saja, rasa penasaran di hatinya masih belum bisa hilang sepenuhnya.


"Sayang apa kau tidak berpikir, bahwa bisa saja dalam insiden itu meski, masih kecil kemungkinan Sera masih hidup?"


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu Sayang. Aku rasa, itu hanya mimpi. Jika saja Sera masih hidup, aku yakin aku pasti bisa menemukannya."


Nyonya Kim menggigit bibirnya ragu. Ia lalu menunjukkan sebuah foto dari ponsel pintarnya. Di dalam foto tersebut, terlihat seorang wanita muda yang berpenampilan sederhana namun memiliki wajah cantik yang memesona. "Sayang, bisa kau perlihatkan liontinmu yang berisikan foto putrimu yang bernama Sera itu?"


Tuan Luke kemudian mengeluarkan liontin yang terus ia bawa bersama dirinya tersebut. Dia lalu membuka liontin itu, dan di sana terlihat wajah Sera dan Flora di kedua sisi liontin yang berbentuk oval.


"Coba kau perhatikan Sayang. Bukankah Sera, terlihat sangat mirip dengan gadis di foto ini?" Nyonya Kim kembali menunjukkan foto tersebut pada suaminya.


"Mungkin saja gadis di dalam foto ini, hanya kebetulan mirip dengan Sera. Aku tidak berani berharap bahwa dia adalah Sera. Sedikit menyakitkan jika, dia merupakan orang yang berbeda jika aku berharap Sera masih ada." Tuan Luke terlanjur putus asa bahwa putrinya yang bernama Sera masih hidup.


Nyonya Kim memeluk Tuan Luke erat. "Maafkan aku Sayang karena sudah membuatmu kembali, mengingat hal yang sudah lama, tidak ingin kau ingat lagi."


Tuan Luke hanya diam, dan membiarkan dirinya merasa nyaman dalam pelukan Nyonya Kim. Satu-satunya rumah dan tempat yang membuat hatinya sekarang merasa nyaman hanyalah istrinya. Sudah lama ia mendapatkan hal-hal buruk di dalam hidupnya, dan kehilangan apa itu artinya rasa nyaman dari seseorang.


Bahkan putrinya Flora, sekarang hampir tidak ia kenali lagi. Dan hubungannya semakin dingin. Mereka mungkin masih sering bertemu, namun tidak ada kedekatan sama sekali dalam hubungan itu.


Satu-satunya orang yang bisa memberinya kehangatan dan menunjukkan kasih sayang keluarga, pada dirinya hanyalah Nyonya Kim.

__ADS_1


Maafkan aku sayang, tapi aku tidak bisa membiarkan hal yang satu ini, terus memenuhi kepalaku, bagaimanapun juga aku akan mencari tahu identitas wanita ini, pikir Nyonya Kim.


***


Mark Zen atau yang kerap dipanggil sebagai Tuan Mark itu, terlihat bosan dan terus mengetuk-ngetukkan tangannya di atas meja.


"Jonatan jujur saja, aku merasa tidak nyaman dengan ini. Kau menyuruhku untuk membantu seseorang yang tidak kompeten seperti Sam. Aku tau niatmu baik, tapi jujur saja meski di sini kau berniat membantunya, aku sedikit tidak tahan dengan melihatnya yang setengah hati, saat aku mengajarkan padanya bagaimana memperbaiki usahanya." Tuan Mark mengeluarkan isi hatinya yang bisa dibilang cukup mengganjal.


Jonatan tersenyum berusaha menenangkan Tuan Mark. "Maafkan aku jika itu membuatmu merasa tidak nyaman. Namun aku harap, kau bisa bersabar sedikit saja. Jika menurutmu pria itu benar-benar tidak memiliki kemajuan sama sekali, maka katakan saja padanya untuk berhenti. Sepertinya kau benar, kita tidak bisa berlama-lama membiarkan orang yang tidak kompeten untuk dibantu. Di dalam dunia bisnis, orang tidak menguntungkan seperti dirinya memang pantas untuk ditendang." Sebenarnya Jonatan tidak berniat untuk berkata kasar. Namun begitu membahas Sam, seringkali membuat emosi dalam dirinya terpancing begitu saja.


Tuan Mark sedikit terkejut, mendengar kata-kata Jonatan. "Bicaramu tiba-tiba berubah mnejadi kasar. Apa kau sedang memiliki masalah?" tanya Tuan Mark penasaran.


"Masalah? Ah tidak sepertinya, aku hanya kelelahan jadi wajar saja, jika aku menjadi gampang terbawa emosi. Sepertinya aku membutuhkan kopi, kau mau biar aku belikan di luar?" Jonatan bangkit berdiri dari kursinya.


"Boleh tolong pesankan aku Americano satu," pinta Tuan Mark.


"Oke." Jonatan lalu keluar dari ruangannya.


Sepeninggalan Jonatan, Tuan Mark mendesah. Ia pusing menghadapi Jonatan, baginya ia sudah terlalu sering mengikuti permintaan juga permainan pria itu. Harus ia akui, lama-lama dirinya merasa lelah dan bnear-benar membutuhkan istirahat.


TOK TOK


Terdengar suara pintu diketuk, dan tidak lama seseorang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Jika kau mencari Jonatan, dia sedang pergi keluar membeli kopi. Kau bisa menemuinya nanti," ucap Tuan Mark begitu melihat sosok wanita muda masuk ke dalam ruangan Jonatan.


__ADS_2